Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 188

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 188

Terlihat mata Kuda Jenar memandang penuh harapan manakala titik cahaya obor itu semakin mendekat ke arahnya. Wajah Kuda Jenar tampak penuh kegembiraan tatkala sebuah obor menerangi sosok yang sangat dikenalnya.

"Ayah?" sapa Kuda Jenar kepada seseorang yang ternyata adalah Ki Agung Ngrayun.

"Orang itu tidak melukaimu?" tanya Ki Agung Ngrayun.

"Tidak melukaiku, namun ia menjadikanku umpan binatang buas," gerutu Kuda Jenar.

"Orang itu mengatakan ada urusan pribadi denganmu?" tanya Ki Agung Ngrayun setelah melepaskan ikatan tali di tangan Kuda Jenar.

Kuda Jenar tidak segera menjawab. Ia berpikir sejenak mencari alasan agar ayahnya tidak mengetahui urusan yang sebenarnya antara dirinya dan orang bercaping itu.

"Orang itu menyangka aku mengetahui ke mana perginya Nyi Ra Tanca dan memaksaku untuk mengatakannya," jawab Kuda Jenar setelah menemukan dalih yang tepat.

"Mungkin orang itu mengira kedekatanmu dengan keluarga Ra Tanca membuatmu mengetahui ke mana perginya Nyi Ra Tanca," sahut Ki Agung Ngrayun.

Mendengar perkataan ayahnya, Kuda Jenar merasa lega karena berhasil mengalihkan persoalan yang sebenarnya. "Ayah pasti akan menghukumku jika tahu apa yang telah kulakukan," batinnya.

Demikianlah, suasana hutan yang sunyi itu telah gelap. Bersama ayahnya dan beberapa pekerja, mereka berjalan pulang menuju arah hutan Sastrawulan.

Sementara itu, orang bercaping yang sempat menawan Kuda Jenar telah berada jauh, mendekati gapura kotaraja Majapahit. Siapakah gerangan orang tersebut? Di bawah sinar rembulan, saat ia melepas caping dan kain penutup kepalanya, ternyata sosok itu adalah Patih Gajah Mada yang masih muda belia.

"Apakah aku telah berlaku adil membiarkan Kuda Jenar tetap hidup?" batin Gajah Mada. "Ataukah ini kulakukan karena kekerdilan diriku sendiri dalam melepas tanggung jawab atas kematian Ra Tanca?"

Lama Patih Gajah Mada bergelut dengan pertanyaannya sendiri, hingga teringat kembali perkataan Mahapatih Arya Tadah kepadanya, "Panggung singgasana ini lebih pelik dari medan pertempuran. Kawan dan musuh berada di tempat yang sama, dan tidak ada kawan abadi. Tugas kita adalah menjaga singgasana ini tetap mapan dan tenteram. Itulah kebijakan seorang pelakon di panggung ini, dan pedangmu adalah ketajaman pikiranmu."

Patih Gajah Mada merenungi nasihat orang tua bijaksana tersebut. Malam telah larut di kotaraja Majapahit. Gajah Mada tidak singgah di istana, melainkan langsung menuju Tanah Ujung Galuh. Beruntung seorang tukang rakit belum tidur dan bersedia menyeberangkannya di sungai Kalimas.

"Terima kasih, Kawan. Aku telah mengganggu istirahatmu," ucap Gajah Mada sembari memberikan pembayaran tiga kali lipat.

Setelah Patih Gajah Mada menjauh dari tepian, tukang rakit itu pun kembali ke seberang. Sesampainya di pasanggrahan Tanah Ujung Galuh, seorang pelayan tua menyambutnya.

"Apakah ibunda Tuan perlu dibangunkan?" tanya pelayan yang bernama Ki Bareb itu.

"Tidak perlu, Ki Bareb. Besok pagi kami masih bisa bertemu," jawab Gajah Mada.

"Apakah Tuan lapar? Hamba dapat menghangatkan makanan," tawar Ki Bareb.

"Tidak perlu, Ki Bareb. Aku hanya ingin minuman hangat."

Patih Gajah Mada duduk di pendapa, menatap jauh ke arah gapura pasanggrahan. Tidak lama kemudian, Ki Bareb membawakan minuman hangat.

"Terima kasih. Temani aku di sini, Ki Bareb," ujar Gajah Mada.

"Beberapa hari ini Ibunda Tuan tidur larut malam menunggu Tuan pulang, sayang malam ini beliau tidur lebih awal," cerita Ki Bareb mengenai Nyi Nariratih, ibunda Patih Gajah Mada.

"Seorang ibu nampaknya selalu menganggap putranya masih kecil dan selalu mencemaskannya," ucap Gajah Mada sambil tersenyum.

Tiba-tiba, Ki Bareb mengerutkan kening melihat Patih Gajah Mada terdiam dengan pandangan tajam ke arah gerbang. Ki Bareb ikut menatap ke arah yang sama, namun ia tidak melihat apa pun.

"Nampaknya kita akan kedatangan tamu malam ini," kata Gajah Mada.

Ki Bareb masih heran, namun tak lama kemudian ia mengakui ketajaman firasat anak muda itu saat menyaksikan sesosok bayangan muncul di mulut gerbang.

"Tetaplah di pendapa, Ki Bareb. Aku akan menemui orang itu," ujar Gajah Mada seraya menuruni anak tangga.

Di tengah halaman, Gajah Mada berdiri menunggu sosok yang berjalan mendekatinya.

"Aku mengenal banyak orang di Tanah Ujung Galuh ini. Ada keperluan apa Kisanak datang ke pasanggrahan ini?" tanya Gajah Mada dengan santun.

"Aku datang sengaja untuk menemuimu," jawab lelaki itu.

"Menemuiku?"

"Benar, untuk membicarakan sebuah perdagangan," sahut lelaki itu sambil menyunggingkan senyum.

"Aku bukan seorang pedagang," tegas Gajah Mada, berusaha menebak maksud lelaki tersebut.

"Aku tahu kamu bukan pedagang, melainkan Patih muda dari kerajaan Kediri," jawab lelaki itu dengan senyum aneh.

"Lekas katakan kepentinganmu. Malam sudah larut, bukan waktunya bicara berbelit-belit," sahut Gajah Mada yang mulai tidak menyukai senyum licik lawan bicaranya.

"Di awal kukatakan bahwa aku datang untuk berdagang. Aku akan menutup rapat rahasiamu, sementara kamu membayarnya dengan mengabulkan permintaanku."

"Apa yang ingin kau tawarkan?" tanya Gajah Mada singkat.

Lelaki itu menyeringai. "Mengapa aku tidak dipersilakan naik ke pendapa?"

"Tidak perlu untuk tamu seperti dirimu," jawab Gajah Mada.

"Baiklah. Aku akan bercerita tentang pertempuran di hutan Sastrawulan antara dirimu dengan Ki Agung Ngrayun. Aku juga melihat kesaktianmu menciptakan kabut tebal, dan beruntung aku berada di luar pertempuran sehingga bisa melihatmu membawa Kuda Jenar keluar dari hutan."

Patih Gajah Mada menarik napas panjang; ia tidak menyangka ada yang mampu mengikuti jejaknya.

"Dan aku telah mendengar rahasia besar kerajaan Majapahit ini," tambah lelaki itu dengan licik.

"Apa yang kauinginkan dariku?"

"Kita berdagang. Katakan saja kau ingin memerasmu," sindir Gajah Mada yang mulai memahami arah pembicaraan tersebut.

"Terlalu kasar bila dikatakan memeras. Namun, jika rahasia ini kusbarkan, kepercayaan rakyat terhadap takhta Ratu Tribuwana akan runtuh. Orang-orang akan menyangsikan bahwa kekuasaan Ratu didapat dengan cara sah, bukan lewat makar dan pembunuhan Raja Jayanagara, di mana kamu adalah algojonya," ucap lelaki itu.

Darah Gajah Mada mendidih menahan amarah. "Katakan, siapa dirimu?"

"Orang biasa memanggilku Ki Sadeng. Aku sudah lama tinggal di sebuah pulau di selatan pantai Jawadwipa, dan aku adalah adik kandung Ki Agung Ngrayun."

"Apa yang sebenarnya kauinginkan?" tanya Gajah Mada.

"Permintaanku sederhana; aku hanya ingin jalur perdagangan antara Lamajang dan Bandar Pelabuhan Banyuwangi tetap terbuka. Jangan ganggu kelompokku memungut sedikit upeti dari para pedagang yang menggunakan jalur itu."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment