Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 51

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 51

"Itulah sebabnya aku, putranya, tidak berusaha membersihkan namanya, tidak merasa tersinggung dengan apa pun pendapat dan ungkapan siapa pun yang menghina ayahku," ujar Mahesa Darma kepada Gajah Mada, masih dengan senyuman yang hangat.

Diam-diam, Gajah Mada sangat mengagumi sikap dan pandangan anak muda itu.

"Gerombolan perampok di hutan Kemiri sangat dekat dengan Padepokan Bajra Seta, namun ayahmu tidak melakukan tindakan apa pun," ucap Gajah Mada memancing sebuah pertanyaan.

"Mengenai hal itu, aku akan mencoba bertanya kepada ayahku. Kuyakini pastilah ayahku punya berbagai pertimbangan untuk tidak langsung menumpasnya," jawab Mahesa Darma dengan nada bicara yang datar.

Akhirnya, ketika hari sudah semakin mendekati sore, keduanya sepakat untuk melanjutkan perjalanan menuju Padepokan Bajra Seta. Terlihat kedua anak muda itu telah keluar dari Kademangan Simpang; mereka tidak memacu kuda untuk berlari cepat, hanya berjalan biasa. Arah Padepokan Bajra Seta dari Kademangan Simpang searah dengan jalan menuju Kotaraja Kediri. Terlihat Gajah Mada dan Mahesa Darma sudah jauh meninggalkan Kademangan Simpang.

"Padepokan Bajra Seta berada di balik pegunungan hijau itu," ujar Mahesa Darma kepada Gajah Mada.

"Belum tengah malam kita sudah dapat mencapainya," kata Gajah Mada memperkirakan jarak tempuh perjalanan mereka.

"Kita sudah mendekati hutan Kemiri," sahut Mahesa Darma seolah hendak mengingatkan Gajah Mada untuk berhati-hati.

Gajah Mada terus mengikuti arah langkah kuda Mahesa Darma yang mengambil jalan menuju hutan Kemiri. Matahari di awal sore itu sudah terhalang kerimbunan hutan Kemiri. Terlihat kuda-kuda mereka semakin masuk ke dalam hutan. Semakin masuk ke dalam, kedua anak muda itu terlihat semakin berhati-hati; mereka telah memasang segenap pancaindra.

Sebagai dua orang anak muda yang telah memiliki kesaktian tinggi, mereka menyadari bahwa ada beberapa pasang mata tengah mengintai. Namun, kedua anak muda itu tidak melakukan apa pun selain duduk di atas kuda masing-masing, mengikuti langkah kaki kuda yang terus berjalan di atas tanah keras yang membelah hutan Kemiri. Hingga mereka menemui jalan terakhir dari hutan tersebut, mereka berdua tidak mendapatkan gangguan apa pun.

"Besar dugaanku bahwa mereka bukan para perampok," kata Mahesa Darma manakala mereka telah keluar dari hutan Kemiri.

"Aku juga berpikir demikian, tapi kita belum tahu apa yang ingin mereka lakukan di hutan Kemiri itu," balas Gajah Mada memberikan dugaannya.

"Hutan Kemiri dan Padepokan Bajra Seta tidak begitu jauh. Ayahku pasti sudah mencoba melakukan pengamatan siapa dan apa yang ingin mereka lakukan di hutan Kemiri itu," ujar Mahesa Darma.

"Membuat aku ingin secepatnya bertemu dengan ayahmu itu," kata Gajah Mada.

"Aku juga sudah sangat rindu suasana padepokanku," ujar Mahesa Darma sambil menghentakkan kakinya di perut kuda agar berlari.

Melihat Mahesa Darma telah memacu kudanya, Gajah Mada ikut memacu kudanya. Terlihat dua ekor kuda berlari seperti berpacu menuju sebuah perbukitan hijau di hadapan mereka.

"Padepokan Bajra Seta ada di tengah hamparan sawah dan ladang itu," kata Mahesa Darma ketika mereka telah berada di puncak perbukitan.

Dari atas perbukitan hijau itu, Gajah Mada melihat sebuah bangunan yang dikelilingi hamparan sawah dan ladang yang cukup luas. Sementara matahari saat itu mulai tenggelam di ufuk barat.

"Sebuah padepokan yang sangat tenang," ucap Gajah Mada kepada Mahesa Darma sambil membayangkan suasana penuh kedamaian memenuhi Padepokan Bajra Seta.

"Aku lahir dan dibesarkan di padepokan itu," kata Mahesa Darma dengan penuh kebanggaan, masih memandang dari atas puncak perbukitan.

"Sebagaimana Patih Mahesa Amping dan Baginda Raja Sanggrama Wijaya," sahut Gajah Mada.

"Ayahku sering bercerita tentang mereka berdua. Menurut ayahku, mereka berdua adalah dua orang cantrik terbaik di Padepokan Bajra Seta," kata Mahesa Darma.

"Hanya guru yang hebat saja yang dapat melahirkan murid yang luar biasa," puji Gajah Mada.

Mahesa Darma hanya tersenyum kecil mendengar pujian Gajah Mada tentang ayahnya. "Mari kita menuruni perbukitan ini," ajak Mahesa Darma sambil menepuk pundak kudanya.

Kedua anak muda itu pun menuruni perbukitan, sementara hari terlihat semakin redup di penghujung senja. Manakala kuda-kuda mereka telah memasuki wilayah tanah perdikan Bajra Seta, dua-tiga orang yang masih berada di luar rumah terlihat melambaikan tangan kepada Mahesa Darma, yang langsung membalas lambaian tangan mereka.

Melihat hal demikian, Gajah Mada langsung menarik kesimpulan bahwa Mahesa Darma adalah anak muda yang rendah hati dan sangat dikenal di tanah perdikan milik ayahnya. Ketika mereka mendekati Padepokan Bajra Seta, Mahesa Darma menghentikan kudanya di dekat dua orang berpakaian petani yang nampaknya baru kembali dari sawah.

"Ternyata orang kotaraja Singasari yang datang," ujar salah seorang dari mereka menyambut kedatangan Mahesa Darma yang langsung turun dari kudanya.

"Paman Mahesa Semu dan Paman Muntilan, aku datang bersama kawan dari Majapahit," ujar Mahesa Darma memperkenalkan Gajah Mada kepada kedua pamannya itu.

Dengan penuh rasa hormat, Gajah Mada memperkenalkan dirinya dan ikut berjalan sambil menuntun kuda sebagaimana Mahesa Darma.

"Kalian berdua langsung saja ke pendapa, biar kuda kalian kami bawa ke kandang belakang," kata Paman Muntilan.

"Terima kasih," kata Gajah Mada kepada Paman Mahesa Semu yang mengambil tali kekang kudanya, sementara tali kekang kuda Mahesa Darma diambil oleh Paman Muntilan.

"Orang-orang tua yang hebat," puji Gajah Mada sambil memandang kedua orang tua itu yang berlalu sambil menuntun kuda. Sebagai seorang yang menguasai ilmu kanuragan, ia dapat langsung menilai bahwa kedua orang tua itu pastinya sangat terlatih, dilihat dari cara mereka melangkah.

Mata Gajah Mada berpaling ke arah pendapa, di mana terlihat seorang lelaki tua penuh senyum memandang mereka berdua yang sedang melangkah ke arah tangga pendapa.

"Selamat datang wahai putraku," kata lelaki tua di atas pendapa menyambut hangat kedatangan Mahesa Darma.

Mahesa Darma segera memperkenalkan Gajah Mada kepada ayahnya sebagai seorang sahabat dari Majapahit. Bukan main senang hati Ki Gede Bajra Seta manakala Gajah Mada bercerita bahwa dirinya adalah putra angkat Patih Mahesa Amping.

"Jodoh bahwa kita dapat saling bertemu. Nampaknya kamu sudah mewarisi apa yang dimiliki oleh ayah angkatmu itu," kata Ki Bajra Seta yang bernama asli Mahesa Murti.

"Apa yang kumiliki ini tidak dapat dibandingkan dengan Ki Bajra Seta," jawab Gajah Mada.

"Kamu terlalu merendahkan dirimu," sahut Ki Bajra Seta dengan senyum dan tatapan mata yang sepertinya sedang mengukur kedalaman isi hati Gajah Mada.

Ketika tatapan mata mereka bertemu, keduanya seperti tersentak, seolah baru saja memasuki mata air yang dalam dan tak terukur. Segera Gajah Mada mengalihkan pandangan sambil bercerita tentang maksud dan tujuannya menemui Ki Bajra Seta.

"Jadi, Baginda Raja Sanggrama Wijaya bermaksud memungut mantu sekaligus mengangkat pengantin itu menjadi raja muda di Kahuripan dan Singasari?" tanya Ki Bajra Seta setelah mendengar penuturan Gajah Mada.

"Tiga hari setelah purnama kedua," jawab Gajah Mada.

"Semoga diri ini diberikan kesehatan untuk dapat datang menghadirinya," kata Ki Bajra Seta.

Akhirnya, dalam sebuah kesempatan, Mahesa Darma mencoba bertanya tentang gerombolan yang ada di hutan Kemiri kepada ayahnya. Mendengar pertanyaan itu, Ki Bajra Seta tidak langsung menjawab; ia hanya menarik napas panjang dan terdiam sejenak. Mahesa Darma dan Gajah Mada tampak tidak sabar untuk mengetahui isi pikiran orang tua itu.

"Beberapa cantrik di Padepokan Bajra Seta ini pernah melakukan pengamatan dan penyelidikan di hutan Kemiri. Nampaknya mereka bukan gerombolan perampok," kata Ki Bajra Seta sambil memandang kedua anak muda yang penuh perhatian mendengar penuturannya.

"Sebuah penggalangan kekuatan untuk mengganggu tata kehidupan yang sudah mapan?" ujar Mahesa Darma mencoba menyampaikan pikirannya.

"Siapa di belakang mereka dan apa yang ingin mereka lakukan?" tanya Gajah Mada, menyetujui kesimpulan dan pemikiran Mahesa Darma.

Ki Gede Bajra Seta tersenyum sambil menatap kedua anak muda di hadapannya yang terlihat begitu semangat membicarakan kelompok di hutan Kemiri.

"Sampai saat ini kami belum dapat memastikan apa yang akan mereka lakukan, hanya kami telah memastikan dari mana mereka berasal serta siapa di balik mereka," kata Ki Gede Bajra Seta kepada Gajah Mada dan Mahesa Darma.

"Siapa orang di balik gerombolan itu?" tanya Gajah Mada.

"Kami sudah dapat memastikan bahwa mereka adalah orang-orang dari Lamajang," jawab Ki Gede Bajra Seta penuh kepastian. "Namun, kami belum dapat membaca gerak dan langkah mereka di hutan Kemiri itu."

"Hutan Kemiri lebih dekat ke Tumapel dibandingkan dengan Kediri. Apakah ada kaitannya dengan pengangkatan raja muda di Tumapel dalam waktu dekat ini?" tanya Mahesa Darma.

"Berita tentang pengangkatan Raja Muda Kertawardana mungkin sudah tersebar hingga ke Lamajang. Mereka ingin menggempur kekuatan Majapahit lewat Tumapel," kata Gajah Mada ikut memberikan pemikirannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment