Chapter 69
"Bayangkan pula bahwa kamu akan dikebiri agar tidak mengganggu istri majikanmu sendiri," kata Patih Mahesa Amping masih dengan suara perlahan di hadapan tawanan itu.
Mendengar perkataan Patih Mahesa Amping, terlihat peluh di wajah orang itu seperti bertambah banyak. Nampaknya, ancaman Patih Mahesa Amping telah menyentuh orang itu yang terlihat semakin gelisah membayangkan dirinya akan terjatuh menjadi seorang budak hina hingga akhir hidupnya.
"Tidak ada keuntungan bagiku berbelas kasih kepada orang sepertimu, namun aku ingin membuat sebuah penawaran kepadamu: kubebaskan dirimu atau menjadi seorang budak di sisa usiamu ini," kata Patih Mahesa Amping dengan suara datar dan perlahan.
"Apa yang Tuan tawarkan?" tanya tawanan itu yang seketika merasa ada sebuah kesempatan agar dirinya dapat dibebaskan, serta bayangan akan menjadi seorang budak tidak akan terjadi.
Lama Patih Mahesa Amping tidak berkata apa pun; ia sengaja mengulur waktu guna mengaduk-aduk perasaan tawanan di hadapannya itu. Terlihat Patih Mahesa Amping tersenyum melihat kegelisahan yang sangat di wajah orang tersebut.
"Tawaranku tidak begitu sulit dan memberatkanmu. Cukup dirimu mengatakan siapa gerangan orang yang mengupahmu untuk melakukan semua ini," ujar Patih Mahesa Amping dengan suara yang datar dan pelan sekali.
Terlihat orang itu tidak langsung menjawab seperti sebelumnya. Peluh semakin banyak keluar di kulit wajahnya yang hitam legam, seperti orang yang sudah terbiasa hidup di alam panas di sekitar pesisir pantai. Nampaknya, orang itu tengah berpikir keras antara menjawab pertanyaan Patih Mahesa Amping atau tetap diam membisu.
Melihat orang di hadapannya tengah berpikir keras, Patih Mahesa Amping tidak segera memaksa dan mengejarnya dengan perkataan apa pun. Ia hanya memandang orang itu dengan sorot mata yang sangat tajam, seperti tengah menelanjangi dan menjelajahi alam pikiran serta perasaan orang tersebut.
"Nampaknya kamu sangat takut untuk menyebut sebuah nama. Bukankah bumi ini sangat luas? Kamu dapat pergi ke sebuah tempat yang sangat aman, jauh dari orang yang kamu takuti itu," tutur Patih Mahesa Amping seolah dapat membaca apa yang tengah dipikirkan oleh orang di hadapannya.
Kata-kata Patih Mahesa Amping memang diucapkan perlahan, namun bagi orang itu, terdengar seperti sebuah tangan kokoh yang menuntun jalan pikirannya.
"Aku memilih tawaran Tuan," jawab orang itu perlahan kepada Patih Mahesa Amping.
Mendengar perkataan orang itu, Patih Mahesa Amping tidak berkata apa pun seolah menunggu kelanjutannya, yakni tentang siapa orang yang mengupahnya untuk melakukan tindakan yang memaksa para pedagang agar tidak pergi ke Tanah Ujung Galuh.
"Orang yang mengupahku adalah seseorang yang sangat berpengaruh di Tanah Lamajang; seseorang yang punya banyak pesuruh, seseorang yang sangat disegani, yang kekuasaannya bahkan melebihi seorang Adipati di Lamajang dan Adipati di Blambangan. Orang itu adalah Ki Randu Agung," ungkap orang itu kepada Patih Mahesa Amping.
Patih Mahesa Amping terdiam, masih memandang orang itu dengan sorot mata yang begitu tajam, seperti tengah mengukur sejauh mana kebenaran kata-kata tersebut. Lama suasana menjadi begitu lengang dan sunyi. Hanya suara angin yang terdengar menderu keras di sekitar mereka.
"Tak kusangsikan semua perkataanmu," ujar Patih Mahesa Amping memecah kesunyian yang mencekam itu. "Aku juga akan menepati janjiku untuk membebaskan dirimu dan orang-orangmu. Kusarankan agar kamu pergi menyingkir ke tempat yang jauh dari jangkauan orang itu. Carilah pekerjaan lain yang lebih baik yang tidak merugikan orang lain. Tanah Majapahit begitu luas dan amat subur; di mana pun kamu berada, tidak akan membuatmu kelaparan," lanjut Patih Mahesa Amping.
Terlihat Ki Bajra Seta menarik napas panjang, merasa sikap Patih Mahesa Amping sudah sangat bijaksana dalam membebaskan tawanan tersebut. Sesuai dengan perkataannya, Patih Mahesa Amping memang telah membebaskan mereka.
"Mengapa kita melepaskan mereka?" tanya seorang pemimpin pedagang yang merasa heran melihat para tawanan dibebaskan. "Bukankah kita akan membawa mereka ke Kotaraja Majapahit?"
"Mereka hanya orang upahan, dan kalian sudah tidak akan diganggu lagi oleh mereka," jawab Patih Mahesa Amping kepada pemimpin pedagang itu.
"Ingatlah oleh kalian, aku tidak akan mengampuni bila bertemu kembali di sebuah tempat jika kalian masih bekerja dengan cara memaksa dan merugikan orang lain," tegas Patih Mahesa Amping dari atas kudanya saat hendak meninggalkan ketujuh orang tawanan yang sudah dibebaskan itu.
Terlihat ketujuh orang itu berdiri memandang rombongan pedagang dan para ksatria Majapahit yang semakin menjauh di jalan sepi siang itu. "Petinggi Majapahit itu benar, kita harus pergi jauh," kata pemimpin itu kepada kawan-kawannya.
Para ksatria berkuda dan para pedagang berjalan beriringan menuju Kotaraja Majapahit. Perlahan, warna senja terlihat redup menutupi jalan sepi yang selalu diiringi suara langkah kaki kuda serta derit roda gerobak pedati.
"Sebentar lagi kita akan menemui Padukuhan Sindang. Kami biasa singgah dan bermalam di sana," kata pemimpin pedagang itu menawarkan kepada Patih Mahesa Amping dan rombongannya.
"Terima kasih, kami sudah terbiasa bermalam di tempat terbuka, jauh dari keramaian," tolak Patih Mahesa Amping dengan halus.
Demikianlah, ketujuh ksatria berkuda itu terlihat memisahkan diri dari rombongan pedagang. Di bawah tatapan para pedagang, langkah kaki kuda para ksatria itu semakin menjauh bergerak di bawah langit senja.
"Senja yang indah," kata Adityawarman kepada Gajah Mada yang berkuda di sebelahnya sambil memandang matahari senja di ujung danau yang luas dan jernih.
"Besok pagi kita akan dimanjakan oleh cahaya matahari pagi yang muncul di ujung perbukitan itu," sahut Gajah Mada sambil menunjuk ke arah perbukitan hijau di sebelah timur mereka.
"Inilah taman istana bagi para pengembara, wahai putraku," kata Patih Mahesa Amping kepada Adityawarman sambil tersenyum. Nampaknya mereka memang akan bermalam di tepi danau yang amat luas itu, yang airnya begitu tenang dan jernih, dikelilingi banyak pepohonan rindang.
Keletihan berkuda sepanjang hari seakan terobati dengan duduk beralas rumput hijau di tepi danau saat senja yang teduh. Perlahan, senja semakin redup dan menghilang sembunyi di balik bumi yang sepi.
"Aku menjadi sangat tertarik, siapa gerangan orang yang bernama Ki Randu Agung dari Lamajang itu," kata Ki Gede Bajra Seta memulai pembicaraan di tepi danau di bawah langit malam.
Mendengar perkataan Ki Gede Bajra Seta, keenam ksatria itu tercenung sejenak. Muncul dalam pikiran masing-masing sesosok wajah Ki Randu Agung dari Lamajang yang masih penuh rahasia.
"Dari gerakan yang telah dilakukan, yakni mencelakai diriku di Hutan Kemiri serta memengaruhi para pedagang agar tidak membawa barang dagangan mereka ke Tanah Ujung Galuh, aku jadi teringat kepada sebuah nama: seseorang pemikir ulung yang menjadi guru kami dalam bersiasat ketika berjuang melawan Raja Jayakatwang," ujar Patih Mahesa Amping.
"Apakah yang kamu maksudkan adalah Ki Arya Wiraraja, Adipati dari Sumenep itu?" tanya Ki Gede Bajra Seta.
"Benar, Kakang," jawab Patih Mahesa Amping membenarkan. "Orang tua itu telah kehilangan segala-galanya. Kehilangan putra tunggalnya, Ranggalawe. Ia juga telah kehilangan hasrat, cinta, serta seluruh kesetiaannya kepada cita-cita perjuangannya sendiri. Kematian Ranggalawe adalah kematian cintanya kepada bumi Kerajaan Singasari yang telah membesarkan dirinya."
"Ayahku, Mahendra, serta Paman Mahesa Agni sangat menghormatinya sebagai seorang pejuang yang berani melawan arus demi menegakkan kebenaran," kata Ki Gede Bajra Seta.
"Kabar terakhir adalah berita tentang pengungsiannya ke Lamajang setelah peristiwa pemberontakan Adipati Ranggalawe," jelas Patih Mahesa Amping.
"Ki Banyak Wedi, Ki Arya Wiraraja, atau Ki Randu Agung, mungkin adalah orang yang sama," ujar Ki Gede Bajra Seta.
"Aku mencintainya sebagai ayahku sendiri sebagaimana Ranggalawe telah menganggapku sebagai saudaranya," kata Patih Mahesa Amping sambil menarik napas dalam-dalam, mengenang masa-masa yang telah lama berlalu. "Aku juga sangat mengenalnya sebagai seorang pemikir ulung yang sangat sukar ditebak ke mana arahnya, seperti sekumpulan awan di langit yang terus berubah mengikuti ke mana arah angin membawanya."
"Dunia ini memang seperti panggung pewayangan. Seorang kawan setia kadang berubah menjadi musuh di ujung seberang pasukan, sementara musuh besar dapat berubah arah menjadi kawan setia. Jayakatwang dan Ki Arya Wiraraja adalah wayang hidup dari cerita yang amat panjang ini," kata Ki Bajra Seta dengan suara yang terdengar begitu halus.
"Seorang ksatria menyembah rajanya. Bukankah kita telah melanggar sumpah ikrar diri bila berada di baris terdepan melawan sang raja?" tanya Mahesa Dharma mencoba mengungkapkan pandangannya atas sikap yang diambil oleh Ki Arya Wiraraja.
"Kehidupan ini memang begitu pelik untuk dimengerti, wahai putraku," jawab Ki Gede Bajra Seta sambil tersenyum memandang Mahesa Dharma.