Chapter 57
"Sayangnya, sebuah kemapanan tidak ada yang langgeng di bumi ini," kata Supo Mandagri perlahan sambil memandang jauh ke depan ke arah gerumbul awan putih di langit yang terus bergerak berubah-ubah bentuk.
"Kamu benar, wahai saudaraku. Sebagaimana berlayar di lautan yang tenang dan teduh, di mana kita dapat memandang rembulan sepanjang malam. Namun, siapa sangka badai dan gemuruh datang dengan tiba-tiba. Yang kita pikirkan saat itu adalah bagaimana caranya agar tetap bertahan hidup dan sebuah keyakinan bahwa badai memang pasti akan berlalu," jawab Gajah Mada kepada Supo Mandagri.
Gajah Mada dan Supo Mandagri masih terlihat berkuda di atas jalan tanah yang keras. Di jalan sepi, mereka saling memacu kuda dan memperlambat laju saat memasuki jalan sebuah padukuhan. Semakin mendekati arah Kotaraja Majapahit, jarak antara satu padukuhan dengan padukuhan lainnya menjadi semakin rapat. Dua ekor kuda yang tegar bersama dua orang pemuda penunggangnya selalu menjadi perhatian orang-orang padukuhan, terutama para gadis yang terlihat saling mencuri pandang.
"Dua orang pangeran Majapahit mungkin baru pulang dari sebuah pengembaraan," kata seorang gadis berkulit hitam manis sambil mencubit kawannya. Nampaknya mereka baru pulang memetik buah dan sayuran di kebun.
"Apakah kamu berharap salah satu dari mereka akan menoleh ke belakang melihatmu dan segera turun menyapamu?" kata kawan gadis hitam manis itu.
"Aku berharap lebih dari itu," ujar gadis hitam manis itu sambil tersenyum kecil dan menutup mulutnya.
"Akan kulaporkan kepada tunanganmu, Kakang Sumandra," sahut kawannya sambil berlari dan tertawa. Mendengar ancaman penuh canda itu, gadis hitam manis tersebut langsung ikut berlari mengejar kawannya.
Sementara itu, Gajah Mada dan Supo Mandagri sudah jauh keluar dari padukuhan itu. Langit mulai teduh dalam tatapan sang surya yang mulai lelah rebah di barat bumi.
"Di balik perbukitan itu, kita akan sampai di Kademangan Maja," kata Gajah Mada sambil menunjuk sebuah perbukitan yang hijau namun tidak begitu tinggi.
Demikianlah, di bawah langit malam mereka telah menyusuri jalan yang melingkari perbukitan hijau. Mereka telah melewati beberapa padukuhan yang berbatas sawah dan ladang yang cukup luas.
"Kita telah memasuki Kademangan Maja," kata Gajah Mada kepada Supo Mandagri ketika langkah kaki kuda mereka memasuki jalan utama padukuhan.
"Nampaknya hampir semua orang sudah beristirahat di rumah masing-masing," kata Supo Mandagri saat melihat jalanan menjadi begitu lengang. Namun, di sebuah gardu ronda, mereka berdua melihat beberapa anak muda berkumpul.
"Berhenti!" perintah seorang pemuda yang berdiri di depan mereka, diikuti oleh empat kawannya. Gajah Mada segera turun dari kuda dan menghampiri mereka. Malam itu memang sudah gelap, namun ketika cahaya pelita di ujung gardu menerangi wajah Gajah Mada, raut wajah pemuda yang mencegatnya berubah seketika, tidak lagi garang.
"Maaf, kami tidak menduga ternyata Tuan yang lewat di jalan ini," ujar pemuda itu dengan penuh santun. Keempat kawannya pun ikut mengubah sikap menjadi begitu hormat. Ternyata, Gajah Mada sudah sangat dikenal oleh warga Kademangan Maja karena sering bertandang menemani Jayanegara sebelum menjadi Raja Muda di Kediri, terutama dalam melatih olah kanuragan bagi para pemuda setempat.
"Sejak kapan di kademangan ini ada aturan untuk mencegat orang yang berjalan malam?" tanya Gajah Mada sambil tersenyum kepada pemuda yang dikenal sebagai salah satu putra Ki Demang Maja itu.
"Pekan depan rencananya Ki Jagaraga akan melangsungkan pungut mantu. Namun, ada kabar bahwa seorang pemuda di kademangan seberang bukit ini merasa sakit hati dan telah membayar orang untuk membuat kerusuhan di Kademangan Maja," jelas putra Ki Demang Maja tersebut.
"Apakah perlu kami kirim tiga atau empat prajurit untuk membantu keamanan di sini?" tawar Gajah Mada.
"Terima kasih, mudah-mudahan pemuda di sini dapat menanggulanginya sendiri," jawab pemuda itu.
"Salam kepada ayahmu, aku belum sempat singgah," kata Gajah Mada sambil melompat ke atas punggung kudanya.
"Salam Tuan akan kami sampaikan," ujar anak muda itu sambil melambaikan tangan, diikuti keempat kawannya.
"Mereka mengenalmu dengan baik," ujar Supo Mandagri setelah mereka menjauh dari gardu ronda. Gajah Mada tidak langsung menjawab, ia hanya menoleh sebentar ke arah Supo Mandagri sambil melemparkan senyum tipis.
"Di depan kita adalah Hutan Maja, pembatas antara Kademangan Maja dengan Kotaraja Majapahit," jelas Gajah Mada. Di malam yang gelap, mereka menembus Hutan Maja yang masih tersisa di tengah pembangunan serta perluasan Kotaraja Majapahit yang terus berkembang.
"Selamat datang di Kotaraja Majapahit, wahai saudaraku," ucap Gajah Mada saat mereka mendekati gapura gerbang batas kotaraja.
"Kotaraja yang indah," puji Supo Mandagri sambil memandang perbukitan berundak di balik gerbang yang megah itu.
"Di atas puncak bukit itulah istana Majapahit berdiri," kata Gajah Mada sambil menunjuk bangunan pura yang elok dipandang mata.
"Pastilah seseorang yang mencintai keindahan yang memilih tempat ini sebagai kotaraja," kata Supo Mandagri sambil tak jemu memandang kerlap-kerlip pelita dari rumah penduduk yang mengelilingi istana di bawah cahaya bulan purnama.
"Konon Baginda Raja Sanggrama sendiri yang menemukan dan memilih tempat ini. Tahukah kamu siapa perancang hebat yang membangun Kotaraja Majapahit yang indah ini?" tanya Gajah Mada.
"Pastilah seorang pecinta seni yang berotak cemerlang," jawab Supo Mandagri.
"Kamu benar, orang itu adalah Ki Sandikala," ujar Gajah Mada.
"Ki Patih Mangkubumi?" tanya Supo Mandagri.
"Nama aslinya adalah Empu Nambi, putra Pranaraja keturunan Empu Bharada yang diamanatkan menyimpan keris pusaka Nagasasra sebagai wahyu kraton untuk diserahkan kepada pewarisnya, para putra Raja Erlangga," jelas Gajah Mada.
"Aku semakin tidak sabar untuk segera bertemu dan mengenal Ki Sandikala," ujar Supo Mandagri penuh semangat. Di bawah cahaya bulan purnama, dua anak muda yang telah mengangkat diri sebagai saudara itu melewati gerbang batas kotaraja.
Malam telah larut dan suasana kotaraja terlihat lengang. Akhirnya, kuda Gajah Mada dan Supo Mandagri sampai di puncak bukit, di gerbang pura istana Majapahit.
"Lama sekali kami tidak melihat kehadiran Tuan di istana ini," sapa tiga prajurit penjaga.
"Nampaknya Gajah Mada sangat dihormati di istana ini," batin Supo Mandagri sambil membiarkan prajurit penjaga mengambil alih tali kekang kudanya. Setelah bertutur sapa dengan prajurit, Gajah Mada berpamit diri untuk beristirahat di pasanggrahannya sendiri di dalam istana.
"Kalian pasti sudah sangat lelah menanggung beban tubuh tuan kalian selama perjalanan," ucap salah seorang prajurit kepada kuda yang dituntunnya. Sementara itu, Gajah Mada dan Supo Mandagri telah melangkah jauh menyusuri lorong-lorong istana.
"Hamba akan menyiapkan makanan dan minuman hangat untuk Tuan-Tuan," ujar pelayan tua di pasanggrahan Gajah Mada. Setelah bersih diri, pelayan itu kembali membawa makanan dan minuman hangat.
"Sebentar lagi fajar menyingsing, masih ada waktu untuk beristirahat sejenak," kata Gajah Mada.
Malam berada di penghujung pagi yang ditandai dengan sebaris warna merah mencuat di bentangan langit. Perlahan, cahaya merah merajai langit dari arah timur. Sayup-sayup suara ayam jantan terdengar dari kejauhan.
"Nampaknya kamu memang sudah terbiasa bangun pagi," kata Gajah Mada kepada Supo Mandagri yang sudah berada di serambi pasanggrahan.
"Kami memang terbiasa bangun pagi, apalagi bila banyak pesanan senjata. Kami senang bila dapat memuaskan hati para pelanggan," jawab Supo Mandagri.
"Pagi ini aku akan mengajakmu ke pasanggrahan Ki Patih Mangkubumi," ajak Gajah Mada. Mendengar nama Ki Patih Mangkubumi, wajah Supo Mandagri berseri-seri karena tidak sabar ingin segera bertemu. Saat cahaya pagi mulai merata, mereka pun segera beranjak menuju pasanggrahan Ki Patih Mangkubumi.