Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 146

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 146

Malam itu, bulan terlihat tipis melengkung di atas langit Tanah Ujung Galuh. Nyi Nariratih tampak tengah duduk di panggung pendapa bersama putra tercinta, Gajahmada. Mata keduanya sesekali menatap jauh ke arah gapura puri pasanggrahan itu, seakan ada seseorang yang diharapkan muncul dari balik gerbang.

"Akhirnya mereka datang juga," ujar Nyi Nariratih kepada Gajahmada saat melihat tiga orang muncul dari balik gerbang puri pasanggrahan. Wajah ketiganya semakin jelas terlihat ketika cahaya pelita yang tergantung di atas tangga pendapa itu menyinari mereka.

"Maaf kami datang sedikit terlambat. Beruntung Supo Mandagri berhasil membujuk seorang tukang rakit yang tengah beristirahat untuk menyeberangkan kami," ujar Tumenggung Mahesa Semu menjelaskan keterlambatan mereka.

"Kami hanya khawatir terjadi sesuatu atas kalian bertiga. Ternyata ada masalah dengan tukang rakit di Sungai Kalimas," sahut Nyi Nariratih.

"Selama perjalanan, kami terus berpikir bahwa pasti ada berita yang sangat penting," ujar Tumenggung Mahesa Semu setelah duduk di panggung pendapa.

Nyi Nariratih terdiam sesaat, menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, "Ada berita sangat penting yang aku dapatkan dari salah seorang prajuritku yang berhasil menyusup ke lingkungan kesatuan pasukan Tumenggung Ikal-Ikalan Bang. Mereka tengah merencanakan makar yang diawali dengan penculikan dan pembunuhan terhadap tujuh orang yang dianggap sebagai penghalang besar menuju kursi singgasana."

"Siapa tujuh orang yang akan bernasib malang itu?" tanya Tumenggung Mahesa Semu.

"Tumenggung Jala Yudha, lima pejabat utama istana, dan Raja Jayanagara," jawab Nyi Nariratih merinci sasaran mereka.

"Mahapatih Dyah Halayuda adalah salah satu dari lima pejabat utama istana. Apakah itu artinya Ra Kuti tidak ingin berbagi?" tanya Adityawarman heran.

"Mereka menyandikan rencana makar itu dengan sebutan 'Gerakan Tiga Puluh Sabda Candra Sempurna'," ungkap Nyi Nariratih. Mendengar itu, semua yang hadir mengerutkan kening, mencoba menerjemahkan kata sandi tersebut.

"Tiga puluh sabda adalah jumlah isi kitab yang digunakan oleh umat Ra Kuti," ujar Gajahmada.

"Candra sempurna adalah bulan purnama," sahut Adityawarman.

"Apakah itu bermakna gerakan pasukan Ra Kuti dilakukan pada bulan purnama ini?" tanya Tumenggung Mahesa Semu.

"Tiga belas hari lagi akan jatuh purnama," kata Gajahmada.

"Apa yang dapat kita lakukan menghadapi gerakan mereka?" tanya Nyi Nariratih. Suasana pun menjadi sunyi senyap.

"Yang pasti, mereka akan mengerahkan pasukan untuk menguasai istana," ujar Tumenggung Mahesa Semu memecah keheningan.

"Namun, tanpa lima pejabat utama istana, Ra Kuti tidak akan mendapatkan dukungan untuk menjadi raja," kata Adityawarman.

"Nampaknya kita harus mendahului rencana mereka," sahut Gajahmada.

"Maksudmu?" tanya Adityawarman.

"Menculik orang yang akan mereka culik," jelas Gajahmada.

"Termasuk Raja Jayanagara?" tanya Adityawarman lagi.

"Raja Jayanagara adalah yang paling utama untuk kita selamatkan," tegas Gajahmada.

"Aku setuju dengan usulmu. Kita bergerak mendahului mereka secara serempak," kata Tumenggung Mahesa Semu.

"Aku akan mengerahkan seluruh prajuritku untuk membantu gerakan ini," janji Nyi Nariratih.

"Terima kasih, Nyi Nariratih. Kita perlu tujuh kelompok untuk melaksanakan gerakan ini secara bersamaan," ujar Tumenggung Mahesa Semu.

"Kita perlu tempat yang amat rahasia untuk menyembunyikan mereka," kata Nyi Nariratih.

"Ke sebuah tempat yang tidak ada dalam pikiran mereka," tambah Gajahmada. Semua mata tertuju padanya, meminta penjelasan. "Mereka akan selalu berpikir bahwa kita akan membawa orang-orang yang diculik ke Tanah Ujung Galuh. Kita akan mengelabui pikiran mereka."

"Ada tempat setengah hari perjalanan ke arah barat Kotaraja Majapahit. Aku sering mencari batu bintang di Kabuyutan Bebander dan kenal baik dengan Ki Buyut Bebander," usul Supo Mandagri.

"Bagus, besok kita mulai persiapan," kata Tumenggung Mahesa Semu.

Nyi Nariratih merinci, "Besok aku akan memerintahkan tujuh prajurit sebagai penunjuk arah bersama Supo Mandagri ke Kabuyutan Bebander. Tujuh puluh orang akan bergabung dengan pasukan Bhayangkara di lingkaran pertama, dan tujuh ratus pasukanku berada di lingkaran kedua untuk mengamankan gerakan kita."

"Pasukan telik sandiku di Kotaraja Majapahit akan kukerahkan untuk memantau situasi dan turun sebagai pasukan cadangan," kata Tumenggung Mahesa Semu.

Demikianlah, hingga larut malam mereka mematangkan rencana tersebut. Awan hitam perlahan membayangi bulan di langit malam.

"Nampaknya malam ini akan turun hujan," ujar Nyi Nariratih memandang mendung yang menutupi cahaya rembulan.

"Akan mengantar tidurku menjadi lebih nyenyak, bermimpi berjalan bersama tujuh bidadari ke Kabuyutan Bebander," canda Supo Mandagri seraya berpamit untuk beristirahat.

Sementara itu, awan hitam yang menutupi rembulan bergerak tertiup angin kencang, pertanda hujan beralih ke tempat lain. Rembulan pun kembali menggantung di langit malam ditemani beberapa bintang.

Pagi-pagi sekali, Supo Mandagri bersama Nyi Nariratih dan Gajahmada berangkat ke Kotaraja Majapahit. Supo Mandagri bergabung dengan tujuh prajurit Srikandi yang bertugas sebagai penunjuk arah. Tanpa menarik perhatian, mereka keluar dari Kotaraja Majapahit menuju barat ke Kabuyutan Bebander.

Sejak saat itu, puluhan telik sandi bergabung dengan pasukan Srikandi, menyebar di enam tempat berbeda di sekitar kediaman lima pejabat utama istana dan Tumenggung Jala Yudha yang bertempat tinggal di Kotaraja Majapahit.

Tiga hari sebelum hari yang ditentukan, pimpinan tujuh pasukan penjemput telah disepakati.

"Gajahmada membawahi pasukan yang akan menjemput Mahapatih Dyah Halayuda, Adityawarman membawahi pasukan yang menjemput Raja Jayanagara, sementara aku memimpin pasukan penjemput Tumenggung Jala Yudha. Empat pasukan lagi aku serahkan kepada Gajahmada sebagai pemimpin pasukan Bhayangkara," ujar Tumenggung Mahesa Semu.

"Aku akan memerintahkan empat prajuritku yang dikenal oleh Ki Demung Samaya, Ki Kunuruhan Anekakan, Ki Rangga Jalu, dan Ki Tumenggung Wasa. Mudah-mudahan keempat pejabat itu tidak mempersulit diri sendiri," kata Gajahmada.

"Kita akan bergerak dari barak di penghujung malam, saat garis merah fajar menyambung dari ufuk timur ke barat. Pasukan Adityawarman dapat bergerak langsung dari istana," perintah Nyi Nariratih.

Keesokan harinya, Tumenggung Mahesa Semu mendapat laporan bahwa para pejabat agung masih beraktivitas seperti biasa dan tidak ada tanda-tanda pihak lawan akan maju lebih awal. Namun, ia tetap memerintahkan telik sandi untuk siaga penuh.

Warga Kotaraja Majapahit tampak tidak menyadari bahwa kota mereka telah menjadi padang perburuan. Suasana sehari menjelang peristiwa Tiga Puluh Sabda Candra Sempurna tetap tenang, di pasar maupun di setiap padukuhan, orang-orang masih menjalani kehidupan mereka seperti biasa, hingga hari itu tiba, saat bulan bulat sempurna.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment