Chapter 18
Aku tidak pernah menyangka, Kadipaten Tuban menjadi ganjalan dan ujian pertama Kerajaan Majapahit yang baru memulai mengepakkan sayapnya.
"Semoga Baginda Raja Sanggrama Wijaya tidak surut meski yang dihadapi adalah sahabatnya sendiri, sahabat seperjuangannya," kata Jayakatwang menanggapi cerita tentang suasana Kadipaten Tuban saat itu.
"Pengaruh Paman Adipati Ranggalawe begitu besar terhadap penduduk Tuban, dikhawatirkan bahwa Majapahit bukan hanya berhadapan dengan para prajurit Tuban, tetapi semua orang biasa para petani yang telah tumbuh rasa kesetiaannya untuk membela dan mempertahankan kampung halamannya," kata Gajah Mada.
"Adipati Ranggalawe pernah ditugaskan oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya untuk melindungi para penduduk Tuban dari kebrutalan prajurit Mongol beberapa tahun silam.
Itulah awal kecintaan para penduduk Tuban kepada Adipati Ranggalawe yang menganggapnya sebagai seorang pahlawan bagi mereka," kata Jayakatwang.
"Adipati Sunginep tidak akan berdiam diri melihat putranya digempur oleh Majapahit," kata Gajah Mada.
"Dulu Arya Wiraraja dan Raden Wijaya pernah bersatu melawanku, sekarang mereka berdua saling berseberangan.
Kuakui bahwa Adipati Sunginep itu adalah seorang pemikir ulung, aku berharap bahwa Baginda Sanggrama Wijaya selalu waspada menghadapinya, seorang lawan yang sangat licin seperti belut, memiliki banyak kecerdikan seperti seekor kancil, namun memiliki kesabaran yang hebat seperti seekor beruang besar menunggu mangsanya," kata Jayakatwang, bercerita tentang Adipati Arya Wiraraja, ayahanda Adipati Ranggalawe itu.
"Besok hamba akan datang menghadap kepada Patih Mangkubumi, menyampaikan hasil pengamatan hamba di Tanah Tuban," kata Gajah Mada.
"Semoga Majapahit dapat mengambil langkah-langkah yang tepat, tidak tergesa-gesa, tetapi juga tidak terlalu lamban bertindak.
Jangan membiarkan api di dalam sekam membesar atau membiarkan tiang pawon sendiri terbakar," kata Jayakatwang.
Sementara itu, matahari terlihat sudah mulai redup di ufuk barat bumi, rumput hijau dan bunga soka kuning di halaman muka pura Jayakatwang perlahan hilang tersamar buram dalam pandangan mata, hari telah mulai memasuki malam hari.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Gajah Mada sudah berangkat menuju ibu kota Majapahit untuk bertemu langsung dengan Patih Mangkubumi.
Patih Mangkubumi dengan gembira menyambut kedatangan Gajah Mada, menerima anak muda itu di serambi pura pasanggrahannya yang berada di lingkungan dalam istana Majapahit di sebelah utara Pura Pasanggrahan Kartika, tempat Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
Setelah saling menyampaikan salam dan kabar keselamatan, Gajah Mada langsung bercerita tentang hasil pengamatannya di Tanah Tuban.
"Semua orang Tuban tampaknya telah disiapkan untuk mengangkat senjata, siap membela tanah tumpah darahnya," kata Gajah Mada.
"Apa yang akan kamu lakukan, wahai putra Patih Mahesa Amping, seandainya kamu adalah Adipati Ranggalawe?" tanya Patih Mangkubumi kepada Gajah Mada.
"Hamba akan mengganyang pasukan Majapahit pada malam hari bila pasukan itu datang dari lautan, karena hamba telah mengosongkan kota kadipaten dan menyembunyikan pasukan besar di sebuah gua tidak jauh dari kota kadipaten.
Sementara bila pasukan Majapahit datang lewat jalur darat, hamba akan menjepit pasukan Majapahit dari dua arah, karena hamba telah menyembunyikan sebuah pasukan besar di hutan Jatirogo, pasukan bantuan para prajurit Tanah Perdikan Sunginep," kata Gajah Mada, mencoba menyampaikan pikirannya.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan, wahai putra Patih Mahesa Amping, bila kuserahkan dirimu sebagai seorang Senapati prajurit Majapahit ini?" tanya Patih Mangkubumi kepada Gajah Mada.
"Hamba akan menyerang Tuban dari dua arah secara bersamaan, dari arah laut akan langsung menyerang ke pusat kekuatan mereka yang tersembunyi di sebuah gua, sementara dari arah darat akan langsung menyerang pasukan mereka di hutan Jatirogo," kata Gajah Mada, kembali menyampaikan buah pikirannya.
"Sebuah pemikiran yang hebat, aku seperti berhadapan dengan seorang pemikir ulung, melihatmu seperti melihat Patih Mahesa Amping ketika kami di masa-masa perjuangan membangun Majapahit ini.
Kecerdasan dan pikiran Patih Mahesa Amping ternyata telah kamu warisi, meski kamu bukan anak kandungnya sendiri," kata Patih Mangkubumi, memuji buah pikiran Gajah Mada.
"Hamba yang bodoh ini masih harus banyak belajar, dari seorang empu yang menguasai ilmu perbintangan, dari seorang empu yang menguasai keserasian ajaran Cakra Nawasanga, keserasian lahir dan keserasian batiniah sebagai landasan singgasana Majapahit saat ini," kata Gajah Mada, penuh kerendahan hati.
"Kami para orang tua hanya meletakkan dasar landasan ketatanegaraan di singgasana Majapahit ini sebagaimana Raja Erlangga membangun singgasananya.
Tahukah kamu, keruntuhan singgasana yang dibangun oleh Raja Erlangga akibat ketidakmengertian keturunannya menjadi raja di singgasananya sendiri," kata Patih Mangkubumi sambil tersenyum menilik apa yang dipikirkan oleh Gajah Mada.
"Hamba yang bodoh ini mohon pengajaran, apa yang dimaksud dengan tidak menjadi raja di singgasananya sendiri?" tanya Gajah Mada kepada Patih Mangkubumi.
"Tahukah kamu, seorang raja yang hebat bukan seorang raja yang sakti mandraguna, bukan pula seorang raja yang unggul dan jaya dalam setiap peperangannya.
Tetapi raja yang hebat adalah raja yang dapat memimpin dan mengendalikan dirinya sendiri.
Dialah raja yang menjadi raja di singgasananya sendiri, sebagai Siwa duduk di singgasana keadilannya," kata Patih Mangkubumi kepada Gajah Mada layaknya kepada putranya sendiri.
"Pengajaran Tuan Patih Mangkubumi akan hamba pusakai," kata Gajah Mada dengan hati penuh hormat.
"Hari ini aku, orang tua, merasa berbahagia bertemu denganmu, orang muda yang akan melanjutkan cita-cita besar kami.
Kutitipkan masa depan Majapahit ini kepadamu, jagalah para keturunan Baginda Raja sebagaimana kami menjaga Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
'Mampukah dirimu mengangkat keris di hadapan rajamu?' Seperti itulah Patih Mahesa Amping mengingatkan Baginda Raja Sanggrama Wijaya," kata Patih Mangkubumi dengan senyum yang tidak pernah lepas sepanjang perkataannya itu.
Diam-diam Gajah Mada mengagumi jalan pikiran serta pandangan orang tua ini tentang hakikat diri dan kehidupan yang begitu mudah untuk dicerna dan diejawantahkan dalam kehidupan nyata, dalam kehidupan sehari-hari, sebagai apa pun diri kita, sebagai seorang petani atau sebagai seorang raja sekalipun.
Diam-diam Patih Mangkubumi juga menyukai anak muda di hadapannya yang berotak sangat cemerlang, mampu mencerna ungkapan-ungkapan yang sangat rumit dari hakikat diri dan kehidupan murni perilaku seorang hamba kepada Sang Pencipta-Nya.
Maka tak terasa pembicaraan mereka semakin berkembang, tidak merasa bosan sedikit pun duduk dan bercakap-cakap begitu lama di serambi dan terhenti ketika seorang prajurit pengawal istana datang menyampaikan pesan bahwa Patih Mangkubumi diharapkan datang menemui Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
"Senang bertemu denganmu, wahai putra Mahesa Amping.
Sampaikan salamku kepada keluarga Jayakatwang," kata Patih Mangkubumi ketika Gajah Mada menyampaikan maksudnya untuk pamit.
Demikianlah, Gajah Mada terlihat telah keluar dari regol gerbang istana Majapahit, namun tidak langsung kembali ke Tanah Ujung Galuh, tetapi mampir sebentar menemui ibundanya Nyi Nariratih di barak prajurit wanita, barak pasukan khusus para prajurit Srikandi, tempat Nyi Nariratih adalah pimpinannya.
Sementara itu, pada waktu yang sama, Patih Mangkubumi telah memasuki Pura Pasanggrahan Kartika, pasanggrahan Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
Sebuah pura pasanggrahan yang berdiri megah dan asri dikelilingi delapan pura pasanggrahan lainnya, selaras dengan arah delapan jalur garis utama penjuru mata angin.
"Selamat datang, Ki Sandikala," kata Baginda Raja di atas pendapa puranya kepada Patih Mangkubumi dengan panggilan aslinya.
"Hari yang baik, bulan awal musim sekumpulan bangau datang kembali, panen buah, dan awal menyebar benih padi.
Semoga hati Tuan Baginda selalu diberkati sebagaimana awal kedatangan Candra Rasa Mulya Kesucian ini," kata Patih Mangkubumi dengan senyum yang tidak pernah lepas dari raut wajahnya.
Sesuai dengan keperluannya, Baginda Raja Sanggrama Wijaya langsung menyampaikan beberapa hal yang sangat penting untuk dibicarakan bersama Patih Mangkubumi.
Ketika pembicaraan beralih ke masalah Adipati Ranggalawe, terlihat Patih Mangkubumi telah menyampaikan hasil pengamatan Gajah Mada di Tanah Tuban, sekaligus dengan buah pikiran anak muda itu sendiri.
"Anak muda itu memang sudah dapat diandalkan," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya, memuji hasil kerja Gajah Mada setelah mendengar penuturan dari Patih Mangkubumi.
"Ranggalawe tidak sendiri, ayahnya Arya Wiraraja ada di belakangnya," kata Patih Mangkubumi, menyampaikan pendapatnya.
"Arya Wiraraja memang telah menggunakan tangan putranya sebagai pukulan pertama untuk mengukur seberapa besar kekuatan Majapahit," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
"Di kepala Arya Wiraraja mungkin tersirat, apa yang akan dilakukan Majapahit, sementara sepertiga kekuatan pasukannya adalah para prajurit yang berasal dari Tanah Perdikan Sunginep," kata Patih Mangkubumi.
"Pasukan dari Kediri dapat menggantikannya," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
"Para prajurit laut di bawah kendali Rakryan Kebo Arema akan menambah kekuatan yang ada," kata Patih Mangkubumi, menambahkan.
"Kita akan menurunkan pasukan Majapahit dengan kekuatan penuh, menyerang Tanah Tuban dari laut dan darat," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
"Kemenangan pasukan kita akan dapat membungkam Arya Wiraraja dan siapa pun yang akan mencoba membuat makar melemahkan kedaulatan Majapahit Raya," kata Patih Mangkubumi.
"Hari ini juga aku akan mengirim seorang utusan memanggil Rakryan Kebo Arema dan Patih Mahesa Amping," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya.