Chapter 43
"Aku tidak melihat dedemit, tetapi sudah dua kali ini mendengar suara si embah," kata prajurit itu yang menyebut harimau sebagai si embah.
"Berdoalah, semoga ada anak kijang yang tersesat malam ini yang akan menjadi santapan malam harimau itu ketimbang daging tubuhmu," kata Ki Putut Prastawa sambil turun dari kudanya dan berjaga menemani prajurit itu yang merasa terhibur dengan kehadiran Gajah Mada dan Ki Putut Prastawa.
Diam-diam Gajah Mada memuji sikap kesabaran Ki Putut Prastawa yang dapat mengerti perasaan anak buahnya dan tidak membuat jarak antara pemimpin dan anak buahnya. Nampaknya selama ini mereka telah membaur layaknya sebuah keluarga besar, keluarga prajurit Bhayangkara.
Hingga ketika warna langit mulai memerah sebagai pertanda sang fajar sudah terbangun di ujung timur bumi, terlihat Ki Putut Prastawa dan Gajah Mada tengah berkemas untuk melanjutkan perjalanan mereka kembali ke arah jalan menuju Kotaraja Majapahit.
"Nampaknya si embah sudah kenyang menikmati makan malamnya," kata Ki Putut di atas punggung kudanya kepada prajuritnya.
Angin malam di awal pagi itu terasa begitu menyegarkan, berembus lembut mengusap wajah mereka berdua, Ki Putut Prastawa dan Gajah Mada yang tengah berkuda menyusuri jalan tanah yang keras. Matahari pagi sudah menyembul di ujung timur bumi, manakala Ki Putut Prastawa dan Gajah Mada telah berada tidak jauh lagi dari Kotaraja Majapahit. Terlihat mereka berhenti di sebuah kelompok penjagaan terakhir para prajurit Bhayangkara.
Tidak ada yang menyangka bahwa lima orang yang tengah duduk-duduk di galengan sebuah sawah dan sebuah gubuk itu adalah para prajurit Bhayangkara. Mereka berlima memang sengaja berpakaian sebagaimana layaknya seorang petani agar penyamaran mereka benar-benar murni tidak diketahui oleh orang-orang yang bermaksud kurang baik kepada Baginda Raja dan keluarganya.
"Adakah yang kalian temui yang mungkin mencurigakan?" tanya Ki Putut Prastawa kepada kelima prajuritnya itu.
"Kami tidak menemui apa pun, hanya ada tiga orang pemburu yang baru pulang melintas di jalan ini," kata salah seorang prajurit Bhayangkara itu.
"Bagus, semoga tugas kita hari ini dapat selesai tanpa ada hambatan dan gangguan apa pun," kata Ki Putut Prastawa kepada para prajuritnya.
"Benih-benih jagung tumbuh subur," kata Gajah Mada melihat hamparan benih jagung yang baru tumbuh di sekitar sebuah gubuk bersama Ki Putut Prastawa.
"Membuat pikiran dan lamunan ini pergi jauh ke hari-hari purnabakti sebagai seorang prajurit," kata Ki Putut Prastawa ikut memandang hamparan tanaman jagung yang mulai tumbuh itu.
"Menanam bibit tanaman, menjaganya hingga berbuah," kata Gajah Mada.
"Adalah kebahagiaan yang tidak dapat dibeli oleh apa pun manakala melihat bibit yang kita tanam tumbuh dan berbuah," kata Ki Putut Prastawa.
"Tugas seorang petani adalah menanam dan memeliharanya, hasil atau tidaknya kita pasrahkan kepada Yang Punya Kekuasaan Tertinggi, Pemilik Alam ini sendiri," kata Gajah Mada.
"Ternyata aku berhadapan dengan seorang penghafal kitab Tatwa, kupasan pertama tentang sikap seorang brahmana untuk mulai memasuki alam pengembaraan batin," kata Ki Putut Prastawa yang juga memahami kitab Tatwa.
"Banyak orang memahami kasta sebagai perbedaan lahir, sementara lahiriah di mata Pemilik Hidup ini adalah sama dan sederajat. Kasta yang sebenarnya adalah tingkat pemahaman dan pencapaian diri menuju pengenalan hakikat hidup jati diri yang sebenarnya," kata Gajah Mada layaknya seorang pendeta bijak.
"Kamu benar, anak muda. Nampaknya kita punya pemahaman yang sama tentang hakikat laku hidup ini," kata Ki Putut Prastawa penuh kebanggaan memandang Gajah Mada sebagai seorang anak muda yang bukan hanya memiliki kesaktian ilmu yang tinggi, melainkan juga pemahaman ilmu batinnya seperti menggantung di atas langit yang tinggi dan sangat dalam hingga di bawah dasar samudra raya.
Matahari putih tergantung di lengkung langit biru menerangi wajah bumi. Perlahan sang surya merayap bergeser menjaga sang kala di keabadian hari meniti jembatan waktu. Hari telah berada di ujung senja manakala rombongan Baginda Raja dan keluarganya terlihat telah mendekati batas gerbang Kotaraja Majapahit.
"Selesai sudah tugas kita hari ini," kata Ki Putut Prastawa kepada Gajah Mada sambil berkemas diri untuk meninggalkan penjagaan terakhir para prajurit Bhayangkara. "Kita masih harus menunggu sepuluh orang terakhir prajurit Bhayangkara yang tersisa," lanjut Ki Putut Prastawa.
Diam-diam Gajah Mada memuji kesetiaan pemimpin pasukan Bhayangkara itu yang dengan penuh perhatian menunggu sepuluh prajurit terakhirnya. Akhirnya, sepuluh prajurit terakhir yang ditunggu telah datang. Bersama-sama mereka langsung bergerak memasuki Kotaraja Majapahit.
"Terima kasih telah menemaniku, wahai anak muda," kata Ki Putut Prastawa kepada Gajah Mada manakala mereka telah berada di muka pintu gerbang istana Majapahit.
Gajah Mada mendapat kabar bahwa Nyi Ajeng Nglirip, dua orang putrinya, dan Kertawardana telah mendahuluinya kembali ke Tanah Ujung Galuh. Maka setelah menyerahkan kudanya kepada seorang pekatik istana, terlihat Gajah Mada telah berpamitan kepada Ki Putut Prastawa untuk segera kembali ke Tanah Ujung Galuh.
"Persiapkan dirimu untuk memegang tongkat kendali pasukan Bhayangkara ini," kata Ki Putut Prastawa kepada Gajah Mada.
"Semoga aku dapat melaksanakannya sebaik Ki Putut Prastawa," kata Gajah Mada.
"Aku yakin bahwa kamu dapat lebih baik lagi dari apa yang pernah kulakukan," kata Ki Putut Prastawa dengan penuh senyum.
Demikianlah, terlihat Gajah Mada telah berjalan meninggalkan Kotaraja Majapahit menuju Tanah Ujung Galuh.
"Kukira kamu tersasar lupa mencari arah jalan pulang," kata Jayakatwang penuh senyum gembira menyambut kedatangan Gajah Mada di pendapa pasanggrahannya.
Kepada Jayakatwang, Gajah Mada langsung bercerita tentang perjalanannya bersama Ki Putut Prastawa melihat langsung bagaimana para prajurit Bhayangkara bertugas menjaga Baginda Raja dan keluarganya.
"Prajurit Bhayangkara adalah prajurit pilihan yang terbaik. Seandainya aku masih seorang raja, aku akan bangga bilamana mempunyai seorang pemimpin prajurit Bhayangkara seperti dirimu," kata Jayakatwang kepada Gajah Mada ketika mendengar tentang dirinya yang akan bertugas menggantikan Ki Putut Prastawa memimpin pasukan Bhayangkara. "Perlu sebuah kesetiaan yang tinggi, dan aku begitu yakin bahwa kamu telah memiliki kesetiaan itu untuk rajamu," lanjut Jayakatwang.
Burung belibis pengembara terlihat turun memenuhi tanah berair sebagai pertanda awal musim penghujan sudah mulai datang di langit Kotaraja Majapahit. Dan pagi itu langit di atas istana Majapahit terlihat begitu cerah setelah sepanjang malam diguyur hujan yang cukup deras, terlihat tanah dan rerumputan di taman yang masih basah.
Di hari lain, banyak terlihat para prajurit Bhayangkara hampir di semua tempat penjagaan dan hilir mudik di setiap lorong istana melakukan perondaan. Namun hari itu hanya ada beberapa orang prajurit Bhayangkara yang masih tetap berjaga di muka gerbang istana. Kemana selebihnya para prajurit Bhayangkara di hari itu? Ternyata para prajurit Bhayangkara hari itu tengah berkumpul di halaman muka Pura Kartika, tempat kediaman Baginda Raja Majapahit, untuk menyaksikan sebuah penobatan resmi peralihan pemimpin baru di pasukan khusus itu.
"Terima kasih kusampaikan kepada Ki Putut Prastawa, untuk semua bakti dan kesetiaannya," kata Baginda Raja Majapahit di hadapan para pasukan Bhayangkara di atas pendapa menghadap para prajurit Bhayangkara yang berdiri dan berkumpul di halaman Pura Kartika.
"Semua memang selalu ada masanya, sebagaimana sebutir benih padi yang ditebar di atas tanah pematang sawah, akan tumbuh tinggi dan berbuah untuk dipanen. Dan ada masanya pula kita menggantikannya dengan benih-benih baru. Maka hari ini Ki Putut Prastawa telah mengundurkan dirinya karena usianya, dan aku telah mendapatkan seorang penggantinya, seorang anak muda yang sudah kalian kenal, seorang anak muda yang sudah lama telah berbakti dan menunjukkan kesetiaannya untuk Kerajaan Majapahit ini," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya, berhenti sebentar melihat dan mengamati wajah-wajah para prajurit Bhayangkara.
Terlihat semua mata para prajurit Bhayangkara tertuju kepada seorang anak muda yang berdiri di depan berjajar di sebelah Ki Putut Prastawa. Sebagaimana yang dikatakan oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya, para prajurit Bhayangkara memang telah mengenal anak muda itu, seorang sahabat putra mahkota, Jayanagara, yang saat itu telah menjadi Raja Muda di Kediri.
"Gajah Mada, bahwa hari ini kamu telah kuserahkan menjadi pemimpin pasukan Bhayangkara ini. Semua kendali dan wewenang telah berada di pundakmu. Namun hari ini aku masih membuka sebuah kesempatan kepada para prajurit Bhayangkara, apakah ada di antara mereka yang masih sangsi atas penunjukanku ini," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya berhenti sebentar memberi kesempatan kepada para prajurit Bhayangkara yang menyangsikan penunjukannya itu.
"Kesetiaan kalian sebagai prajuritku sangat kubanggakan. Pasukan Bhayangkara adalah para ksatria penjaga Majapahit. Seorang ksatria akan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran. Tunjukkan kejujuran sikap kalian atas penunjukanku ini," kata kembali Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
"Aku Prakala, ingin menguji orang muda itu," kata salah seorang prajurit Bhayangkara sambil mengacungkan tangannya keluar dari kerumunan para prajurit.
Terlihat semua mata para prajurit Bhayangkara tertuju ke arah seorang lelaki yang sudah cukup berumur, lebih muda sedikit dari Ki Putut Prastawa. Nampaknya semua para prajurit Bhayangkara telah mengenalnya, biasa dipanggil sebagai Ki Prakala, seorang yang diketahui memang memiliki tataran tingkat kanuragan yang cukup tinggi dan sangat disegani oleh kawan-kawannya.