Chapter 126
"Aku mengenal Empu Nambi seutuhnya. Mungkinkah Empu Nambi punya sedikit pikiran untuk merebut takhta kerajaan ini?" tanya Tumenggung Mahesa Semu.
"Selama takhta kerajaan ini berada di tangan yang berhak, Empu Nambi sedikit pun tidak akan mengganggunya. Bahkan, ia akan berada di baris terdepan menghadapi musuh-musuh Kerajaan Majapahit ini. Namun, manakala takhta ini berpindah tangan ke genggaman orang-orang yang tidak berhak memilikinya, maka Empu Nambi dan para pendukungnya akan tampil ke depan, menyelamatkan kerajaan ini, dan bila mungkin menjadi seorang raja. Itulah sebabnya Dyah Halayuda dan Ra Kuti menganggap Empu Nambi adalah orang yang harus mereka singkirkan sebelum menguasai singgasana kerajaan ini," ujar Gajah Mada menyampaikan pandangannya.
"Sudah tergambar permainan apa yang akan kita mainkan untuk menyelamatkan bahtera dari badai awan hitam yang ditebarkan oleh Dyah Halayuda dan Ra Kuti. Saat ini kita masih harus menunggu gerak akhir mereka, bukankah begitu, wahai Gajah Mada?" kata Tumenggung Mahesa Semu mencoba membaca jalan pikiran Gajah Mada.
"Benar, kita turun di ujung permainan mereka, menyelamatkan Raja Jayanegara dan takhtanya," jawab Gajah Mada membenarkan perkataan Tumenggung Mahesa Semu.
"Hanya, kita belum mengetahui seberapa besar kekuatan baru yang saat ini tengah digalang oleh Ra Kuti di sebuah tempat yang masih sangat rahasia itu," ucap Adityawarman ikut berbicara setelah lama hanya menjadi pendengar.
"Mudah-mudahan Supo Mandagri dapat melaksanakan tugasnya. Nampaknya anak muda itu tengah berada di sarang mereka saat ini," kata Gajah Mada.
"Kesatuan pasukan Jala Ranaggana, Jala Pati, dan Jala Yudha sebagai kekuatan benteng pertahanan kerajaan ini telah dapat mereka pecah-pecahkan. Maka, sebagai pemimpin tertinggi kesatuan pasukan Srikandi, aku akan berjuang bersama kalian, tetap menjaga bahtera bumi Majapahit apa pun yang terjadi dan hingga sampai kapan pun," kata Nyi Nariratih.
"Terima kasih, Nyi Nariratih. Kita akan berjuang bersama menghadapi badai besar ini," jawab Tumenggung Mahesa Semu.
"Berita yang kudapat hingga hari ini bahwa sisa prajurit Majapahit yang dapat dipukul mundur oleh pasukan Empu Nambi saat ini masih berada di Kademangan Japan. Adakah yang dapat kita lakukan untuk membantu perjuangan Empu Nambi?" tanya Adityawarman.
"Empu Nambi meminta kita untuk tetap berada di istana Majapahit ini. Empu Nambi berharap hanya kitalah benteng terakhir yang dapat menyelamatkan bahtera Kerajaan Majapahit ini," kata Tumenggung Mahesa Semu memecahkan suasana sepi.
Namun, kembali suasana menjadi begitu hening dan sepi. Semua hati dan pikiran nampaknya tengah mengenang masa-masa Empu Nambi di istana, masa-masa kehidupannya yang sangat bersahaja itu. Suara debur ombak di Tanah Ujung Galuh seperti mendendangkan nyanyian rindu.
Malam memang telah menjadi begitu dingin ketika hujan turun begitu lebat mengguyur sebuah lembah yang sunyi di kaki perbukitan berbatu yang tidak begitu jauh jaraknya dari kotaraja Majapahit, sebuah tempat yang tak terjamah karena sangat tandus dan terjal. Itulah lembah di mana Supo Mandagri berada bersama ribuan prajurit yang tengah disiapkan oleh Ra Kuti untuk melakukan makar dan merebut takhta Kerajaan Majapahit.
"Aku mencium bau anyir darah di sekitar gubuk ini," kata Supo Mandagri dalam hati. Ia belum juga dapat memejamkan matanya, membayangkan bahwa pandai besi yang pernah bekerja di gubuk itu tidak sakit dan meninggal, melainkan dibunuh.
"Aku sudah dapat menemukan sarang mereka dan menilai kekuatan mereka. Yang harus kulakukan malam ini adalah keluar pergi dari tempat ini," batin Supo Mandagri.
Demikianlah, setelah membulatkan tekadnya, terlihat Supo Mandagri di bawah hujan yang sangat lebat itu telah keluar dari gubuknya. "Di ujung lembah sempit itu pasti ada jalan keluar," gumamnya dalam hati sambil memilih arah jalan untuk keluar dari tempat itu.
Malam itu hujan turun begitu lebat. Supo Mandagri berjalan cepat menyusuri lembah sempit, berusaha menjauhi sarang kekuatan para prajurit Ra Kuti. "Suara air terjun?" gumam Supo Mandagri saat mendengar deru air terjun di dekatnya.
Ternyata lembah sempit yang disusuri oleh Supo Mandagri berujung pada sebuah sendang, sumber mata air dari sebuah air terjun yang tidak begitu tinggi. Supo Mandagri dapat mendengar suara hempasan airnya di bawah sana pada malam yang sangat gelap itu.
"Nampaknya tebing ini dapat kuturuni," pikir Supo Mandagri. Meski di keremangan malam, ia masih dapat melihat banyak tonjolan batu di tebing kiri sebelah air terjun itu. Perlu sebuah perjuangan untuk menuruni tebing di saat malam gelap dan hujan yang masih begitu lebat. Namun, Supo Mandagri adalah seorang pemuda yang sangat kuat dan terlatih. Dengan penuh kesabaran dan ketabahan, ia merayap menuruni tebing yang licin, basah, dan cukup terjal. Akhirnya, selangkah demi selangkah, ia berhasil mencapai dasarnya.
"Hujan sudah mulai reda," ucap Supo Mandagri dalam hati sambil menarik napas panjang.
"Sungai kecil ini pasti bermuara di sebuah tempat terbuka. Di sana aku dapat mencari arah jalan pulang," pikirnya. Ia pun berniat menyusuri sungai kecil yang bersumber dari air terjun itu. Di malam yang masih sangat gelap, memang tidak ada pilihan lain selain berjalan menyusuri jalan di atas sungai kecil berbatu itu, di mana di sepanjang kiri dan kanannya terbentang hutan belantara. Demikianlah, Supo Mandagri menyusuri sungai kecil berbatu di malam gelap dengan tekad untuk berjalan sejauh mungkin agar pelariannya tidak dapat dilacak kembali.
Akhirnya, Supo Mandagri telah menemukan sebuah tempat terbuka, namun hari masih gelap. "Nampaknya aku sudah berjalan cukup lama dan sudah cukup jauh," katanya dalam hati sambil bersandar di sebuah batu besar, mencoba mengendurkan urat-urat kakinya yang terasa lelah. Perlahan, Supo Mandagri melihat warna langit mulai bias kemerahan, pertanda pagi akan segera datang.
"Langit sudah mulai terang," gumamnya saat melihat samar suasana di depannya. Ternyata, di hadapan Supo Mandagri adalah sebuah tanah berawa yang cukup luas, terlihat sekumpulan pohon galam tumbuh dengan amat subur. Tanpa menunggu lama, Supo Mandagri turun ke tanah berawa itu, berharap akan menemukan daratan di seberang sana.
Berjalan di atas tanah berawa yang dalamnya setinggi paha itu memang membuat Supo Mandagri tidak dapat bergerak cepat. Namun, ia telah dapat melihat arah jalan pulang karena perbukitan berbatu di sebelah kanannya sudah mulai tampak. "Setelah menemukan daratan, aku harus memutar perbukitan berbatu itu," pikirnya sembari mencari arah menuju Kotaraja Majapahit.
Akhirnya, setelah cukup lama berjalan di atas tanah berawa, Supo Mandagri menemukan tepian rawa. Ia menarik napas panjang penuh kegembiraan setelah berhasil menginjak tanah kering; semilir angin sejuk berhembus di wajahnya. Di bawah cahaya sinar matahari yang sudah cukup tinggi, Supo Mandagri berjalan di atas tanah kering dan keteduhan kerimbunan pepohonan. Langkahnya terasa ringan setelah cukup lama merambat di atas tanah berawa yang dalam.
Namun, keringanan langkah Supo Mandagri tiba-tiba saja tertahan manakala tidak jauh darinya terlihat dua orang lelaki duduk terlindung semak belukar.
"Apa yang kalian lakukan di tempat ini?" tanya Supo Mandagri kepada kedua lelaki itu.
Mendengar pertanyaan Supo Mandagri, kedua lelaki itu berdiri dan tersenyum memandang ke arahnya. "Kami diminta oleh Ki Samban untuk menunggumu di sini," kata salah seorang lelaki yang bertubuh tinggi besar dan berotot, pertanda sangat kuat dan terlatih olah beban.
Supo Mandagri tertegun sejenak, tidak menyangka bahwa orang-orang Ki Samban telah menemukannya kembali. Namun, ia berusaha menenangkan diri. "Ternyata kalian hanya ingin menungguku. Sampaikan salam kepada Ki Samban bahwa aku tidak ingin kembali ke tempatnya," kata Supo Mandagri sambil berjalan ke arah lain, menghindari kedua lelaki itu.
"Kami tidak sekadar menunggumu, kami juga diminta untuk membawamu kembali," ujar lelaki satunya yang berperawakan sedang, namun seperti kawannya, ia juga berotot di hampir seluruh lekuk tubuhnya.
"Apakah kalian akan memaksa?" tanya Supo Mandagri kepada kedua lelaki yang telah bergeser menghalangi langkahnya itu.
"Ikutlah bersama kami, dan kami tidak akan melukaimu," ancam orang bertubuh tinggi besar itu.
"Kulihat kalian tidak bersenjata. Bagaimana kalian akan melukaiku?" tantang Supo Mandagri.
"Aku akan melukai mulutmu dengan tanganku ini," sahut orang yang berperawakan sedang, lalu ia melayangkan tamparan ke wajah Supo Mandagri.
Nampaknya orang itu menganggap Supo Mandagri hanyalah anak muda biasa yang tidak pernah belajar kanuragan, atau jika pun mengenal olah kanuragan, pastinya hanya sebatas satu dua jurus dari seorang guru kampung. Ternyata dugaan orang itu meleset jauh. Sebelum bertemu dengan Gajah Mada, tataran ilmu kanuragan Supo Mandagri sudah cukup tinggi, dan Gajah Mada telah meningkatkan kemampuan anak muda itu lebih dalam lagi sejak tinggal bersamanya.