Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 219

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 219

Maka tidak lama berselang, ketiganya telah mendapatkan sebuah tempat untuk beristirahat.

Ketiganya terlihat menikmati bekal yang mereka bawa.

Setelah merasa cukup beristirahat, ketiganya melanjutkan perjalanan.

Sementara itu, cahaya matahari terus bergerak turun ke arah barat bumi.

"Mari kita berpacu mendahului matahari senja," kata Patih Gajah Mada kepada Andini dan Ki Sahdatun.

Tampaknya Ki Sahdatun dan Andini paham maksud perkataan Patih Gajah Mada, terutama ketika anak muda itu menunjukkan kemampuan ilmu meringankan tubuhnya yang memang sangat luar biasa.

Keduanya tersenyum melihat Patih Gajah Mada melesat bagai seekor rusa jantan yang berlari di tengah hutan.

"Aku akan menyusulmu, Kakang!" kata Andini penuh kegembiraan, lalu langsung berlari mengejar kekasih hatinya.

Melihat kedua muda-mudi itu telah jauh meninggalkannya, Ki Sahdatun tampaknya tidak ingin tertinggal sendirian di hutan itu.

Ternyata Ki Sahdatun memiliki ilmu meringankan tubuh yang nyaris sempurna. Ia terlihat seperti berjalan biasa, tetapi selalu saja berada di belakang sepasang kekasih yang berlari penuh kegembiraan tersebut.

"Ki Sahdatun selalu ingin menutupi kemampuan dirinya yang sebenarnya," gumam Patih Gajah Mada yang diam-diam memperhatikan gerakan Ki Sahdatun. Meskipun selalu berada di belakang, ia tidak pernah sedikit pun tertinggal jauh dari mereka berdua.

Ketika beberapa ladang mulai terhampar, ketiganya memperlambat lari dan berjalan biasa.

"Gapura yang megah," kata Andini kepada Patih Gajah Mada dan Ki Sahdatun saat melihat gapura Kadipaten Lamajang yang menjulang tinggi menghadap ke arah timur Jawadwipa.

"Kita tiba jauh sebelum senja," kata Patih Gajah Mada sambil menatap matahari yang terhalang kerimbunan awan putih.

"Tampaknya sebentar lagi akan ada upacara sedekah bumi," kata Ki Sahdatun dengan wajah ceria sambil menatap hamparan sawah yang luas di sepanjang perjalanan mereka. Bulir-bulir padi terlihat sudah merunduk menguning dan siap dipanen.

Pada saat itu, bumi Lamajang memang terkenal sebagai penghasil beras terbesar. Sebagian besar penduduknya adalah petani yang unggul dalam mengelola sistem pengairan.

Kesejahteraan penduduk di bumi Lamajang terlihat dari keasrian rumah-rumah mereka.

"Kakang Adipati Menak Koncar telah berhasil menjadi pemimpin yang hebat," kata Patih Gajah Mada sambil memandang hamparan sawah yang membentang luas.

"Kudengar Empu Nambi bukan hanya seorang yang ahli membuat keris pusaka, melainkan beliau juga terkenal ahli membuat bendungan," kata Ki Sahdatun.

Mendengar nama Empu Nambi, tiba-tiba saja Patih Gajah Mada menarik napas panjang. Lamunannya melayang mengenang sosok berwajah lembut penuh kasih yang diketahuinya masih hidup mengasingkan diri di sekitar Gunung Semeru sebagai seorang pertapa suci.

"Seorang pertapa suci yang selalu menjaga tanah kelahirannya," kata Ki Sahdatun perlahan, seolah berbicara kepada dirinya sendiri.

Patih Gajah Mada tampak terkejut mendengar ucapan Ki Sahdatun tersebut. Anak muda itu menduga-duga apakah Ki Sahdatun pernah bersua dengan Empu Nambi.

Namun, Patih Gajah Mada tidak menanyakan apa yang dipikirkannya itu.

"Tampaknya Kakang Adipati Menak Koncar telah mewarisi seluruh ilmu ayahnya," kata Patih Gajah Mada sambil menarik napas panjang dan mengembuskannya, seolah ingin mengalihkan pembicaraan. Ia mungkin khawatir salah ucap sehingga membuka rahasia tentang Empu Nambi yang masih hidup sebagai pertapa suci di sekitar Gunung Semeru.

Hal itu karena ia pernah berjanji kepada Empu Nambi untuk menyimpan rapat-rapat ihwal keberadaannya di Gunung Semeru.

Sementara itu, tanpa terasa mereka bertiga telah memasuki Kota Kadipaten Lamajang. Beberapa pedati pedagang terlihat di beberapa tempat. Tampaknya besok adalah hari pasar yang ramai karena bersamaan dengan diadakannya panen raya di bumi Lamajang.

"Tampaknya besok suasana di pasar Kota Kadipaten akan sangat ramai," kata Andini dengan wajah ceria.

Tidak lama berselang, ketiganya telah berada di depan gerbang Istana Kadipaten Lamajang.

"Bukankah hamba berhadapan dengan Tuan Patih Gajah Mada?" tanya seorang prajurit penjaga menyapa Patih Gajah Mada.

"Ternyata Ki Lurah masih mengenaliku," kata Patih Gajah Mada dengan senyum ramah menatap prajurit itu.

"Siapa yang dapat melupakan kesatria perkasa dari Majapahit seperti Tuan?" kata prajurit itu.

"Ternyata prajurit Lamajang sangat pandai menyanjung tamunya," kata Patih Gajah Mada. Ia tetap bersikap ramah, santun, dan penuh kerendahan hati, tanpa menempatkan dirinya sebagai pejabat terhormat di hadapan prajurit itu.

Melihat sikap Patih Gajah Mada di hadapan prajurit itu, diam-diam Ki Sahdatun memuji kerendahan hati anak muda yang perkasa tersebut.

"Perkenankan hamba mengantar Tuan menemui Gusti Adipati," kata prajurit itu kepada Patih Gajah Mada.

Tidak lama berselang, ketiganya mengikuti langkah kaki prajurit tua itu berjalan menuju Pendapa Agung Kadipaten Lamajang.

"Sungguh hati ini dipenuhi kegembiraan. Pantas saja seharian ini ada banyak awan putih memayungi bumi Lamajang," kata seorang lelaki setengah baya yang gagah perkasa, menyambut kedatangan Patih Gajah Mada dengan wajah penuh sukacita.

"Mungkin hati ini telah terpaut. Tidak sempurna rasanya mengembara di ujung timur Jawadwipa tanpa singgah menemui putra sulung Empu Nambi di bumi Lamajang ini," kata Patih Gajah Mada kepada lelaki setengah baya yang ternyata adalah Adipati Menak Koncar itu.

Adipati Menak Koncar mempersilakan ketiga tamunya untuk duduk di pendapa agung tersebut.

"Gembira hati ini dapat berjumpa kembali," kata Ki Sahdatun kepada Adipati Menak Koncar yang ternyata masih mengenalnya.

Saat Adipati Menak Koncar memandang ke arah Andini, Patih Gajah Mada segera memperkenalkan gadis itu.

"Jangan heran, gadis di hadapan Kakang Adipati ini adalah murid tunggal Ibunda Suri dari Kerajaan Majapahit," kata Patih Gajah Mada memperkenalkan Andini kepada Adipati Menak Koncar.

"Ibunda Suri Gayatri adalah seorang wanita yang sakti. Pasti dirimu telah mewarisi seluruh ilmunya," kata Adipati Menak Koncar kepada Andini.

"Nama Tuan Adipati telah sering hamba dengar. Beruntung hari ini hamba dapat berkenalan dengan Tuan," kata Andini dengan sikap penuh hormat.

Mengetahui bahwa ketiga tamunya baru saja menempuh perjalanan dari Balidwipa, Adipati Menak Koncar menawarkan mereka untuk membersihkan diri.

"Silakan kalian bersih-bersih, sementara kami menyiapkan hidangan perjamuan untuk kalian," kata Adipati Menak Koncar.

Ketiganya kemudian berpamitan untuk membersihkan diri ke pakiwan.

Ketika mereka kembali ke pendapa agung, hidangan perjamuan telah tersedia untuk mereka.

"Semoga perjamuan kami ini dapat menyegarkan tubuh kalian," kata Adipati Menak Koncar mempersilakan ketiga tamunya.

Setelah menikmati perjamuan, Patih Gajah Mada langsung menyampaikan maksud dan tujuannya datang ke bumi Lamajang.

"Kerajaan Bali tampaknya memiliki niat kurang baik untuk melepaskan diri dari kedaulatan Kerajaan Majapahit. Aku ditugaskan untuk memastikan kebenaran kabar tersebut, sekaligus mencari bantuan di beberapa tempat, termasuk di Kadipaten Lamajang ini. Aku merasa yakin akan kesetiaan Kakang Adipati terhadap Kerajaan Majapahit yang kita agungkan ini," kata Patih Gajah Mada kepada Adipati Menak Koncar.

"Secara pribadi, aku merasa tersanjung karena kesetianku pada kebesaran Kerajaan Majapahit ini masih dipercaya. Tampaknya penguasa Kerajaan Bali sudah melupakan ikrar suci para pendahulu mereka untuk selalu setia berada di bawah naungan keturunan Raja Airlangga," kata Adipati Menak Koncar.

"Katakan saja, bantuan apa kiranya yang dapat kami berikan?" tanya Adipati Menak Koncar kepada Patih Gajah Mada.

"Kerajaan Majapahit sangat menghargai semua bantuan yang telah diberikan selama ini. Selain pasukan Majapahit yang ada saat ini, yang kami butuhkan adalah sekitar lima ratus prajurit dari beberapa wilayah, seperti Kediri dan Singasari," kata Patih Gajah Mada memperkirakan jumlah prajurit yang dibutuhkan untuk penyerangan ke Balidwipa.

"Aku akan menyiapkan seratus lima puluh prajurit terbaikku. Kebetulan sekali, saat ini ada lima puluh murid Perguruan Teratai Putih yang berasal dari Pasundan di bumi Lamajang ini," kata Adipati Menak Koncar dengan penuh kesungguhan.

"Lima puluh orang dari bumi Pasundan?" tanya Patih Gajah Mada.

"Mereka datang ke Bumi Lamajang untuk belajar menanam padi dengan baik. Ternyata cara mengelola sawah di bumi Lamajang telah menarik minat beberapa daerah untuk mempelajarinya," kata Adipati Menak Koncar dengan penuh kebanggaan.

"Aku tidak menyangsikannya," kata Patih Gajah Mada. "Bukankah di Bumi Lamajang ini pernah lahir seorang empu yang tidak hanya memiliki kemampuan membuat keris pusaka yang mumpuni, tetapi juga ahli dalam membangun pertanian yang besar? Kudengar di tangan Empu Nambi, sebatang tongkat kayu mati pun dapat tumbuh berdaun," kata Patih Gajah Mada kepada Adipati Menak Koncar.

"Banyak pemikiran baru dalam bercocok tanam yang kuwarisi dari ayahku, di samping ilmu memainkan cakra. Namun, aku merasa iri kepadamu karena ayahku ternyata mewariskan keahliannya dalam menyusun siasat perang yang andal hanya kepada dirimu seorang," kata Adipati Menak Koncar kepada Patih Gajah Mada.

Patih Gajah Mada tidak menanggapi hal itu. Ia hanya tersenyum menatap putra sang mantan Patih Amangkubumi Kerajaan Majapahit yang sakti mandraguna tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment