Chapter 46
"Aku ingin melihat siapa yang paling unggul menggunakan cambuknya. Bukan dalam sebuah perkelahian, namun hanya menghadapi sebuah batu besar," kata Raja Majapahit sambil menjelaskan bahwa bentuk pertandingan itu adalah adu kesaktian dengan cara menghancurkan sebuah batu besar.
Akhirnya, semua orang di atas pendapa itu sepakat untuk melaksanakan adu kesaktian di sebuah perbukitan dekat kotaraja Majapahit yang memang masih banyak terdapat bebatuan besar.
Demikianlah, hari itu juga terlihat sebuah rombongan besar tengah menuju ke perbukitan di dekat kotaraja Majapahit. Terlihat beberapa warga padukuhan terheran-heran melihat rombongan Raja Majapahit menuju ke sana.
Ketika matahari telah bergeser jauh dari puncaknya, rombongan itu telah menemukan sebuah arena di perbukitan yang memang dipenuhi oleh bebatuan besar.
"Kupersilakan kepada Patih Mangkubumi untuk menentukan dua batu yang sama," kata Raja Majapahit kepada Ki Sandikala, sang Patih Mangkubumi itu.
Kertawardhana terlihat sudah berada di dekat sebuah batu besar setinggi dan sebesar dirinya sendiri. Anak muda itu tampak sangat tenang, seolah tidak menghiraukan puluhan pasang mata yang memandang ke arahnya. Perlahan, Kertawardhana melepas cambuk pendek yang melingkar di pinggangnya, membiarkan ujung jurai cambuk itu menyentuh bumi.
Tubuh anak muda itu mulai menegang, berdiri kokoh menghadap batu besar di hadapannya. Dengan sangat cepat, ia menggerakkan cambuk di tangannya.
Gelegar!
Sebuah hentakan cambuk dengan gerakan *sendal pancing* telah menggetarkan batu besar di hadapan anak muda itu. Semua orang yang menyaksikannya terpana manakala melihat batu besar yang tersentuh ujung cambuk Kertawardhana hancur berkeping-keping. Mereka terkagum-kagum menyaksikan kedahsyatan pukulan cambuk Kertawardhana.
"Hanya inilah kemampuan ananda," kata Kertawardhana kepada Baginda Raja Sanggrama Wijaya yang tersenyum memandangnya.
"Gajahmada, sekarang saatnya dirimu menunjukkan kemampuanmu," kata Ki Sandikala kepada Gajahmada.
Dengan penuh rasa hormat di hadapan Baginda Raja Sanggrama Wijaya, Gajahmada perlahan melangkah mendekati sebuah batu lain yang telah ditentukan. Batu itu terlihat sama besarnya dengan batu pertama yang dihancurkan oleh Kertawardhana. Sebagaimana Kertawardhana, anak muda putra angkat Patih Mahesa Amping itu terlihat begitu tenang dan percaya diri. Di tangannya telah tergenggam pangkal cambuk pendek ciri khas perguruan Empu Brantas.
"Anak muda ini nampaknya telah mewarisi seluruh kesaktian ayah angkatnya, Patih Mahesa Amping," kata Ki Sandikala dalam hati melihat ketenangan sikap Gajahmada.
"Kakang Gajahmada pasti dapat melampaui kesaktian Kakang Kertawardhana," kata Dyah Gajatri dalam hati, merasa sangat yakin atas kemampuan guru penuntunnya itu.
Sebagai seorang murid, Dyah Gajatri memang pernah melihat sendiri bagaimana Gajahmada dapat menghancurkan sebuah batu besar jauh lebih dahsyat daripada apa yang telah disaksikan pada diri Kertawardhana beberapa tahun silam. Itulah yang membuatnya yakin bahwa kesaktian Gajahmada pasti telah berkembang lebih dahsyat lagi.
Gajahmada menarik napas perlahan, seolah tengah menghimpun segenap kemampuannya. Ia mengendapkan seluruh kekuatan tenaga sakti sejatinya, siap dihempaskan lewat ujung cambuk pendek yang masih digenggamnya. Anak muda itu memandang tajam ke arah batu besar di hadapannya.
Deg!
Suara ujung cambuk Gajahmada dengan cara *sendal pancing* nyaris tak terdengar bersamaan dengan ujung cambuknya yang menyentuh batu besar tersebut. Semua orang membelalakkan mata sambil menahan napas panjang, penuh keheranan melihat batu besar itu tidak bergeming sedikit pun. Tidak ada debu sedikit pun yang runtuh.
Dyah Gajatri seolah tidak percaya dengan apa yang disaksikannya. Ia tidak percaya bahwa Gajahmada tidak dapat menghancurkan batu besar itu. Wajah merona mewarnai kulit muka gadis itu; perlahan matanya memerah. Tak kuasa ia membendung rasa duka karena Gajahmada yang diharapkan dapat mencegah perjodohannya ternyata tidak dapat berbuat apa-apa. Tak terdengar isak tangisnya, namun tiba-tiba gadis itu berbalik badan dan berlari.
"Dinda akan mencoba meredam perasaan putri kita," kata Nyi Ajeng Nglirip kepada Baginda Raja Sanggrama Wijaya. Terlihat Nyi Ajeng Nglirip berjalan pulang menyusul Dyah Gajatri yang sudah mendahuluinya menuruni perbukitan.
Tidak lama kemudian, rombongan keluarga kerajaan itu pun kembali menuruni perbukitan dan berpisah jalan menuju tempat masing-masing. Rombongan Raja Sanggrama Wijaya bersama para pengawalnya langsung menuju kotaraja Majapahit, sementara rombongan keluarga Jayakatwang kembali ke Tanah Ujung Galuh.
"Anakku, sebagai seorang putri istana, kita memang tidak punya pilihan selain mengikuti keinginan orang tua. Dahulu, aku pun tidak pernah dapat memilih perjodohan antara diriku dan ayahandamu, sementara di hatiku saat itu telah jatuh cinta kepada seorang pemuda biasa," kata Nyi Ajeng Nglirip kepada Dyah Gajatri di kamarnya yang masih menangis.
Mendengar perkataan ibundanya, rasa sedih Dyah Gajatri seolah menghilang, berganti rasa heran mendengar pernyataan tentang kisah cinta tersebut.
"Jadi, Ibunda juga dijodohkan sebagaimana diriku?" tanya Dyah Gajatri.
Nyi Ajeng Nglirip menganggukkan kepala di hadapan putrinya.
"Siapa pemuda yang Ibunda cintai itu?" tanya Dyah Gajatri kembali.
Nyi Ajeng Nglirip tersenyum merasa bahwa putrinya sudah dapat melupakan kesedihannya dan ingin mendengar lebih jauh pengalaman hidup sang ibu yang nyaris sama dengan apa yang tengah dialaminya.
"Pemuda itu adalah Patih Mahesa Amping," kata Nyi Ajeng Nglirip sambil tersenyum.
"Bagaimana Ibunda dapat melupakannya?"
"Waktulah yang dapat mengikisnya, berjalan seiring dengan rasa cinta yang mulai tumbuh kepada ayahandamu sendiri, suamiku," kata Nyi Ajeng Nglirip dengan senyum penuh kebijaksanaan.
Sementara itu, hari telah memasuki senja. Angin mulai terasa dingin, menggoyangkan daun kelapa di perbukitan dekat kotaraja. Sepasang kadal terlihat saling berkejaran. Seekor kadal betina melompat ke sebuah batu besar, sementara sang jantan terus memburunya dan ikut hinggap di atas batu tersebut.
Dua ekor kadal yang tengah dimabuk asmara itu sangat terkejut manakala merasakan tubuh mereka terserap ke dalam hisapan abu. Batu besar yang dihinggapi sepasang kadal itu ternyata hanyalah tumpukan abu. Berat dua ekor kadal saja sudah cukup untuk merubuhkannya.
Tidak seorang pun mengetahui bahwa itulah batu besar yang telah disentuh oleh ujung cambuk Gajahmada. Ternyata, anak muda itu telah menghempaskan seluruh kesaktiannya hingga mampu melumatkan batu besar yang keras menjadi debu, meskipun dari luar batu itu tampak tidak bergeming sedikit pun.
Garis kehidupan dan perjodohan Gajahmada ternyata memang sudah ditentukan oleh Gusti Yang Maha Agung. Seandainya ada orang lain yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, pastilah mereka akan menyadari tingkat kesaktian ilmu Gajahmada yang sudah setinggi langit dan tak tertandingi di zamannya. Ia bahkan telah melampaui kesaktian manusia dewa yang biasa dipanggil Mahesa Amping, Patih di Kediri yang merupakan ayah angkat Gajahmada sendiri.
Namun, apa yang terjadi pada batu besar itu sebenarnya diketahui secara diam-diam oleh Ki Sandikala dan Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
"Anak muda itu telah mewarisi seluruh kesaktian Patih Mahesa Amping, bahkan telah melampauinya," kata Baginda Sanggrama Wijaya kepada Ki Sandikala di serambi Bale Kartika, tempat peristirahatan raja.
"Suatu masa nanti, anak muda itu kuyakini pastilah akan menjadi orang besar yang dapat mengangkat Kerajaan Majapahit ke puncak kebesarannya," sahut Ki Sandikala, sang Patih Mangkubumi.
"Kecemerlangan dirinya adalah kecemerlangan Majapahit pula. Dialah harapan masa depan kerajaan ini meski tidak harus menjadi seorang raja," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
"Apakah kita telah berbuat sebuah ketidakadilan kepadanya?" tanya Ki Sandikala.
"Gajahmada telah memilih jalan lain. Apa yang menjadi keputusan kita adalah keinginannya pula. Dirinya telah rela mengalah meski dengan cara tak terkalahkan," jawab Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
"Gajahmada memang telah menunjukkan kebijaksanaannya," puji Ki Sandikala.
"Sebagai pengganti dari rasa ketidakadilan ini, aku akan memberinya sebuah benda milikku yang sangat berharga."
"Apa yang akan Tuan berikan kepadanya?" tanya Ki Sandikala.
"Sebuah keris pusaka kerajaan, keris Nagasasra."
Malam itu juga, Gajahmada dipanggil untuk menghadap Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
"Atas ketidakadilan kami, kupersembahkan untukmu keris pusaka kerajaan ini," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Gajahmada yang telah datang menghadap.
"Sebuah penghargaan tak terkirakan bagi hamba menerima keris pusaka kerajaan ini," kata Gajahmada sambil menerima keris Nagasasra langsung dari tangan Baginda Raja Sanggrama Wijaya.