Chapter 83
Akhirnya, langkah kaki kedua anak muda itu memasuki pemukiman penduduk yang semakin ke dalam semakin ramai, dipenuhi deretan rumah kayu yang tertata rapi. Mereka berdua telah memasuki pusat wilayah Kadipaten Lamajang.
"Sebuah istana yang sangat asri dan teduh," ujar Gajah Mada kepada Supo Mandagri manakala langkah kaki mereka mendekati sebuah bangunan yang dikelilingi pagar batu. Bangunan itu menghadap ke arah tanah lapang yang cukup luas, dengan dua pohon beringin tua yang tumbuh di tengahnya, meneduhi lingkungan sekitar. Pintu gerbang utamanya berada di samping bangunan, menghadap ke arah timur laut.
"Selamat datang di istana Kadipaten Lamajang," sapa seorang prajurit Majapahit kepada Gajah Mada dan Supo Mandagri. Ternyata, prajurit itu adalah salah satu dari beberapa orang di bawah pimpinan Gajah Mada yang sengaja ditempatkan di istana Kadipaten Lamajang.
Prajurit itu kemudian menemui salah satu prajurit pengawal Kadipaten di gardu jaga. Tidak berselang lama, keduanya kembali mendekati Gajah Mada. Prajurit pengawal Kadipaten itu memandang Gajah Mada dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Aku juga seorang prajurit seperti dirimu," ujar Gajah Mada kepada prajurit itu dengan senyum ramah. Ia menyadari bahwa saat itu dirinya tidak mengenakan pertanda pangkat apa pun; ia hanya berpakaian sebagaimana orang kebanyakan, bahkan tampak sangat lusuh. Mendengar perkataan Gajah Mada, prajurit itu tersenyum malu.
Kepada prajurit pengawal tersebut, Gajah Mada mengutarakan maksud kedatangannya untuk menghadap Adipati Menak Koncar. Ia menggunakan bahasa yang santun, tanpa menunjukkan kedudukannya sebagai perwira tinggi prajurit Majapahit. Tampaknya, prajurit pengawal itu terkesan dengan tutur kata Gajah Mada dan diam-diam menaruh simpati.
"Tunggulah di sini, hamba akan menyampaikan kedatangan Tuan kepada Adipati Menak Koncar," ujar prajurit itu, lalu melangkah menuju pendapa agung.
Gajah Mada dan Supo Mandagri tidak menunggu lama di depan gardu jaga. Tak lama kemudian, prajurit itu kembali. "Adipati Menak Koncar sangat senang mendengar kedatangan Tuan, juga seorang tamu yang saat ini bersamanya," kata prajurit tersebut.
"Adipati Menak Koncar sedang bersama seorang tamu?" tanya Gajah Mada.
"Tamu itu baru saja datang, hanya berselisih waktu sedikit dengan Tuan," jawab prajurit itu.
"Apakah kamu mengetahui dari mana asal tamu Adipati itu?" tanya Gajah Mada, merasa ingin tahu.
"Sewaktu melapor di gardu jaga ini, dia mengaku sebagai saudara ipar Adipati Menak Koncar yang berasal dari tempat yang cukup jauh di Balidwipa," jelas prajurit tersebut. "Mari kuantar Tuan ke pendapa agung agar segera dapat bertemu dengan Adipati Menak Koncar beserta tamunya."
Pikiran Gajah Mada dipenuhi pertanyaan tentang siapa gerangan tamu tersebut. Masih dengan tanda tanya di benak, ia dan Supo Mandagri mengikuti langkah prajurit pengawal menuju Pendapa Agung istana Kadipaten Lamajang.
"Kakang Putu Risang?" gumam Gajah Mada dalam hati. "Siapa lagi adik ipar Adipati Menak Koncar selain Kakang Putu Risang yang berasal dari Balidwipa?" Ia merasa tidak sabar dan ingin segera mendahului langkah prajurit pengawal itu. Sementara itu, Supo Mandagri yang tidak tahu apa yang dipikirkan sahabatnya terus mengiringi langkahnya.
Dugaan Gajah Mada benar. Saat mendekati panggung pendapa agung, melalui celah-celah pagar, ia melihat Adipati Menak Koncar tengah berbincang dengan seorang tamu yang sangat ia kenal: Putu Risang, guru pembimbingnya yang pertama kali memperkenalkan ilmu kanuragan.
"Mahesa Muksa, lekaslah naik ke panggung!" seru Adipati Menak Koncar menyapa Gajah Mada dengan nama kecilnya, melihat Gajah Mada berdiri tersenyum di bawah anak tangga pendapa. Supo Mandagri yang baru mengetahui kedekatan sahabatnya dengan Adipati mulai terkagum-kagum; ternyata sahabatnya itu memiliki banyak kenalan orang besar.
"Sungguh sebuah keberkahan tak terhingga, hari ini saya dipertemukan dengan Kakang Adipati Menak Koncar dan Kakang Putu Risang secara bersamaan," ujar Gajah Mada sembari menghaturkan hormat.
"Rangga Seta, perkenalkan dirimu kepada pamanmu itu," perintah Putu Risang kepada seorang anak lelaki berusia sekitar lima tahun.
"Jadi, aku sudah punya keponakan. Siapa namamu, Cah Ganteng?" sapa Gajah Mada kepada anak lelaki itu.
"Namaku Rangga Seta, siapakah nama Paman?" tanya anak itu dengan tutur kata yang lucu.
"Panggil aku Paman Gajah Mada," jawab Gajah Mada kepada putra Putu Risang tersebut. Tidak lupa, Gajah Mada pun memperkenalkan Supo Mandagri kepada Adipati Menak Koncar dan Putu Risang.
Adipati Menak Koncar kemudian mempersilakan Gajah Mada dan Supo Mandagri untuk membersihkan diri. "Aku akan menyiapkan pakaian pengganti untuk kalian berdua," ujarnya sambil tersenyum melihat pakaian mereka yang lusuh dan kotor.
Tak lama berselang, Gajah Mada dan Supo Mandagri kembali bergabung di pendapa agung yang sejuk diteduhi dua pohon beringin besar di halaman depannya.
"Kami berdua baru saja bermalam di Hutan Randu Agung," tutur Gajah Mada, menceritakan pertarungan mereka hingga menjadi tawanan dan pertemuan mereka dengan Ki Banyak Wedi.
"Pantas saja pakaian kalian sangat lusuh dan kotor," kata Adipati Menak Koncar setelah mendengar penuturan itu.
"Mereka bertiga sangat akrab sekali," batin Supo Mandagri.
Sebagai orang yang sudah cukup lama meninggalkan Kotaraja Majapahit, Putu Risang banyak bertanya mengenai perkembangan kotaraja tersebut. Sebagaimana diketahui, Putu Risang adalah salah satu orang yang ikut bersama para pendiri Kerajaan Majapahit dalam membangun pemukiman baru di Hutan Maja. Atas perintah Patih Mahesa Amping, ia sempat kembali ke Balidwipa untuk menggantikan kedudukan Empu Dangka yang telah meninggal dunia di Padepokan Pamecutan. Oleh karena itu, Putu Risang bersama istrinya, Endang Trinil—adik sepupu Adipati Menak Koncar—sudah lama meninggalkan Kotaraja Majapahit.
"Bagaimana perkembangan perkampungan besar di pinggir Hutan Maja itu?" tanya Putu Risang kepada muridnya.
"Perkampungan besar itu telah menjadi sebuah kotaraja yang sangat ramai, telah meluas hingga pinggir Sungai Kalimas," jawab Gajah Mada.
Setelah itu, giliran Putu Risang yang bercerita tentang kehidupannya sebagai pemimpin Padepokan Pamecutan di Balidwipa. "Mbokayumu, Endang Trinil, sangat kerasan tinggal di sana," ungkapnya.
Putu Risang juga menjelaskan alasan kedatangannya ke Kadipaten Lamajang. "Bermula dari keinginan mengajak Rangga Seta belajar mengembara hingga menyeberang ke Banyuwangi. Di sana, aku bertemu kawanmu, Adityawarman, yang mengatakan bahwa dirimu sedang dalam tugas bersama prajurit Majapahit di timur Jawadwipa, ditempatkan di sekitar Pasuruan dan Lamajang. Mendengar hal itu, aku mengembara hingga ke sini, berharap dapat menjumpaimu."
"Pantas saja, manakala keluar dari Hutan Randu Agung, tiba-tiba ada keinginan dalam hati untuk singgah di istana Kadipaten Lamajang ini," sahut Gajah Mada.
"Itu sebuah pertanda, panggraitamu sungguh sangat tajam, Mahesa Muksa," ucap Adipati Menak Koncar memanggil Gajah Mada dengan nama pemberian Patih Mahesa Amping kepada putra Nyi Nariratih itu.
Sementara itu, Supo Mandagri yang hanya berdiam diri menyimak percakapan mereka di pendapa agung mulai memahami mengapa ketiganya begitu dekat. "Ternyata mereka bertiga adalah orang-orang yang sangat dekat dengan Baginda Raja Sanggrama Wijaya, yang tinggal bersama sejak awal pembangunan Kerajaan Majapahit," batin Supo Mandagri.
Akhirnya, perbincangan beralih pada perkembangan tugas para prajurit Majapahit di timur Jawadwipa.