Chapter 49
Belum sempat berkata apa pun, sesosok bayangan dengan cepat mendekati mereka. Sesaat kemudian, mereka merasakan tengkuk seperti dihantam pukulan yang amat keras.
Hanya itu yang mereka rasakan, karena setelah itu mereka berlima lunglai tak sadarkan diri dan jatuh ke tanah. Mulai dari padamnya obor di halaman hingga kelima prajurit penjaga pingsan berlangsung dengan sangat cepat.
Semua yang terjadi di muka halaman itu telah disaksikan oleh mereka yang berada di atas pendapa rumah Tumenggung Yasakala. Terlihat dua tokoh kenamaan di kota Kahuripan yang diundang oleh Tumenggung Yasakala melompat turun ke halaman. Di keremangan malam, mereka melihat seseorang berdiri di tengah halaman.
"Siapa kamu?" tanya salah seorang dari mereka dengan suara membentak garang.
"Haruskah kusebut namaku?" tanya orang yang berdiri di tengah halaman itu sambil tersenyum hingga deretan giginya terlihat jelas.
"Dialah anak muda yang mengikat kami," kata salah seorang dari tiga kaki tangan Tumenggung Yasakala yang telah ikut turun ke halaman.
"Benar, orang inilah yang telah mengikat tangan kami," sahut seorang lagi kepada Tumenggung Yasakala.
"Nyalimu sungguh besar, anak muda," ujar salah satu dari dua tokoh Kahuripan yang usianya sudah sepuh. Uban putih tampak memenuhi kepala dan janggutnya.
"Terima kasih telah menyiapkan sambutan istimewa untukku," jawab anak muda itu yang ternyata adalah Gajah Mada.
"Ki Ambara, biarlah aku yang maju mengurus anak muda sombong ini," kata orang yang lebih muda kepada Ki Ambara. Tanpa menunggu jawaban, ia segera melangkah mendekati Gajah Mada.
"Sebut namamu, agar aku dapat memberitahukan kepada ibumu jika suatu saat nanti ia mencari mayatmu," kata orang itu sambil menunjuk kasar ke arah Gajah Mada.
Mendengar orang itu menyebut ibunya, seketika kemarahan Gajah Mada tersulut. Sejak kecil, ia tidak rela mendengar siapa pun memperolok-olok ibunya. Namun, ia segera sadar bahwa orang itu hanya mencoba memancing emosinya.
"Namaku Gajah Mada, siapa gerangan Paman?" tanya Gajah Mada sembari mengendalikan diri.
"Di Kahuripan ini, siapa pun akan lari bila mendengar namaku," kata orang itu sambil bertolak pinggang.
"Sebutkan namamu, mudah-mudahan aku masih kuat berdiri di tempat ini," balas Gajah Mada sambil tersenyum.
"Dengar baik-baik, namaku Jatayu yang memiliki tangan api. Gurumu pasti pernah bercerita kepadamu," kata pria yang mengaku bernama Jatayu itu dengan nada sombong.
"Sayangnya, guruku tidak pernah bercerita apa pun tentang orang bernama Jatayu di Kahuripan ini," jawab Gajah Mada tidak gentar.
"Bagus, malam ini kau akan tahu dan menyesal telah bertemu denganku!" seru Jatayu sambil menerjang dengan cepat ke arah Gajah Mada.
"Gerakan Paman masih sangat lamban," ujar Gajah Mada sambil bergeser ke samping dengan tangkas.
Semua orang di halaman itu terbelalak. Mereka keheranan melihat Gajah Mada berpindah tempat seperti terbang melesat tanpa melangkah. Jatayu yang angkuh pun merasa terkesima; ia sadar lawannya memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi.
Jatayu kemudian meningkatkan tataran ilmunya, bergerak lebih cepat dengan lompatan panjang seperti elang yang hendak menerkam mangsa. Kali ini, Gajah Mada tidak menghindar. Begitu serangan Jatayu dekat, hanya dengan sekali kibasan tangan, tubuh Jatayu terlempar lima langkah ke belakang hingga terguling di tanah.
Ki Ambara terkejut bukan main. Ia tidak menyangka anak muda itu memiliki kekuatan dahsyat hingga mampu memukul mundur Jatayu, jawara yang disegani di Kahuripan. Sementara itu, ilmu Ki Ambara sendiri tidak terpaut jauh dari Jatayu yang memiliki kesaktian tangan membara.
"Kita habisi anak sombong ini bersama-sama," ajak Ki Ambara yang kemudian turun ke halaman.
"Bagus, majulah berdua agar urusan di Kahuripan ini cepat kuselesaikan," sahut Gajah Mada tanpa sedikit pun merasa takut.
Jatayu telah bangkit kembali. Kehadiran Ki Ambara memberinya kepercayaan diri untuk mengembalikan nama baiknya di depan Tumenggung Yasakala. Gajah Mada menyadari kedua lawannya tangguh, namun ia tetap percaya pada kemampuannya. Meski begitu, ia tidak gegabah dan ingin melihat sejauh mana kemampuan Ki Ambara.
Jatayu dan Ki Ambara menyerang Gajah Mada secara bersamaan. Ternyata, kecepatan gerak Gajah Mada jauh melampaui mereka. Ia dengan mudah berkelit menghindari serangan. Dalam sebuah benturan, Gajah Mada akhirnya bisa mengukur kekuatan Ki Ambara yang hanya berselisih beberapa lapis dari Jatayu.
Setelah mengetahui tingkat kekuatan lawan, Gajah Mada mulai melakukan tekanan. Merasa terdesak, Jatayu mengerahkan kemampuan puncaknya; tangannya kini diselimuti hawa api membara. Ki Ambara pun menunjukkan jurus andalannya, yaitu tangan besi yang mampu meremukkan tulang.
Namun, kedua jurus itu tidak berarti apa-apa di hadapan Gajah Mada yang telah mewarisi banyak ilmu dari para guru hebat. Jatayu terheran-heran ketika melihat Gajah Mada tidak merasakan apa pun saat menangkis pukulan berhawa panasnya. Ki Ambara lebih terkejut lagi; tangannya justru terasa remuk saat berbenturan dengan tangan Gajah Mada yang terasa keras seperti batu cadas.
Gajah Mada sebenarnya hanya menggunakan seperlima dari kekuatannya. Merasa cukup bermain-main, ia memutuskan untuk mengakhiri pertarungan. Dengan gerakan secepat kilat, sebuah tendangan bersarang di perut Ki Ambara, sementara tamparan telak mendarat di rahang Jatayu.
*Brak!*
Dua tubuh jatuh terbanting ke bumi dengan keras. Tumenggung Yasakala gemetar menyaksikan kedua undangannya terkapar tak berdaya.
"Keluarkan semua kaki tanganmu, aku masih siap menghadapi mereka," tantang Gajah Mada.
"Semua orangku sudah kau kalahkan. Sebutkan apa pun yang kau inginkan, pasti kupenuhi," kata Tumenggung dengan nada merayu.
"Aku tidak menginginkan kekayaanmu, karena aku tahu semua itu hasil memeras orang miskin di Kahuripan," jawab Gajah Mada dengan wajah penuh kebencian.
"Bila harta tidak kau inginkan, aku bisa membawakan gadis-gadis tercantik di Kahuripan untukmu," tawar Tumenggung Yasakala.
Mendengar hal itu, Gajah Mada semakin jijik. Ia tahu sudah banyak gadis menjadi korban kebejatan Tumenggung.
"Perhatikan baik-baik apa yang ada di tanganku ini," kata Gajah Mada sambil mengangkat keris Nagasasra tinggi-tinggi.
Tumenggung Yasakala terkejut bukan main melihat keris yang dibalut kain merah putih itu. Sebagai pejabat tinggi, ia sangat mengenal keris milik utusan Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
"Ampunkan hamba yang hina ini, hamba tidak tahu jika telah berhadapan dengan utusan Tuanku Baginda Raja," kata Tumenggung Yasakala sambil bersimpuh.
Melihat sikap memelas Tumenggung, kebencian Gajah Mada sedikit berkurang.
"Tahukah kau hukuman bagi pejabat yang menyalahgunakan amanat suci Baginda Raja? Kau dan keluargamu seharusnya dijadikan budak belian yang hina," tegas Gajah Mada dengan nada penuh wibawa.
"Ampunilah jiwa hamba ini," pinta Tumenggung Yasakala.
"Jiwamu dan keluargamu kuampuni, namun sebagai imbalannya, kau harus mengeluarkan seluruh harta kekayaanmu untuk dibagikan kepada warga Kahuripan yang telah kau peras. Mulai saat ini, aku tidak ingin mendengar kau memungut pajak yang melampaui nilai keadilan yang diamanatkan oleh Baginda Raja Majapahit," perintah Gajah Mada kepada Tumenggung Yasakala yang masih bersimpuh di tanah.