Chapter 190
"Sebuah kehormatan bagi kami melayani Tuan," ujar lurah prajurit itu saat melepas keberangkatan Patih Gajah Mada beserta dua orang pengawalnya.
Semilir angin pagi yang segar mengiringi langkah mereka yang baru saja keluar dari regol gapura Kademangan Simpang. Terlihat pula beberapa pedati pedagang yang merayap di jalanan sepi, searah dengan perjalanan mereka.
"Sampai bertemu kembali di Kotaraja Kediri," seru salah seorang pedagang sambil melambaikan tangan.
"Maaf, kami mendahului kalian," balas Patih Gajah Mada sembari membalas lambaian tangan tersebut.
"Para prajurit di Kademangan Simpang ini tampaknya telah menanamkan kecintaan yang tulus di hati para pedagang dan warga di sini," ucap Patih Gajah Mada kepada kedua pengawalnya.
Perjalanan mereka berlangsung lancar tanpa kendala. Hingga saat matahari bergeser jauh dari puncaknya, mereka telah mendekati batas kotaraja Kediri. Setibanya di Istana Daha, Patih Majapahit itu beristirahat sejenak di pasanggrahannya.
"Bila ada yang mencari diriku, katakan bahwa aku berada di rumah Ki Rangga Gajah Biru," pesan Patih Gajah Mada kepada pelayannya.
Sesuai ucapannya, Patih Gajah Mada bergegas meninggalkan istana seorang diri menuju kediaman Ki Rangga Gajah Biru.
"Selamat datang, wahai sahabat mudaku," sambut Ki Rangga Gajah Biru hangat.
Setelah duduk bersama di pendapa, mereka saling bertukar cerita. "Jadi, Kuda Jenar telah mengakui di hadapan Tuan Patih bahwa dirinyalah dalang pembunuhan Raja Jayanagara?" tanya Ki Rangga Gajah Biru setelah mendengar penuturan tamunya.
"Cerita Nyi Ra Tanca tentang suaminya ternyata benar, Ra Tanca tidak bersalah," jawab Patih Gajah Mada.
Percakapan mereka terhenti saat pintu pringgitan terbuka. Seorang wanita muda muncul membawa minuman hangat. "Silakan dinikmati, Tuanku," ucapnya penuh hormat.
"Terima kasih," balas Patih Gajah Mada kepada Nyi Ra Tanca. Setelah meletakkan minuman, Nyi Ra Tanca berpamit diri untuk kembali ke dapur membantu Nyi Rangga menyiapkan makanan.
Setelah Nyi Ra Tanca berlalu, Patih Gajah Mada melanjutkan pembicaraan. "Tuan Patih telah bertindak sangat bijaksana. Demi kemapanan dan ketenteraman bumi Majapahit, rahasia besar ini memang harus tertutup rapat," ujar Ki Rangga Gajah Biru.
"Sayangnya, ada seseorang yang mencuri dengar pembicaraanku dengan Kuda Jenar dan bermaksud memanfaatkannya," tutur Patih Gajah Mada mengenai sosok Ki Sadeng.
"Apa yang diminta orang itu?" tanya Ki Rangga Gajah Biru.
"Ia menginginkan jalur antara Lamajang dan bandar pelabuhan Banyuwangi untuk keuntungan kelompoknya."
"Izinkan aku membawa pasukan untuk menghancurkan mereka!" seru Ki Rangga Gajah Biru penuh amarah.
"Jalur itu bukan wilayah tugas kita, namun aku memiliki cara lain sesuai saran Mahapatih Arya Tadah," ujar Patih Gajah Mada. Ia kemudian menjelaskan rencana selanjutnya, termasuk perlunya seorang telik sandi untuk memantau gerak-gerik kelompok tersebut di Pulau Sadeng.
Hari beranjak senja, suasana kediaman Ki Rangga Gajah Biru mulai meredup. Tak lama, Nyi Rangga dan Utami muncul membawa baki makanan. Setelah menikmati hidangan, pembicaraan beralih ke hal pribadi, yakni kehamilan muda Utami.
"Atas nama almarhum suamiku, kami akan sangat bahagia bila kelak bayiku lahir, Tuanku berkenan memberikan nama untuknya," pinta Nyi Ra Tanca.
Patih Gajah Mada tersenyum tulus. Rasa bersalahnya atas kematian suami Nyi Ra Tanca seketika sirna, berganti kepedulian yang mendalam. "Aku merasa terhormat diberikan kepercayaan ini. Bila bayimu perempuan, akan kuberi nama Naladhipa, dan jika laki-laki, kuberi nama Nala. Izinkan aku menjadi ayah angkatnya dan membimbingnya seperti putraku sendiri."
"Semoga Gusti Yang Maha Agung memberkati Tuanku," ucap Nyi Ra Tanca penuh haru.
Waktu terus berlalu hingga malam semakin larut. Ki Rangga Gajah Biru melepas Patih Gajah Mada kembali ke istana dengan janji pertemuan berikutnya.
Silih berganti hari berlalu, tunas-tunas pohon asam mulai tumbuh. Hingga di suatu senja, Patih Gajah Mada menerima kedatangan Ki Rangga Gajah Biru di pasanggrahannya.
"Sekali-kali orang tua mendatangi orang muda," ujar Ki Rangga Gajah Biru saat mereka duduk di serambi.
Setelah berbasa-basi, mereka membahas hasil pengintaian terhadap Ki Sadeng. "Jalur Lamajang ke Blambangan kini dikuasai Ki Sadeng. Mereka memungut upeti dari para pedagang," lapor Ki Rangga.
"Berapa jumlah kekuatan mereka?" tanya Patih Gajah Mada.
"Sekitar enam ratus orang, terdiri dari bajak laut dan warga setempat yang mereka rekrut."
"Mahapatih Arya Tadah sangat mengkhawatirkan hal ini," ucap Patih Gajah Mada.
"Apa rencana Tuan Patih?"
"Menghancurkan mereka selagi belum memiliki kekuatan besar. Namun, jalur itu bukan wilayah kita. Aku khawatir Rajadewi Maharajasa dan suaminya tidak mengizinkannya, di samping aku juga tidak ingin rahasia besar kematian Raja Jayanagara tersingkap oleh mereka."