Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 180

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 180

"Apa gerangan yang dapat aku bantu?" tanya Kuda Jenar layaknya seorang yang tidak tahu apa-apa.

"Ramuan obat yang pernah kamu berikan kepada istriku," jawab Ra Tanca.

"Apakah ada orang lain yang menderita penyakit yang sama dengan istrimu?" tanya Kuda Jenar, masih dengan kepura-puraannya seolah terkejut.

"Benar, penyakitnya sama dengan yang diderita oleh istriku," ujar Ra Tanca.

"Siapakah gerangan orang itu, jika aku boleh mengetahuinya?" tanya Kuda Jenar.

Terlihat Ra Tanca menarik napas ragu, teringat permintaan Mahapatih Arya Tadah agar dirinya merahasiakan hal tersebut. "Mahapatih Arya Tadah memintaku untuk merahasiakannya," hanya itu yang dikatakan Ra Tanca kepada Kuda Jenar.

Kuda Jenar terdiam sejenak; dalam hatinya, ia seolah mengetahui siapa orang yang harus dirahasiakan itu. "Aku dapat membantumu, namun kamu harus memenuhi persyaratanku, persyaratan yang sama seperti ketika kuberikan obat untuk istrimu," kata Kuda Jenar.

Bukan main gembiranya hati Ra Tanca mendengar kesanggupan Kuda Jenar. Langsung terbayang namanya yang akan menjulang tinggi sebagai tabib tersohor karena mampu menyembuhkan penyakit Baginda Raja Jayanagara.

"Anak muda yang bodoh," batin Ra Tanca, menilai sikap Kuda Jenar yang aneh karena tidak ingin namanya dikenal oleh siapa pun.

"Orang bodoh yang akan menanggung nasib malang," batin Kuda Jenar pula, memandang kecerahan di wajah Ra Tanca.

Keduanya memang sama-sama tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran masing-masing, namun mereka berpikir hal yang sama: menilai orang di hadapannya sebagai orang bodoh. Yang pasti, Kuda Jenar merasa semua rencananya telah berjalan dengan sangat sempurna.

"Nanti malam aku akan membawa dua mangkuk ramuan itu. Hari ini aku minta izin untuk menyiapkannya," pamit Kuda Jenar kepada atasannya, Ra Tanca.

Sementara itu, di waktu yang sama, terlihat seorang pemuda berkuda tengah memasuki Kademangan Simpang. "Kutitipkan kudaku di sini," kata pemuda itu kepada seorang prajurit di barak kesatuan kademangan.

"Kami akan menjaga kuda Tuan dengan baik," jawab prajurit itu dengan sangat ramah kepada pemuda yang ternyata adalah Patih Gajah Mada.

Prajurit itu hanya berpikir Patih Gajah Mada ingin berjalan-jalan seorang diri di sekitar Kademangan Simpang, tidak menduga sama sekali bahwa anak muda itu akan melanjutkan perjalanannya ke Kotaraja Majapahit.

"Terima kasih, aku hanya ingin berjalan-jalan di sekitar kademangan ini," kata Patih Gajah Mada sambil tersenyum ramah.

Kehadiran anak muda yang berjalan kaki itu cukup mencuri perhatian, terutama para gadis yang kebetulan berpapasan dengannya. Terlihat dua gadis manis yang sedang menjunjung barang belanjaan memandang penuh kagum ke arah Patih Gajah Mada yang berjalan mendekat. Rambut ikal terurai tanpa ikat kepala, wajah tampan rupawan, serta bahu yang tegap dengan langkah penuh percaya diri membuat gadis mana pun akan terpikat.

"Serrr."

Kedua gadis itu seperti mendapatkan rezeki besar manakala Patih Gajah Mada membalas senyum mereka. Mereka saling mencubit tangan kawannya, berjalan dengan langkah berjinjit penuh kegembiraan. Perawakan tubuhnya yang berbeda dengan orang Jawa pada umumnya juga menjadi pemandangan yang menarik di jalan utama Kademangan Simpang itu.

Sementara itu, Patih Gajah Mada yang sudah terbiasa menjadi pusat perhatian, tetap berjalan seperti biasa. Ketika ia telah keluar dari Kademangan Simpang dan suasana mulai sepi, ia tidak lagi berjalan seperti sebelumnya. Ia berkelebat melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sangat sempurna.

"Wuss."

Patih Gajah Mada melesat seperti menunggang angin menuju Kotaraja Majapahit. Ia ingin segera sampai di istana setelah mendapat pesan singkat dari Mahapatih Arya Tadah.

"Pasti ada sesuatu yang amat penting sehingga Paman Mahapatih memanggilku," batinnya.

Andaikata Patih Gajah Mada berkuda, baru tengah malam ia akan sampai. Namun, dengan ilmu meringankan tubuhnya, ia telah tiba di Kotaraja Majapahit saat hari belum berakhir senja.

"Selamat datang, wahai Tuan Patih Gajah Mada," sapa seorang prajurit penjaga istana.

Patih Gajah Mada mengangguk ramah dengan senyum menghias bibirnya. "Sejak kapan kamu bertugas sebagai prajurit penjaga, wahai Glagah Merah?" tanyanya kepada prajurit yang dikenal sebagai salah satu anak buahnya di kesatuan Bhayangkara.

"Sejak Tuan pindah menjadi patih di Kahuripan, hamba pindah tugas menjadi kepala prajurit penjaga istana," jawab prajurit muda itu.

"Pasti kamu seorang bekel muda yang hebat," puji Patih Gajah Mada sambil menepuk bahu bawahannya.

"Semua berkat bimbingan Tuan," jawab prajurit itu penuh hormat.

"Bekel Glagah Merah, antarkan aku menemui Mahapatih Arya Tadah di Bale Kepatihan," perintah Patih Gajah Mada.

"Tuan Mahapatih Arya Tadah sudah tidak ada di kepatihan. Hamba dapat mengantar Tuan ke puri pasanggrahannya langsung," jawab Bekel Glagah Merah.

Setibanya di puri pasanggrahan, Bekel Glagah Merah mempersilakan Patih Gajah Mada menunggu sementara ia mengabarkan kedatangannya. Tidak lama berselang, prajurit muda itu kembali. "Mahapatih Arya Tadah bersedia menerima Tuan," ujarnya dengan wajah berseri-seri.

Patih Gajah Mada menaiki tangga pendapa dan menemui lelaki perkasa yang berdiri di pintu pringgitan.

"Selamat datang, wahai putra angkat saudaraku," sambut Mahapatih Arya Tadah.

"Selamat berjumpa kembali, wahai Paman Mahapatih," jawab Patih Gajah Mada.

Keduanya berbincang hangat, menanyakan kabar dan tugas masing-masing, sebelum akhirnya Mahapatih Arya Tadah membuka pembicaraan utama dengan raut wajah serius.

"Pasti kamu bertanya-tanya hal penting apa yang memaksaku memanggilmu," ujar Arya Tadah.

"Sepertinya Paman Mahapatih pun sudah tidak sabar untuk menyampaikannya," balas Gajah Mada.

Mahapatih Arya Tadah pun menceritakan kondisi Raja Jayanagara yang menderita penyakit aneh. "Penyakitnya sangat mirip dengan yang pernah diderita oleh istri Ra Tanca."

"Bukankah Ra Tanca telah dapat menyembuhkan penyakit istrinya?" tanya Patih Gajah Mada.

"Aku telah memintanya untuk menyembuhkan Raja, namun masalahnya, Baginda telah melarang siapa pun masuk ke kamarnya," jelas Arya Tadah.

"Biar aku menebak, bukankah Paman bermaksud agar akulah yang masuk ke kamar Raja?" tanya Gajah Mada sambil tersenyum.

"Kamu benar. Menurutku, Raja tidak akan marah bila ada orang yang melanggar aturannya, yaitu dirimu, wahai putra angkat Patih Mahesa Amping."

"Demi kesembuhannya, aku bersiap menerima murka seorang raja," tegas Patih Gajah Mada.

"Ternyata aku tidak salah pilih. Kamu adalah orang yang paling dekat dan paling mengenalnya. Bila diibaratkan, kamu dan Raja Jayanagara seperti dua jari ini," ujar Mahapatih Arya Tadah sambil memperlihatkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment