Chapter 08
"Aku harus melihat suasana kademangan di sekitar Tuban, agar aku mendapat gambaran yang jelas apakah benar Adipati Ranggalawe bermaksud memisahkan diri dari kedaulatan Majapahit Raya," kata Gajahmada ketika keluar dari Hutan Jatirogo.
Sementara itu, hari terlihat sudah mulai gelap. Langkah Gajahmada semakin menjauhi Hutan Jatirogo.
Gajahmada berjalan di sebuah jalan perbukitan dalam gelap malam.
Kumpulan pelita malam dari rumah-rumah penduduk yang terpisah terlihat bertebaran di bawah perbukitan, pertanda bahwa di bawah sana ada sebuah padukuhan.
"Pemilik kedai itu mengatakan bahwa setelah melewati Hutan Jatirogo, aku telah berada di wilayah Kademangan Singgahan," kata Gajahmada dalam hati sambil terus melangkah mendekati kerlap-kerlip pelita malam yang bertaburan di sekitar perbukitan itu.
Langkah kaki Gajahmada membawanya berjalan di antara pematang sawah yang tersebar berundak, disinari cahaya bulan yang remang.
Semilir angin menyentuh ujung juntai padi yang masih belum menguning itu, serentak bergoyang searah.
Akhirnya, Gajahmada menemukan sebuah jalan yang cukup lebar, dapat dilewati dua gerobak yang bersisipan; sebuah jalan padukuhan.
"Berhenti!" kata seorang lelaki yang keluar dari gardu ronda kepada Gajahmada di sebuah pertigaan jalan.
Seorang kawannya yang lain juga ikut keluar dari gardu rondanya.
"Hari sudah malam, apa keperluanmu datang di padukuhan kami?" kata orang yang mencegat Gajahmada.
"Aku hanya seorang pengembara yang kebetulan lewat di padukuhan ini," kata Gajahmada dengan nada suara merendah.
"Jangan kelabui kami, sudah tiga hari ini beberapa orang lewat padukuhan ini. Mereka adalah para pemburu Mustika Batu Tuban," kata orang itu dengan wajah penuh selidik.
"Apakah wajahku begitu mirip sebagai seorang pemburu benda mustika?" kata Gajahmada sambil tersenyum.
"Maafkan kawanku ini. Dua-tiga hari ini memang banyak orang asing lewat di padukuhan kami. Tadi pagi, seorang warga kami mengabarkan bahwa kambing betinanya hilang," kata seorang kawannya yang lebih sopan dan ramah.
"Seperti yang telah kukatakan, aku hanya seorang pengembara," kata Gajahmada.
"Silakan Ki Sanak melanjutkan perjalanan, tapi kalau boleh mendengar saranku, sebaiknya Ki Sanak tidak bermalam di padukuhan kami. Jangan-jangan, Ki Sanak akan jadi korban kecurigaan warga padukuhan ini," kata orang yang bertutur lebih sopan dan ramah itu.
"Terima kasih, aku memang hanya lewat padukuhan ini," kata Gajahmada kepada kedua peronda itu.
Ketika Gajahmada sudah melangkah jauh, orang yang bertutur sopan dan ramah itu menasihati kawannya.
"Kita boleh mencurigai orang asing, tapi harus dengan kata-kata yang santun. Untung saja orang itu tidak mudah tersinggung. Apa jadinya kita bila kebetulan orang itu berilmu tinggi?" kata orang itu menasihati kawannya.
Sementara itu, Gajahmada melewati padukuhan itu.
Gajahmada yang sudah berjalan jauh berkata dalam hati, "Para pemburu Mustika Batu Tuban?" Ia sangat tertarik dengan ucapan salah satu peronda itu.
"Besok pagi aku akan mencari tahu tentang para pemburu Mustika Batu Tuban itu," kata Gajahmada kembali dalam hati.
Sementara itu, hari sudah menjadi semakin larut malam, semilir angin sudah mulai terasa menyengat kulit.
Akhirnya, Gajahmada memutuskan untuk bermalam di sebuah gubuk di persawahan yang berada di perbatasan dua padukuhan.
Gajahmada naik ke atas sebuah gubuk bambu, duduk meluruskan kakinya, dan bersandar di tiang bambu.
Mata anak muda itu sebentar saja sudah terpejam. Namun, indra pendengarannya masih selalu terjaga, sebagaimana jiwa para ksatria yang selalu siaga menghadapi segala marabahaya yang bisa saja terjadi kapan dan di mana pun.
Namun, malam itu tidak terjadi apa-apa, hingga akhirnya suara ayam jantan di pagi itu membangunkan Gajahmada.
Langkah kaki Gajahmada memasuki padukuhan yang lain.
Pagi memang masih remang. Namun, beberapa petani bersisipan jalan dengan Gajahmada, mungkin akan melihat sawah mereka yang sudah bunting muda itu.
"Maaf, Pak Tua, di manakah letak Kademangan Singgahan?" tanya Gajahmada kepada seorang lelaki tua yang bersisipan jalan dengannya.
"Padukuhan ini sudah termasuk Kademangan Singgahan," kata lelaki tua itu menjawab pertanyaan Gajahmada.
"Terima kasih, di mana arah Pasar Kademangan Singgahan? Kebetulan aku ingin mengunjungi seorang saudara yang rumahnya berada di dekat Pasar Kademangan Singgahan," kata Gajahmada kembali.
"Pasar Kademangan ada di ujung jalan ini, ikuti saja jalan ini," kata orang itu kepada Gajahmada.
Hari itu, Gajahmada telah memasuki Pasar Kademangan Singgahan. Biasanya, di hari pasaran, pasar itu akan menjadi sangat ramai dikunjungi orang. Namun, hari itu bukan hari pasaran ketika Gajahmada memasuki Pasar Kademangan Singgahan.
Akhirnya, Gajahmada memutuskan untuk memasuki sebuah kedai yang tetap buka, meski hari itu bukan hari pasaran.
Ketika memasuki kedai itu, Gajahmada hanya melihat dua lelaki berada di kedai itu.
Seorang pemilik kedai datang menghampirinya; orang tua yang sangat ramah.
"Pengunjung hari ini memang sedang sepi, hanya ramai saat hari pasaran saja," kata pemilik kedai itu, menjawab pertanyaan Gajahmada tentang suasana di kedai itu setiap harinya.
Maka Gajahmada memesan makanan dan minuman yang ada di kedai itu.
Pemilik kedai itu kembali ke dalam untuk menyiapkan pesanan Gajahmada.
"Ternyata kita tidak sendiri, ada banyak orang yang ingin memiliki Mustika Batu Tuban itu," kata salah seorang pengunjung kedai yang lebih tua, yang duduk membelakangi Gajahmada.
"Berita tentang adanya Mustika Batu Tuban seperti angin yang berembus. Orang-orang dari tempat yang jauh juga berdatangan," kata orang yang lebih muda.
"Selama ini aku hanya mendengar selentingan orang, bahwa Nyi Ajeng Nglirip adalah seorang wanita yang mempunyai ilmu yang sangat tinggi," kata pengunjung yang lebih tua.
"Mungkin karena itulah, wanita itu begitu berani menerima para pemburu Mustika Batu Tuban secara terbuka," kata orang yang lebih muda.
"Aku jadi tidak sabar, ingin memastikan apakah wanita itu memang berilmu sangat tinggi," kata orang yang lebih tua.
Gajahmada yang mencuri dengar pembicaraan mereka itu menarik napas dalam-dalam karena mendengar kedua orang itu memanggil pemilik kedai untuk membayar makanan dan minuman mereka.
Mata Gajahmada sempat melihat keduanya keluar dari kedai itu.
"Paman, kemarilah," kata Gajahmada kepada pemilik kedai itu yang tengah membersihkan meja.
"Apakah Ki Sanak perlu menambah minuman?" tanya pemilik kedai itu sambil menghampiri Gajahmada.
"Aku hanya ingin bertanya, apakah Paman mengetahui tentang Mustika Batu Tuban?" tanya Gajahmada kepada pemilik kedai itu.
Pemilik kedai itu tidak langsung menjawab. Matanya berpaling sebentar, seperti tengah memastikan bahwa tidak ada siapa pun di kedai itu selain mereka berdua.
"Sudah sepekan ini aku melihat ada beberapa orang yang memang tengah memburu batu mustika itu," kata pemilik kedai itu dengan suara pelan, seperti takut didengar orang.
"Baru sepekan ini?" tanya Gajahmada kembali.
"Cerita tentang Mustika Batu Tuban memang sudah kami dengar secara turun-temurun dari para orang tua kami. Namun, baru sepekan ini banyak orang berdatangan untuk memburunya," kata pemilik kedai itu.
"Apa yang Paman ketahui dari cerita tentang Mustika Batu Tuban itu?" tanya Gajahmada.
"Ketika aku masih kecil, orang tuaku pernah bercerita bahwa seekor naga langit turun ke bumi untuk bertelur. Naga langit itu akhirnya menemukan tempat yang sangat baik untuk bertelur, yaitu di sebuah gua yang terlindung oleh air terjun. Naga langit itu hanya bertelur tiga butir. Setelah lama dierami, dua butir telur itu menetas. Dua bayi naga langit itu dibawa terbang oleh naga langit itu, maka tinggal sebutir telur naga langit yang membatu menjadi sebuah batu. Hingga pada suatu hari, seorang pengembara menemukannya," kata pemilik kedai itu, menghentikan sejenak ceritanya.
"Ternyata batu itu adalah sebuah mustika. Siapa pun yang memilikinya akan disanjung penuh hormat, seorang hamba akan patuh, seorang kawan akan setia, dan musuh akan gentar menghadapinya, karena membuat perbawa tersendiri. Konon, pengembara itu membangun sebuah istana di Hutan Jatirogo dan menjadi seorang raja yang menguasai separuh dari bumi ini," kata pemilik kedai itu, melanjutkan ceritanya. Terlihat ia menarik napas dalam-dalam sambil mengumpulkan kembali ingatan cerita dari orang tuanya.
"Orang tuaku tidak bercerita lebih jauh mengapa batu mustika itu akhirnya dikembalikan ke tempatnya semula oleh Raja itu dan kembali menjadi seorang pengembara biasa, sebagaimana sebelumnya," kata pemilik kedai itu, mengakhiri ceritanya tentang Mustika Batu Tuban.
"Apakah Paman mengetahui di mana gua tempat naga langit itu bertelur?" tanya Gajahmada.
"Orang tuaku mengatakan bahwa gua itu berada di balik Air Terjun Nglirip," kata pemilik kedai itu.
"Namun, tidak ada seorang pun yang berani masuk ke gua itu. Mereka percaya bahwa naga langit masih selalu menjaga tempat itu dengan lidah apinya. Ada sebuah cerita seseorang mencoba naik ke atas gua itu, namun belum sampai sudah terbakar dan tersambar petir," kata pemilik kedai itu kembali.
"Apa hubungannya gua itu dengan Nyi Ajeng Nglirip?" tanya Gajahmada kembali.
"Tampaknya Ki Sanak belum mengetahui tentang wanita itu," kata pemilik kedai itu sambil tersenyum kepada Gajahmada.
"Aku baru mendengar nama itu dari dua pengunjung kedai ini," kata Gajahmada.
"Sekitar empat atau lima bulan yang lalu, sebuah rombongan kecil datang dan menetap di sekitar Air Terjun Nglirip.