Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 74

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 74

"Beruntunglah Baginda Raja yang mempunyai Mahapatih yang berasal dari timur Jawadwipa itu. Hampir tiap jengkal tanah di sana ada di dalam kepalanya," ujar Patih Mahesa Amping memuji pemahaman Ki Patih Mangkubumi atas wilayah timur Jawadwipa.

"Aku besar di wilayah timur itu," sahut Ki Patih Mangkubumi sambil tersenyum.

"Yang kuharapkan, semua berjalan sesuai rencana. Tidak ada banyak korban di kedua belah pihak, terutama ketenteraman warga di wilayah itu sebagaimana peperangan yang pernah kita lewati bersama," ucap Ki Gede Bajra Seta memberikan nasihat kepada Mahesa Semu, Gajah Mada, dan Adityawarman yang akan terjun langsung memimpin pasukan di wilayah timur.

"Penderitaan dan darah telah banyak tertumpah untuk membangun Kerajaan Majapahit yang kita cintai ini; janganlah ditambah dengan darah dan penderitaan lagi. Pedang bukanlah satu-satunya alat untuk menyelesaikan setiap pertikaian; pedang itu sendiri diciptakan hanya untuk menjaga kedamaian di bumi ini. Peperangan dan perdamaian adalah dua sisi pedang yang berbeda. Hanya seorang ksatria bijaksana yang mampu membedakannya," pungkas Ki Gede Bajra Seta mengakhiri pesan-pesannya.

Sementara itu, dari pintu pringgitan, seorang pelayan tua keluar membawa baki makanan dan minuman untuk mereka yang hadir di atas pendapa Pura Pasanggrahan Gajah Mada. Ternyata, sedari tadi beberapa orang di pawon tengah sibuk menyiapkan hidangan.

Hari yang dinantikan pun tiba. Saat bulan bulat sempurna, menjadi pertanda wisuda Putri Dyah Gayatri dan Kertawardana. Seluruh warga Kotaraja Majapahit tumpah ruah ke alun-alun istana untuk turut hadir di hari pelantikan Bhre Tumapel dan Bhre Kahuripan. Bunga sajen dan tumpeng keselamatan menghiasi setiap perempatan jalan Kotaraja Majapahit. Istana pun berhias aneka janur kuning yang melambai menyambut kegembiraan.

Duduk di atas batu keling, Baginda Raja Sanggrama Wijaya ditemani para undangan utusan dan kehormatan dari berbagai daerah bawahan, diteduhi tajuk berhias aneka bunga dan rangkaian janur kuning. Suasana menjadi hening manakala seorang petugas istana membuka acara wisuda, yang diawali dengan puja-puji bagi junjungan mereka, Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

"Sembah pujiku, orang hina ke bawah telapak kaki pelindung jagat. Siwa-Budha Janma Bhatara senantiasa tenang tenggelam dalam samadi. Sang Sri Prawatanata, pelindung kaum miskin, raja adiraja di dunia. Dewa Bhatara, lebih khayal dari yang khayal, tapi nyata di atas tanah. Merata serta meresapi segala makhluk, nirguna bagi kaum Wisnawa, Iswara bagi yogi, Purusa bagi Kapila, hartawan bagi Jambala, Wagindra dalam segala ilmu, Dewa Asmara di dalam cinta berahi, Dewa Yama dalam menghilangkan penghalang dan menjamin dunia," lantang suara petugas itu memulai penobatan suci.

Suasana semakin hening mencekam manakala seorang pandita suci membacakan mantra, memohon doa kepada para dewa untuk keselamatan dan kejayaan Putri Dyah Gayatri dan Kertawardana yang telah dinobatkan sebagai raja muda di Kahuripan dan Tumapel.

"Nama abhiseka untuk Bhre Kahuripan adalah Tribuana Tungga Dewi Wisnuwardani, nama abhiseka Bhre Tumapel adalah Cakraweda Dewa Wisnuwardhana," ujar sang pandita suci sambil memercikkan air suci yang berasal dari mata air Gunung Penanggungan, tempat bersemayamnya para leluhur mereka.

Satu hari setelah penobatan sebagai raja muda di Kahuripan dan Tumapel, dilangsungkan upacara perkawinan keduanya. Kegembiraan warga Kotaraja Majapahit terasa berlipat ganda hingga malam hari. Namun, di malam penuh suka cita itu, tidak seorang pun menyadari kepergian Gajah Mada, sang pemimpin pasukan Bhayangkara yang sakti mandraguna. Anak muda itu tidak terlihat lagi saat malam mulai larut.

Di ujung gapura batas Kotaraja Majapahit sebelah utara, di sebuah sungai kecil berbatu, rembulan tersenyum manja di langit malam. Temaram cahayanya menyinari sepasang muda-mudi yang duduk di atas batu besar, diiringi gemericik air sungai dan suara gending keheningan malam.

"Entah sampai kapan kita akan terus bersembunyi di kegelapan malam seperti ini," ujar wanita jelita itu kepada pemuda di sampingnya sambil memandang rembulan.

"Di antara siang dan malam, ada senja yang membatasi. Sementara cintaku tidak terbatas apa pun," sahut pemuda itu.

"Sementara cintaku harus bersembunyi di balik jubah seorang biksuni, bersembunyi di antara dua mata Siwa dalam kuil sang Budha," balas sang wanita.

"Di Tanah Kahuripan masih akan selalu ada wajah rembulan. Di situlah wajahmu kusisihkan menjaga rinduku," kata sang pemuda.

"Berjanjilah, wajah kita akan bersatu di dalam lingkaran sang dewi malam," pinta wanita itu.

"Aku berjanji, manakala waktunya tiba di mana tidak ada lagi seorang raja yang memerlukan baktiku, aku akan membawamu jauh ke pulau terasing. Kita akan memandang matahari terbit dan tenggelam, serta menatap purnama bersama hingga ajal menjemputku," jawab pemuda itu.

Wanita jelita itu adalah Andini, seorang biksuni murid terkasih Ratu Gayatri. "Hari telah larut malam, Kakang," bisiknya. Gajah Mada kemudian menggamit tangan Andini, lalu keduanya berkelebat pergi bagaikan terbang menembus kegelapan malam.

Empat puluh hari setelah pelantikan, di pesisir pantai Tanah Ujung Galuh, tiga perahu berlayar tunggal bergerak menjauhi dermaga. Sekitar lima belas orang berada di atas perahu tersebut—bagian dari enam ratus prajurit pilihan Majapahit yang berangkat menuju Banyuwangi, Banger, dan Pasuruan. Pemberangkatan mereka dirahasiakan, sebagai pasukan senyap yang akan menandingi kekuatan tersembunyi yang berpusat di Tanah Lamajang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment