Chapter 20
Ki Ajar Pelandongan adalah seorang lelaki yang panjang pikirannya, telah dapat mengukur tingkat kepandaian Andini yang telah dengan mudah menjatuhkan murid tunggalnya itu. Maka dari penilaian itu, dirinya dapat mengukur kemampuan Nyi Ajeng Nglirip. Juga berita tentang banyaknya orang sakti yang dapat dikalahkan oleh wanita itu ketika ingin merebut Mustika Batu Tuban yang konon memang telah dimiliki oleh Nyi Ajeng Nglirip.
"Maaf bila hari ini kami telah mengganggu ketenangan suasana di Padepokan ini, sementara orang yang kami curigai memang tidak ada di tempat ini," berkata Ki Ajar Pelandongan sambil memberi tanda agar muridnya itu tidak memperpanjang urusannya. Demikianlah, Ki Ajar Pelandongan dan orang-orangnya telah meninggalkan padepokan Nyi Ajeng Nglirip.
Namun sejak kejadian itu, Nyi Ajeng Nglirip telah berpesan kepada semua cantriknya agar berhati-hati dan meningkatkan kewaspadaannya karena telah merasakan hubungan antara Majapahit dan Tuban sudah mulai memanas. "Peperangan mungkin hanya berlangsung sepekan, namun penyakit hati kebenciannya dapat berlangsung bertahun-tahun," berkata Nyi Ajeng Nglirip dengan bercerita tentang kebencian orang Kediri kepada orang Tumapel ketika Ken Arok dapat menghancurkan Kotaraja Kediri dan mengambil alih kekuasaannya.
Sementara itu jauh dari Tanah Tuban di waktu yang sama terlihat Dyah Gajatri, Dyah Wiyat, dan Gajahmada tengah memasuki halaman pura Jayakatwang. Mereka melihat Jayakatwang dan Nyimas Turukbali telah berada di pendapa, nampaknya tengah menunggu mereka. "Kami merasa sepi bila kalian bertiga pergi lama," berkata Nyimas Turukbali kepada ketiganya yang telah terlihat manapaki anak tangga pendapa.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Nyimas Turukbali, kehadiran mereka bertiga memang selalu memberikan suasana keceriaan. Seperti halnya di sore itu manakala mereka telah berkumpul kembali bersama di atas panggung pendapa pura Jayakatwang. Ditengah perbincangan mereka, Dyah Gajatri membuka perbincangan baru, tentang kekhawatiran dirinya melihat perkembangan terakhir antara Majapahit dan Tuban. "Aku mengkhawatirkan keadaan ibunda di Tanah Tuban," berkata Dyah Gajatri.
"Sebenarnya, ketika kalian belum datang, kami berdua juga bercerita hal yang sama, mengkhawatirkan ibundamu di Tanah Tuban. Di perjalanan pulang, Kakang Gajahmada telah bersedia untuk datang ke Tanah Tuban melihat keadaan ibunda. Namun kami perlu membicarakannya dengan kakek dan nenek berdua," berkata Dyah Gajatri. "Justru kami juga telah membicarakan hal itu, ingin meminta Gajahmada agar datang ke Tanah Tuban kepada kalian, bukankah Gajahmada telah menjadi guru pembimbing bagi kalian?" berbalik bertanya Jayakatwang.
Mendengar perkataan Jayakatwang telah membuat mereka saling tertawa. "Tenyata kita punya pikiran yang sama," berkata Dyah Wiyat masih sambil tertawa. "Kamu salah, aku belum bertanya tentang kesediaan Gajahmada," berkata Jayakatwang. Sontak seketika itu juga semua mata tertuju kepada Gajahmada. "Keluarga disini adalah keluarga hamba pula, apa yang menjadi kekhawatiran keluarga ini, menjadi kekhawatiran hamba pula," berkata Gajahmada sambil menatap berkeliling membalas pandangan mereka.
Demikianlah, keesokan harinya setelah mendapat restu dari keluarga Jayakatwang, mendapat restu dari ibunda Nyi Nariratih di Kotaraja, terlihat Gajahmada telah keluar dari gerbang batas kotaraja Majapahit menuju arah Tanah Tuban. Sementara itu di Puri Kartika Pasanggrahan Baginda Raja Sanggrama, telah berkumpul tiga orang ksatria penjaga Majapahit. Mereka adalah Patih Mangkubumi, Patih Mahesa Amping, dan Rakyan Kebo Arema.
Mereka memang sudah tidak muda lagi, terutama Rakyan Kebo Arema saudara seperguruan Raja Kertanegara yang rambutnya sudah berwarna putih, namun masih terlihat gagah dengan tubuh yang masih terlihat tegap. Kehadiran Rakyan Kebo Arema dan Patih Kediri itu berkaitan dengan rencana keberangkatan prajurit Majapahit ke Tanah Tuban lewat jalur darat dan jalur laut. Para prajurit yang akan berangkat lewat jalur darat dipercayakan dibawah pimpinan Patih Mahesa Amping dimana hampir seluruh pasukannya itu memang didatangkan dari Kediri.
Sementara pasukan Majapahit yang akan berangkat lewat jalur laut adalah para prajurit armada laut yang selama ini bertugas mengamankan jalur perdagangan laut Majapahit. "Hamba mendalami hati dan perasaan Baginda Raja, memang sangat pahit bila yang kita hadapi kali ini adalah salah seorang dari sahabat masa lalu kita. Tapi dalam hal ini kita harus berlaku tegas, kita akan perlihatkan bahwa Majapahit tidak akan segan-segan bertindak keras kepada siapapun yang hendak menodai kedaulatan Majapahit Raya," berkata Rakyan Kebo Arema penuh semangat, seorang yang biasa berkata tegas dan sangat teguh pendiriannya.
"Peperangan memang sangat dekat dengan kekerasan, bahkan kendali kemanusiaan kita kadang terlepas tidak dapat membedakan lagi adab dan tata susila. Sejarah masa lalu akhir dari peperangan Ken Arok telah melahirkan kebencian yang sangat mendalam orang Kediri kepada orang Tumapel. Kita hanya berharap semoga peperangan ini tidak membuat kebencian orang Tuban kepada orang Majapahit," berkata Mahesa Amping dengan perkataan yang bersayap yang sebenarnya ditujukan kepada Rakyan Kebo Arema dan pasukan armada lautnya yang sangat ditakuti oleh para pembajak karena ketegasan mereka yang berlaku sangat keras menghukum para pembajak di lautan.
"Kita memang harus tegas, namun dalam batas martabat dan nilai-nilai kemanusiaan yang harus kita junjung tinggi. Kurestui keberangkatan pasukan kalian. Semoga kejayaan bumi Majapahit akan selalu berkibar di bumi ini," berkata Baginda Sanggrama Wijaya seperti mencoba menjadi penengah yang baik diantara kedua para ksatria penjaga Majapahit itu, Patih Mahesa Amping dan Rakyan Kebo Arema.
Demikianlah, setelah menyampaikan beberapa pesan dan amanat, para petinggi Majapahit itu pun terlihat telah keluar dari Puri Kartika pasanggrahan Baginda Raja Sanggrama. Patih Mahesa Amping dan Rakyan Kebo Arema pergi mengunjungi kesiapan pasukan mereka masing-masing. Perlahan waktu pun terus berlalu, mengisi kegelisahan hati para prajurit Majapahit yang malam itu akan berangkat ke Tanah Tuban.
Perlahan wajah senja tua pun semakin memudar suram di ujung pergantian waktu. Malam dipenuhi bintang gemintang. Gugus bintang Waluku bersinar di atas langit malam menjadi saksi bisu manakala sebuah jung besar Majapahit meninggalkan Tanah Ujung Galuh. Rakyan Kebo Arema, ksatria dari timur itu telah memimpin jung besar Majapahit membawa tiga ribu prajurit menuju Pantai Tuban.
Sementara itu, di waktu yang sama terlihat dua ribu prajurit telah keluar dari gerbang batas kotaraja. Patih Mahesa Amping sang ksatria penakluk Tanah Melayu yang dikenal dengan sebutan Manusia setengah dewa itu telah membawa pasukannya menuju Tanah Tuban, Tidak seperti biasanya mengiringi perjalanan sebuah pasukan besar dengan suara tabuhan bende dan genderang. Tidak ada suara apapun mengiringi keberangkatan pasukan besar itu, hanya suara gemuruh langkah kaki para prajurit yang terdengar seperti suara gempa menggetarkan bumi disekitarnya.
Mereka berjalan seperti sekumpulan hantu malam tanpa suara. Patih Mahesa Amping adalah seorang pahlawan Majapahit yang sangat cerdik, dirinya telah mengetahui bahwa para telik sandi musuh telah menyebar mematamatai kekuatan Majapahit. Itulah sebabnya dirinya telah memerintahkan pasukannya bergerak hanya di waktu malam tanpa bende dan genderang, tanpa suara apapun seperti sekumpulan hantu malam menjelajahi padang ilalang, mendaki perbukitan dan menyusuri lembah dan hutan di waktu malam.
Di waktu siang, Patih Mahesa Amping telah memerintahkan pasukannya untuk beristirahat di tempat-tempat yang jarang dilalui oleh orang biasa, ditempat-tempat yang sunyi dari keramaian. Hujan yang turun di waktu malam di bulan ketujuh di tahun itu tidak membuat surut para prajurit Majapahit, mereka terus melangkah mendekati daerah kekuasaan Kadipaten Tuban.
Di Malam ke dua mereka telah mendekati daerah Tuban, tidak jauh dari Hutan Jatirogo. Di ujung malam ke dua itu, Patih Mahesa Amping telah memerintahkan pasukannya untuk beristirahat. Sementara itu di ujung malam yang sama, sebuah jung besar Majapahit terlihat telah mendekati pantai pesisir Tuban. Tiga ribu pasukan Rakyan Kebo Arema seperti sekumpulan serigala malam tidak sabar untuk segera turun memenuhi Bandar pelabuhan Tuban.
"Kosongkan istana memasuki jebakan kita," memberi perintah kepada Kadipaten untuk segera Kadipaten. Kadipaten, mereka telah berkata Adipati Ranggalawe para prajurit penjaga istana pergi mengosongkan istana Namun ternyata Adipati Ranggalawe terlalu menganggap remeh para ksatria Majapahit yang sudah punya segudang siasat peperangan. Kali ini jebakan Adipati Ranggalawe sudah dapat dibaca oleh lawannya.
Pasukan armada laut Majapahit di bawah pimpinan Rakyan Kebo Arema itu ternyata tidak langsung menuju istana Kadipaten Tuban, tetapi mereka berbelok arah menuju pasar Kadipaten. Para perwira tinggi pasukan Tuban yang tengah bersembunyi di goa Abar yang tidak jauh dari pasar Kadipaten Tuban telah mendapat kabar tentang merapatnya sebuah jung besar Majapahit membawa sebuah pasukan besarnya.
Sesuai dengan rencana semula, mereka akan keluar di waktu malam kedua, mengganyang pasukan besar Majapahit yang telah menguasai istana Kadipaten. Namun bukan main terkejutnya para perwira tinggi itu manakala melihat sebuah pasukan besar telah mendekati goa persembunyiannya. Terang benderang cahaya obor menerangi muka goa Abar, pasukan Majapahit telah berada di muka gua Abar.
Maju menghadang musuh, atau mundur berkalang kubur, kata itulah yang ada dalam pikiran dan hati para prajurit Tuban. Maka pertempuran di muka goa Abar sudah tidak dapat dihindari lagi.