Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 169

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 169

"Mari kita memberi kesempatan kepada mereka," kata Ki Ajar Bendawa sambil melangkah menuju tempat kemarin, dekat sebuah semak belukar.

Melihat Ki Ajar Bendawa telah berjalan, Gajahmada dan Biksuni ikut menyingkir, meninggalkan Dyah Wiyat dan murid Ki Ajar Bendawa berdua saja di tanah datar, bak dua ayam jago yang siap bertempur. Melihat dirinya saat itu hanya berdua dengan pemuda tersebut, Dyah Wiyat langsung menarik garis wajahnya dan memasang wajah kecut.

"Aku datang untuk menebus kekalahanku kemarin," ujar pemuda itu kepada Dyah Wiyat.

"Terserah, mau menebus kekalahan atau mau kalah untuk kesekian kalinya, aku tidak peduli," balas Dyah Wiyat dengan sikap acuh tak acuh.

"Gadis keras kepala, aku akan menjadikanmu pelayanku," kata pemuda itu yang tampak telah bersiap diri.

Mendengar perkataan tersebut, Dyah Wiyat segera membuat ancang-ancang untuk menerima serangan. "Siapa yang sudi menjadi pelayanmu?" sergahnya.

"Menghadapimu, aku tidak akan pantang memukul seorang wanita," ujar pemuda itu yang langsung menyerang ke arah Dyah Wiyat.

Tidak seperti hari kemarin, tampaknya anak muda itu sudah mendapat pelajaran dari gurunya tentang cara menghadapi jurus-jurus perguruan Padepokan Bajra Seta yang tersohor dan disegani itu. Serangan pemuda itu mengarah langsung ke dada sang gadis. Sebagai seorang wanita, serangan tersebut dapat dianggap melecehkan, namun Dyah Wiyat tidak terpancing amarahnya. Dengan kewaspadaan tinggi dan terkendali, ia hanya perlu menggeser kaki kanannya sedikit dan menyorongkan badan untuk membuat serangan pemuda itu menemui ruang kosong. Seketika itu pula, Dyah Wiyat membalas dengan pukulan tangan kosong ke arah pinggang pemuda itu.

Terkejut menghadapi serangan yang tak terduga, pemuda itu melenting ke samping untuk menghindar. Namun, Dyah Wiyat seolah sudah membaca arah gerak lawan. Belum sempat pemuda itu berdiri sempurna, serangan kembali datang berupa tendangan keras yang meluncur serong ke arah pelipisnya. Itulah kehebatan serangan beruntun perguruan Padepokan Bajra Seta yang diciptakan untuk terus menekan ke mana pun musuh menghindar.

Pemuda itu ternyata sudah banyak mendapat pengarahan dari gurunya sehingga mampu mengimbangi jurus-jurus sang gadis. Jika kemarin ia hanya mampu membalas satu kali dari tiga serangan Dyah Wiyat, hari ini ia sudah mampu membalas satu lawan satu. Wajah Ki Ajar Bendawa pun tampak penuh senyum, merasa puas karena hasil pengarahannya diterapkan dengan baik. Sebagai ahli olah kanuragan, diam-diam Gajahmada mengagumi guru dari anak muda itu yang sangat cepat mempelajari kelemahan jurus-jurus Dyah Wiyat.

Sementara itu, air sungai di dekat arena pertempuran mulai terasa hangat. Sinar mentari pagi menembus celah dedaunan dan dahan pepohonan, menghujam tanah hutan seperti puluhan pedang.

"Kuat sekali daya tempur gadis ini," gumam Ki Ajar Bendawa dalam hati saat melihat muridnya belum juga unggul.

"Kemampuan mereka hanya terpaut tipis," nilai Gajahmada dalam hati.

"Lambat tapi pasti, gadis itu akan kewalahan," batin Ki Ajar Bendawa saat melihat muridnya mulai menerapkan siasat yang ia ajarkan.

Dyah Wiyat memang benar-benar tersudut. Segala gerak serangannya dapat dipatahkan oleh pemuda itu dengan serangan balasan yang tak terduga. Jika sebelumnya tiga kali serangan Dyah Wiyat dibalas satu kali, kini keadaannya terbalik; tiga kali serangan pemuda itu hanya bisa dibalas sekali oleh Dyah Wiyat.

"Jangan pernah menyepelekan perguruan Wengker," ujar Ki Ajar Bendawa dalam hati, penuh kegembiraan.

"Apakah Dyah Wiyat melupakan jurus-jurus barunya?" tanya Gajahmada dalam hati dengan perasaan berdebar melihat Dyah Wiyat terancam. Biksuni Andini pun merasa cemas melihat pertempuran itu. "Semalam Kakang Gajahmada mengajarkan jurus-jurus barunya, namun mengapa tidak diterapkan?" batin Biksuni Andini.

Dyah Wiyat ternyata tidak memunculkan jurus Adityakundala. Entah mengapa, ia merasakan kenyamanan dan debar kegembiraan yang aneh saat memandang wajah pemuda itu. Ia seolah tidak ingin mengakhiri pertandingan tersebut. Dyah Wiyat tidak menyadari bahwa debar perasaannya itu adalah debar cinta pertama. Gajahmada, yang telah mengenal gadis itu sejak kecil, mulai menyadari perubahan tersebut. Ia tersenyum kecil, menggelengkan kepala, lalu sebuah akal muncul di benaknya.

"Ki Ajar Bendawa, aku mohon maaf bila adikku nantinya mengecewakan kalian," kata Gajahmada dengan suara dikeraskan agar Dyah Wiyat mendengarnya.

"Aku belum mengerti maksud perkataanmu," sahut Ki Ajar Bendawa.

"Maksudku, adikku tidak akan bisa menjadi pelayan yang baik," lanjut Gajahmada.

"Sepertinya kamu yakin sekali bahwa adikmu akan dikalahkan oleh muridku," ujar Ki Ajar Bendawa.

"Itulah yang aku khawatirkan. Adikku kalah dan akan menjadi pelayan yang bodoh. Tidak pandai memasak, tidak pandai mencuci pakaian, dan tidak kuat mengerjakan pekerjaan berat," timpal Gajahmada.

Pancingan Gajahmada mengenai sasaran. "Cis! Aku tidak akan mau menjadi pelayanmu!" seru Dyah Wiyat sambil melompat mundur.

Ki Ajar Bendawa mengerutkan kening melihat Dyah Wiyat berdiri dengan kuda-kuda yang kokoh, seolah mencengkeram bumi. Ia memerhatikan gerakan Dyah Wiyat yang sangat rumit dan baru pertama kali dilihatnya. Pertempuran berubah drastis; Dyah Wiyat kini menguasai jalannya laga. Berkali-kali pemuda itu terperangkap dalam jebakan langkah-langkah ajaib Dyah Wiyat yang berputar bagaikan pusaran angin.

Dyah Wiyat merasa menyatu dengan langkahnya, merasakan dirinya seperti ombak yang didorong angin kencang atau elang perkasa yang mengarungi langit. Pemuda itu kini tampak seperti tikus besar yang mencari tempat bersembunyi, namun sambaran elang jauh lebih cepat. Dua tangan mungil Dyah Wiyat menghantam dada pemuda itu.

"Dess!"

Pemuda itu terlempar mundur dan terduduk sambil memegangi dadanya. Dyah Wiyat berdiri berkacak pinggang. "Mulai hari ini, kamu adalah pelayanku."

"Aku mengaku kalah, aku bersedia menjadi pelayanmu, tapi hanya untuk tiga hari," jawab pemuda itu.

"Apakah kamu tidak menanyakan siapa nama pelayan barumu itu?" tanya Gajahmada kepada Dyah Wiyat.

"Namaku Jaka Sesuruh," sahut pemuda itu sambil memandang Dyah Wiyat.

"Tundukkan wajahmu, begitulah cara pelayan berbicara kepada majikan," perintah Dyah Wiyat. Jaka Sesuruh berdiri dan menundukkan wajahnya.

"Mari ikut dengan kami, aku ingin menikmati masakanmu hari ini," ujar Dyah Wiyat.

"Maaf, apakah aku boleh ikut bersama kalian?" tanya Ki Ajar Bendawa.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment