Chapter 76
Di kegelapan langit malam, terlihat sebuah panah sandaran melesat membumbung tinggi. Tiga kali cahaya panah sandaran itu terlihat mengudara dengan jeda waktu yang terpisah.
Sebagaimana yang dilihat oleh Ki Demang Pasirian dan Ki Jagabaya, cahaya merah di kegelapan malam itu ternyata bersumber dari sebuah rumah yang tengah terbakar di Padukuhan Ngalor. Dalam cahaya terang, terlihat lima puluh orang dengan senjata terhunus seolah tengah gembira menyaksikan tontonan yang mengasyikkan. Mereka tertawa melihat para warga padukuhan berlarian menyelamatkan diri setelah mendengar ancaman bahwa seluruh Kademangan Pasirian akan dibumi-hanguskan.
"Kawan-kawan, bakarlah dua rumah sekaligus agar pesta kita menjadi lebih semarak lagi," perintah seorang yang nampaknya pemimpin gerombolan itu dari atas kudanya.
Terlihat tujuh orang dengan obor di tangan menuju ke arah dua rumah yang berdekatan dengan rumah yang sedang terbakar itu. Manakala rumah pertama terlihat sudah menyusut dan redup karena sebagian besar bahan kayunya telah habis dilalap api, dua rumah di dekatnya belum juga menunjukkan tanda-tanda mulai terbakar, bahkan masih terlihat utuh di kegelapan malam.
"Bajang Waseso, coba kamu lihat ada apa dengan mereka!" perintah sang pemimpin kepada salah seorang anak buahnya.
Bajang Waseso segera berlari menengok kawan-kawannya yang diperintahkan membakar dua rumah secara serentak. Sementara itu, cahaya api dari rumah pertama semakin meredup dan kegelapan malam kembali menyelimuti pandangan.
"Dasar orang-orang bodoh!" umpat sang pemimpin dengan jengkel karena anak buahnya belum ada yang muncul memberi kabar. Bagaimana ia tidak kesal? Tujuh orang yang diperintahkan membakar rumah tidak terlihat kembali, begitu pula dengan Bajang Waseso.
Baru saja mulutnya akan kembali meneriakkan umpatan kasar, tiba-tiba saja dalam kegelapan malam itu ia melihat banyak orang berdatangan mengepung dirinya dan anak buahnya.
"Apakah kalian mau cari penyakit dengan mendekatiku?" gertak pemimpin itu dengan suara keras.
Orang-orang yang mengepung para perusuh itu semakin mendekat. "Menyerahlah kalian, jumlah kami lebih banyak daripada kalian," ujar seorang pemuda yang berada di barisan terdepan. Pemuda itu adalah Gajah Mada.
Tampaknya Gajah Mada bersama para prajuritnya sengaja tidak memakai tanda keprajuritan. Gajah Mada bermaksud memberi kesan bahwa mereka adalah warga setempat agar para perusuh jera dan tidak berani lagi membuat onar di Kademangan Pasirian.
"Kalian para petani dan nelayan bodoh yang sudah bosan hidup!" ejek pimpinan perusuh itu dari atas kudanya.
"Kami bukan orang bodoh, kami datang untuk meringkus kalian semua," balas Gajah Mada sambil menggenggam arit yang biasa digunakan petani untuk membersihkan rumput liar.
Mendengar perkataan Gajah Mada, pimpinan perusuh itu murka. "Bunuh semua orang ini! Hari ini kita berpesta api dan darah!" teriaknya sambil mengangkat tinggi-tinggi golok panjangnya.
Seketika, para perusuh bergerak dengan senjata terhunus. Namun, para prajurit Majapahit yang menyertai Gajah Mada adalah orang-orang yang sangat terlatih. Mereka dapat menggunakan berbagai jenis peralatan, seperti pacul dan arit, sebagai senjata yang mematikan. Tidak lama berselang, kedua kubu pun terlibat dalam pertempuran sengit.
Para perusuh terkejut karena menyangka hanya menghadapi petani biasa. Mereka justru berhadapan dengan orang-orang yang sangat ahli dalam peperangan berkelompok. Dalam satu gebrakan saja, beberapa perusuh sudah dapat dilumpuhkan.
Pimpinan perusuh itu terpana melihat kemahiran lawan-lawannya. "Jangan heran melihat para petani dan nelayan itu, mereka sudah lama berlatih guna menghadapi orang-orang seperti kalian," ujar Gajah Mada.
"Kusumbat mulut sombongmu itu!" teriak pemimpin perusuh itu sambil meloncat dari kudanya. Ia berdiri dengan wajah beringas, seolah ingin melumat tubuh Gajah Mada. Gajah Mada hanya tersenyum sambil menggamit senjata arit di tangannya, tidak sedikit pun rasa takut terlihat di wajahnya.
"Sungguh berani kamu memilih lawan tanding seperti aku," ujar orang itu mencoba menakut-nakuti.
"Tidak perlu memiliki keberanian tinggi untuk menghadapi orang sepertimu," jawab Gajah Mada tenang.
"Ternyata kamu memang anak muda yang sombong. Aku, Jalakrumi, dikenal bertangan dingin dan tidak memiliki belas kasih kepada orang muda seperti dirimu!"
"Nama yang cukup bagus. Aku ingin melihat kemampuannya, jangan-jangan hanya sekelas tukang kepruk di pasar," tantang Gajah Mada.
Jalakrumi yang marah besar langsung menerjang dengan senjata terhunus, mengincar dada Gajah Mada. Namun, ia terkejut bukan main ketika serangan pertamanya dikalahkan dengan mudah oleh Gajah Mada.
"Gila!" teriak Jalakrumi tidak percaya. Gerakan Gajah Mada begitu cepat menghindar, disusul sebuah tendangan kilat ke arah pinggang Jalakrumi.
*Bukk!*
Jalakrumi terlempar dan berguling di tanah. Ia segera bangkit, menatap Gajah Mada dengan pandangan penuh kagum sekaligus amarah yang memuncak.
"Ternyata kemampuanmu cukup tinggi juga, anak muda," ujar Jalakrumi.
"Aku bahkan belum menunjukkan ilmuku yang sesungguhnya," sahut Gajah Mada.
Jalakrumi kini tidak lagi meremehkan lawannya. Ia menyerang dengan lebih keras dan waspada. *Tring!* Arit di tangan Gajah Mada beradu dengan golok Jalakrumi. Jalakrumi melompat mundur, merasakan telapak tangannya panas dan bergetar hebat.
"Tenagamu sungguh sangat kuat," gumam Jalakrumi tidak percaya.
Gajah Mada tetap tenang dan sengaja menahan diri agar Jalakrumi tidak berpaling mencari lawan lain. Sementara itu, di sekitar mereka, para prajurit Majapahit yang menyamar telah berhasil menguasai keadaan. Jumlah perusuh semakin menyusut tajam, dan perlawanan mereka tidak lagi berarti di hadapan para prajurit Majapahit tersebut.