Chapter 32
"Anak muda, apakah kamu akan menyerahkan kedua gadis yang bersamamu itu?" berkata Manukwaja kepada Gajahmada dengan wajah meremehkan.
"Aku tidak akan menyerahkan apa pun. Aku hanya ingin menangkap kalian bertiga ke Kadipaten Tuban untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kalian yang telah membuat resah warga Tuban ini," berkata Gajahmada dengan nada dan gaya bahasa yang biasa, tanpa tekanan ancaman atau perintah.
Para pedagang yang mendengar perkataan Gajahmada seketika itu juga mengerutkan kening. Secara tidak langsung, mereka menilai bahwa Gajahmada telah menantang ketiga orang dari Gunung Raung itu.
Sementara itu, ketiga orang dari Gunung Raung menanggapi perkataan Gajahmada seperti orang yang tengah melucu. Seketika, ketiganya tertawa terbahak-bahak.
"Adakah yang salah dalam ucapanku?" berkata Gajahmada, masih dengan nada bicara datar.
"Tidak ada yang salah dalam ucapanmu, anak muda. Yang salah adalah bahwa mungkin kamu merasa masih dalam dunia impian tidurmu yang sering berkhayal untuk menjadi seorang prajurit sungguhan," berkata Manukwaja yang ditanggapi tawa oleh dua orang kawannya.
"Aku tidak sedang melucu, aku memang akan menangkap kalian bertiga. Serahkan dengan sukarela kedua tangan kalian!" berkata Gajahmada dengan wajah berubah, penuh kesungguhan dan ancaman.
Ketiga orang dari Gunung Raung itu seperti tersentak tidak percaya mendengar perkataan anak muda itu, padahal selama ini mereka dikenal sebagai tiga penyamun yang sangat ganas dan ditakuti.
Salah seorang di antara mereka sudah tidak sabar dan menganggap Gajahmada sudah sangat lancang berbicara di depan mereka bertiga.
"Kurobek mulutmu!" berkata salah seorang di antara mereka sambil menyabetkan pisau pendeknya ke arah wajah Gajahmada.
Manukwaja dan seorang temannya terlihat matanya melebar, seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Lebih-lebih para pedagang yang telah melihat kemampuan satu per satu orang dari Gunung Raung itu ketika menghadapi Ki Jengkar.
Para pedagang itu seperti lebih tidak percaya lagi dengan apa yang telah diperbuat Gajahmada kepada salah satu orang dari Gunung Raung yang menyerangnya.
Apa yang dilakukan Gajahmada terhadap lelaki penyerangnya itu? Ternyata Gajahmada hanya menundukkan tubuhnya sedikit dan melangkah maju sambil mengayunkan kakinya. Dengan tenaga biasa, ia berhasil membuat lelaki itu terhuyung ke depan dan jatuh di tanah, dengan wajah tepat menghadap ke arah tanah kotor.
"Tampaknya kalian ingin kutangkap dengan cara kekerasan," berkata Gajahmada seraya berjalan ke sebuah tempat yang agak lapang, menunggu ketiga lawannya datang menghampirinya.
Lelaki yang terjatuh itu telah bangkit kembali dan dengan wajah kotor, ia berjalan cepat mengikuti Manukwaja dan kawannya yang sudah lebih dulu mendekati Gajahmada.
Wajah ketiga orang dari Gunung Raung itu tidak lagi menganggap remeh Gajahmada.
"Keluarkan senjatamu, anak muda, biar semua orang tidak meremehkan kami yang mengeroyok seseorang yang tidak bersenjata," berkata Manukwaja kepada Gajahmada.
"Aku tidak perlu mengeluarkan senjata apa pun untuk menangkap kalian," berkata Gajahmada yang telah bersiap diri menghadapi tiga orang dari Gunung Raung itu.
"Kamu memang harus membayar mahal untuk kesombonganmu itu," berkata kawan Manukwaja yang tadi sudah terjatuh, langsung menerjang dengan kedua pisau pendeknya.
Terlihat Gajahmada telah bergeser ke samping untuk mengelak serangan itu, namun ia tidak langsung balas menyerang karena tahu pasti akan ada serangan susulan lain dari kawannya yang lain.
Benar saja dugaan Gajahmada, baru saja dirinya menapakkan kakinya, sudah ada serangan susulan dari seorang yang lain.
Maka, anak muda itu langsung kembali berkelit.
Begitulah serangan susul-menyusul beruntun tanpa henti dari ketiga orang Gunung Raung itu.
Terlihat Gajahmada berkelit ke sana kemari dengan gesit dan lincah, tanpa sedikit pun kesempatan untuk balas menyerang.
Dada para pedagang berdebar menyaksikan pertempuran itu, penuh kekhawatiran atas nasib anak muda itu, di mana enam buah kilatan pisau tajam terus mengikutinya ke mana pun dirinya bergerak.
Sebagaimana para pedagang, Dyah Gajatri dan Dyah Wiyat, dengan pandangan yang tidak lepas sedikit pun, merasa ikut berdebar melihat untuk pertama kalinya guru pembimbing mereka bertempur secara sungguhan, langsung berhadapan dengan tiga orang lelaki yang terlihat sangat ganas menyerang Gajahmada dari berbagai arah susul-menyusul tanpa henti.
"Anak muda yang perkasa," berkata Ki Jengkar dalam hati dari sebuah tempat, menyaksikan jalannya pertempuran itu.
"Tampaknya anak muda itu masih tengah menjajaki alur gerak lawan," berkata kembali Ki Jengkar dalam hati, melihat Gajahmada hanya berkelit dengan lincah menghindari serangan demi serangan.
Sebagaimana perkiraan Ki Jengkar, ternyata benar Gajahmada tengah mengamati alur gerak lawan, mencoba memahami irama serangan lawan.
"Sebuah jurus kanuragan yang sempurna, diciptakan khusus untuk gelar berkelompok," berkata Gajahmada dalam hati setelah memahami jurus lawannya.
Bukan main kagetnya Manukwaja dan kedua kawannya manakala tiba-tiba sekali Gajahmada memotong serangan mereka dengan membuat serangan beruntun layaknya seekor garuda mengoyak tubuh bagian tengah seekor ular.
Tiga lelaki dari Gunung Raung itu seperti gelagapan. Gelar serangan mereka seperti terpecah, mencoba menyusun kembali dengan penuh kehati-hatian.
Namun, rangkaian serangan mereka kembali diceraiberaikan oleh Gajahmada menjadi patahan-patahan serangan yang tidak berarti dan tidak terpadu.
Dalam kesempatan itu, Gajahmada telah meningkatkan tataran ilmu meringankan tubuhnya jauh lebih cepat lagi.
Akibatnya, dua pukulan keras berhasil mengenai dada kedua kawan Manukwaja yang merasakan seperti tertumbuk batu cadas seukuran gajah.
Terlihat dua orang kawan Manukwaja masih terduduk memegangi dada masing-masing.
"Kusayat tubuhnya sampai halus!" berkata Manukwaja dengan penuh kemarahan.
Serangan tunggal dari Manukwaja terlihat sangat keras dan cepat, namun Gajahmada melayaninya seperti bermain-main, bermaksud menguras tenaga lawan.
Peluh telah membasahi wajah dan tubuh Manukwaja. Tenaganya seperti semakin terkuras menghadapi Gajahmada yang sepertinya sengaja tidak banyak melakukan serangan balik, hanya beberapa kali sekadar mengendurkan serangan gencar dan kuat dari lawannya.
Rasa sakit di dada kedua kawan Manukwaja tampak semakin mereda. Terlihat, mereka berdua sudah kembali ke arena membantu Manukwaja.
Serangan tiga orang dari Gunung Raung itu kembali seperti seekor ular yang mematuk, melindungi, dan menjerat anak muda susul-menyusul tanpa henti.
Namun, kembali Gajahmada yang telah memahami alur gerak lawannya itu berhasil mematahkan dan mementahkan serangan mereka, kali ini langsung dengan serangan balasan yang datang seperti air bah menggunung dan menggulung pesat.
Sebuah gerak tangan kembar terbuka dan kelima jari rapat seperti senjata membelah. Pukulan tangan Gajahmada berhasil mengenai rahang kedua kawan Manukwaja yang kurang cepat mengelak.
Akibatnya sangat parah sekali. Keduanya terhuyung, merasakan kepala tergetar dan penglihatan menjadi gelap.
Gedebruk!
Kedua lelaki dari Gunung Raung itu roboh terbanting di tanah keras, langsung pingsan, tidak dapat bergerak kembali.
"Kurobek-robek dagingmu!" berkata Manukwaja seperti sudah gelap mata, menahan rasa amarah yang memuncak di atas ubun-ubun.
"Kamu perlu lebih cepat lagi," berkata Gajahmada sambil meliuk menghindari serangan Manukwaja yang sudah seperti kerasukan setan di jiwanya, mencoba merajang tubuh lawannya.
Satu hal yang tidak boleh dilupakan oleh seorang ahli kanuragan adalah pengendalian diri.
Kemarahan Manukwaja telah melepaskan pengendalian dirinya yang membuat daya nalarnya tidak bermain lagi, ditambah kemarahannya telah semakin membuat susut tenaga dan kekuatannya.
Hingga akhirnya, dengan begitu mudahnya Gajahmada menjatuhkan lawannya itu hanya dengan sebuah tendangan beruntun yang tidak mampu dielakkan lagi oleh Manukwaja.
Terlihat tubuh Manukwaja seperti sebatang pohon tumbang tercabut dari akarnya, terhantam tendangan beruntun dari Gajahmada yang sangat keras seperti hantaman seekor gajah mengamuk.
Tiga tubuh lelaki dari Gunung Raung terlihat tergeletak di atas tanah kotor dan daun-daun kering yang beterbangan diterpa desiran angin.
Gajahmada masih berdiri tegak dengan pandangan ke arah Ki Jengkar yang masih berdiri terpaku, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Tidak percaya bahwa tiga orang penyamun dari Gunung Raung yang sangat ditakuti di tempat asalnya itu telah dilumpuhkan dengan mudah oleh seorang anak muda yang tidak dikenal.
"Mengapa hanya berdiri terpaku? Aku juga akan membawamu ke Kadipaten Tuban, sebagaimana ketiga orang dari Gunung Raung ini," berkata Gajahmada sambil menatap tajam ke arah Ki Jengkar.
"Jangan sesumbar! Aku akan mencarimu untuk menyumbat mulut sombongmu itu," berkata Ki Jengkar sambil berbalik badan, pergi meninggalkan tempat itu.
Terlihat Gajahmada hanya sedikit tersenyum, tidak berusaha mengejar Ki Jengkar yang telah menghilang di kegelapan hutan senja.
Tidak terasa hari memang sudah mulai senja. Udara terlihat teduh dan mulai suram.
"Terima kasih, kamu telah menyelamatkan kami," berkata seorang pedagang yang telah dianggap sebagai pemimpin rombongan itu.
Beberapa pedagang juga menghampiri anak muda itu dan mengucapkan rasa terima kasih mereka yang telah terlepas dari cengkeraman para perampok di Jalan Lingkar Hutan Jatirogo itu.
"Kita harus secepatnya meninggalkan tempat ini. Aku khawatir gerombolan Ki Gedonglegi akan datang kembali dengan kawanan yang lebih banyak," berkata pemimpin para pedagang itu.
Terlihat beberapa orang pedagang telah mengikat tangan ketiga orang penyamun dari Gunung Raung itu, juga beberapa orang dari gerombolan Ki Gedonglegi.