Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 141

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 141

"Tuanku Mahapatih Dyah Halayuda ingin membuat sebuah penawaran kepada Empu Nambi," kata utusan itu kepada Empu Nambi.

"Penawaran apakah gerangan yang diinginkan tuanmu itu dariku?" tanya Empu Nambi sambil memicingkan matanya seolah menembus jantung utusan itu, mengaduk-aduk pikiran dan perasaannya hingga membuat utusan tersebut merasa jantungnya berdebar tidak menentu.

Terlihat utusan itu berusaha menenangkan diri.

"Tuanku Mahapatih Dyah Halayuda ingin melakukan sebuah penawaran, menukar para warga dengan diri Empu Nambi," ujar utusan itu dengan hati yang masih berdebar-debar meski telah berusaha ditenangkan.

"Masih adakah penawaran lain selain pertukaran itu?" tanya Empu Nambi, merasa kasihan melihat wajah utusan itu yang sudah dipenuhi tetesan keringat sebesar biji jagung.

"Tuanku Mahapatih Dyah Halayuda berharap Empu Nambi datang besok pagi seorang diri. Jika tidak, nasib warga di Kademangan Pronojiwo setiap paginya akan kami antarkan ke benteng Randu Agung ini sebanyak lima orang, tentunya dalam keadaan tidak bernyawa," kata utusan itu dengan wajah menunduk, tidak berani menatap langsung Empu Nambi.

"Kembalilah kamu kepada tuanmu itu. Katakan bahwa kami di Benteng Randu Agung ini biasa berperang dengan pedang dan lembing di tangan, bukan dengan cara-cara licik dan culas. Katakan pula, jika selembar rambut warga tak berdosa itu terganggu, jangan harap kalian dapat kembali ke Kotaraja Majapahit dalam keadaan hidup," ujar Empu Nambi dengan suara bergetar menahan amarah yang mendidih.

"Izinkan aku keluar dari benteng Randu Agung ini. Pesan Empu Nambi akan kusampaikan kepada Tuanku Mahapatih Dyah Halayuda," pamit utusan itu.

"Antarkan orang ini keluar, Agung," perintah Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar, prajurit penjaganya yang masih menunggu di bawah panggung pendapa.

Terlihat semua mata di atas panggung pendapa Randu Agung tertuju ke arah Empu Nambi. Mereka menunggu apa perkataan Empu Nambi mengenai tawaran Mahapatih Dyah Halayuda yang ingin menukar jiwa para warga dengan dirinya sendiri, seorang pemimpin pasukan besar di benteng Randu Agung yang kekuatannya seimbang dengan pasukan Majapahit yang kini telah menguasai Kademangan Pronojiwo.

Namun, Empu Nambi yang tengah dinantikan suaranya itu hanya tersenyum sambil menyapu pandangan ke semua orang di atas pendapa.

"Aku merasa tersanjung, di usiaku yang sudah rapuh ini, ternyata nilai kepalaku masih begitu berharga," kata Empu Nambi sambil menatap satu per satu orang yang dikenalnya memiliki kesetiaan tinggi kepadanya.

"Apakah Ayahanda akan memenuhi penawaran Mahapatih Dyah Halayuda?" tanya Adipati Menak Koncar yang merasa tidak sabar menunggu jawaban.

"Kuterima tawaran itu, tapi dengan harga yang lebih mahal," jawab Empu Nambi.

Semua orang di atas pendapa terdiam, merasa terbentur dengan dua pilihan yang sulit, bak buah simalakama: membiarkan Empu Nambi menjadi alat tukar atau membiarkan lima orang mati setiap pagi sesuai ancaman Mahapatih Dyah Halayuda.

"Menurutku, kita tidak tengah dihadapkan dengan dua pilihan yang sangat sulit, tapi kita sedang berhadapan dengan sebuah permainan nyawa," ujar Empu Nambi dengan suara yang sangat tenang.

"Apa yang Empu Nambi maksudkan dengan sebuah permainan nyawa?" tanya Panji Anengah.

"Aku akan datang sendiri ke Kademangan Pronojiwo sebagaimana permintaan mereka. Pastikan para warga keluar dari Kademangan Pronojiwo dengan selamat. Bakarlah hutan Pronojiwo sebagai pertanda bahwa para warga telah berada di tempat yang aman. Jangan khawatirkan diriku, segeralah kalian menggempur pasukan Majapahit di Kademangan Pronojiwo. Pastikan tidak ada seorang pun musuh yang keluar hidup-hidup dari sana," perintah Empu Nambi dengan suara tegas.

Suasana di atas pendapa kembali tegang. Tidak ada yang mampu membantah usulan tersebut.

"Kurasa inilah jalan terbaik yang harus kita pilih. Persiapkanlah seluruh pasukan kita untuk menghadapi mereka besok. Tempatkanlah seluruh pasukan kita malam ini juga di hutan Pronojiwo tanpa sepengetahuan musuh agar kita dapat bergerak cepat memasuki Kademangan Pronojiwo," ujar Empu Nambi di hadapan para pemimpin pasukannya.

"Benar-benar sebuah permainan nyawa," ucap Panji Anengah sambil menarik napas panjang, mencoba meredam ketegangan membayangkan Empu Nambi menyerahkan diri menjadi tawanan musuh.

"Apakah kamu mempunyai usulan yang lebih baik dari yang kutawarkan ini, wahai saudaraku Panji Anengah?" tanya Empu Nambi sambil tersenyum.

"Hingga saat ini, aku belum mendapatkan yang lebih baik dari usulan Empu Nambi," jawab Panji Anengah sambil menggelengkan kepala perlahan.

"Setiap hari kita sebenarnya tengah bermain-main dengan nyawa. Bukankah aku sering menyampaikan bahwa umur kita adalah sebuah rahasia? Kita tidak mengetahui kapan dan di mana batas akhir umur kita. Namun, seorang manusia yang sudah terlatih menghadapi mati sebelum kematian datang pasti tidak akan gentar. Bila Gusti Yang Maha Agung pemilik hidup dan kehidupan ini mengambil nyawaku besok, itu adalah garis tanganku sendiri. Namun, kita tidak tahu bila Gusti Yang Maha Agung menentukan lain. Itulah yang kumaksudkan bahwa kita tengah bermain-main dengan nyawa kita sendiri," tutur Empu Nambi.

Malam itu, hujan mengguyur bumi Lamajang dengan sangat deras disertai suara guntur yang terus bergemuruh. Di saat itulah, para prajurit dari benteng Randu Agung menyelinap di bawah kelamnya malam menuju hutan Pronojiwo sesuai perintah Empu Nambi. Hingga menjelang tengah malam, hanya beberapa prajurit penjaga yang tersisa di benteng.

Perlahan hujan mereda, bersamaan dengan semburat warna merah menyinari cakrawala langit di ujung pagi. Di pagi yang dingin itu, asap membumbung tinggi dari dapur umum benteng Randu Agung.

"Lihatlah, sepagi ini dapur mereka sudah berasap. Aku baru menyadari begitu berat tugas prajurit dapur, mereka harus bangun dan bekerja di awal pagi sementara para prajurit tempur mungkin masih mendengkur," kata seorang petugas pengamat pasukan musuh kepada kawannya.

"Semua sangat dibutuhkan dan punya andil yang sama pentingnya dalam sebuah pasukan yang utuh," timpal kawannya.

Kedua petugas pengamat musuh itu tidak tahu bahwa hampir seluruh prajurit di dalam benteng sudah berada di hutan Pronojiwo, dan asap itu hanyalah kayu bakar yang sengaja dibakar untuk mengelabui lawan.

Sang fajar akhirnya muncul menerangi bumi. Sekumpulan belibis putih terbang mengitari kaki Gunung Semeru. Sebagian orang Lamajang mempercayai bahwa belibis putih adalah binatang piaraan para dewa di puncak Mahameru, dan kehadiran mereka selalu dikaitkan dengan penjemputan roh orang suci oleh para dewa.

Sementara itu, di muka hutan Pronojiwo, terlihat seorang lelaki tua berjalan sendiri. Jubah putih yang dikenakannya menunjukkan bahwa ia adalah seorang brahmana atau guru suci. Angin dingin mengurai rambut dan jubah lelaki tua itu yang terus berjalan ke arah Kademangan Pronojiwo.

"Tidak seorang pun diperbolehkan masuk ke Kademangan Pronojiwo saat ini, tanpa kecuali dirimu, wahai pendeta tua!" seru salah seorang dari sepuluh prajurit Majapahit yang menghadang di gapura Kademangan Pronojiwo.

"Katakan kepada tuan kalian, Mahapatih Dyah Halayuda, bahwa aku Empu Nambi datang seorang diri," jawab lelaki tua itu.

Mendengar nama Empu Nambi, para prajurit itu dengan serta-merta meraba pedang di pinggang masing-masing. Nama besar Empu Nambi ternyata sudah benar-benar akrab di telinga mereka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment