Chapter 35
"Lihatlah seorang gadis yang menangis dipegang oleh dua orang lelaki di pinggir kerumunan itu. Tampaknya gadis itu telah ditemukan oleh keluarganya setelah dibawa lari oleh pemuda idamannya sendiri," Nyi Ajeng Nglirip berkata, mencoba menjelaskan.
"Seorang pemuda yang tabah," Gajahmada berkata, sambil melihat seorang pemuda yang sangat tenang siap menghadapi lawannya. Seorang lelaki berumur terlihat begitu gagah dengan sorot mata tajam penuh dendam membara.
"Apakah mereka akan bertarung sampai mati?" Dyah Gajatri bertanya kembali kepada ibundanya, merasa pertanyaannya belum selesai terjawab.
"Mereka bertarung sampai ada salah satunya mati terbunuh," Nyi Ajeng Nglirip berkata berbisik perlahan kepada Dyah Gajatri.
"Orang-orang Madhura," Gajahmada berkata ketika melihat kedua petarung itu masing-masing diberikan sebuah senjata tajam yang melengkung di ujungnya, sebuah celurit.
Beberapa orang terlihat sudah mundur beberapa langkah, membentuk lingkaran mengelilingi para petarung di lapangan pasar itu.
Suasana pun seketika itu terlihat begitu mencekam, semua pandangan mata tertuju ke arah kedua petarung yang telah bersiap-siap bertarung menghadapi lawannya.
"Yudha Pramana, kamu telah menodai nama besar keluarga kami. Saatnya darahmu yang akan menyucikannya," salah seorang petarung berkata kepada lawannya, seorang pemuda.
"Kematian tidak akan kutakutkan, darahku akan harum mewangi sebagai bukti cinta kami," pemuda itu berkata dengan wajah tegap menantang.
"Ternyata Kunti telah menemui seorang pemuda yang berani. Sayang sekali, aku pamannya harus membunuhmu," lelaki itu berkata kembali sambil menggenggam senjata celurit di tangannya lebih erat lagi, sampai terlihat bergetar.
"Aku sudah siap, Paman," pemuda itu berkata, masih dengan sikap penuh ketenangan.
"Bersiaplah kamu untuk mati!" lawannya berkata sambil langsung bergerak menerjang ke arah pemuda itu.
"Trang!"
Sang pemuda terlihat telah menangkis serangan celurit di atas kepalanya.
Dua senjata yang sama beradu, menimbulkan suara yang cukup nyaring bergemerincing.
Suara gemerincing dari dua senjata yang saling beradu terdengar berkali-kali, seiring pertarungan yang sangat mendebarkan hati itu telah mulai berlangsung dengan sengit.
Sebagai seorang yang ahli dalam ilmu kanuragan, Gajahmada sudah dapat menilai bahwa lelaki berumur itu jauh lebih kuat dan tangguh dibandingkan dengan pemuda itu.
Hanya dengan semangat tempur saja, pemuda itu masih tetap bertahan menghadapi serangan lelaki lawannya.
Hingga sebuah serangan yang sangat kuat, penuh dengan gerakan tangguh, berhasil mendesak pemuda itu.
Terlihat sebuah tendangan kuat berhasil merobohkan pemuda itu, yang jatuh terlentang di atas tanah.
Untung tali yang menghubungkan keduanya membuat pemuda itu tertahan tidak terguling.
Angin serangan senjata celurit di tangan lelaki itu seperti bayangan dewa pencabut nyawa yang terlihat melayang meluncur ke arah leher pemuda itu.
"Trang!"
Sebuah kerikil kecil yang dilepaskan oleh kekuatan besar, dengan sangat keras dan jitu, telah membentur senjata celurit itu, membuat telapak tangan pemilik senjata itu merasakan panas dan perih tak terkira, dan tidak kuasa melepas senjatanya yang terlempar dari tangannya.
"Izinkan aku menggantikan saudaraku ini," seorang pemuda berkata, yang tiba-tiba saja sudah berada di antara ikatan tali keduanya.
"Siapa pun punya hak membela dalam pertarungan darah ini," lelaki itu berkata sambil memandang tajam ke arah pemuda itu, yang ternyata adalah Gajahmada.
Terlihat Gajahmada telah membuka ikatan tali yang melingkar di pinggang pemuda itu dan berganti mengikatnya melingkar di pinggangnya sendiri.
"Jagalah gadismu," Gajahmada berkata berbisik kepada pemuda itu, yang merasa baru saja terlepas dari sebuah kematian.
"Terima kasih," pemuda itu berkata sambil menyingkir menjauhi arena pertarungan.
"Kakang Yudha Pramana!" Seorang gadis berlari, yang berhasil melepaskan diri dari genggaman tangan dua orang yang tengah menahannya.
"Maafkan Kunti yang telah menyusahkan dirimu," gadis itu berkata sambil menangis bersimpuh memeluk kedua kaki sang pemuda yang dipanggil Yudha Pramana.
"Bersiaplah, darahmu akan menggantikannya," lelaki yang sudah berumur itu berkata setelah memungut kembali senjatanya di tanah.
"Aku sudah bersiap, Paman," Gajahmada berkata dengan sikap penuh ketenangan dan percaya diri.
Terlihat Andini menarik napas panjang. Meski percaya kepada kemampuan Gajahmada, namun hati wanita itu tidak mampu menahan debaran jantungnya sendiri, menyaksikan sikap Gajahmada yang sangat berani terpanggil maju untuk membela harapan cinta dari muda-mudi yang terlihat saling mencintai.
Di tempat asalnya, lelaki itu adalah seorang jawara yang sangat disegani.
Namun dadanya terasa berdebar kencang manakala pandangan matanya membentur sorot mata Gajahmada yang terlihat begitu kuat dan tajam seperti sebuah pedang tajam menyambar.
Terdengar gemeretak gigi dari lelaki itu, berusaha menepis rasa gentarnya.
"Senjata ini telah terhunus, pantang masuk ke sarung sebelum menghisap darah," lelaki itu berkata sambil langsung menerjang dengan kuat.
Sayang bahwa lelaki itu tidak tahu dengan siapa dirinya berhadapan.
Terlihat Gajahmada dengan ringannya berkelit menghindar.
Melihat serangannya dengan mudah dielakkan oleh anak muda itu, sebuah tendangan menyusul menghantam ke arah Gajahmada.
Namun, kembali Gajahmada dapat menghindari serangan itu.
Bukan main geram lelaki itu. Merasa kedua serangannya dapat dihindari dengan mudah, ia pun menyerang lebih kuat dan gencar lagi.
Kembali Gajahmada dengan langkah yang begitu ringan dan sangat cepat dapat lolos dari setiap serangan lelaki itu yang semakin gencar membabi buta, karena merasa bahwa lawannya hanya mampu menghindar tanpa dapat membalas.
Ternyata Gajahmada tengah mengukur tingkat kemampuan lawannya, hanya berkelit tanpa balas menyerang.
Terlihat di luar arena, pandangan mata Andini tidak pernah sedikit pun terlepas dari jalannya pertarungan itu, seakan membayangkan bahwa Gajahmada tengah bertarung mempertaruhkan darahnya untuk membela dirinya, membela cinta mereka berdua.
Sementara itu, Nyi Ajeng Nglirip, Dyah Gajatri, dan Dyah Wiyat yang telah mengetahui tingkat kemampuan Gajahmada, terlihat tidak begitu tegang, seperti menunggu apa yang terakhir akan dilakukan oleh anak muda yang selama ini seperti seorang ksatria penjaga bagi keluarga mereka.
Sebagaimana yang dipikirkan oleh Nyi Ajeng Nglirip, terlihat Gajahmada sudah merasa bosan bermain-main.
Semua mata di lapangan pasar itu seperti terbelalak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Siapa pun akan terperanjat kagum melihat bagaimana Gajahmada dengan hanya dua jari tangannya telah menjepit senjata celurit lelaki itu yang tengah meluncur mengayun di atas kepalanya.
Terlihat dengan sekuat tenaga, lelaki itu telah berusaha menarik senjatanya dari jepitan Gajahmada.
Senjata di dalam jepitan Gajahmada tidak bergeming sedikit pun. Lelaki itu seperti menarik batang pasak bumi yang menancap di batu cadas yang keras.
Dan dengan gerakan biasa dari Gajahmada, hanya dengan sekadar jentikan kedua jarinya, terlihat senjata celurit itu patah dan putus, terlepas dari bagian lain di tangan lelaki itu yang bersamaan terdorong ke belakang.
Untung tali ikatan membuatnya tertahan tidak terlempar.
Mata lelaki itu terbelalak. Belum sempat menguasai keadaan, ia telah merasakan tali ikatannya ditarik dengan kuat, membuat dirinya maju terhuyung ke depan.
"Menyerahlah, atau celurit ini akan memenggal batang lehermu," Gajahmada berkata dengan nada mengancam sambil mengalungkan celurit di leher lelaki itu.
Pucat wajah lelaki itu, merasakan darahnya berhenti mengalir.
Sebagai seorang jawara di tempat asalnya, lelaki itu baru pertama kali itu mendengar ancaman dari orang lain kepadanya.
"Aku menyerah," lelaki itu berkata seperti pasrah, merasakan dingin senjata menempel di ujung kulitnya.
"Artinya persoalan tidak akan diperpanjang lagi, cukup sampai di sini?" Gajahmada berkata kepada lelaki itu.
"Kami tidak akan memperpanjang urusan ini lagi, telah terselesaikan hari ini," lelaki itu berkata, masih dengan wajah pucat pasi membayangkan celurit yang tajam itu merobek batang lehernya.
"Bagus, perkataan seorang lelaki adalah sebuah sumpah," Gajahmada berkata sambil menarik senjata celurit dari leher lelaki itu.
"Sret!"
Celurit di tangan Gajahmada telah membabat tali ikatan mereka.
Terlihat lelaki itu melepas ikatan tali di pinggangnya dan datang menghampiri Yudha Pramana yang berdiri bersama Kunti, gadis kemenakan lelaki itu.
"Masalah kalian telah selesai. Sejak hari ini keluarga tidak akan mencari ke mana pun kalian pergi," lelaki itu berkata, lalu langsung berbalik badan melangkah pergi diikuti oleh tiga orang lelaki bersamanya.
Bersama dengan perginya rombongan lelaki itu, kerumunan pun sudah semakin berkurang. Orang-orang sudah kembali lagi dalam kesibukannya masing-masing.
Suasana lapangan pasar itu sudah kembali sebagaimana semula sebelum adanya kejadian tarung adat itu.
"Terima kasih, Tuan telah menyelamatkan hidup kami berdua," Yudha Pramana berkata dengan sikap penuh rasa terima kasih kepada Gajahmada.
"Tampaknya kalian akan melakukan sebuah perjalanan jauh?" Gajahmada berkata kepada Yudha Pramana.
"Benar, kami memang akan pergi jauh ke Kotaraja Majapahit," Yudha Pramana berkata.
"Ternyata kita seperjalanan. Kami juga akan berangkat ke Kotaraja Majapahit. Namun sebelumnya kami akan singgah terlebih dahulu ke Jabung untuk menemui salah seorang kerabat," Gajahmada berkata kepada Yudha Pramana.
"Apakah Tuan pernah pergi ke Jabung sebelumnya?" Yudha Pramana bertanya kepada Gajahmada.
Terlihat Gajahmada tersenyum getir sambil menggelengkan kepalanya.
"Bila Tuan tidak berkeberatan, aku dapat menjadi penunjuk jalan yang baik. Aku besar di Jabung," Yudha Pramana berkata.