Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 176

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 176

"Apakah ada keuntungannya untuk kita?" tanya Ki Agung Ngrayung dengan nada acuh tak acuh.

"Raden Kudamerta adalah sahabatku," jawab Kuda Jenar kepada Ki Agung Ngrayung.

"Jika Raden Kudamerta adalah sahabatmu, apakah ada keuntungan bagimu?" tanya Ki Agung Ngrayung kembali, masih dengan sikap tidak peduli.

"Setidaknya, sahabatku itu telah menikahi salah seorang putri Raja Majapahit. Jalan lebar kini terbentang di hadapannya untuk menjadi orang penting di Kerajaan Majapahit yang besar. Atau, bila bintang keberuntungan berpihak kepadanya, bisa saja dirinya akan menjadi seorang Raja Majapahit," ujar Kuda Jenar sambil berharap ada tanggapan dari ayahandanya.

"Apa keuntungannya bagi dirimu?" tanya Ki Agung Ngrayung tetap dengan sikap yang sama.

"Bila Raden Kudamerta menjadi Raja Majapahit, pasti diriku akan ditarik menjadi pejabat istana Majapahit. Bukankah itu artinya aku telah membawa kembali kecemerlangan nama besar keluarga kita yang telah suram terpendam?" kata Kuda Jenar kepada ayahandanya.

Ternyata harapan Kuda Jenar mulai membuahkan hasil; ayahandanya terlihat mulai menunjukkan kepedulian.

"Raden Kudamerta hanyalah seorang menantu dari putri kedua Raja Sanggrama Wijaya, posisinya sangat jauh dari takhta," sahut Ki Agung Ngrayung yang kini mulai menaruh perhatian.

"Aku hanya perlu restu dari Ayahanda. Aku akan bekerja secara diam-diam tanpa sepengetahuan Raden Kudamerta, tanpa sepengetahuan siapa pun, untuk membuka jalan bagi Raden Kudamerta naik ke takhta singgasananya," ujar Kuda Jenar dengan hati penuh kegembiraan.

Pada hari itu, keluarga istana Majapahit tiba di istana Wengker dan disambut dengan upacara besar yang sangat meriah sebagai pertanda kebanggaan dan kebahagiaan Raja Wengker yang berbesan dengan keluarga istana Majapahit. Selama tujuh hari, keluarga pihak pengantin wanita menerima keramahan keluarga pengantin lelaki, hingga tiba saatnya rombongan pengantin berpamitan kembali ke Daha. Tidak ada aral melintang dalam perjalanan menuju Kotaraja Daha.

"Sebenarnya aku ingin lebih lama menemani kalian di kotaraja Daha ini, namun putri sulungku tengah hamil tua sehingga aku harus segera tiba di istana Kahuripan," ujar Ibunda Ratu Gayatri setelah sepekan berada di istana Daha.

"Kelak kami akan berkunjung ke istana Kahuripan untuk menjenguk Ibunda dan keponakanku," sahut Juwaraja Dyah Wiyat yang berusaha menekan keharuannya melepas kepergian sang ibunda.

Demikianlah, kedatangan Ibunda Ratu Gayatri ke kerajaan Wengker dan Daha menjadi awal babad baru benderangnya surya Wilwatikta di tanah Jawa yang dibawa oleh para generasi muda. Patih Gajah Mada, Juwaraja Dyah Wiyat, dan Raden Kudamerta di Daha; Juwaraja Tribuwana di Kahuripan; Juwaraja Kertawardana di Tumapel; serta Tumenggung Adityawarman dan Raja Jayanagara di pusat kerajaan Majapahit adalah elang-elang muda yang telah tumbuh sayap untuk menjaga wilayahnya masing-masing.

Saat itu, Tumapel, Kahuripan, dan Daha ibarat tiga bulan kembar yang menerangi jagat Majapahit Raya di bawah kendali orang-orang muda yang penuh semangat. Namun, di hutan malam bumi Majapahit, masih terdengar suara kawanan serigala yang selalu terjaga, menanti dan mencari siapa yang paling lemah di antara putra dan putri Baginda Raja Sanggrama Wijaya untuk melampiaskan dendam dan hasrat angkara di palagan kekuasaan.

Seekor serigala malam menatap rembulan di atas bukit, sementara di langit, satu bintang bersinar cemerlang. Seorang pemuda pengembara bernama Kuda Jenar, putra Ki Agung Ngrayung, bersandar di sebuah batu besar sambil memandang bintang tersebut. Ia telah jauh meninggalkan padepokannya di Wengker.

Pada waktu yang sama, seorang pemuda tampan berpakaian bangsawan tengah memacu kudanya. Dialah Raden Kudamerta yang sedang dalam perjalanan menuju Kotaraja Majapahit untuk memenuhi panggilan Raja Jayanagara yang memintanya menjadi anggota Bhatara Prabu, sebuah jabatan terhormat di istana Majapahit.

Rembulan bersinar terang menyinari dataran perbukitan dan seekor kuda hitam beserta penunggangnya. Jarak menuju Kotaraja Majapahit tidak lagi jauh, namun Raden Kudamerta memutuskan untuk bermalam di tanah berbukit yang dipenuhi bebatuan besar itu. Baru saja ia hendak bersandar, pendengarannya yang terlatih menangkap langkah kaki yang mendekat.

Raden Kudamerta terheran-heran melihat empat orang kerdil mendekati kudanya. Wajah mereka sangat sulit dibedakan satu sama lain.

"Kuda hitam yang bagus, aku ingin memilikinya," ujar salah seorang dari mereka.

"Aku juga ingin memilikinya," sahut yang lain.

"Kuda ini milikku," kata yang ketiga.

"Kuda ini milikku," ujar yang keempat dengan suara lebih keras.

Raden Kudamerta terpaku, tidak sempat berbuat apa-apa saat keempat orang asing itu dengan cepat memegang kaki kuda, masing-masing satu kaki.

*Brettt!*

Raden Kudamerta tersentak melihat kuda hitamnya terbelah empat dengan darah berhamburan. Pemandangan itu sangat mengerikan.

"Kalian telah membunuh kudaku!" seru Raden Kudamerta kepada keempat orang kerdil yang masih memegang potongan daging kudanya.

"Kudamu?" sahut keempat orang itu berbarengan sambil tertawa dan melempar potongan daging kuda tersebut.

"Kuda ini milikku, kalian harus bertanggung jawab!" tegas Raden Kudamerta yang mulai dikuasai kemarahan.

"Kudamu terlalu empuk, jadi jangan salahkan kami," ujar salah seorang di antaranya sambil terkekeh.

Kemarahan Raden Kudamerta semakin memuncak, namun keempat orang itu justru tertawa semakin keras hingga perut mereka terguncang-guncang. Dalam keadaan biasa, mungkin ia akan menganggapnya lucu, tetapi teringat akan kuda kesayangannya, ia justru merasa diremehkan.

"Kalian harus menggantikan kuda milikku!" tuntut Raden Kudamerta.

"Anak muda, nampaknya kamu belum mengenal kami," ujar salah satu yang terlihat paling tua setelah tawanya reda. Raden Kudamerta kini mulai bisa membedakan wajah mereka meski sangat mirip.

"Aku memang tidak mengenal kalian, tetapi kalian harus bertanggung jawab atas kuda yang telah kalian bunuh," balas Raden Kudamerta.

"Pantas saja. Jika kamu mengenal kami, pasti kamu sudah lari terbirit-birit," ujar orang yang dituakan itu.

"Siapakah kalian berempat?" tanya Raden Kudamerta.

"Orang-orang menjuluki kami sebagai Empat Bocah Tidak Punya Tanggung Jawab," jawab orang itu.

"Sayang sekali, aku baru mendengarnya hari ini. Jadi, aku masih berdiri di sini tanpa rasa takut sedikit pun," sahut Raden Kudamerta sambil bertolak pinggang.

"Kamu telah salah menyebut julukan kami. Sebagai hukumannya, kamu harus bertanggung jawab menghadap dewa kematian," ujar si tua sambil memberi isyarat kepada ketiga saudaranya untuk mengepung Raden Kudamerta dari empat sisi.

Raden Kudamerta adalah murid tunggal Ki Ajar Bendawa yang telah mewarisi hampir seluruh ilmu kesaktian gurunya. Namun, menghadapi keempat orang kerdil itu, ia merasa tidak berdaya, seolah-olah ia hanyalah anak kecil yang berhadapan dengan orang dewasa yang memiliki tenaga luar biasa. Keempat orang kerdil itu bergerak sangat cepat. Sebelum Raden Kudamerta sempat menghindar, kedua tangan dan kakinya telah dicengkeram dengan sangat kuat oleh mereka. Meski memiliki ilmu kesaktian tinggi, ia tidak mampu melepaskan diri dari cengkeraman keempat orang kerdil yang aneh itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment