Chapter 12
"Terima kasih, aku akan sering singgah selama berada di daerah Tuban ini," kata Gajah Mada kepada Nyi Ajeng Nglirip sambil sebentar mengarahkan pandangannya kepada Andini yang ikut mengantarnya hingga menuruni anak tangga pendopo padepokan itu.
Deru gemuruh air terjun Nglirip sudah semakin menjauh seiring langkah Gajah Mada yang telah berjalan meninggalkan padepokan kecil itu, meninggalkan sepotong hati pemilik sepasang mata indah yang selalu mengiringi setiap langkahnya di saat sepi sendirian.
"Hati Andini telah dipersembahkan kepada pemilik alam semesta ini, dan kami tidak dapat lagi berbagi untuk saling memiliki," kata Gajah Mada dalam hati sambil memandang awan-awan yang terbang berlari terbawa angin membentuk wajah dan rupa baru.
"Begitulah kehidupan ini seperti awan-awan yang ringan terbang mengikuti keinginan Sang Pencipta-Nya, menerima apa pun kehendak garis angin kehidupan dalam rupa dan bentuk baru di sepanjang waktu," kata Gajah Mada sambil merenungi arti garis kehidupannya.
Ternyata langkah kaki Gajah Mada telah berjalan ke arah timur, menyusuri lembah dan tanah perbukitan yang hijau.
Sinar cahaya matahari terhalang daun dan hijaunya rerimbunan hutan berbukit membuat langkah kaki Gajah Mada tidak terasa telah memasuki sebuah kademangan yang cukup ramai siang itu.
"Kisanak telah berada di Kademangan Montong," kata seorang prajurit pengawal kademangan kepada Gajah Mada yang kebetulan berjalan seiring di jalan pedukuhan.
"Dua orang prajurit kademangan kulihat tergesa-gesa mendahuluiku, apakah hari ini akan ada sebuah upacara besar di rumah Ki Demang?" Prajurit kademangan itu tersenyum mendengar pertanyaan Gajah Mada. "Minggu depan memang akan ada upacara sedekah bumi, menyambut panen raya di kademangan ini. Namun, hari ini kami para prajurit kademangan akan berlatih di lapangan terbuka depan rumah Ki Demang. Ada seorang guru pelatih yang sengaja didatangkan dari Kadipaten Tuban," kata prajurit muda itu.
Ketika mereka telah sampai di depan rumah Ki Demang Montong, prajurit muda itu telah bergabung dengan kawan-kawannya di lapangan terbuka. Ada beberapa warga tua dan anak-anak kecil ikut menonton para prajurit yang hari itu akan melakukan berbagai macam latihan. Gajah Mada telah bergabung di sisi kiri lapangan terbuka itu bersama beberapa warga yang ingin melihat latihan para prajurit kademangan itu.
Rupanya latihan hari itu adalah sebuah latihan berkuda. Ada sebuah orang-orangan dari jerami batang padi sebagai sasaran dan tonggak-tonggak bambu sebagai perintang yang diletakkan sengaja berliku-liku. Satu per satu prajurit itu naik di atas kuda yang akan dilarikannya mengelilingi satu putaran di lapangan. Setelah itu, mereka harus melewati tonggak bambu yang berliku. Akhirnya, mereka kembali memacu kudanya agar berlari kencang mendekati orang-orangan. Setelah dekat, seorang prajurit harus melemparkan tombaknya dengan jitu mengenai orang-orangan dari jerami padi itu.
Beberapa orang terlihat tertawa manakala menyaksikan salah seorang prajurit kademangan itu terjatuh ketika melewati tonggak bambu yang berliku-liku. Namun, hati para penonton merasa terpukau manakala menyaksikan seorang prajurit yang sangat tangkas mengendarai kuda melewati tonggak-tonggak bambu dan berhasil menancapkan tombak panjangnya tepat di tubuh orang-orangan yang terbuat dari jerami padi itu.
Demikianlah, Gajah Mada terus menyaksikan latihan para prajurit di lapangan terbuka itu hingga sore. Namun, belum usai latihan, Gajah Mada telah pergi menghilang untuk melanjutkan perjalanannya mengamati kademangan lainnya yang masih dalam kekuasaan wilayah Tuban.
Hari demi hari Gajah Mada memasuki beberapa kademangan di wilayah Tuban itu. Ternyata Gajah Mada mendapat sebuah gambaran bahwa Adipati Ranggalawe memang tengah mempersiapkan sebuah kekuatan melalui perintah khusus untuk menurunkan para pelatih keprajuritan di hampir seluruh kademangan yang tersebar di wilayah Tuban itu.
Hingga pada suatu pagi, Gajah Mada tidak sengaja telah mendatangi sebuah kademangan yang tengah melaksanakan sebuah upacara sedekah bumi. Seperti biasa, upacara sedekah bumi itu selalu dimeriahkan dengan menampilkan kesenian Langen Tayub hingga siang hari.
Terlihat Gajah Mada telah membaur bersama warga setempat di barisan penonton, sementara barisan tamu undangan istimewa berada di sebelah kanan panggung di bawah tajuk. Tampaknya, para pemuka kademangan dan tamu kehormatan dari Kadipaten Tuban. Dari beberapa orang warga, Gajah Mada dapat mengetahui bahwa dalam upacara sedekah bumi itu dihadiri oleh putra Adipati Tuban bernama Kuda Anjampiani bersama gurunya, Ki Ajar Pelandongan. Itulah sebabnya Ki Demang telah menampilkan kelompok kesenian Langen Tayub yang terkenal pada saat itu agar tidak kehilangan muka di hadapan putra Adipati Ranggalawe dan gurunya itu.
Terlihat para warga dan semua orang yang hadir di alun-alun kademangan itu dengan penuh keheningan mendengar seorang pendeta membacakan mantra-mantra suci berharap panen di kademangan itu selalu baik, melimpah, dan dijauhkan dari segala malapetaka. Maka tibalah yang dinantikan oleh semua warga pada saat itu, yaitu sebuah pagelaran Langen Tayub dari sebuah kelompok kesenian yang sangat tersohor di Kadipaten Tuban itu.
Terdengar suara riuh sorak dan sorai para penonton manakala seorang landang membuka pagelaran kesenian Langen Tayub. Bertambah riuh suasana manakala rombongan waranggana turun berlenggak-lenggok gemulai menarikan sebuah tarian Gambyong, sebuah tarian yang mewakili kata sambutan selamat datang para tamu dan para penonton.
"Gending anyar, gending anyar!" teriak beberapa penonton meminta para waranggana melantunkan sebuah gending terbaru mereka.
"Sabar, sabar," kata seorang landang sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi berusaha meredam teriakan para penonton. "Untuk para warga kademangan ini, kami akan membawakan sebuah gending anyar yang berjudul Ksatria Seruling Sakti," kata seorang landang di hadapan para hadirin.
Mendengar gending "Ksatria Seruling Sakti" akan dinyanyikan, terdengar suara para penonton menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Maka para waranggana melantunkan suaranya membawakan gending terbaru mereka yang diangkat dari sebuah kisah nyata yang baru-baru ini telah menggemparkan hampir semua orang di seluruh wilayah Tuban saat itu, yaitu tentang para pemburu mustika batu Tuban di air terjun Nglirip, yang telah muncul seorang Ksatria Seruling Sakti mengalahkan semua pemburu mustika.
Para seniman Langen Tayub telah semakin mengharumkan nama Ksatria Seruling Sakti itu dengan menggubahnya menjadi gending anyar ciptaan mereka yang selalu dilantunkan di setiap pagelaran mereka. Gajah Mada yang telah membaur di antara para penonton terlihat tersenyum sendiri manakala seorang waranggana melantunkan gending "Ksatria Seruling Sakti":
"Dua bidadari cantik turun dari langit,
mandi di air terjun Nglirip.
Tiga raksasa datang memaksa membawa pergi sang bidadari.
Datanglah Ksatria Seruling Sakti mengalahkan tiga raksasa.
Sayang seribu sayang, Ksatria Seruling Sakti tuna wicara.
Sayang seribu sayang, Ksatria Seruling Sakti tidak bisa mengatakan cintanya.
Sayang seribu sayang, dua bidadari kembali ke langit,
Sayang seribu sayang."
Terlihat para hadirin seperti tersihir ikut mengibing bersama, seperti halnya para pengibing di depan panggung dengan sampur di leher. Namun, suasana yang sangat meriah itu tiba-tiba terhenti. Suara gamelan terhenti, dan para pengibing dan waranggana terlihat mundur beberapa langkah dengan wajah cemas dan dipenuhi rasa takut.
"Ada apa gerangan?" Ternyata di depan panggung telah berdiri seorang pemuda dengan mengangkat kerisnya tinggi-tinggi dengan suara lantang meminta gending "Ksatria Seruling Sakti" itu dihentikan.
"Mulai hari ini aku tidak ingin gending Ksatria Seruling Sakti kudengar di telingaku, juga dinyanyikan di seluruh tanah Tuban ini. Barang siapa melanggar aturanku, akan mendapat hukuman dariku," kata pemuda itu yang diketahui bernama Kuda Anjampiani, putra Adipati Ranggalawe.
Suasana seketika menjadi begitu sepi, begitu lengang, dan begitu mencekam. Tak seorang pun berani membantah perkataan Kuda Anjampiani yang diketahui memiliki kesaktian tinggi itu, apalagi bersamanya saat itu adalah gurunya sendiri, Ki Ajar Pelandongan. Untung saja landang yang ditugaskan saat itu adalah seorang landang yang mumpuni, dapat mengendalikan suasana panggung.
"Terima kasih kami sampaikan kepada putra Adipati yang perkasa, Adimas Kuda Anjampiani yang telah tampil di depan panggung. Untuk penghormatan dan kesetiaan kami kepada Junjungan yang Mulia Adipati Ranggalawe, kami akan menyanyikan sebuah gending idaman yang lebih indah. Dipersilakan kepada hadirin menikmati gending kami, 'Gambir Sawit'," kata seorang landang mencoba meredam suasana mencekam itu.
Suasana pun kembali seperti sedia kala, namun tetap saja ada sebuah kekecewaan di hati para warga yang hadir pada saat itu, meski mereka tidak berani mengungkapkannya.
Mengapa seorang pemuda seperti Kuda Anjampiani itu begitu membenci gending "Ksatria Seruling Sakti"? Awal mulanya adalah sebuah kisah tentang seorang ksatria yang telah berhasil mengalahkan hampir semua orang sakti di air terjun Nglirip beberapa pekan yang lalu. Ksatria Seruling Sakti tanpa nama itu telah menjadi pembicaraan hampir semua orang di wilayah Tuban itu dan telah diagungkan sebagai sosok sakti berilmu tinggi, adi jaya mandraguna. Berita itulah yang telah membuat telinga Kuda Anjampiani seperti terbakar. Selama ini seluruh warga Tuban telah mengagungkan keluarga Adipati Ranggalawe sebagai orang-orang berilmu, memiliki kesaktian tinggi, tak ada lawan tanding. Keharuman nama Ksatria Seruling Sakti dapat memudarkan nama keluarga Adipati Ranggalawe, yang saat itu tengah menyusun sebuah kekuatan tandingan menghadapi para penguasa Majapahit.