Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 218

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 218

"Pintu padepokan kami selalu terbuka untuk kalian semua," kata Empu Batukaru sambil membalas lambaian tangan para tamunya.

Demikianlah, Ki Sahdatun, Patih Gajah Mada, dan Andini terlihat tengah melangkah meninggalkan padepokan Empu Batukaru yang begitu indah, dikelilingi aneka bunga berbagai rupa dan warna laksana permadani indah yang terhampar luas di seluruh lereng itu.

Sebagaimana kedatangan mereka, arah perjalanan mereka tampaknya melewati jalan-jalan sepi yang jarang dilalui oleh orang biasa.

Hutan perawan, lembah, dan bukit sunyi yang terjal adalah jalan yang mereka lewati.

Namun, ketiga orang yang memiliki tingkat kemampuan di atas orang biasa itu sepertinya tidak merasakan kesulitan dan hambatan apa pun. Bahkan, mereka terlihat menikmati perjalanan tersebut.

Dalam perjalanan itu, terutama Andini banyak mendapatkan pemahaman tentang agama Islam yang baru dianutnya.

Hingga akhirnya, Ki Sahdatun mencoba menyinggung tentang hubungan keduanya.

"Pernikahan adalah kesempurnaan dan keagungan yang membedakan antara manusia dengan makhluk lainnya di muka bumi ini," kata Ki Sahdatun kepada Patih Gajah Mada dan Andini.

Terlihat kedua muda-mudi itu saling berpandangan.

Anggukan keduanya seolah menjadi sebuah persetujuan dan kesepakatan.

"Setelah tugas di Balidwipa ini selesai, aku akan mendatangi orang tuanya untuk melamarnya," kata Patih Gajah Mada kepada Ki Sahdatun.

Mendengar perkataan Patih Gajah Mada yang akan datang melamarnya itu, tampak bibir gadis jelita itu tersenyum penuh kegembiraan.

Namun, rona kegembiraan di wajah Andini hanya sesaat saja, karena tiba-tiba keceriaan wajahnya berganti menjadi begitu suram.

Perubahan mendadak itu tidak luput dari perhatian Ki Sahdatun dan Patih Gajah Mada.

"Andini, apakah perkataanku telah mengganggu perasaanmu?" tanya Patih Gajah Mada kepada Andini.

Gadis jelita itu menggelengkan kepalanya dan mencoba memaksakan senyum di hadapan Patih Gajah Mada.

"Tidak, Kakang. Aku hanya teringat kepada kedua orang tuaku. Tiba-tiba saja ada kerinduan yang amat sangat terhadap mereka," kata Andini kepada Patih Gajah Mada.

Tampak Patih Gajah Mada menarik napas panjang, sembari menatap Andini dengan penuh rasa iba.

Pemuda itu merasa sangat bersalah karena telah menyebabkan banyak penderitaan batin bagi gadis di hadapannya itu.

Terbayang bagaimana gadis itu harus berpisah dengan kedua orang tuanya hanya untuk menemui dirinya.

Terbayang bagaimana seorang gadis muda sendirian menempuh perjalanan yang amat jauh dari tanah Pasundan ke Majapahit, hanya untuk menemui dirinya.

Terbayang pula betapa hancur hati gadis itu manakala melihat kedekatan dirinya dengan kedua putri Kanjeng Ratu Gayatri, hingga memutuskan untuk menjadi seorang biksuni.

"Percayalah kepadaku, aku akan datang ke Rawa Rontek menemui ayahmu, Ki Bango Samparan, memintanya agar dirimu diizinkan untuk menjadi istriku," kata Patih Gajah Mada dengan penuh kesungguhan hati.

"Ayah dan ibuku pasti akan sangat senang mendengar lamaranmu itu, karena mereka berdua begitu menyukai dirimu," kata Andini dengan wajah yang kembali cerah.

Sementara itu, di atas langit yang cerah, terlihat tiga ekor elang melintas terbang menuju ke arah barat.

"Mari kita melanjutkan perjalanan," kata Ki Sahdatun kepada kedua muda-mudi itu.

Demikianlah, ketiganya terlihat berdiri dan melangkah meninggalkan tempat peristirahatan mereka siang itu, menuju ke arah barat.

Hingga akhirnya, manakala warna bumi semakin teduh di penghujung senja, terlihat ketiganya telah mendekati sebuah perkampungan nelayan yang tidak begitu jauh dari Pantai Gilimanuk.

"Kebetulan sekali angin cukup bagus, aku akan menyeberangkan kalian ke Pantai Banyuwangi," kata seorang lelaki muda kepada mereka bertiga.

Ki Sahdatun, Patih Gajah Mada, dan Andini berjalan mengikuti langkah lelaki muda itu menuju ke arah pantai.

Langit kelam, warna air laut pun kelam.

Terlihat sebuah perahu layar bercadik merayap menghadang ombak Selat Balidwipa.

"Kami dibesarkan di laut ini, begitu pula keluarga ayah dan buyut kami," kata anak muda itu dengan suara setengah berteriak mengatasi deru ombak kepada Ki Sahdatun di dekatnya, sambil memegang kendali layar agar tetap terarah.

Sementara itu, Patih Gajah Mada dan Andini terlihat diam membisu memandang laut luas di depan mata.

Desir angin yang kuat menyapu wajah dan rambut mereka yang terurai lepas.

Hingga akhirnya, setelah berjuang cukup lama menembus ombak perairan Selat Balidwipa, perahu layar bercadik itu tampak mendekati Pantai Banyuwangi, ditandai dengan beberapa perahu nelayan yang mereka temui di sepanjang perairan.

"Bandar Pelabuhan Banyuwangi," kata Patih Gajah Mada sambil menunjuk ke arah kerlap-kerlip pelita yang bertebaran di kegelapan malam itu.

Hari memang masih larut malam manakala perahu layar mereka mendekati bibir dermaga Pelabuhan Banyuwangi.

Masih terlihat beberapa buruh tengah menurunkan barang dari sebuah perahu dagang yang tampaknya baru saja bersandar.

Canda dan tawa genit para wanita malam juga ikut mewarnai suasana di Bandar Pelabuhan Banyuwangi malam itu.

"Kita beristirahat di ujung kedai itu," kata Patih Gajah Mada mengajak Andini dan Ki Sahdatun ke sebuah kedai di Bandar Pelabuhan Banyuwangi.

Ternyata, Patih Gajah Mada membawa Ki Sahdatun dan Andini ke sebuah kedai yang tidak begitu ramai. Di depannya terdapat sebuah balai bambu.

"Mengapa Tuan-Tuan tidak di dalam saja?" tanya pemilik kedai kepada mereka bertiga.

"Terima kasih, di balai ini kami bisa sekalian beristirahat menunggu pagi datang," jawab Patih Gajah Mada.

"Tampaknya kalian baru saja berlabuh," kata pemilik kedai itu sambil tersenyum ramah. "Kami akan menyiapkan makanan dan minuman hangat untuk Tuan-Tuan."

Pemilik kedai itu pun masuk ke dalam.

Namun, tidak lama kemudian, ia kembali keluar membawa makanan ringan.

"Makanan dan minuman untuk Tuan-Tuan sedang dihangatkan. Sambil menunggu, silakan menikmati keripik pisang dan abon bonggolnya," kata pemilik kedai itu sambil meletakkan selembar daun jati berisi makanan ringan khas suku Osing di atas balai-balai.

"Terima kasih," kata Patih Gajah Mada kepada pemilik kedai yang kemudian kembali melangkah ke dalam.

Hingga akhirnya, hari menjelang pagi yang bening.

Pagi-pagi sekali, Patih Gajah Mada, Andini, dan Ki Sahdatun telah meninggalkan Bandar Pelabuhan Banyuwangi.

Tampaknya mereka telah sepakat untuk mengambil jalan darat. Hal itu terlihat dari beberapa perbekalan yang dibeli di kedai tersebut untuk perjalanan jauh.

"Kita akan singgah di Kadipaten Lamajang," kata Patih Gajah Mada kepada Ki Sahdatun dan Andini ketika memulai perjalanan mereka.

Saat keluar dari Bandar Pelabuhan Banyuwangi, mereka mengambil jalan ke persimpangan lain yang menghindari Kadipaten Blambangan.

Melihat jalan yang ditempuh oleh Patih Gajah Mada, Ki Sahdatun dan Andini tidak banyak bertanya. Mereka berdua terus mengikuti langkah kaki pemuda perkasa itu dengan setia.

Namun, manakala mereka memasuki jalan di hutan yang cukup lebat, Patih Gajah Mada menjelaskan alasan dirinya menghindari pertemuan dengan Adipati Menak Jingga.

"Orang-orang Blambangan sangat dekat dengan orang-orang di Balidwipa. Aku tidak ingin kedekatan ini memengaruhi perjuangan kita untuk menggempur tanah Bali," kata Patih Gajah Mada, menjelaskan mengapa dirinya enggan meminta bantuan kepada Adipati Blambangan tersebut.

"Bagaimana dengan Adipati Menak Lamajang?" tanya Ki Sahdatun.

"Kecintaan dan pembelaan Adipati Menak Koncar untuk Tanah Majapahit tidak dapat disangsikan lagi," kata Patih Gajah Mada kepada Ki Sahdatun.

Sementara itu, Andini yang tidak banyak mengetahui ihwal kedua adipati bersaudara kandung itu memilih diam dan hanya mendengarkan pembicaraan mereka.

Kicau burung dan semerbak wangi tanah hutan yang tertiup angin sepoi-sepoi mewarnai suasana di hutan yang membentang panjang itu.

Suasana teduh itu membuat ketiganya tidak merasakan kelelahan sedikit pun, meskipun telah memasuki hutan yang pernah dijuluki sebagai tanah tak bertuan.

"Cukup lama aku tinggal di sekitar hutan ini," kata Patih Gajah Mada, bercerita tentang kehidupannya di tanah tak bertuan di sekitar hutan antara Blambangan dan Lamajang itu saat meredam pemberontakan gerombolan yang dipimpin oleh Ki Sadeng.

Mendengar cerita Patih Gajah Mada, Andini tersenyum tipis membayangkan kekasih hatinya yang tampan itu menyamar sebagai seorang perampok.

Cerita Patih Gajah Mada terhenti manakala di ujung jalan terlihat iring-iringan pedati para pedagang.

Satu-dua orang dari rombongan pedagang itu menyapa ketiganya dengan penuh keramahan.

Patih Gajah Mada tersenyum saat pedati terakhir melewati mereka.

Terbersit di dalam hati pemuda itu rasa gembira bahwa karya baktinya beberapa waktu yang lalu di tanah tak bertuan antara Blambangan dan Lamajang telah membuahkan hasil.

Daerah itu kini telah menjadi jalur perjalanan yang aman.

Pikiran pemuda itu melayang mengenang saat-saat dirinya bersama orang-orang dari Padepokan Bajra Seta dan Perguruan Teratai Putih menandingi gerombolan Ki Sadeng.

"Aku perlu kehadiran Kakang Kepakisan untuk bergabung dalam satu pasukan besar di Balidwipa," gumam Patih Gajah Mada dalam hati, mengingat kembali salah seorang yang dulu pernah berjuang bersamanya.

"Matahari sudah cukup tinggi," kata Andini, membuyarkan lamunan Patih Gajah Mada.

"Benar, hari memang telah berada di atas kepala," sahut Patih Gajah Mada.

"Mari kita mencari tempat untuk beristirahat sejenak," kata Ki Sahdatun sambil tersenyum memandang cahaya matahari yang menembus di antara kelebatan hutan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment