Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 36

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 36

"Senang sekali mendapatkan seorang penunjuk jalan," kata Gajahmada tidak merasa keberatan.

"Maaf, apa yang menyebabkan Tuan menolong kami?" tanya Yudha Pramana kepada Gajahmada. "Juga mengakui diriku ini sebagai saudara Tuan?"

Gajahmada tidak langsung menjawab, ia hanya memandang wajah Yudha Pramana dalam-dalam. "Entahlah, aku hanya merasa seperti pernah mengenalmu, tetapi entah di mana," jawab Gajahmada sambil tersenyum.

"Perasaan Tuan sama dengan yang kurasakan. Mungkin kita pernah bersahabat atau bersaudara dalam kehidupan masa lalu sebelum kehidupan sekarang ini," sahut Yudha Pramana. "Aku sangat senang hati menjadi sahabat Tuan."

"Aku juga senang punya sahabat seperti dirimu," balas Gajahmada.

"Seperti di kehidupan masa lalu kita?" kata Yudha Pramana sambil tertawa panjang.

Demikianlah awal mula pertemuan persahabatan mereka berdua, Gajahmada dan Yudha Pramana. Gajahmada memperkenalkan Yudha Pramana dan istrinya kepada rombongannya, lalu mereka bersama-sama melanjutkan pembicaraan di dalam kedai.

Yudha Pramana dan Gajahmada memang sudah tampak seperti sahabat lama; mereka saling bercerita satu sama lain seolah tidak ada rahasia lagi di antara mereka. Setelah merasa cukup beristirahat, rombongan yang kini bertambah dua orang itu keluar dari kedai menuju arah timur. Beruntung ada Yudha Pramana sebagai penunjuk jalan, karena mereka tiba di Jabung saat malam mulai turun dan sangat sulit menemui orang untuk bertanya.

Ternyata Ki Ajar Sasmita, yang juga dikenal dengan nama Empu Pranata—mantan pendeta suci istana Singasari—masih mengenali Gusti Kanjeng Ratu Gayatri. "Semoga mata tuaku ini tidak salah mengenal orang. Bukankah aku berhadapan dengan putri bungsu Baginda Raja Kertanegara?" tanya Ki Ajar Sasmita.

"Tuan Pendeta tidak salah mengenali orang, akulah putri bungsu itu," jawab Nyi Ajeng Nglirip sambil tersenyum.

"Puji syukur akhirnya kita dapat berjumpa kembali," kata Empu Pranata penuh kebahagiaan menyambut kedatangan rombongan itu.

Nyi Ajeng Nglirip segera menyampaikan maksud kedatangan mereka di Padepokan Jabung kepada Empu Pranata. "Memang sudah saatnya Kertawardana mengenal keluarganya sendiri," ujar Empu Pranata sambil meminta seorang cantrik memanggil Kertawardana.

"Inikah kemanakanku itu?" tanya Nyi Ajeng Nglirip kepada Kertawardana yang sudah datang bergabung di pendapa padepokan.

"Kertawardana menghaturkan sembah sujud," kata Kertawardana penuh penghormatan setelah diperkenalkan bahwa yang berada di hadapannya adalah Gusti Kanjeng Ratu Gayatri, bibinya sendiri. Nyi Ajeng Nglirip segera memperkenalkan rombongannya, termasuk kedua putrinya yang ikut serta.

"Kakek dan nenekmu di tanah Ujung Galuh pasti akan merasa bahagia bila dapat melihat dirimu," kata Nyi Ajeng Nglirip kepada Kertawardana.

"Sayang, aku yang tua ini tidak dapat menyertai kalian," ujar Empu Pranata yang mengizinkan Kertawardana dipertemukan dengan kakek dan neneknya di Tanah Ujung Galuh.

Demikianlah malam itu rombongan Nyi Ajeng Nglirip diterima dan dijamu di Padepokan Jabung dengan penuh penghormatan.

"Padepokan Jabung ini sangat kecil, tetapi Gusti Yang Maha Agung telah memudahkan langkah kalian," kata Empu Pranata.

"Anak muda inilah yang telah memudahkan langkah kaki kami," sahut Nyi Ajeng Nglirip sambil tersenyum memandang ke arah Yudha Pramana, lalu bercerita kepada Empu Pranata tentang kejadian yang mereka temui di pasar Kadipaten Tuban.

"Jodoh, rezeki, dan maut adalah garis yang telah ditentukan oleh Gusti Yang Maha Agung. Tidak seorang pun dapat memajukannya, tidak seorang pun dapat memundurkannya, dan tidak seorang pun mampu menolaknya," kata Empu Pranata yang sudah terlihat sangat tua itu.

Malam itu, rombongan Nyi Ajeng Nglirip bermalam di Padepokan Jabung. Di biliknya, Dyah Gayatri tersenyum melihat adiknya, Dyah Wiyat, yang begitu mudah tertidur lelap. Sementara itu, dirinya sendiri susah sekali memejamkan mata. Sebagai gadis yang mulai tumbuh dewasa, Dyah Gayatri mulai memahami bahwa diam-diam ia tertarik pada lawan jenis. Siapakah pemuda beruntung yang menjadi perhatian putri Majapahit itu? Siapa lagi kalau bukan guru pembimbingnya sendiri, Gajahmada.

Semakin ia mencoba lari dari kenyataan, semakin kuat perasaan itu menggoda. Sentuhan dan perhatian Gajahmada selalu hadir membayang saat ia menjelang tidur. Namun, semua itu hanya disimpan di dalam hati sebagai rahasia hidupnya. Perlahan, rasa penat akhirnya meruntuhkan gelisah hati putri jelita itu. Dyah Gayatri pun terlelap di samping adiknya yang sudah lama bermimpi berdiri di atas anjungan Jung Majapahit yang berlayar di tengah malam di bawah cahaya rembulan dan sepoi angin yang menyejukkan hati.

Sementara itu, rembulan di atas langit Padepokan Jabung terlihat belum bulat penuh. Angin dingin menerbangkan bunga randu yang gugur jauh dari pohonnya. Terdengar suara burung hantu sayup mengusik keheningan malam. Ternyata masih ada jiwa lain di bilik berbeda yang gelisah di larut malam itu; sebuah hati milik seorang pemuda yang meniti malam panjang berharap pagi segera datang.

Di peraduannya, Kertawardana tidak dapat memejamkan mata. Bukan karena rindu untuk bertemu kakek dan neneknya di Tanah Ujung Galuh, melainkan rindu dan berharap pagi segera datang agar ia dapat melihat kembali wajah jelita Dyah Gayatri yang lembut dan dewasa, yang telah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.

"Mungkinkah aku dapat mencuri perhatiannya?" gumam Kertawardana sambil berbaring berpangku kepala dengan kedua tangannya. Malam bagi Kertawardana terasa merayap perlahan. Angannya terbang jauh menyusuri perjalanan dan waktu tentang kebersamaan dengan sang putri pencuri hatinya. Perlahan, pemuda itu pun terlena masuk ke alam mimpi, terjebak di belantara lamunan, mengembara di bawah awan harapan dan keinginan hati.

Kegelisahan hati Kertawardana akhirnya terjaga oleh suara pagi. Kokok ayam jantan membawanya kembali dari belantara angannya. Wajah pagi telah membuka pintunya. Keceriaan dan kehangatan mengisi hati setiap orang yang berada di pendapa Padepokan Jabung yang tengah bersiap berangkat menuju pelabuhan Tuban.

"Semoga keselamatan selalu menyertai kalian," kata Empu Pranata yang mengiringi rombongan Nyi Ajeng Nglirip hingga ujung tangga pendapa. Empu Pranata menarik napas dalam saat mata tuanya melihat punggung rombongan itu untuk terakhir kalinya di ujung tikungan jalan yang terhalang rumpun bambu.

Hangat cahaya pagi mengiringi langkah kaki rombongan Nyi Ajeng Nglirip yang meninggalkan Padepokan Jabung di antara pematang sawah luas yang membentang. Beberapa warga terlihat melemparkan pandangan ke arah rombongan yang berjalan beriringan di jalan padukuhan. Gajahmada, Yudha Pramana, dan Kertawardana berjalan di belakang para wanita. Andini, Nyi Ajeng Nglirip, dan Kunti terlihat sudah saling mengenal dan berjalan beriring sambil bercakap-cakap. Sementara itu, Dyah Gayatri dan Dyah Wiyat berjalan di depan dengan penuh canda ceria.

Awan putih di atas kepala mereka berarak terbawa angin, sesekali menutupi cahaya matahari dan meneduhi langkah perjalanan mereka di jalan bulakan panjang, perbukitan karang, dan padang ilalang. Akhirnya, ketika matahari sudah bergeser sedikit dari puncaknya, rombongan Nyi Ajeng Nglirip memasuki daerah Kadipaten Tuban.

"Sebuah kehormatan dan sanjungan tak terkira mendapat kunjungan dari Gusti Kanjeng Ratu Gayatri," kata Ki Sayekti, seorang syahbandar pelabuhan Tuban yang pernah bertugas di lingkungan istana Majapahit. Ia menyambut kedatangan Nyi Ajeng Nglirip dan rombongannya di rumah tinggalnya yang tidak jauh dari pelabuhan.

Nyi Ajeng Nglirip dan rombongannya diperlakukan layaknya tamu agung sambil menunggu kabar kedatangan jung besar Majapahit yang akan singgah di Bandar Pelabuhan Tuban malam itu. Akhirnya, di saat suasana mulai sepi, rombongan menuju pelabuhan karena mendapat kabar bahwa jung besar Majapahit telah merapat.

Dalam kesunyian malam, perlahan jung besar Majapahit meninggalkan dermaga kayu pelabuhan Tuban menuju Tanah Ujung Galuh. Dyah Wiyat berdiri di atas anjungan menikmati hembusan angin laut yang menerbangkan rambut dan tawanya di tengah deru ombak malam.

Temaram wajah pelabuhan Tanah Ujung Galuh yang dipenuhi pelita malam terlihat dari arah lepas pantai saat Jung Majapahit menguncupkan layarnya mendekati bibir dermaga. Beberapa penumpang berdiri gelisah di anjungan dan buritan, merasa kapal terbesar di zamannya itu bergerak sangat lamban menuju dermaga. Akhirnya, suasana hati para penumpang pecah dalam sorak sukacita saat jung Majapahit merapat di bibir dermaga pelabuhan. Yudha Pramana, Kunti, dan Kertawardana berdiri mematung di atas dermaga, layaknya orang asing yang belum tahu ke mana kaki harus melangkah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment