Chapter 134
Kegelisahan para prajurit Majapahit akhirnya terpecahkan bersama desir ribuan suara anak panah berapi yang datang dari arah depan mereka.
Serangan anak panah berapi yang datang dengan sangat tiba-tiba itu benar-benar membuat para prajurit Majapahit menjadi sangat panik. Ratusan orang tidak dapat menghindarinya lagi dan telah terluka terkena anak panah berapi.
Serangan anak panah yang membabi buta itu ternyata hanya sebuah permulaan. Kejutan-kejutan lainnya ternyata datang tidak kalah hebatnya, karena dalam selang waktu yang amat singkat setelah hujan anak panah berapi itu, terdengar suara riuh bergemuruh pasukan Empu Nambi yang muncul dengan sangat tiba-tiba dari arah kanan dan kiri pasukan Majapahit.
Di sinilah terlihat kecerdasan Empu Nambi sebagai seorang senapati perang yang sangat ulung, yang dapat memanfaatkan medan kegelapan hutan menjadi berpihak kepada pasukannya.
Ternyata setelah memerintahkan pasukannya untuk mematikan obor yang menyala, Empu Nambi memisahkan pasukannya ke dalam tiga kelompok besar. Satu kelompok diam di tempat sebagai pasukan pemanah, sementara dua kelompok lainnya bergerak bergeser ke kiri dan ke kanan perkemahan musuh.
Maka ratusan prajurit Majapahit telah menjadi korban, mulai dari terkena panah hingga menjadi sasaran pedang pasukan Empu Nambi yang datang dari arah kegelapan malam.
Luar biasa, dalam waktu yang amat singkat itu sepertiga pasukan Majapahit menyusut tajam, tidak mampu menahan gelombang serangan pasukan Empu Nambi yang datang dari tiga penjuru kegelapan malam.
"Jangan terpecah dari kelompok kalian!" teriak Tumenggung Jala Rananggana di tengah kepanikan para prajuritnya.
Ternyata teriakan Tumenggung Jala Rananggana telah menyadarkan prajuritnya. Mereka pun langsung bersatu padu menghadapi gelombang terjangan lawan-lawan mereka.
Sementara itu di sisi lainnya, Ikal-Ikalan Bang juga telah dapat membangkitkan kesadaran para prajuritnya untuk tidak panik dan menyatukan kelompok-kelompoknya kembali.
Namun kemenangan awal telah berpihak kepada pasukan Empu Nambi. Pasukan Majapahit yang telah menyusut tajam itu seolah tidak mampu lagi menahan arus gelombang serangan pasukan Empu Nambi yang menjepit dari tiga penjuru.
"Kita bertemu lagi, wahai Mahapatih Majapahit," kata Empu Nambi yang dapat menerobos medan pertempuran menemui Mahapatih Dyah Halayuda.
"Tidak perlu susah payah mencarimu, wahai pemberontak," balas Dyah Halayuda mencoba menutupi rasa gentarnya, mengingat dalam pertempuran sebelumnya ia mengakui tenaga lawannya yang sangat kuat seperti membentur gunung karang.
Ternyata Empu Nambi tidak dapat dikelabui dengan sebuah gertakan. Dirinya dapat membaca apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Dyah Halayuda.
"Panggil dua atau tiga orang perwiramu agar kamu dapat bersembunyi dari setiap seranganku," kata Empu Nambi sambil tersenyum memandang Dyah Halayuda.
Ternyata Dyah Halayuda berhati picik dan tidak punya rasa malu. Tiba-tiba saja ia telah bersuit panjang memanggil para perwiranya.
Tidak tanggung-tanggung, enam orang perwira telah datang siap membantunya.
"Di kegelapan malam ini tidak ada yang melihat dirimu, bersiaplah untuk mati!" kata Dyah Halayuda sambil memberi perintah kepada para perwiranya untuk langsung menerjang ke arah Empu Nambi.
Memang tidak seorang pun yang melihat keberadaan Empu Nambi. Semua orang tengah menghadapi lawan masing-masing dalam sebuah perang *brubuh* tanpa gelar perang di kegelapan malam di hutan Ledoktempuro.
Tapi Empu Nambi tidak surut menghadapi Dyah Halayuda dan para pembantunya itu. Dengan lincah dan gesit, ia melepaskan diri dari kepungan-kepungan mereka, bahkan beberapa kali dapat membalas dengan serangan yang cukup berbahaya.
Sementara itu, tidak terasa cahaya pagi sudah mulai merayapi hutan Ledoktempuro.
Mata para prajurit sudah mulai dapat melihat rerumputan hijau, batang-batang kayu, semak belukar, dan tentunya hingar-bingar suasana peperangan yang terlihat semakin nyata.
Namun kemenangan di serangan awal menjadi pertanda kemenangan-kemenangan berikutnya bagi pasukan Empu Nambi.
Terdengar untuk pertama kali suara sorak-sorai dari sebuah kelompok pasukan Empu Nambi yang telah dapat menundukkan kelompok lawannya.
Suara sorak-sorai itu benar-benar menciutkan hati dan perasaan para prajurit Majapahit.
Dan kembali suara sorak-sorai terdengar dari belahan lain. Suara sorak-sorai dari kelompok pasukan Empu Nambi benar-benar membuat hati dan perasaan pasukan Majapahit semakin menguncup.
Sementara itu, sorak-sorai kemenangan dari dua kelompok pasukan Empu Nambi itu telah menambah semangat pasukan Empu Nambi lainnya yang mendengar, seakan ingin secepatnya menyelesaikan pertempuran mereka dan berteriak bersorak-sorai sebagaimana kawan-kawan mereka.
"Tumenggung Jala Rananggana benar, pasukanmu akan habis binasa semuanya," kata Empu Nambi sambil tertawa mendengar salah seorang penghubung Dyah Halayuda yang membawa pesan dari Tumenggung Jala Rananggana untuk membawa pasukannya mundur.
"Aku akan mundur setelah dapat membunuhmu terlebih dahulu!" kata Dyah Halayuda sambil mengejar ke arah Empu Nambi yang tengah menghadapi dua orang perwiranya.
*Trang, trang!*
Sambil melompat menghindari serangan dua orang lawannya, Empu Nambi harus menangkis serangan trisula kembar di tangan Dyah Halayuda.
Seketika itu juga Dyah Halayuda merasakan dirinya terdorong dua langkah dan masih merasakan kepedihan di kedua telapak tangannya akibat benturan cakra Empu Nambi yang telah dilambari tenaga sakti sejati yang amat kuat.
Beruntung empat orang perwira Majapahit sudah datang menghadang dan menghalangi Empu Nambi yang melangkah mendekati Dyah Halayuda.
Namun Empu Nambi terlihat merasa ringan-ringan saja menghadapi keempat perwira itu, juga ketika dua orang perwira lainnya datang, bahkan ketika Dyah Halayuda sudah tegar kembali untuk ikut bergabung mengeroyok Empu Nambi.
"Lihatlah pasukanmu sudah semakin menyusut," kata Empu Nambi kepada Dyah Halayuda sambil bergerak menghindari dua orang penyerangnya.
Ternyata sambil menghadapi Dyah Halayuda dan para perwiranya, Empu Nambi masih sempat melihat secara keseluruhan suasana pertempuran di hutan Ledoktempuro itu.
Sebagaimana yang dilihat oleh Empu Nambi, pasukan Majapahit yang dijepit dari tiga penjuru itu memang semakin menyusut jumlahnya.
Nampaknya semangat pasukan Majapahit sudah terlihat semakin rapuh. Mungkin karena istirahat serta makan yang sangat terbatas benar-benar memengaruhi kesiapan lahir dan batin pasukan yang berada dalam kepemimpinan Mahapatih Dyah Halayuda itu.
Sementara itu, pasukan Empu Nambi seperti seekor ayam aduan yang garang baru keluar dari kurungan. Tandang pasukan Empu Nambi benar-benar menguasai semua garis pertempurannya.
Suasana pertempuran yang sudah terlihat pincang di pihak pasukan Majapahit itu telah membuat Tumenggung Jala Rananggana harus selalu berada di tengah-tengah kelompoknya guna memberikan arahan dan pengendalian, meski ia meyakini lambat laun pasukannya akan hancur binasa dalam kekalahan besar.
Namun dengan sangat gigih, Tumenggung Jala Rananggana selalu mendatangi kelompoknya yang dilihatnya mendapatkan tekanan pihak musuh.
"Cakramu benar-benar sangat mengerikan, wahai anak menantuku," kata Tumenggung Jala Rananggana kepada seorang lelaki dengan senjata cakra di tangannya yang sangat menggiriskan hati dan telah menjatuhkan begitu banyak korban di pihak pasukan Majapahit.
Ternyata lelaki bersenjata cakra yang dipanggil sebagai anak menantu oleh Tumenggung Jala Rananggana itu tidak lain adalah Adipati Menak Koncar.
"Ternyata Ananda hari ini telah salah menempatkan diri berada di pasukan ini," kata Adipati Menak Koncar sambil berdiri mematung penuh rasa kebimbangan.
"Anak menantu tidak salah berdiri, tapi peperangan inilah yang salah sehingga kita satu keluarga harus berdiri berseberangan," kata Tumenggung Jala Rananggana kepada Adipati Menak Koncar.
"Ananda merasa berat mengangkat cakra ini," kata Adipati Menak Koncar.
"Ayah mertuamu juga terasa berat mengangkat pedang ini, takut melukaimu," balas Tumenggung Jala Rananggana.
"Bila demikian, aku akan mencari lawan lain," kata Adipati Menak Koncar sambil melangkah menjauhi ayah mertuanya itu.
"Lindungi dirimu dari pedang musuh, wahai anak menantuku," kata Tumenggung Jala Rananggana sambil melompat ke garis pertempuran yang berlawanan arah dengan anak menantunya itu.
Dan tidak lama kemudian sorak-sorai terdengar dari pihak pasukan Empu Nambi, tepat dari arah Adipati Menak Koncar menempatkan dirinya.
Suara sorak-sorai pasukan Empu Nambi itu seolah merobek-robek hati dan perasaan Tumenggung Jala Rananggana. Mengiris-iris hatinya yang tengah diombang-ambingkan oleh gelombang kebimbangan antara kecintaannya kepada pasukannya dan kasih sayangnya kepada ayah dari dua orang cucu tercintanya, Adipati Menak Koncar.
Ingin rasanya Tumenggung Jala Rananggana langsung melompat membantu pasukannya yang tengah mendapatkan tekanan, tapi bersamaan dengan itu pula terbayang wajah dua orang cucu tercintanya yang seolah menahannya.
Sementara itu, Empu Nambi masih seperti bermain-main menghadapi Dyah Halayuda dan keenam perwira yang membantunya mengeroyok.
"Biarkan diriku seorang diri menghadapi mereka," kata Empu Nambi kepada setiap orang yang datang hendak membantunya.
Pandangan dan senyum Empu Nambi ternyata seperti sirep yang membuat siapa pun langsung menuruti permintaannya untuk mencari pertempuran lain.
"Lihatlah pasukanmu akan tergilas habis. Aku beri kesempatan pasukanmu mundur keluar dari pertempuran ini," kata Empu Nambi kepada Dyah Halayuda.
"Aku tidak akan mundur sebelum melihat bangkaimu!" seru Dyah Halayuda sambil menerjang bersama perwira pembantunya.
Namun dengan sigap dan lincah, Empu Nambi sudah begitu cepat berkelit menghindar dan langsung menerjang balik memberikan serangan balasan kepada salah seorang perwira.