Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 87

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 87

"Tidak ada kaitan apa pun dengan diri kita," kata Ki Jagabaya merasa kurang senang dengan perkataan Ki Demang yang membawa masalah pribadinya.

"Baiklah bila kamu katakan ini bukan urusanmu. Saat ini aku hanya membutuhkan orang-orang yang punya rasa kesetiaan. Hari ini keluarga Ki Randu Alam telah terancam; siapa lagi yang membelanya selain diri kita semua yang pernah diselamatkan, diri kita dan keluarga kita?" kata Ki Demang Randu Agung.

"Aku tidak mengenal kata takut. Aku akan membela siapa pun yang mengancam keluargaku dan semua orang di Kademangan Randu Agung ini. Namun, hari ini masalahnya berbeda. Kita tinggal di tanah milik Kerajaan Majapahit yang dipercayakan lewat Adipati Lamajang. Apakah kita akan berhadapan dengan junjungan kita sendiri? Pikirkanlah masak-masak sebelum melangkah," kata Ki Jagabaya sambil melangkah keluar dari pendapa kediaman Ki Demang Randu Agung.

"Biarkan pengecut itu pergi! Kita harus menunjukkan harga diri kita dengan berada di belakang Ki Randu Alam," kata Ki Demang dengan suara keras agar didengar oleh Ki Jagabaya yang tengah menuruni anak tangga pendapa.

Terlihat Ki Jagabaya seperti tidak mendengar suara Ki Demang yang telah menghinanya itu. Dirinya tetap berjalan meninggalkan halaman rumah kediaman Ki Demang Randu Agung. Sepeninggal Ki Jagabaya yang telah memilih untuk tidak berada di belakang Ki Randu Alam, terlihat Ki Demang Randu Agung memerintahkan orang-orangnya untuk mengumpulkan seluruh prajurit pengawal kademangan dan seluruh anak muda di Kademangan Randu Agung.

Ternyata perbedaan pendapat antara Ki Jagabaya dan Ki Demang Randu Agung telah menjadi perbincangan warga. Akibatnya, banyak orang tua yang ikut berpihak kepada Ki Jagabaya dengan tidak mengizinkan para putranya bergabung dalam barisan memperkuat pasukan pengawal Kademangan Randu Agung itu. Namun, tidak sedikit warga yang masih setia kepada Ki Randu Alam. Sebanyak tiga ratus orang telah berkumpul di rumah Ki Demang Randu Agung.

Sementara itu, para prajurit di bawah kepemimpinan Adipati Menak Koncar masih berada di Hutan Mandeg. Sebagaimana rencana semula, mereka baru akan bergerak menjelang tengah malam menuju kediaman Ki Randu Alam. Hari saat itu sudah mulai terang tanah, beberapa prajurit di Hutan Mandeg terlihat telah menyiapkan ransum makanan, sementara prajurit lainnya tetap siaga berjaga-jaga mengamati bila saja ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Tiba-tiba, terlihat dua orang prajurit yang ditugaskan mengamati keadaan memberi tanda bahwa ada orang yang tengah memasuki wilayah mereka di sekitar Hutan Mandeg.

"Kukira kalian dari pihak musuh," kata seorang prajurit penjaga kepada orang yang baru datang itu.

Ternyata orang itu adalah kawan mereka sendiri yang ditugaskan oleh Adipati Menak Koncar untuk mengamati situasi di sekitar Kademangan Randu Agung.

"Aku ingin menghadap Tuan Adipati," kata orang itu kepada kawannya.

Prajurit penjaga itu memberikan petunjuk ke mana Adipati Menak Koncar berada.

"Nampaknya ada berita yang sangat penting yang ingin kamu sampaikan," kata Adipati Menak Koncar kepada prajuritnya yang datang menghadap dengan wajah dan napas tersengal-sengal.

"Benar, kami telah melihat warga Kademangan Randu Agung berkumpul di rumah kediaman Ki Demang Randu Agung. Nampaknya mereka akan bersatu membela Ki Randu Alam," lapor prajurit itu tentang apa yang dilihatnya.

"Nampaknya keberadaan kita sudah ada yang membocorkannya," kata Adipati Menak Koncar kepada Putu Risang, Gajahmada, dan Mahesa Semu.

"Berapa jumlah warga Kademangan Randu Agung itu?" tanya Adipati Menak Koncar.

"Ada sekitar tiga ratus orang," jawab prajurit itu.

"Kembalilah kamu ke tempatmu semula, terus amati gerakan warga Kademangan Randu Agung itu," perintah Adipati Menak Koncar.

"Mereka begitu cepat mengetahui keberadaan kita. Nampaknya ada yang keluar dari istana Kadipaten Lamajang jauh sebelum prajurit kita bergerak ke Hutan Mandeg ini," kata Gajahmada memperkirakan siapa yang membocorkan keberadaan pasukannya.

"Di luar rencana dan perhitungan kita semula, benturan dengan warga Kademangan Randu Agung memang tidak dapat kita hindari lagi," kata Adipati Menak Koncar seolah meminta pertimbangan Putu Risang, Mahesa Semu, dan Gajahmada.

Terlihat ketiganya berpikir keras, mencoba memecahkan masalah keberadaan pasukan warga Kademangan Randu Agung itu.

"Kekuatan pasukan kita saat ini ada sekitar empat puluh orang, sementara kekuatan mereka bila bergabung ada sekitar tiga ratus lima puluh orang," kata Putu Risang mencoba menghitung perbandingan jumlah kekuatan pasukan mereka.

"Prajuritku cukup terlatih. Aku merasa yakin bahwa satu orang prajuritku mampu menghadapi empat sampai lima prajurit Kademangan Randu Agung secara bersamaan," kata Adipati Menak Koncar meyakinkan.

"Apakah masih ada waktu bagi kita memberikan pengertian kepada warga Kademangan Randu Agung bahwa urusan ini tidak berkaitan dengan mereka?" tanya Gajahmada mencoba mencari jalan lain menghindari benturan.

"Jalanmu itu nampaknya dapat kita coba. Namun, bila menemukan jalan buntu, dengan terpaksa akan kita hadapi mereka bukan sebagai warga Kademangan Randu Agung, tapi sebagai pihak musuh," kata Mahesa Semu mendukung.

"Aku setuju. Aku akan mendatangi mereka, mencoba memberikan pengertian kepada para warga Kademangan Randu Agung," kata Adipati Menak Koncar.

"Aku ikut menemani Kakang Adipati Menak Koncar," kata Gajahmada menawarkan diri.

Demikianlah, Adipati Menak Koncar dan Gajahmada dikawal oleh tiga orang prajurit terlihat keluar dari Hutan Mandeg. Sementara itu, di rumah kediaman Ki Demang Randu Agung, terlihat sebuah pasukan yang sudah siap berangkat bertempur dengan berbagai senjata di tangan mereka. Ternyata jumlah mereka terlihat lebih besar dari yang terlihat sebelumnya, karena banyak orang tua yang ikut bergabung.

"Wahai para mantan laskar prajurit Sunginep, wahai para orang muda Kademangan Randu Agung, hari ini kita telah memilih jalan berada di belakang junjungan kita, Ki Arya Wiraraja. Orang yang telah banyak berjasa bagi kehidupan kita dan bagi keluarga kita," kata Ki Demang Randu Agung memberikan semangat kepada pasukannya.

"Pedang ini adalah saksi bisu yang selalu setia berada di belakang Ki Arya Wiraraja," kata Ki Demang Randu Agung sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.

"Satu untuk semua, semua untuk satu!" seru sebagian orang tua sambil melepas pedang mereka.

Ternyata mereka adalah mantan laskar prajurit Sunginep yang memang terkenal dengan keberaniannya. Anak-anak muda yang mendengarnya merasa terpancing semangatnya. Barisan prajurit pengawal kademangan dan warga mulai bergerak penuh semangat. Namun, tiba-tiba saja langkah mereka terhenti. Semua mata tertuju ke arah pintu gerbang rumah kediaman Ki Randu Agung, di mana tiga orang datang untuk mencegah mereka keluar.

"Ki Demang Randu Agung, bukalah matamu. Lihatlah dengan jelas dengan siapa aku ada di sini?" kata seorang lelaki tua yang ternyata adalah Ki Jagabaya.

Terlihat Ki Demang Randu Agung tergopoh-gopoh mendekati ketiga orang itu.

"Kami para warga Kademangan Randu Agung ingin menunjukkan rasa cinta kami kepada Ki Randu Alam dan keluarga," kata Ki Demang Randu Agung kepada lelaki tua di sebelah Ki Jagabaya.

"Terima kasih tak terhingga kuucapkan untuk segala usaha dan upayamu mengumpulkan para warga di kademangan ini," kata lelaki tua di sebelah Ki Jagabaya yang ternyata adalah Ki Randu Alam sendiri.

"Jangan salahkan Ki Jagabaya yang tidak mau bergabung bersamamu, karena urusan ini tidak ada kaitan pribadi denganku," lanjut Ki Randu Alam.

"Kami mendengar sendiri bahwa hari ini akan ada sebuah penyerangan dari Kadipaten Lamajang ke rumah Ki Randu Alam?" tanya Ki Demang Randu Agung penuh ketidakmengertian.

"Hari ini kusampaikan bahwa sudah lama aku tersingkir jauh dari rumahku sendiri, karena yang menghuni rumahku saat ini adalah saudara kembarku sendiri," kata Ki Randu Alam kepada Ki Demang Randu Agung.

Tersentak perasaan Ki Demang Randu Agung mendengar penjelasan dari orang yang sangat dihormati itu. Baru hari itu diketahui bahwa penghuni rumah itu ternyata saudara kembar dari Ki Randu Alam.

"Saudara kembarku itu telah mempunyai banyak kepentingan yang mengganggu kemapanan Kerajaan Majapahit di timur Jawadwipa ini. Jadi, urusan ini adalah masalah besar antara saudara kembarku itu dengan Kerajaan Majapahit. Bubarkan pasukanmu, aku tidak ingin ada satu jiwa pun yang menjadi korban sia-sia dari para warga Kademangan Randu Agung ini," kata Ki Randu Alam kepada Ki Demang Randu Agung.

Terlihat Ki Demang Randu Agung membalikkan badan, berjalan mendekati pasukannya yang tidak sabar menunggu penjelasan. Maka dengan panjang lebar, Ki Demang Randu Agung memberikan penjelasan kepada pasukannya sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Randu Alam kepada dirinya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment