Chapter 195
"Ada kabar pamanku di Lamajang akan mantu, jadi aku mewakili keluargaku untuk menghadiri acara mantu pamanku di Lamajang," ujar Sobali menceritakan dirinya.
"Sudah berapa kali kamu datang mengunjungi pamanmu di Lamajang?" tanya Ki Sahdatun kepada Sobali.
"Sewaktu kecil aku sering diajak ayahku ke Lamajang. Baru kali ini aku berangkat seorang diri," jawab Sobali kepada Ki Sahdatun.
"Apakah kamu tidak takut bahwa jalur perjalanan yang akan kita lalui ini sangat rawan gangguan dari sekelompok gerombolan?" tanya Ki Sahdatun.
Terlihat Sobali tersenyum kecut. "Yang kutahu mereka hanyalah pedagang."
"Nampaknya kamu benar, mereka hanya mengincar para pedagang," kata Ki Sahdatun sambil melirik ke arah beberapa orang yang sedang bercakap-cakap di bale lain.
Namun, pembicaraan mereka terhenti saat serombongan orang datang mendekati rumah singgah. Ternyata mereka adalah rombongan pedagang yang tampak sudah saling mengenal dengan orang-orang yang lebih dulu berada di sana.
Sementara itu, matahari telah bersembunyi di balik kerimbunan hutan sebelah barat. Bale-bale yang hanya dinaungi atap daun nira di rumah singgah itu terasa sejuk. Sesekali semilir angin yang dingin membuat tubuh terasa ingin beristirahat. Tawa dan canda para pedagang yang berkumpul cukup mengganggu. Dari percakapan mereka, ternyata hanya ada empat orang pedagang, sementara sisanya adalah orang upahan yang terbiasa bicara kasar.
Suasana semakin remang saat matahari kian tenggelam. Ketika semua orang sedang menyantap makan malam, seorang wanita muda datang. Pandangan semua orang tertuju kepadanya saat ia duduk di bale yang kosong. Ki Sahdatun memperhatikan wanita itu; cahaya pelita menyinari parasnya yang masih belia. Wanita muda itu tidak membawa barang apa pun, hanya selembar pakaian yang tampak sangat kusam.
"Wanita itu dapat menimbulkan masalah di perjalanan kita," ujar salah seorang pedagang.
"Kita bisa mengusirnya agar tidak bergabung," sahut yang lain.
"Kita tidak punya hak untuk menolak orang bergabung. Jika ada masalah dengan wanita itu, bukan urusan kita," kata yang lain menengahi.
Wanita muda itu tampak tidak peduli dengan pembicaraan mereka. Ia menyantap hidangan dengan lahap. Hingga malam larut, beberapa orang sudah tertidur pulas. Ki Sahdatun masih duduk bersila, sementara Sobali dan anak kecil yang bersamanya sudah meringkuk.
Malam di tepi hutan terasa dingin. "Kasihan wanita muda itu, melakukan perjalanan jauh seorang diri," gumam Ki Sahdatun dalam hati sambil memandang wanita yang tertidur itu.
Saat fajar tiba, segaris cahaya merah muncul memudarkan kegelapan. Ki Sahdatun menurunkan kakinya dari bale dan menarik napas panjang diiringi suara ayam jantan. Setelah membersihkan diri, ia kembali ke bale. Dengan tenang, ia mengangkat kedua tangan, berdiri searah dengan cahaya pagi. Ki Sahdatun tengah melaksanakan laku suci, sebuah ajaran yang dianut para pedagang dari timur jauh yang perahunya kerap berlabuh di Bandar Banyuwangi.
Setelah selesai, wajah Ki Sahdatun tampak lebih segar. "Rangga Seta, bangunlah," ucapnya lembut sambil menyentuh kaki anak kecil itu.
Biasanya anak kecil sulit dibangunkan, namun Rangga Seta langsung membuka mata dan bangkit. "Mari kuantar ke pakiwan," ujar Ki Sahdatun.
"Hari masih sangat pagi, Paman," sapa pemilik rumah singgah.
"Kami takut ketinggalan rombongan," jawab Ki Sahdatun sembari menuntun Rangga Seta.
Pemilik rumah singgah membawakan minuman hangat. "Kalian tidak perlu takut tertinggal, mereka biasanya berangkat saat matahari sudah tinggi," ujarnya.
Sesuai dugaan, rombongan pedagang baru bersiap saat matahari mulai naik. "Aku berdoa untuk keselamatan kalian," ucap pemilik rumah singgah melepas kepergian mereka.
Rombongan berjalan menembus hamparan ilalang menuju hutan. Suara burung, monyet, dan bajing di lembah Gunung Raung meramaikan pagi. Semerbak wangi daun hutan mengiringi langkah mereka di jalan setapak.
"Apakah kamu lelah, Rangga Seta?" tanya Ki Sahdatun setelah berjalan cukup lama. Anak itu menggelengkan kepala.
"Jika lelah, aku akan menggendongmu," lanjut Ki Sahdatun. Rangga Seta tetap diam dan terus berjalan. Ki Sahdatun merasa heran mendapati anak kecil yang begitu pendiam, kuat, dan penurut. "Peristiwa pahit telah membuat anak ini matang sebelum waktunya," batinnya.
Di dekat sebuah sungai kecil berbatu, rombongan sepakat untuk beristirahat. Air yang jernih menggoda mereka yang lelah. Setelah melepas dahaga, mereka kembali melanjutkan perjalanan.
"Apakah ayahmu sering mengajakmu berjalan jauh?" tanya Ki Sahdatun layaknya seorang sahabat.
Rangga Seta menjawab, "Ayahku sering membawaku mengembara berhari-hari menempuh perjalanan jauh."
Ki Sahdatun tersenyum melihat orang-orang yang lebih tua mulai terlihat kepayahan. Tak lama kemudian, salah seorang yang disegani di rombongan memberi isyarat untuk berhenti di bawah pohon besar yang rindang. Rombongan pun terpecah menjadi beberapa kelompok, sementara wanita muda itu duduk menyendiri di balik batu besar.
"Pasti kamu sudah lapar, Rangga Seta," ujar Ki Sahdatun sambil membuka bekal dan menyodorkannya kepada anak itu. Sobali pun ikut membuka bekalnya.