Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 173

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 173

"Telah kupenjarakan hatiku, namun tidak mampu meredam asmara rindu ini," kata Biksuni Andini dalam hati, mencoba meredam perasaan jiwanya yang liar dan meradang oleh hasrat cinta yang membahana.

Sementara itu, bunga kamboja yang layu terhampar jatuh di tengah altar suci, membangunkan samadhi sang dara. Bunga kamboja layu itu diraihnya. Wajahnya terlihat sayu menatap beberapa bunga kamboja yang masih segar di dahannya, di bawah cahaya rembulan di kuil istana Kahuripan.

Genap empat puluh hari setelah pernikahan Dyah Wiyat dan Raden Kudamerta, keluarga istana Kahuripan bermaksud melaksanakan *boyong manten*, mengunjungi keluarga Raden Kudamerta di istana Wengker.

"Kita singgah di Daha," kata Ibunda Ratu Gayatri kepada Dyah Wiyat dan Raden Kudamerta. Seperti biasa, Ibunda Ratu Gayatri selalu mengajak murid terkasihnya, Biksuni Andini. Bukan main gembiranya hati Biksuni Andini mendengar kabar itu; ia akan ikut bersama keluarga istana Kahuripan berkunjung ke istana Wengker dan istana Daha. Sebuah perjalanan panjang mengantar kekasih pujaan hatinya di tempat tugas barunya sebagai seorang Patih di Daha.

Demikianlah, di pagi yang amat cerah, terlihat sebuah kereta kencana diiringi seratus prajurit berkuda keluar dari Kotaraja Kahuripan. Semilir angin pagi berembus perlahan, menyapu rambut seorang pemuda tanpa ikat kepala di atas punggung kudanya. Di sebelahnya, seorang wanita cantik berjubah biksuni dengan bibir yang seolah selalu tersenyum. Mereka berdua adalah Patih Gajah Mada dan Biksuni Andini yang selalu berjalan beriringan di belakang untuk mengawal kereta kencana yang berjalan perlahan.

Mentari pagi bersinar mengiringi langkah perjalanan mereka. Bunga-bunga ilalang yang tumbuh liar terbang tertiup angin dan jatuh jauh dari tempat mereka tumbuh. Tidak ada gangguan dan halangan apa pun dalam perjalanan rombongan keluarga istana itu, hingga ketika mentari di ujung senja rebah di tepi barat bumi, rombongan keluarga istana itu telah berada di sekitar daerah Kandangan, wilayah Kerajaan Daha.

"Nyimas Kanjeng Ratu pasti akan sering berkunjung ke Daha," kata Patih Gajah Mada kepada Biksuni Andini di depan perapian di perkemahan mereka.

"Aku berharap Putri Dyah Wiyat cepat punya momongan. Nyimas Kanjeng Ratu pasti akan lebih sering lagi mengunjungi istana Daha," sahut Biksuni Andini kepada Patih Gajah Mada.

"Seorang cucu di istana Kahuripan dan seorang cucu lainnya di istana Daha," kata Patih Gajah Mada sambil tersenyum.

"Dan kita akan menjadi ibu asuh dan ayah asuh bagi putra dan putri mereka," ujar Biksuni Andini sambil ikut tersenyum.

"Kita akan membimbing mereka menjadi para ksatria yang tangguh," kata Patih Gajah Mada sambil menatap lidah api perapian yang semakin besar tertiup angin malam.

Namun, tiba-tiba saja pendengaran Patih Gajah Mada yang terlatih menangkap sesuatu yang mencurigakan di sekitar perkemahan mereka. "Lindungi keluarga istana," perintah Patih Gajah Mada kepada Biksuni Andini.

Tanpa bertanya, Biksuni Andini segera bergegas kembali ke perkemahan keluarga istana, sementara Patih Gajah Mada mendekati beberapa prajurit yang sedang bertugas ronda malam itu. "Kabarkan kepada para prajurit untuk bersiaga, namun bersikaplah seperti tidak akan terjadi sesuatu," kata Patih Gajah Mada kepada salah seorang prajurit.

Manakala prajurit itu pergi menyampaikan pesan, pemuda itu menyapu pandangan ke sekeliling. "Hem," hanya suara itu yang keluar dari bibirnya saat melihat sesuatu yang mencurigakan dari balik semak belukar di kegelapan malam.

Pesan Patih Gajah Mada segera dilaksanakan oleh semua prajurit yang mengawal keluarga istana. Mereka langsung siaga dengan senjata di tangan, namun tidak mengubah suasana. Yang sedang berbaring tetap berbaring, yang sedang bersandar di batu besar tetap bersandar, namun jemari tangan mereka telah meraba gagang senjata masing-masing, memastikan senjata mereka masih melekat setia di pinggang.

Beruntunglah para prajurit itu telah bersiap siaga, karena tidak lama berselang, terdengar teriakan mengguntur di tengah kesunyian malam. "Serang!" teriakan itu berasal dari tempat yang begitu dekat di balik kegelapan.

Para prajurit pengawal keluarga istana dengan sigap melompat berdiri, menyusun barisan melindungi junjungan mereka. Ternyata, perintah menyerang itu berasal dari beberapa gerumbul semak belukar di sekitar perkemahan. Banyak kepala muncul dan langsung menerjang ke arah para prajurit. Jumlah penyerang begitu banyak, terlalu banyak untuk dihadapi oleh seratus prajurit pengawal, dan dengan cepat mereka mengepung perkemahan.

"Pertaruhkan diri kalian, jangan biarkan mereka menerobos masuk ke perkemahan!" seru Patih Gajah Mada sambil menerjang orang-orang yang mendekatinya. Tiga orang langsung terlempar terkena tendangan dan kibasan tangan Patih Gajah Mada. Ia tidak berhenti bergerak; tendangan dan kepalan tangannya berkali-kali merobohkan musuh di sekelilingnya.

Jumlah penyerang datang seperti air bah, merangsek pertahanan para prajurit. Seratus prajurit pengawal sepertinya tidak dapat membendung gelombang lawan yang berjumlah dua kali lipat. Beberapa pihak lawan terlihat sudah berhasil menerobos mendekati perkemahan keluarga istana.

Namun, nasib sial menimpa orang-orang yang berada terlalu dekat dengan perkemahan, karena mereka harus berhadapan dengan seorang biksuni cantik yang tanpa ragu merobohkan mereka. Ibunda Ratu Gayatri, yang memiliki kesaktian tinggi, juga ikut meringankan tangannya dengan merobohkan para penyerang menggunakan senjata tongkat andalannya. Melihat Ibunda Ratu bergerak, kedua pengantin baru, Dyah Wiyat dan Raden Kudamerta, langsung turun ke gelanggang melawan orang-orang tak dikenal itu.

Dyah Wiyat dan Raden Kudamerta seperti dua pasangan pengantin yang tangguh, bersama-sama merobohkan musuh mereka. "Mari kita berlomba," kata Dyah Wiyat kepada suaminya sambil menghitung setiap orang yang roboh di tangannya.

"Siapa takut berlomba dengan gadis keras kepala yang kutemui di hutan perburuan," balas Raden Kudamerta.

Sementara itu, Biksuni Andini dan Ibunda Ratu Gayatri, bagai dua wanita bersenjata tongkat kembar, membuat para penyerang jerih. Tongkat di tangan mereka seolah memiliki mata; tak seorang pun luput dari serangan mereka. Mereka berdua layaknya obor yang meruntuhkan laron di penggantian musim.

Di sisi lain, Gajah Mada telah melepas cambuk pendek senjata andalannya. Tali cambuk itu kadang berputar, kadang melecut dengan sangat cepat. Tali itu terkadang lembut gemulai, namun terkadang kaku keras seperti pedang panjang. Puluhan orang terlempar terkena kibasan cambuknya.

Namun, jumlah penyerang seolah tidak habis-habis, datang bagai ombak pantai yang tiada lelah.

"Tarr! Tarrr!"

Patih Gajah Mada terkejut saat mendengar suara cambuk membelah udara yang bukan berasal dari senjatanya. Pandangannya menangkap seorang lelaki tua dengan cambuk di tangan tidak jauh dari tempatnya berdiri. Hati Patih Gajah Mada tergetar melihat ujung cambuk lelaki tua itu melukai dada seorang prajurit. Luka menganga lebar di dada prajurit itu, disebabkan oleh ujung cambuk yang ternyata diikat dengan pisau kecil amat tajam, seperti taji ayam petarung.

Dua orang pihak lawan terlempar terkena tendangan Patih Gajah Mada yang menghalangi langkahnya mendekati lelaki tua bercambuk itu.

"Tarrr!"

Ujung cambuk Patih Gajah Mada berhasil menyentuh ujung cambuk lelaki tua itu yang nyaris mengenai seorang prajurit.

"Gila!" umpat lelaki tua itu saat melihat serangan cambuknya melenceng.

"Akulah lawan tandingmu, wahai orang tua," seru Patih Gajah Mada yang langsung menghadang.

Lelaki tua bercambuk itu memandang Patih Gajah Mada dari ujung kaki hingga kepala, matanya terpaku pada cambuk di tangan sang patih. "Ternyata kita punya senjata yang sama, wahai orang muda," kata lelaki tua itu dengan nada angkuh.

"Tapi aku tidak menambahkan cambukku dengan pisau kecil sebagaimana dirimu," kata Patih Gajah Mada sambil menatap ujung cambuk milik lelaki tua itu. Penciuman Patih Gajah Mada yang terlatih menangkap anyir racun yang kuat pada mata pisau kecil bermata dua itu.

"Mari kita bermain dengan cambuk kita," tantang lelaki tua itu sambil memutar cambuknya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment