Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 155

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 155

Tumenggung Jala Yudha menarik napas panjang. Ia mengerti bahwa perkataan Tumenggung Mahesa Semu itu ditujukan kepada dirinya seorang, dan diam-diam ia dapat memahami arah jalan pikiran yang diinginkan oleh Tumenggung Mahesa Semu.

"Sejarah adalah sebuah peristiwa yang amat penting yang dapat kita jadikan sebagai panduan hidup. Dan aku menjadi saksi sejarah manakala Raja Kertanegara memilih seorang anak muda bernama Raden Wijaya untuk menjadi senapati perang menghadapi perlawanan Raja Jayakatwang. Ternyata, Raja Kertanegara ingin menciptakan orang muda yang dapat melanjutkan masa depan Singasari. Ia membiarkan anak muda itu menangis darah manakala melihat istana dan keluarganya dihancurkan oleh musuh, sementara separuh lebih pasukannya binasa. Namun, setelah kepahitan hidup yang dialaminya, anak muda itu telah tumbuh dan berkembang menjadi seekor harimau muda yang kuat, menjadi seekor rajawali yang perkasa, yang selalu unggul di medan pertempuran, bahkan telah mampu membangun sebuah kerajaan yang jauh lebih besar dari yang dimiliki oleh Raja Kertanegara," tutur Tumenggung Mahesa Semu kembali.

"Aku percaya kepada Gajah Mada dan Adityawarman. Bukankah keduanya pernah ditunjuk oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya memimpin pasukan memerangi pemberontakan di Lamajang dan Blambangan?" kata Ki Tumenggung Wasa menyetujui usulan Tumenggung Mahesa Semu.

"Bukan berarti aku membela putraku sendiri, tapi menurutku Gajah Mada dan Adityawarman memang pantas diberikan kesempatan itu," ujar Nyi Nariratih.

"Apakah ada yang lebih pantas dari kedua anak muda ini?" tanya Tumenggung Mahesa Semu sambil menyapu pandangannya ke semua orang yang hadir di panggung pendapa itu.

Setelah menunggu beberapa saat, tidak ada yang mengusulkan nama lain.

"Kita bergerak saat bulan hilang di langit, masih dua hari setelah hari ini," kata Tumenggung Mahesa Semu di hadapan semua yang hadir di atas pendapa itu.

"Besok aku akan mendahului ke benteng Tanah Ujung Galuh," ujar Gajah Mada menyampaikan maksudnya untuk berangkat ke benteng Tanah Ujung Galuh guna menyiapkan kesatuan pasukan Jala Yudha sebagai pasukan utama.

"Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, tidak seorang pun yang hadir di panggung pendapa ini boleh keluar dari Kabuyutan Bebander hingga batas waktu yang akan kutentukan," tegas Tumenggung Mahesa Semu.

Demikianlah, setelah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, satu per satu setiap orang berpamitan untuk beristirahat.

"Aku akan menyiapkan beberapa orangku berjaga-jaga di sekitar Kabuyutan Bebander ini, memastikan tiada seorang pun membocorkan rencana penyerangan kita," kata Tumenggung Mahesa Semu kepada Adityawarman dan Gajah Mada saat di atas pendapa itu hanya tinggal mereka bertiga.

"Apakah Paman Tumenggung Mahesa Semu mencurigai salah seorang di antara kita akan berkhianat?" tanya Gajah Mada.

"Sampai saat ini belum ada yang kucurigai," jawab Tumenggung Mahesa Semu.

"Semoga tidak ada yang mengkhianati perjuangan kita ini," harap Gajah Mada.

"Aku juga berharap demikian, namun kita tetap harus berhati-hati karena kita tidak tahu dan tidak dapat membaca apa yang ada di dalam hati setiap orang," kata Tumenggung Mahesa Semu.

Mendengar perkataan Tumenggung Mahesa Semu, Gajah Mada dan Adityawarman mulai dapat mengikuti sikap dan cara kerja cantrik utama dari Padepokan Bajra Seta itu yang terkesan sangat berhati-hati dan penuh perhitungan yang matang.

"Mari kita beristirahat, hari sudah jauh malam," ajak Tumenggung Mahesa Semu.

Sementara bulan sabit tipis di atas langit malam Kabuyutan Bebander terlihat melenggut sendirian. Suara lengking malam langgeng mengisi waktu demi waktu, memenggal sangkala dalam samadi sepi. Sementara semilir angin yang dingin seperti napas pendeta tua mengembuskan sirep sukma, menyenyakkan setiap jiwa yang terpulas di peraduannya.

Semua orang di Kabuyutan Bebander nampaknya sudah lama terpejam. Para prajurit di dalam barak-barak darurat yang berjajar di samping rumah kediaman Ki Buyut Bebander terlihat berhimpit, berbaring di atas rumput dan ilalang kering yang cukup hangat. Hanya beberapa orang prajurit terlihat terus berjaga sepanjang malam, mengusir kantuk dengan berbincang-bincang dan meneguk wedang hangat di dekat perapian. Namun, mereka tetap waspada, menjaga segala kemungkinan yang bisa terjadi tanpa terduga.

Perlahan waktu terus terkikis di perbatasan persinggahan pagi yang ditandai dengan sebaris warna merah memanjang dari ufuk timur cakrawala langit.

"Hendak ke manakah gerangan, Tuan?" tanya seorang prajurit peronda kepada Gajah Mada yang terlihat sudah siap berkemas melakukan perjalanan.

"Hari ini aku akan ke Kotaraja Majapahit," jawab Gajah Mada sambil tersenyum kepada prajurit peronda itu yang tak lain adalah prajurit Bhayangkara.

"Semoga hasil penjualan tikarnya berlipat ganda," celetuk salah seorang prajurit peronda kepada Gajah Mada yang saat itu memang tengah membawa gulungan tikar pandan, layaknya seorang pedagang anyaman.

Gajah Mada tersenyum memandang para prajurit itu dan terus melangkah sambil mengangkat caping besarnya sebagai pengganti lambaian tangan. Para prajurit yang bertugas jaga itu terus mengiringi langkah Gajah Mada hingga menghilang terhalang tanaman pagar halaman rumah Ki Buyut Bebander dan kegelapan pagi yang masih sepi.

Tidak lama berselang, Gajah Mada telah keluar dari gerbang gapura Kabuyutan Bebander. Namun, baru saja beberapa langkah dari gerbang, di keremangan pagi itu mata anak muda tersebut terkejut melihat empat sosok tubuh bergelimpangan di tengah jalan. Gajah Mada segera mengamati keempat sosok tubuh itu.

"Mereka sudah tidak bernyawa," gumam Gajah Mada dalam hati setelah memeriksa tubuh keempat orang itu satu per satu. "Aku mengenal mereka sebagai orang-orang Tumenggung Mahesa Semu. Pasti ada seseorang yang memaksa keluar dari Kabuyutan Bebander dan tidak dapat dihalangi oleh keempat orang ini," duga Gajah Mada dalam hati.

Dengan saksama, Gajah Mada memeriksa keadaan sekeliling, berharap mendapatkan petunjuk. Pandangannya terpaku kepada dahan-dahan semak belukar yang patah terkuak.

"Pertempuran mereka belum lama terjadi," batin Gajah Mada melihat getah dahan yang masih basah. "Semoga aku masih dapat mengejarnya," ucapnya dalam hati sambil melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna.

Perhitungan Gajah Mada benar; orang yang menewaskan keempat prajurit itu masih belum jauh. Di kejauhan, terlihat seorang lelaki tengah berlari menyusuri jalan arah menuju Kotaraja Majapahit. Dengan melipatgandakan kecepatannya, Gajah Mada mulai mendekati lelaki itu.

"Siapakah lelaki itu?" tanya Gajah Mada dalam hati. Ia merasa tidak sabaran lagi untuk menyusul orang di depannya yang juga melesat cepat menggunakan ilmu meringankan tubuh. Namun, siapa yang dapat menandingi ilmu meringankan tubuh Gajah Mada yang nyaris sempurna, yang seakan terbang mengendarai angin?

"Berhenti!" seru Gajah Mada yang telah berhasil mendahului langkah lelaki itu.

Lelaki itu terkejut bukan kepalang saat melihat seorang anak muda telah berdiri di hadapannya.

"Anak muda, apakah kamu pikir aku akan gemetar melihat keberadaanmu?" tanya lelaki itu.

"Aku tidak berpikir seperti itu. Yang kupikirkan, mengapa seorang seperti Ki Demung Samaya tega hati membunuh empat orang prajurit?" tanya Gajah Mada yang mengenal lelaki di hadapannya sebagai salah seorang pejabat utama istana yang dipercaya mengurus rumah tangga istana.

"Empat orang prajurit itu telah menghalangi langkahku. Menyingkirlah kamu dari hadapanku agar tidak menjadi seperti mereka," ancam Ki Demung Samaya.

"Ternyata Tumenggung Mahesa Semu sudah punya firasat bahwa ada di antara kita yang akan berkhianat," kata Gajah Mada.

"Ra Kuti telah menjanjikanku jabatan yang sangat tinggi, menjadi seorang mahapatih," ujar Ki Demung Samaya dengan penuh percaya diri.

"Hanya karena itukah Ki Demung harus mengkhianati kami?" tanya Gajah Mada dengan pandangan mata tajam yang membentur mata Ki Demung Samaya. Tersentak Ki Demung Samaya manakala matanya beradu dengan tatapan Gajah Mada yang begitu kuat mengguncang dadanya.

"Aku akan membunuhmu!" seru Ki Demung Samaya sembari menghempas rasa gentarnya.

Gajah Mada segera bersiap diri dan bersikap sangat hati-hati karena mengetahui Ki Demung Samaya adalah seorang berilmu tinggi. Ia telah melihat bekas luka di kepala dan dada keempat prajurit tersebut adalah akibat pukulan tangan yang kuat dan kokoh. Namun, Gajah Mada tidak dapat berpikir lebih lama lagi karena Ki Demung Samaya sudah menyerangnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment