Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 99

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 99

Pada saat itu, Bandar Pelabuhan Tanah Ujung Galuh adalah salah satu pelabuhan yang sangat ramai dan dikuasai sepenuhnya dalam rangkaian wilayah perdagangan Kerajaan Majapahit, mulai dari tanah Melayu di Swarnadwipa hingga berantai di sepanjang pesisir utara Jawadwipa. Di setiap bandar pelabuhan itu, terdapat perwakilan dagang sebagai kepanjangan tangan dari Kerajaan Majapahit untuk menjalin kerja sama perdagangan dengan para pedagang asing. Begitulah cara Baginda Raja Sanggrama Wijaya menguasai wilayah kelautannya.

Tampaknya Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah melaksanakan amanat suci para leluhurnya, para raja Singasari, untuk membangun sebuah singgasana di atas samudra raya. Geliat bandar pelabuhan di wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit adalah geliat kemakmuran Majapahit lewat pundi-pundi yang terus mengalir ke gudang perbendaharaan istana. Kepingan emas bangsa Arab dan kepingan perak milik bangsa Cina—yang telah diizinkan menjadi alat tukar perdagangan pada saat itu—terus melimpah memenuhi gudang penyimpanan kekayaan kerajaan.

Hasil kekayaan yang melimpah dari perdagangan itu dijadikan sepenuhnya untuk kemakmuran rakyat lewat keringanan pajak hasil bumi serta pembangunan candi dan pura di hampir seluruh pelosok negeri. Bumi makmur, para seniman melahirkan banyak karya besar, dan para rohaniawan hidup merdeka serta terlindungi dalam memajukan umatnya. Kerajaan Majapahit di bawah kepemimpinan putra Lembu Tal ini ibarat seekor naga samudra muda yang tengah menggeliat mengarungi samudra yang lebih luas dan lebih jauh lagi.

Namun, Baginda Raja Sanggrama Wijaya tetap tidak berubah sedikit pun. Ia adalah raja yang bersahaja, yang masih mau bertutur sapa kepada rakyat jelata serta menyambangi rumah para sahabat, kerabat, dan saudara. Demikianlah, pada suatu hari, Baginda Raja Sanggrama Wijaya bermaksud menyambangi kakeknya yang berada jauh di Tanah Pasundan, yaitu Sang Prabu Guru Darmasiksa. Gajah Mada sebagai pemimpin pasukan pengawal raja ikut bersamanya mengunjungi tanah Pasundan, tanah leluhur Baginda Raja Sanggrama Wijaya dari pihak ibunya. Tiga ratus prajurit mengiringi Baginda Raja Sanggrama Wijaya lewat jalur laut.

Hampir seluruh pejabat istana ikut mengantar keberangkatan Baginda Raja Sanggrama Wijaya di Bandar Pelabuhan Tanah Ujung Galuh. Nyi Nari Ratih dan Supo Mandagri turut hadir di sana. Di penghujung senja, manakala warna bumi semakin redup karena sang mentari telah bersembunyi di balik perbukitan barat dan pelita malam mulai dinyalakan di beberapa rumah di padukuhan Tanah Ujung Galuh, perahu besar jung Majapahit terlihat bergeser dari dermaga.

Buram warna malam menutupi keharuan di wajah Nyi Nari Ratih yang menatap perahu besar itu terus menjauhi dermaga. Wajah wanita itu mulai berkaca-kaca menatap perahu yang membawa Gajah Mada, putra tercinta, pergi bersama Baginda Raja Sanggrama Wijaya ke Tanah Pasundan.

"Semoga Gusti yang Maha Agung selalu memberikan keselamatan dalam perjalanan mereka," ucap Supo Mandagri saat melihat perahu jung Majapahit hilang tertelan kegelapan malam.

Suara lirih Supo Mandagri menyadarkan Nyi Nari Ratih dari keterpakuannya. "Mari kita kembali," ujar Nyi Nari Ratih kepada anak muda itu untuk kembali ke puri pasanggrahannya.

Sementara itu, di sebuah tempat yang berjarak beberapa hari perjalanan berkuda dari kotaraja Majapahit, seorang penunggang kuda terlihat memasuki gapura batas kota Kediri. Desir angin dingin menyapu wajah lelaki penunggang kuda itu yang terus masuk ke wilayah kotaraja Kediri yang sudah sepi. Di sebuah persimpangan, lelaki itu keluar dari jalan utama memasuki jalan padukuhan. Di depan sebuah rumah panggung, ia berhenti dan turun dari kudanya.

Malam saat itu masih wayah sepi bocah. Sepasang suami istri terlihat duduk di pendapa rumah mereka dan melihat lelaki berkuda itu mendekat. Pelita malam yang temaram tergantung di atas tangga pendapa menerangi wajah lelaki tersebut.

"Ra Kuti!" seru lelaki di atas pendapa itu dengan terkejut.

"Lama kita tidak berjumpa. Ternyata kamu masih mengenal wajahku," jawab lelaki berkuda itu, yang ternyata adalah Ra Kuti, seorang pejabat istana sekaligus salah seorang Dharmaputra di Kerajaan Majapahit.

Setelah mengikat kudanya, Ra Kuti naik ke pendapa. "Ra Kuti, perkenalkan ini istriku," ujar lelaki itu sambil memperkenalkan wanita di sebelahnya.

"Ternyata Demung Gunari sangat pandai memilih seorang istri," puji Ra Kuti kepada lelaki yang dipanggilnya Demung Gunari itu.

Setelah saling memberi salam, Nyi Demung Gunari pamit ke pawon untuk menyiapkan minuman hangat. Saat Nyi Demung masuk ke dalam, Ra Kuti belum menyampaikan maksud kedatangannya ke Kotaraja Kediri. Ia hanya mengatakan ada tugas istana dan mampir karena rindu kepada Demung Gunari. Pembicaraan mereka masih berkisar pada hal-hal ringan tentang kampung halaman yang sama, yaitu Tanah Lamajang.

Hingga Nyi Demung Gunari kembali membawa minuman dan makanan lalu masuk lagi ke dalam, Ra Kuti masih belum mengungkapkan tujuannya. "Terlanjur malam, menginaplah di sini," tawar Demung Gunari. Ra Kuti pun menerima tawaran itu. Ketika malam semakin larut, Ra Kuti mulai mencoba mengukur tingkat kepedulian Demung Gunari terhadap agama yang dianutnya melalui pancingan-pancingan bahasa yang tersamar.

Setelah merasa yakin, Ra Kuti mulai menawarkan gagasannya. "Kita tidak ingin agama yang kita anut terus tersingkir oleh ajaran baru yang dianut oleh keluarga kerajaan Majapahit saat ini. Apakah dirimu rela jika suatu saat nanti, anak dan cucu keturunanmu tidak lagi melihat pura persembahyangan yang memuja dewa kita?" tanya Ra Kuti.

"Tidak, aku tidak rela," jawab Demung Gunari dengan tegas.

"Bagus," balas Ra Kuti dengan senyum kemenangan. Ia mulai memaparkan gagasannya bahwa satu-satunya cara untuk membesarkan golongan mereka adalah dengan mengambil alih kekuasaan Kerajaan Majapahit. "Dimulai dengan melumpuhkan sahabat-sahabat setia di sekitar penguasa Majapahit itu," lanjut Ra Kuti.

"Di mana tempatku dalam perjuangan besar ini?" tanya Demung Gunari penuh semangat.

"Tempatmu adalah mencari seorang 'pengantin', seseorang yang akan kita tugaskan membunuh Patih Mahesa Amping dengan cara meracuninya," jawab Ra Kuti.

"Aku adalah seorang Demung yang mengurus rumah tangga istana. Aku dapat mencarikan seorang pengantin itu, seseorang yang dengan sukarela melaksanakan rencana kita," jawab Demung Gunari menyanggupi.

"Jangan khawatir mengenai biaya," ujar Ra Kuti sambil mengeluarkan serenceng keping emas yang langsung diberikan kepada Demung Gunari.

"Sangat banyak sekali," sahut Demung Gunari dengan wajah berbinar.

"Nilai keping emas ini tidak berarti dibandingkan dengan hasil perjuangan kita membesarkan agama anutan kita," kata Ra Kuti. Ia kemudian berjanji akan kembali bulan depan untuk mendengar hasil upaya Demung Gunari dalam mencari calon "pengantin" tersebut.

Sementara itu, malam semakin larut. Desir angin terasa dingin menusuk kulit. Terdengar suara burung hantu di cabang pohon nangka di samping rumah Demung Gunari, sebelum akhirnya terbang kembali ke dalam kesunyian malam. Kotaraja Kediri malam itu telah terperangkap dalam selimut mimpinya. Keesokan harinya, Ra Kuti terpaksa menemui seseorang di istana Kediri agar rencananya terlihat sebagai tugas kerajaan resmi sebelum ia kembali ke Kotaraja Majapahit.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment