Chapter 67
Sementara Ki Gede Bajra Seta bersama rombongannya berdiri di muka anak tangga pendapa rumah Ki Demang.
"Senang hati ini melihat Ki Gede Bajra Seta datang singgah di gubukku ini," berkata seorang lelaki tua bertubuh subur yang ternyata adalah Ki Demang Simpang.
"Kami dalam perjalanan takut hujan, jadi telah memutuskan untuk singgah di istana Ki Demang yang megah ini," ujar Ki Gede Bajra Seta sambil tersenyum penuh canda kepada Ki Demang Simpang yang tampaknya telah mengenalnya sangat dekat dan akrab.
"Naiklah ke pendapa," kata Ki Demang Simpang kepada Ki Gede Bajra Seta dan rombongannya.
Terlihat prajurit tua yang mengantar mereka telah memanggil beberapa kawannya untuk membawa kuda-kuda ke kandang agar dirawat dan diistirahatkan. Sementara itu, Ki Gede Bajra Seta dan rombongannya telah berada di atas panggung pendapa Ki Demang. Ternyata, Ki Demang Simpang adalah seorang yang sangat hangat dan ramah. Tidak lama berselang, hidangan malam telah keluar dan langsung ditempatkan di hadapan Ki Gede Bajra Seta beserta rombongannya.
Sambil menikmati minuman hangat di malam hari, Ki Demang Simpang banyak bercerita tentang keadaan di Kademangan Simpang yang tampaknya semakin ramai disinggahi oleh para pedagang yang datang dan pergi ke berbagai tempat yang jauh.
"Ada beberapa pedagang yang bertanya tentang alat pertanian yang kami miliki; mereka sangat tertarik dengan kehalusan dan kekuatannya. Akhirnya, kusampaikan kepada mereka bahwa alat-alat itu kami dapatkan dari Padepokan Bajra Seta," cerita Ki Demang Simpang di pendapanya.
"Terima kasih, kami memang jadi banyak menerima pesanan alat pertanian lewat suara Ki Demang," sahut Ki Gede Bajra Seta menanggapi pembicaraan Ki Demang Simpang.
"Tiga pekan yang telah lewat, ada seorang pedagang yang bertanya kepadaku di mana mendapatkan golok panjang seperti milikku itu. Seperti sebelumnya, kukatakan bahwa aku memesannya dari Padepokan Bajra Seta," kata Ki Demang Simpang kepada Ki Gede Bajra Seta. "Pedagang itu mengatakan mendapat sebuah pesanan senjata dalam jumlah yang cukup banyak dari seorang tuan besar di daerah Lamajang," sambung Ki Demang Simpang.
Terlihat Ki Gede Bajra Seta, Patih Mahesa Amping, dan Gajahmada mengerutkan kening mendengar penuturan Ki Demang Simpang yang menyinggung masalah pesanan senjata itu.
"Pesanan senjata? Sayang, kami belum kedatangan pedagang itu di padepokan kami," jawab Ki Gede Bajra Seta kepada Ki Demang Simpang tanpa menunjukkan rasa curiganya.
"Senjata buatan Padepokan Bajra Seta memang sangat halus dan sangat tajam. Terus terang, aku sangat bangga membawa golok panjang di pinggangku, senjata buatan Padepokan Bajra Seta," ujar Ki Demang Simpang kembali dengan wajah hangat dan gembira.
"Bila kelak aku pulang ke Tanah Perdikan Bajra Seta, aku akan meminta beberapa cantrik untuk mengantar senjata jenis lain, mungkin mata tombak dengan pegangan kayu keling. Pasti Ki Demang akan menyukainya," kata Ki Gede Bajra Seta kepada Ki Demang Simpang yang tidak mengetahui ada maksud tersembunyi di balik perkataannya itu.
"Dengan senang hati, aku akan menantikannya," jawab Ki Demang Simpang dengan wajah penuh kegembiraan.
Sementara itu, langit malam telah menyelimuti halaman muka rumah kediaman Ki Demang Simpang. Semilir angin dingin kadang masuk menyelinap lewat pagar jati pendapa dan kolong papan lantai panggung pendapa yang sedikit renggang bercelah.
"Hari tampaknya sudah mulai larut malam," kata Ki Demang Simpang sambil mempersilakan tamunya untuk beristirahat.
Pagi itu, cahaya matahari menerangi Kademangan Simpang begitu cerahnya. Beberapa gerobak pedagang terlihat di jalan utama, mungkin akan melanjutkan perjalanan yang tertunda ke sebuah tempat yang cukup jauh. Sementara itu, di halaman muka kediaman Ki Demang Simpang, terlihat tujuh ekor kuda tengah disiapkan oleh beberapa orang prajurit pengawal Kademangan.
"Pintu rumah kami selalu terbuka untuk kalian," kata Ki Demang Simpang kepada ketujuh tamunya yang tengah menuruni anak tangga pendapa rumahnya.
"Sekali waktu, bertandanglah ke Tanah Perdikan Bajra Seta," ujar Ki Gede Bajra Seta kepada Ki Demang Simpang.
Terlihat Ki Demang melambaikan tangannya kepada Ki Gede Bajra Seta dan rombongannya yang telah bersiap diri di atas kuda untuk melanjutkan perjalanan mereka ke Kotaraja Majapahit. Awan putih bersih memayungi rombongan Ki Gede Bajra Seta yang telah keluar dari regol pintu gerbang rumah kediaman Ki Demang Simpang. Tampaknya orang-orang di Kademangan Simpang sudah terbiasa melihat orang asing keluar masuk di kademangan mereka, termasuk saat mereka melihat rombongan Ki Gede Bajra Seta yang tengah berkuda di jalan utama kademangan. Akhirnya, ketujuh ksatria berkuda itu telah keluar dari gapura batas Kademangan.
"Tampaknya ada sebuah gerakan di Lamajang yang tengah menyusun kekuatannya," kata Patih Mahesa Amping kepada Ki Gede Bajra Seta yang berkuda di sebelahnya.
"Peristiwa di Hutan Kemiri adalah sebuah pertanda bahwa mereka sudah mempunyai arah perencanaan yang panjang, seperti sekumpulan rayap yang perlahan merusak keutuhan sebuah pokok kayu besar," tanggap Ki Gede Bajra Seta.
"Mereka harus segera dibersihkan sebelum ada korban lain seperti diriku," ujar Patih Mahesa Amping.
"Semoga Baginda Raja mengerti dan cepat tanggap sebelum kekuatan itu semakin besar dan tak terkendali lagi," sahut Ki Gede Bajra Seta.
"Lama aku tidak bertemu dengannya, semoga kebesaran kerajaan ini tidak mengubah dirinya," tutur Patih Mahesa Amping sambil menatap jauh ke depan, membayangkan masa-masa panjang bersama Baginda Raja Sanggrama Wijaya dalam suka dan duka, dalam sebuah perjuangan yang begitu melelahkan.
Ketujuh ksatria berkuda itu telah jauh meninggalkan Kademangan Simpang. Di jalan sepi, langkah kuda mereka seperti terbang membelah udara siang itu.
"Tampaknya ada sebuah pertempuran," kata Patih Mahesa Amping sambil memperlambat laju kudanya, diikuti oleh yang lainnya karena melihat pemandangan yang sama.
Ketika ketujuh ksatria itu mendekati tempat pertempuran, suara denting senjata beradu serta suara teriakan menjadi semakin jelas terdengar.
"Apakah sebuah perampokan?" tanya Patih Mahesa Amping kepada Ki Gede Bajra Seta. Mereka melihat tiga buah gerobak milik para pedagang berada di tengah pertempuran yang sedang berlangsung.
"Bila ini perampokan, tentu sebuah kecerobohan melakukan perampokan di jalan yang cukup terbuka dan ramai ini," ujar Ki Gede Bajra Seta menyampaikan pendapatnya.
"Kita akan segera mencari tahu," kata Patih Mahesa Amping sambil turun dari kuda dan mendekati arah pertempuran.
Saat Patih Mahesa Amping mendekat, memang sangat sukar ditentukan kedua kelompok yang sedang bertarung dengan sengit itu. Siapa yang mewakili para pedagang dan siapa yang mewakili kelompok lainnya.
"Berhenti, atau kalian semua akan kujadikan budak belian!" menggelegar suara Patih Mahesa Amping dari pinggir pertempuran mencoba menghentikannya.
Ternyata suara Patih Mahesa Amping telah dilambari oleh ajian Gelap Ngampar kelas tinggi. Meski hanya seperdelapan dari kekuatan aslinya, ternyata cukup andal untuk menghentakkan dada siapapun yang sedang bertempur saat itu. Seketika pertempuran berhenti. Terlihat dua belas orang menyingkir memisahkan diri, kelompok lainnya pun ikut mundur meski tetap dalam sikap siaga dan waspada.
Orang-orang yang menghentikan pertempuran itu tampaknya memiliki pengalaman kanuragan yang cukup; buktinya mereka sadar bahwa suara yang menghentikan mereka bukanlah suara orang sembarangan. Beberapa orang terlihat masih memegang dada masing-masing yang terasa sesak oleh himpitan energi kuat hanya karena sebuah hentakan suara.
Semua orang menoleh ke arah Patih Mahesa Amping. Mereka terkejut melihat bahwa yang menghentikan mereka ternyata adalah seorang petinggi Majapahit, terlihat dari pakaian yang dikenakan oleh Patih Mahesa Amping.
"Hentikan pertempuran, atau kalian semua akan kujadikan budak belian," ulang Patih Mahesa Amping sambil melangkah ke tengah di antara dua kelompok yang telah terpisah jarak itu.
"Ampuni hamba, kami hanya para pedagang yang terancam oleh orang-orang itu," kata salah seorang mewakili sebelas pedagang lainnya.
"Kami bukan perampok, kami hanya menagih hutang mereka," sahut seseorang yang mewakili kelompok lainnya yang berjumlah sekitar dua puluh orang.
"Bohong! Kami tidak punya sangkutan hutang apa pun. Mereka telah memaksa kami untuk tidak berdagang ke Tanah Ujung Galuh," bantah orang yang mewakili para pedagang itu.
"Kalian telah berbohong di hadapanku! Tanah Majapahit ini adalah tanah merdeka, siapapun boleh datang dan pergi ke mana pun," kata Patih Mahesa Amping sambil menghadap ke kelompok yang lebih banyak. Dari pakaian dan sikap mereka, dapat dipastikan bahwa mereka adalah orang-orang kasar yang terbiasa melakukan kekerasan dan pemaksaan.
"Apakah Tuan akan menangkap kami seorang diri?" tanya pemimpin kelompok tersebut sambil melirik enam orang yang datang bersama Patih Mahesa Amping.