Chapter 81
Lengking dan pekik suara burung serta binatang hutan menandai suasana pagi di Hutan Randu Agung.
"Orang itu telah datang kembali," kata Gajahmada kepada Supo Mandagri saat melihat seseorang berada di bawah mereka.
"Madu bunga randu ini sangat baik untuk menyembuhkan luka," ujar orang itu sambil menyerahkan sebuah bubu bambu kepada Gajahmada.
Gajahmada segera membuka bubu itu yang berisi madu bunga randu dan langsung membalurkannya ke seluruh luka di tubuh Supo Mandagri.
Sementara itu, sang surya sudah mulai menerangi Hutan Randu Agung lewat celah-celah daun dan ranting pohon. Supo Mandagri dan Gajahmada sudah dapat melihat dengan jelas wajah orang yang telah mengajak mereka ke rumah pohon di Hutan Randu Agung itu. Seseorang yang memang sangat mirip dengan Ki Randu Alam; terlihat sudah sangat tua, namun masih sangat kekar dan kokoh untuk ukuran seusianya.
"Aku akan bercerita kepada kalian," kata orang tua itu, seolah dapat membaca isi hati dan pikiran dua anak muda di hadapannya.
Orang tua itu duduk bersila di atas lantai kayu rumah pohon dan mulai bercerita tentang dirinya. "Aku lahir di dunia ini tidak sendiri, tapi punya saudara adik kembar. Namaku Banyak Wedi, sementara saudara kembarku bernama Banyak Ara," ucap orang itu.
"Saudara kembarku itu sejak muda banyak berguru di berbagai tempat, sementara masa mudaku telah kuabdikan sebagai seorang prajurit pengawal di Istana Singasari," lanjut Ki Banyak Wedi kepada Supo Mandagri dan Gajahmada.
"Pantas, Ki Randu Alam yang kutemui kemarin sepertinya tidak mengenalku. Apakah dia saudara kembar Ki Banyak Wedi?" tanya Gajahmada.
"Benar, dialah saudara kembarku yang bernama Ki Banyak Ara," jawab Ki Banyak Wedi membenarkan perkataan Gajahmada.
Ki Banyak Wedi menarik napas dalam-dalam seperti tengah mengumpulkan kembali kepingan cerita masa lalunya. "Ketika aku pindah ke Sunginep, saudara kembarku itu juga pergi merantau entah ke mana, hingga akhirnya aku mendapat berita bahwa dirinya telah menjadi seorang kepala bajak laut yang sangat ditakuti di sekitar perairan Balidwipa."
Supo Mandagri dan Gajahmada melihat perubahan raut wajah orang tua itu yang tampak menahan kepedihan dan rasa duka yang sangat berat.
"Ketika putraku, Ranggalawe, tewas terbunuh, aku seperti kehilangan seluruh hidupku. Yang ada pada saat itu hanyalah keinginan untuk membalas rasa sakit hatiku kepada Kerajaan Majapahit. Di saat suasana hati yang penuh dendam itulah saudara kembarku datang kepadaku, menawarkan dirinya beserta seluruh anak buahnya—para bajak laut—untuk menggempur secara langsung Kerajaan Majapahit. Namun, aku tidak sependapat dengannya. Kukatakan kepadanya bahwa belum saatnya menggempur Majapahit saat itu; kita harus membangun sebuah kekuatan baru."
"Nampaknya saudaraku itu menyetujui. Mulailah kami membangun sebuah kekuatan baru di timur Jawadwipa ini dengan menguasai jalur perdagangannya. Kami membagi tugas; aku membangun jalur perdagangan, sementara dirinya yang sangat paham dan menguasai perairan laut membantu dalam hal keamanannya dengan memberikan penekanan kepada para pedagang agar hanya berdagang kepadaku, tidak kepada siapa pun. Demikianlah, dalam waktu yang tidak terlalu lama kami benar-benar telah menguasai jalur perdagangan di timur Jawadwipa ini. Sampai-sampai kebesaran namaku diartikan sebagai penguasa tunggal di timur Jawadwipa ini," cerita Ki Banyak Wedi panjang lebar, berhenti sebentar sambil menarik napas panjang.
Suasana di atas rumah pohon itu hening sejenak. Gajahmada dan Supo Mandagri menunggu orang tua itu melanjutkan ceritanya.
"Anak muda, kamu masih ingat pertempuran kita di sekitar Kademangan Simpang itu?" tanya Ki Banyak Wedi kepada Gajahmada.
"Aku masih mengingatnya," jawab Gajahmada sambil menganggukkan kepala, tidak tahu ke mana arah pembicaraan orang tua itu.
"Kesaktianmu sungguh amat tinggi. Kekalahan diriku oleh orang muda sepertimu telah menyadarkan diriku bahwa telah tumbuh bibit-bibit baru para ksatria Majapahit yang akan menjaga wahyu kraton di bumi Majapahit ini untuk waktu yang cukup lama. Akhirnya, aku tersadar untuk melupakan segala dendamku dan menghabiskan sisa hari tuaku tanpa dendam apa pun," kata Ki Banyak Wedi. Matanya menerawang jauh menembus dedaunan dan lebatnya tumbuhan yang menutupi Hutan Randu Agung.
"Perlahan aku memang telah melupakan rasa sakit hatiku atas kematian putraku, Ranggalawe. Perlahan juga aku sudah dapat menikmati hari-hari tuaku tanpa sebuah dendam. Namun, pada saat itu ada sebuah kekhawatiran bahwa saudara kembarku akan terus mengungkit rencana kami semula, yakni meruntuhkan Kerajaan Majapahit. Hingga akhirnya, apa yang kukhawatirkan itu datang juga," ucap Ki Banyak Wedi terdiam sesaat.
Di benak Gajahmada, ia tidak menyangsikan lagi bahwa di hadapannya itu adalah Ki Banyak Wedi yang sebenarnya, yang pernah menjadi seorang Adipati di daerah Sunginep. Terakhir, orang tua ini lebih dikenal sebagai Ki Randu Alam, seorang yang sangat berpengaruh kuat di timur Jawadwipa.
"Sampai saat ini, hanya kalian berdua yang mengetahui bahwa aku mempunyai seorang saudara kembar," ujar Ki Banyak Wedi.
"Bagaimana dengan Ki Ajar Pelandongan dan Kuda Anjampiani?" tanya Gajahmada.
"Cucuku dan gurunya itu juga tidak mengetahuinya," jawab Ki Banyak Wedi.
"Memang kulihat tidak ada perbedaan sedikit pun dengan Ki Banyak Wedi, hanya gerak jurusnya yang kutahu berasal dari garis perguruan yang berbeda," kata Gajahmada mengingat kembali pertempuran dirinya dengan saudara kembar Ki Banyak Wedi kemarin.
"Kamu benar, garis kanuragan kami dari perguruan yang berbeda. Kuakui bahwa seorang diri aku tidak akan mampu menghadapinya," tutur Ki Banyak Wedi.
"Ki Banyak Wedi belum bercerita mengapa sampai menetap dan bersembunyi di tengah hutan ini?" tanya Gajahmada.
Ki Banyak Wedi tidak langsung menjawab. Sekilas terlihat deretan giginya sedikit terbuka sebagai gambaran sebuah senyum yang dipaksakan, sebuah senyum yang menggambarkan kepahitan hidupnya.
"Pada suatu malam, tanpa diketahui oleh siapa pun, saudaraku itu datang menemuiku mengabarkan bahwa dirinya dan para anak buahnya telah siap untuk menyerang dan merebut Kadipaten Blambangan. Bukan main marahnya saudaraku itu manakala kukatakan bahwa aku sudah tidak berminat lagi bermusuhan dengan Kerajaan Majapahit."
"Kita hanya tinggal beberapa langkah lagi!" kata saudaraku tidak menerima keputusanku. Karena aku tetap kukuh melupakan semua dendamku, maka pada puncaknya saudara kembarku itu telah mengancam akan membunuh cucuku, Kuda Anjampiani. Maka, dengan sangat terpaksa sekali aku memilih keluar dari rumahku sendiri dan membiarkan saudara kembarku itu menjadi diriku tanpa seorang pun yang mencurigainya untuk melaksanakan rencana kami semula: menghancurkan Kerajaan Majapahit," pungkas Ki Banyak Wedi.
Mendengar penuturan itu, terbit rasa iba di hati Gajahmada. Membayangkan seorang Adipati yang dipuja dan dilayani, tiba-tiba saja harus menjalani kehidupan sendiri di tengah belantara Hutan Randu Agung.
"Ternyata kesederhanaan hidup di hutan ini telah membuat aku semakin mengenal arti kehidupan yang sebenarnya. Kudapatkan makna kebahagiaan sejati sebagai seorang yang bebas merdeka, bebas dari sakitnya dendam dan hasrat yang tak pernah terpuaskan ini," kata Ki Banyak Wedi.
"Bagaimana dengan lukamu, wahai sahabat muda?" tanya Ki Banyak Wedi sambil mengalihkan pandangan ke arah Supo Mandagri.
"Berkat obat yang Ki Banyak Wedi berikan, aku tidak merasakan perih lagi," jawab Supo Mandagri.
"Beristirahatlah kalian di sini untuk sementara waktu," kata Ki Banyak Wedi kepada kedua anak muda itu.
Melihat ketulusan hati Ki Banyak Wedi, muncul rasa percaya dalam diri Gajahmada. Ia secara terbuka menceritakan kehadiran para prajurit Majapahit di timur Jawadwipa.
"Kalian telah memiliki seorang Raja yang sangat tahu apa yang seharusnya dilakukan," kata Ki Banyak Wedi setelah mendengar penuturan Gajahmada.
"Banyak cerita tentang kemenangan Majapahit yang bersumber dari siasat ulung seorang Adipati Sunginep. Sudilah kiranya Ki Banyak Wedi memberikan saran terbaik menghadapi kekuatan di timur Jawadwipa ini," pinta Gajahmada.
Ki Banyak Wedi tersenyum mendengar perkataan Gajahmada. "Apakah kamu tidak curiga bahwa aku akan menggelincirkan dirimu, karena yang kamu hadapi adalah saudara kembarku sendiri, seseorang yang sedarah denganku?" tanya Ki Banyak Wedi dengan wajah penuh kesungguhan.