Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 216

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 216

"Aku hanya ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh prajurit Bali terhadap orang Majapahit yang mereka tahan. Ternyata mereka tidak sekasar yang kubayangkan. Tampaknya para prajurit Bali masih menganggap orang Majapahit sebagai saudaranya yang serumpun," kata Biksuni Andini.

Kepada Biksuni Andini, secara singkat Patih Gajah Mada bercerita tentang tugas perjalanan dirinya bersama Ki Sahdatun di Balidwipa itu.

"Tampaknya sudah saatnya kita melanjutkan perjalanan kita," kata Ki Sahdatun kepada Patih Gajah Mada dan Biksuni Andini.

Terlihat Patih Gajah Mada dan Biksuni Andini memandang ke arah Ki Sahdatun bersamaan.

"Tidak seperti yang kalian bayangkan bahwa kita harus membentur sebuah pasukan Bali untuk meloloskan diri. Yang kita lakukan adalah menerobos lewat wuwungan bilik yang rendah itu," kata Ki Sahdatun, seolah dapat membaca jalan pikiran kedua muda-mudi itu.

Selama ini Patih Gajah Mada memang belum melihat langsung sejauh mana tingkat ilmu meringankan tubuh pada diri Ki Sahdatun. Namun, sikap dan bicaranya terdengar begitu meyakinkan.

"Bagaimana dengan tahanan yang lainnya?" tanya Patih Gajah Mada.

"Tidak perlu dikhawatirkan, mereka mendapatkan perlakuan yang baik di sini," kata Biksuni Andini.

"Di luar bilik ini, tampaknya hari sudah mulai gelap," kata Ki Sahdatun.

Sambil berkata demikian, terlihat Ki Sahdatun sedikit merendahkan tubuhnya dengan menekuk lutut. Semua itu tidak lepas dari pandangan Patih Gajah Mada.

Terlihat Patih Gajah Mada tersenyum manakala melihat tubuh Ki Sahdatun melenting ke udara dan langsung menerobos atap wuwungan bilik. Patih Gajah Mada dan Biksuni Andini bersama-sama melihat atap wuwungan yang telah menganga terbongkar.

"Aku di belakangmu," kata Patih Gajah Mada kepada Biksuni Andini.

Tanpa berkata apa pun, terlihat Biksuni Andini melesat terbang keluar dari atap wuwungan sebagaimana Ki Sahdatun.

Melihat tubuh Biksuni Andini sudah menghilang, Patih Gajah Mada langsung menjejakkan kakinya, melenting terbang begitu ringannya menerobos atap wuwungan yang terbuka.

Ternyata tidak jauh dari bilik itu ada sebuah pohon asam yang cukup besar, dan Patih Gajah Mada melihat Ki Sahdatun dan Biksuni Andini tengah menunggunya di pohon itu.

Dengan kecepatan yang amat tinggi, terlihat Patih Gajah Mada melesat terbang ke pohon asam itu tanpa diketahui oleh para prajurit Bali yang tengah berjaga-jaga di sekitar bilik tahanan itu.

"Ikuti aku," kata Ki Sahdatun yang melihat Patih Gajah Mada telah menjejakkan kakinya di pohon asam itu.

Terlihat Patih Gajah Mada tersenyum melihat tingkat ilmu meringankan tubuh pada diri Ki Sahdatun yang tampaknya sudah sangat sempurna. Patih Gajah Mada melihat sendiri bagaimana orang tua itu melesat begitu cepatnya, layaknya seekor kelelawar yang terbang. Begitu cepatnya hingga tidak terlihat oleh mata para prajurit Bali yang ada di sekitar bilik tahanan itu.

"Kita ikuti orang tua itu," kata Patih Gajah Mada kepada Biksuni Andini.

Sebagaimana Ki Sahdatun, kedua muda-mudi itu pun terlihat seperti sepasang kelelawar yang melesat terbang di penghujung senja. Tiga sosok bayangan terlihat melesat berlari dengan ilmu meringankan tubuh yang nyaris sempurna.

Tidak begitu lama, ketiganya telah menjauhi padukuhan tempat bilik tahanan mereka.

"Kita sudah cukup jauh dari mereka," kata Ki Sahdatun yang memperlambat larinya.

"Kita harus menghindari jalan umum. Di mana-mana ada prajurit Bali," kata Patih Gajah Mada.

"Di sebelah sana ada hutan kecil. Kita dapat bermalam di sana," kata Ki Sahdatun sambil menunjuk ke arah sebuah hutan kecil di depan mereka.

Demikianlah, malam itu ketiganya terlihat bermalam di sebuah hutan kecil.

Lenguh malam berdesah di ujung rerumputan yang terkantuk membeku dingin. Terlihat Ki Sahdatun tengah bersandar di bebatuan dengan mata terpejam, sementara tidak jauh darinya, Patih Gajah Mada dan Biksuni Andini menghangatkan diri di tepi perapian.

"Kakang Gajah Mada," kata Biksuni Andini dengan suara penuh penekanan.

Mendengar perkataan Biksuni Andini, Patih Gajah Mada terlihat menarik napas dalam-dalam, menunggu apa gerangan yang akan disampaikannya.

"Tadi aku melihat sendiri dirimu melaksanakan laku selayaknya seorang muslim. Benarkah dirimu telah berganti agama menjadi seorang muslim?" tanya Biksuni Andini.

"Sebagaimana yang kamu saksikan, benar diriku saat ini telah menjadi seorang muslim, wahai Andini," kata Patih Gajah Mada tanpa rasa bersalah dan keinginan untuk menutupinya.

"Aku mengenal dirimu sebagai seorang yang telah memahami isi Kitab Tatwa dengan begitu sempurna, mengerti dan menghayatinya bersama darah dan napasmu," kata Biksuni Andini.

"Aku tidak berpaling dari apa pun, aku juga tidak mendustakan apa pun. Yang kutemui adalah sebuah jalan terang benderang. Yang kutemui adalah samudra luas tempat bermuaranya segala sungai. Yang kutemui adalah akhir dari pencarian para pengembara hati," kata Patih Gajah Mada.

"Kakang Gajah Mada," kata Biksuni Andini dengan pandangan lurus menatap wajah Patih Gajah Mada.

Kembali terlihat Patih Gajah Mada menarik napas panjang, menunggu apa gerangan yang akan disampaikan oleh kekasih hatinya itu.

"Kamu adalah imam bagiku. Tunjukkan kepadaku jalan yang kamu ketahui itu, tuntunlah aku menuju samudra muara segala sungai itu, wahai Kakang," kata Biksuni Andini.

"Kamu harus mengucapkan kalimat persaksian," kata Patih Gajah Mada.

"Ajarkan diriku bagaimana melakukan persaksian itu, wahai Kakang," kata Andini.

"Bersaksilah di dalam dirimu bahwa tiada sembahan apa pun yang patut disembah selain Gusti Allah," kata Patih Gajah Mada.

"Gusti Allah?" tanya Biksuni Andini.

"Dialah Gusti Allah, tiada Tuhan selain Dia. Dia Yang Maha Hidup dan Yang Maha Berdiri Sendiri, yang tidak pernah mengantuk, apalagi tertidur," kata Patih Gajah Mada perlahan.

"Diakah Gusti Allah itu yang memiliki kekuasaan Sang Syiwa?" tanya Biksuni Andini dalam hati.

"Di tangan-Nya segala apa yang ada di langit dan di bumi. Maka, siapa pun tidak dapat memberi pertolongan selain atas izin-Nya," kata Patih Gajah Mada melanjutkan.

"Diakah Gusti Allah itu yang memiliki kekuasaan Sang Wisnu?" tanya Biksuni Andini dalam hati.

"Dia, Allah, mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Dan mereka tidak mengetahui ilmu Allah, kecuali dengan izin-Nya. Dan singgasana-Nya meliputi langit dan bumi, dan tiada berat bagi-Nya memelihara keduanya. Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung," kata Patih Gajah Mada.

"Sungguh sempurna dan indah kalimat yang engkau sampaikan, wahai Kakang Gajah Mada," kata Biksuni Andini.

"Tiada juga kudapatkan keingkaran dari apa yang kuyakini selama ini. Yang kutemui adalah sebuah jalan terang yang begitu lurus di depan mata dan hatiku," kata Biksuni Andini kembali, seolah kalimat itu keluar begitu saja dari bibirnya.

"Yang kamu dengar ini adalah sebuah ayat dari kitab suci yang langsung diturunkan kepada utusan-Nya untuk semua umat di bumi ini sebagai tanda cinta kasih-Nya," kata Patih Gajah Mada dengan wajah penuh senyum.

"Agama Islam mewajibkan setiap umatnya menjadi orang suci, namun tidak harus menjadi seorang biksu dan biksuni. Bila di hadapanmu ada segelas air putih yang jernih, dan di hadapanmu ada juga segelas air susu, maka Islam memilihkan untukmu mengambil segelas susu itu. Memilih Islam sebagai jalan hidupmu adalah memilih segala kebutuhan hidupmu, lahir dan batin, di alam dunia dan di alam akhir yang abadi," kata Patih Gajah Mada kembali.

"Wahai Kakang Gajah Mada, demi Gusti Allah yang kamu sembah itu, aku bersaksi tiada Tuhan yang aku sembah selain Gusti Allah," kata Biksuni Andini.

"Wahai Andini, tiada kegembiraan dan kebahagiaan yang kurasakan pada malam ini selain kegembiraan dan kebahagiaan mendengar persaksianmu itu," kata Patih Gajah Mada dengan wajah penuh kegembiraan dan kebahagiaan.

"Tuntunlah aku, wahai Kakang Gajah Mada," kata Biksuni Andini.

"Sejak malam ini, kamu bukan lagi seorang biksuni. Sejak malam ini, dirimu seutuhnya adalah seorang wanita Muslim," kata Patih Gajah Mada.

"Aku rela dan ikhlas dari hatiku sendiri, wahai Kakang Gajah Mada," kata Andini dengan penuh keteguhan hati.

Sementara itu, terlihat Ki Sahdatun yang masih terpejam telah bergeser sedikit dari tempatnya semula. Terlihat bibirnya sedikit tersenyum. Ternyata Ki Sahdatun telah mendengar semua percakapan antara Patih Gajah Mada dan Andini.

"Malam ini telah tumbuh satu lagi benih Islam di bumi Majapahit ini," kata Ki Sahdatun dalam hati.

Dan langit malam di atas hutan kecil itu terlihat begitu sejuk. Warna birunya dihiasi cahaya rembulan dan gemerlap jutaan bintang-gemintang, sungguh warna langit malam yang sempurna eloknya.

Pagi itu di hutan kecil.

Gemercik air sungai kecil di bawah tebing dan kicau burung manyar yang tengah mandi sisa embun di ujung dedaunan adalah nyanyian pagi kegembiraan hati siapa pun yang ada di sekitar hutan kecil itu.

Terlihat Ki Sahdatun, Patih Gajah Mada, dan Andini tengah bersiap diri untuk melanjutkan perjalanan mereka.

"Semoga perjalanan kita tidak menemui banyak hambatan," kata Patih Gajah Mada sambil menatap mentari pagi yang muncul menerangi alam di sekitar hutan kecil itu.

Maka tidak lama berselang, ketiganya telah berjalan keluar dari hutan kecil tempat mereka bermalam. Tampaknya mereka mengambil arah jalan yang jarang dilalui oleh orang pada umumnya, juga menghindari beberapa padukuhan di setiap perjalanan mereka.

"Menjelang senja tiba, kita sudah akan sampai di lereng Gunung Batukaru," kata Ki Sahdatun sambil menunjuk ke arah sebuah gunung biru yang tinggi menjulang di hadapan mereka.

"Apakah Ki Sahdatun mengenal dekat Empu Batukaru?" tanya Patih Gajah Mada kepada Ki Sahdatun di tengah perjalanan mereka.

"Aku mengenalnya sejak kami masih muda. Aku bertemu dengannya dalam sebuah pengembaraan di tanah Jawa."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment