Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 48

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 48

"Kalau begitu kalian memang memilih mati di jalan ini," kata salah seorang dari mereka sambil melepas senjata golok panjangnya. Kedua temannya ikut melepas senjata dan telah bergerak mengepung kedua orang tak bersenjata itu. "Habisi mereka!" kata pemimpin mereka.

Maka pertempuran pun terjadi. Sebuah pertempuran yang berat sebelah, di mana dua orang tak bersenjata menghadapi tiga orang bersenjata. Namun, kedua orang begal itu punya kemampuan yang cukup lumayan, masih dapat berkelit ke sana kemari menghadapi tiga orang kaki tangan Tumenggung Yasakala yang bersenjata. Hingga akhirnya salah seorang kawan si orang berwajah kasar itu sedikit lengah. Sebuah sabetan senjata penyerangnya berhasil menggores pangkal kakinya.

"Achhh!" teriak orang itu merasakan pangkal kakinya pedih dan langsung mundur, jatuh berguling di tanah. "Menyerahlah, kamu tinggal sendiri," kata pemimpin mereka sambil mengancam dengan golok panjangnya.

"Aku tidak akan menyerah," kata si wajah kasar penuh keberanian. Mendengar dan melihat sikap yang penuh keberanian itu telah membuat tiga orang penyerang merapatkan kepungan mereka. "Lebih baik aku mati di sini," kata si wajah kasar dalam hati sambil mengadu giginya untuk menguatkan semangatnya. Kasiman memang si orang berwajah kasar itu. Ketika berdua menghadapi tiga orang penyerangnya saja sudah terlihat kewalahan. Maka sudah dapat diperhitungkan bahwa dalam waktu yang singkat, ia pasti akan digulung oleh ketiga penyerang bersenjata itu.

Terlihat wajah dan tubuh orang berwajah kasar itu sudah basah oleh peluh, tenaganya pun terlihat mulai menyusut. Sementara ketiga penyerangnya terlihat semakin garang dan sangat bernafsu untuk segera menghabiskan lawan tunggalnya itu. Orang berwajah kasar itu memang masih mampu berkelit menghindari serangan, namun terlihat semakin lamban bergerak.

Hingga dalam sebuah penyergapan bersama, tiga buah senjata penyerangnya terlihat telah mengepungnya dari tiga penjuru arah. Nampaknya dua dari tiga serangan bersenjata itu tidak mungkin lagi dapat dihindarkan. Untunglah nasib baik masih berada di jalan hidup orang berwajah kasar itu. Manakala dirinya menjadi pasrah, hanya dapat mengelak sebuah serangan di depannya. Maka dengan mata terbelalak, dilihatnya tiga senjata lawannya tiba-tiba saja menghilang, terlepas dari genggaman tangan ketiga penyerangnya.

"Kalian telah berlaku tidak adil, menyerang orang tidak bersenjata," kata seorang anak muda dari atas punggung kudanya yang tidak lain adalah Gajahmada. Anak muda itu terlihat berbicara sambil memegang tiga buah senjata golok panjang yang direbutnya dengan cara dan gerakan yang sangat cepat, tak terjangkau oleh pandangan orang biasa. Terlihat ketiga orang kaki tangan Tumenggung Yasakala merasa gentar dan menyadari telah berhadapan dengan seorang yang berilmu sangat tinggi. Namun, manakala melihat Gajahmada yang masih muda itu, telah membuat ketiga orang itu kembali timbul keberaniannya, menganggap apa yang dilakukan Gajahmada adalah akibat keteledoran mereka.

"Turun kamu dari kudamu, agar kami mudah mengikatmu dan membawamu menghadap tuanku Tumenggung," kata salah seorang dari mereka.

"Aku memang hendak menemui tuanmu, namun kalianlah yang akan aku ikat," kata Gajahmada sambil turun dari kudanya dan membuang tiga buah golok panjang yang baru saja direbutnya itu.

"Anak muda sombong," kata salah seorang dari mereka, langsung menghampiri Gajahmada. Entah dengan cara apa yang dilakukan oleh Gajahmada, gerakannya sangat begitu cepat, tak terjangkau oleh penglihatan orang biasa. Terlihat tiba-tiba saja orang yang menghampirinya sudah terlempar dengan wajah sembab biru, seperti tertampar oleh tangan dan tenaga yang sangat keras. Terlihat orang itu sudah jatuh terlempar di tanah dan pingsan.

Melihat salah seorang temannya pingsan tak berdaya, kedua orang itu langsung menerjang Gajahmada. Sama sebagaimana nasib seorang kawannya yang pertama, kedua orang itu terlihat bersamaan terlempar, terguling-guling di atas tanah. Terlihat orang berwajah kasar itu seperti terkesima berdiri mematung melihat dua orang lawannya sudah tidak bergerak lagi, nampaknya telah pingsan.

"Hanya dengan satu gebrakan telah dapat merobohkan ketiga orang lawan, anak muda yang berilmu sangat tinggi," kata orang berwajah kasar itu sambil memandang Gajahmada. Sementara Gajahmada sendiri telah berjalan menghampiri kawan orang berwajah kasar itu yang terluka. Terlihat Gajahmada tengah menaburkan sebuah bubuk obat ke sekitar luka orang itu.

"Perih sekali," kata orang itu sambil meringis, merasa obat yang diberikan oleh Gajahmada telah menimbulkan rasa perih yang sangat.

"Obat ini akan memampatkan lukamu," kata Gajahmada kepada orang itu.

"Terima kasih," kata orang itu, merasakan lukanya memang berangsur tidak mengeluarkan darah lagi, sekaligus rasa perihnya sudah semakin berkurang.

"Lekaslah kalian kembali pulang, agar tidak berurusan lebih panjang dengan orang-orang ini," kata Gajahmada kepada kedua orang yang pernah bermaksud membegalnya itu.

"Apa yang anak muda akan lakukan kepada ketiga orang itu?" tanya orang berwajah kasar itu kepada Gajahmada.

"Aku akan mengikatnya dan memaksanya membawaku ke hadapan Tumenggung Yasakala," kata Gajahmada perlahan.

"Menghadap Tumenggung Yasakala?" tanya orang berwajah kasar itu kepada Gajahmada dengan wajah penuh kekhawatiran.

"Tidak perlu khawatir, aku bisa mengurus semua ini sendiri," kata Gajahmada dengan wajah penuh senyum, mengerti dan menangkap kekhawatiran orang itu. Demikianlah, manakala kedua orang itu sudah pergi, terlihat Gajahmada telah mendapatkan bahan tali dari kulit kayu untuk mengikat ketiga orang kaki tangan Tumenggung Yasakala itu.

"Berjalanlah kalian di depan agar tidak terseret oleh kudaku," kata Gajahmada kepada ketiga orang itu yang telah siuman kembali. Gajahmada memang telah meminta kepada ketiga orang itu untuk membawanya ke hadapan Tumenggung Yasakala di istana Kahuripan. Terlihat ketiga orang itu telah terikat kedua tangannya, berjalan di depan Gajahmada yang berjalan duduk di atas punggung kudanya. Berjalan dengan tangan terikat memang membuat perjalanan menjadi lamban, tapi Gajahmada dengan sabar mengikuti mereka bertiga dari belakang di atas kudanya.

Kota tua Kahuripan memang tidak seramai Kotaraja Majapahit saat itu. Sejak ditinggalkan oleh Raja Erlangga yang berpindah ke Kotaraja Daha, kota Kahuripan semakin tertinggal kemajuannya. Hari senja menjelang malam manakala Gajahmada dan ketiga tawanannya telah memasuki gerbang batas kota Kahuripan.

"Kulepaskan kalian, kabarkan bahwa malam ini aku akan menemui tuanmu, Tumenggung Yasakala," kata Gajahmada sambil membuka ikatan tali pada tangan ketiganya. Ketiga orang itu merasa aneh bahwa setelah sampai di kota Kahuripan, mereka telah dilepaskan begitu saja. Tanpa berkata-kata, ketiga orang itu telah berlari menjauhi Gajahmada.

Terlihat Gajahmada tersenyum kecil melihat ketiga orang itu semakin menjauh berlari cepat dan akhirnya menghilang di sebuah tikungan jalan.

"Dasar bodoh, kalian bertiga tidak dapat menghadapi anak muda itu?" kata Tumenggung Yasakala penuh kegeraman mendapat berita dan kabar tentang seorang anak muda yang akan menemuinya malam itu.

"Anak muda itu sungguh sangat sakti, kami bertiga bukanlah tandingannya," kata salah seorang dari mereka bertiga sambil bercerita bagaimana mereka bertiga dapat dirobohkan dengan mudahnya oleh anak muda itu. Akhirnya Tumenggung Yasakala dapat mempercayai cerita ketiga kaki tangannya itu. Maka malam itu, rumah kediaman Tumenggung Yasakala terlihat dijaga dengan begitu rapat, tidak seperti hari-hari sebelumnya. Tumenggung Yasakala juga telah mengundang dua orang jagoan ternama di kota Kahuripan itu untuk menemaninya bersama di rumahnya.

Angin dingin di kota tua Kahuripan malam itu berhembus cukup kencang. Tiga buah pohon kelapa di halaman depan rumah kediaman Tumenggung Yasakala terlihat bergoyang. Daun dan batang pohon jamblang tua di sudut kiri pagar halaman terlihat seperti raksasa hitam bergoyang-goyang menyeramkan. Terlihat lima orang penjaga di gardu ronda sudah mulai mengantuk, merasa bahwa anak muda yang konon akan mengunjungi Tumenggung Yasakala hanya sesumbar belaka. Mereka merasa tidak yakin bahwa anak muda itu pasti tidak akan berani bertandang ke rumah kediaman Tumenggung Yasakala yang telah dipenuhi banyak prajurit, juga dua orang jagoan kenamaan di kota itu.

"Menurutku anak muda itu hanya asal sesumbar untuk datang bertandang ke rumah ini. Coba kalian pikirkan, siapa gerangan yang berani seorang diri datang ke rumah ini? Tentunya bila orang itu sudah kurang akal atau sudah bosan hidup," kata salah seorang prajurit penjaga kepada keempat kawannya di gardu ronda. Namun, baru saja ucapan salah seorang prajurit berhenti, tiba-tiba saja mereka berlima terkejut melihat enam buah obor yang terpasang di halaman muka kediaman Tumenggung padam secara bersamaan.

Terlihat kelima orang prajurit penjaga itu berhamburan keluar dari gardu ronda untuk melihat apa gerangan yang telah terjadi. Bukan main terkejutnya mereka manakala melihat sepuluh orang prajurit yang sengaja didatangkan dari istana Kahuripan terlihat telah bergelimpangan di tanah halaman muka Tumenggung Yasakala.

"Apa yang telah terjadi atas mereka?" tanya salah seorang di antara mereka sambil melihat di keremangan malam beberapa tubuh yang terbaring tidak bergerak di atas tanah halaman.

"Siapa yang telah melakukannya?" tanya pula seorang yang lain. Mata mereka pun segera menebar ke sekeliling halaman, melihat-lihat siapa tahu ada sesuatu yang dapat menjawab keanehan itu. Dan tiba-tiba saja nafas kelima prajurit penjaga itu seperti tertahan manakala mereka melihat berkelebat sesosok bayangan hitam turun dari pohon jamblang yang lebat itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment