Chapter 164
"Kamu telah menemukan duniamu sendiri, wahai sahabatku," berkata Gajahmada. "Semoga kamu juga menemukan duniamu; kita berkarya di bidang masing-masing, mengukir sang waktu, menorehkan gemerlap keindahan di setiap lekuk dan liku kehidupan ini," sahut Supo Mandagri dengan pandangan mata yang lebih bijak dari usianya yang masih belia.
"Kamu sudah dapat berbicara layaknya seorang empu," ujar Gajahmada sambil menepuk pundak sahabatnya itu.
Akhirnya pembicaraan mereka terhenti manakala pintu pringgitan terbuka. Dari balik pintu tersebut, terlihat seorang wanita tua yang masih tampak cantik dengan lesung pipit di kedua pipinya.
"Matahari masih belum tinggi, mari kita berangkat ke Kotaraja Majapahit," ajak wanita itu yang tidak lain adalah Nyi Nariratih.
Diiringi pandangan mata Supo Mandagri, Gajahmada dan Nyi Nariratih keluar dari pintu gapura. "Aku yakin bahwa di tangan anak muda itu akan terlahir sebuah karya besar, lebih besar dari karyaku sendiri yang tidak lebih dari sekadar lekukan-lekukan besi," gumam Supo Mandagri yang masih memandang Gajahmada hingga punggung sahabatnya itu menghilang di balik pagar batu halaman puri pasanggrahan.
Sementara itu, sang mentari tampak sudah mendaki tiang-tiang layar perahu yang tertambat di dermaga kayu Bandar Pelabuhan Tanah Ujung Galuh. Semilir angin laut mengantar perjalanan Gajahmada dan Nyi Nariratih yang tengah menanti rakit yang baru saja meluncur ke seberang Sungai Kalimas. Tidak lama berselang, rakit itu kembali.
"Senang bertemu dengan Tuan," sapa pemilik rakit itu dengan penuh keramahan kepada Gajahmada.
Diam-diam Nyi Nariratih tersenyum melihat keakraban putranya dengan pemilik rakit itu. Ia merasa gembira karena Gajahmada dapat bersikap ramah kepada siapa pun dan mampu menempatkan diri dengan baik.
"Terima kasih, sampai berjumpa kembali," kata Gajahmada kepada pemilik rakit itu saat mereka telah sampai di seberang Sungai Kalimas.
"Nanti sore, aku akan membawakan buah nangka untuk Tuan," ujar pemilik rakit.
"Sayang sekali, sore ini aku tidak pulang ke Tanah Ujung Galuh," jawab Gajahmada tanpa mengabarkan bahwa dirinya akan berangkat ke tanah Kahuripan untuk waktu yang lama.
"Bila demikian, aku akan segera mengambilnya di rumah. Tunggulah sebentar," pemilik rakit itu berlari ke arah rumahnya yang tidak jauh dari tempat penyeberangan. Tak lama kemudian, ia kembali dengan membawa sebuah nangka besar yang sangat harum, pertanda sudah tua dan matang.
"Terima kasih," ujar Gajahmada seraya menerima pemberian itu.
"Bila ada waktu, singgahlah ke rumah. Si Gundul dan Cah Bonek sering menanyakan Tuan," kata pemilik rakit.
"Bila ada waktu, aku akan singgah," balas Gajahmada sambil tersenyum ramah.
Demikianlah, Gajahmada dan Nyi Nariratih berlalu meninggalkan Sungai Kalimas menuju Kotaraja Majapahit. Ternyata garis perjalanan setiap manusia sudah diatur dengan sangat sempurna oleh Sang Maha Pencipta. Seandainya saja Gajahmada tidak terlambat dalam penyeberangan pertamanya, dan seandainya ia tidak menunggu pemilik rakit yang mengambil nangka, niscaya Gajahmada akan bertemu dengan ayah angkatnya sendiri, Patih Mahesa Amping.
Di manakah Patih Mahesa Amping saat itu? Di saat Gajahmada dan Nyi Nariratih menunggu rakit di Sungai Kalimas, terlihat sebuah kereta jenazah yang ditarik oleh seekor kuda hitam memasuki Kotaraja Majapahit dari arah barat. Kusirnya adalah seorang pendeta suci berjubah putih dengan rambut terurai panjang.
"Tuan Pendeta, mengapa Tuan meninggalkan kereta jenazah ini di muka gerbang istana?" tanya seorang prajurit pengawal kepada pendeta yang telah turun dari kereta dan hendak pergi.
Pendeta itu berhenti dan membalikkan badan ke arah prajurit tersebut. "Tugasku hanya mengantar jenazah ini hingga sampai di muka gerbang istana," ucapnya.
Prajurit itu segera menjenguk ke dalam kereta dan melihat sekujur mayat terbaring tertutup kain putih. "Siapa gerangan mayat ini?" tanyanya sambil menoleh ke arah pendeta berdiri. Namun, prajurit itu tidak lagi melihat keberadaan sang pendeta; ia telah menghilang entah ke mana.
Hebohlah para prajurit penjaga yang bertugas saat itu. "Siapa gerangan yang meletakkan kereta jenazah di muka gerbang istana?" tanya seorang pemuda yang baru datang, yaitu Gajahmada.
Prajurit penjaga yang sempat bertemu dengan kusir itu langsung menceritakan kejadian yang baru dialaminya. Gajahmada mendekati kereta jenazah dan membuka kain penutup wajah mayat yang terbaring di dalamnya. Seluruh tubuh Gajahmada bergetar saat melihat wajah tersebut.
"Baginda Raja Sanggrama Wijaya," ucap Gajahmada pelan, berusaha menguasai perasaan hatinya.
Mendengar perkataan Gajahmada, para prajurit penjaga seketika menjatuhkan diri bersujud menghadap kereta jenazah. Sementara itu, mata Gajahmada menyisir ke segala arah, berharap dapat menemukan sang kusir, namun yang dicari tidak ditemukan.
"Mari kita bawa kereta jenazah ini ke dalam istana," perintah Gajahmada. Dengan wajah penuh khidmat, Gajahmada bersama para prajurit membawa kereta jenazah itu ke dalam istana. Gemparlah suasana istana Majapahit mendengar berita kematian Baginda Raja Sanggrama Wijaya yang sangat mereka cintai.
Jenazah Baginda Raja disemayamkan di pendapa agung, ditunggui dengan setia oleh Raja Jayanagara, Ibunda Ratu Dara Petak, dan keluarga dekat. Pada hari itu juga, Patih Amangkubumi Arya Tadah mengirimkan empat belas utusan ke berbagai daerah bawahan di seluruh Majapahit Raya.
Pada hari ketujuh, Raja Jayanagara dinobatkan secara resmi sebagai Raja Majapahit menggantikan Baginda Raja Sanggrama Wijaya, sesuai ketentuan hukum bahwa putra mahkota baru dapat dinobatkan setelah pendahulunya wafat. Penobatan itu disaksikan oleh para raja muda, pejabat istana, dan utusan perwakilan dari berbagai penjuru kerajaan dalam suasana duka.
Sehari setelah penobatan, dilaksanakan upacara besar pemakaman Baginda Raja. Berduyun-duyun warga Kotaraja Majapahit menyaksikan prosesi tersebut. Langit yang mendung mengiringi kepergian raja yang taat beragama, yang dekat dengan kawula alit, serta tidak pernah melupakan jasa sahabatnya.
Bade jenazah diarak keliling kota diiringi ribuan manusia, gamelan, dan kidung suci menuju tempat pembakaran mayat di alun-alun Kotaraja Majapahit. Di antara kerumunan, terlihat Gajahmada dan Biksuni Andini berjalan beriringan.
"Tidak banyak kematian seseorang diiringi oleh ribuan manusia yang mencintainya," kata Gajahmada kepada Biksuni Andini sambil menatap kobaran api yang membakar bangunan kayu penyangga jenazah.
"Upacara pembakaran mayat adalah pelunasan hutang budi keluarga dan orang-orang yang mencintainya menuju alam kesempurnaan arwah," sahut Biksuni Andini.
"Di sebuah pulau terasing, diantar hanya oleh beberapa orang yang setia dan mencintaiku," gumam Gajahmada seolah berbicara pada dirinya sendiri.
"Aku tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Kakang Gajahmada," ujar Biksuni Andini.
"Entahlah, lamunanku saat ini seperti terbang ke sebuah tempat, menyaksikan pemakamanku sendiri," jawab Gajahmada.
"Apakah Kakang melihat kehadiranku ada bersama orang-orang yang setia dan mencintai Kakang?" tanya Biksuni seraya tersenyum. Gajahmada tidak menjawab, ia hanya memandang kobaran api yang mulai padam.
Masa berkabung di istana digenapi empat puluh hari. Para kerabat dan empat belas yuwaraja bawahan berpamitan kepada Baginda Raja Jayanagara. Terakhir, rombongan keluarga Ibunda Ratu Gayatri bersama putrinya, Yuwaraja Tribhuwana Tunggadewi, berpamit untuk kembali ke Kotaraja Kahuripan.
Matahari pagi bersinar benderang saat kereta kencana diiringi empat belas prajurit berkuda keluar dari Kotaraja Majapahit. Di dalam kereta, Ibunda Ratu Gayatri duduk diapit oleh kedua putrinya, Yuwaraja Tribhuwana dan Putri Dyah Wiyat.