Chapter 204
"Tumenggung Adityawarman tidak ingin cepat-cepat menyelesaikan pertempurannya," kata Patih Gajah Mada dalam hati.
Sementara itu, di mata para prajurit, pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru. Serang dan balas menyerang penuh ancaman yang sangat berbahaya terjadi.
Namun, ternyata ketajaman Patih Gajah Mada dalam menilai jalannya pertempuran itu akhirnya sedikit demi sedikit mulai terbukti.
Pertempuran terlihat sudah mulai timpang.
*Crattt!!!*
Darah memuncrat dari bahu kanan Kuda Jenar yang robek tergores cukup dalam.
Rasa pedih akibat luka di bahu itu membuat Kuda Jenar, tanpa disadarinya, melepaskan tongkat di tangan kanannya.
Tampaknya Tumenggung Adityawarman sudah benar-benar ingin menyudahi pertempuran tersebut. Terlihat dengan gerakan yang tak dapat diikuti oleh pandangan mata orang biasa, tiba-tiba saja kerisnya telah melekat di kulit leher Kuda Jenar.
"Menyerah atau keris ini merobek lehermu!" bentak Tumenggung Adityawarman kepada Kuda Jenar.
"Aku menyerah," kata Kuda Jenar dengan wajah pasrah, mengakui keunggulan Tumenggung Adityawarman.
"Bagus, aku akan mengampunimu. Namun, seluruh pasukanmu telah kuambil alih di bawah perintahku," kata Tumenggung Adityawarman kepada Kuda Jenar.
Patih Gajah Mada tampak menarik napas panjang. Pertumpahan darah sesama prajurit Majapahit telah dapat dihindarkan.
"Gusti Yang Maha Agung telah memberikan anugerah yang berlimpah kepada kita semua, sehingga kita semua dapat kembali tanpa luka, tanpa kehilangan saudara dan sahabat. Gusti Yang Maha Agung telah memberikan kemenangan untuk kita semua," kata Adipati Menak Koncar, ikut merasa gembira karena hari itu tidak terjadi peperangan apa pun di antara mereka.
"Atas nama pribadi, aku mengucapkan beribu terima kasih yang tak terhingga, terutama atas bantuan tenaga dari Perguruan Teratai Putih," kata Patih Gajah Mada kepada Adipati Menak Koncar.
Ucapan yang sama juga disampaikan oleh Patih Gajah Mada kepada Rangga Mahesa Dharma.
"Aku tidak akan melupakan kawan-kawan dari Padepokan Bajra Seta yang ikut berjasa menyelesaikan urusanku di wilayah tak bertuan ini," kata Patih Gajah Mada kepada Mahesa Dharma.
Sementara itu, matahari di Padang Lembah Dayang Muksa terlihat sudah mulai bergeser turun ke barat.
Perlahan, wajah Gunung Argopuro terlihat semakin buram manakala mentari bersembunyi di ujung barat bumi.
Semilir angin dingin berembus bersama rintik hujan lembah yang biasa turun menjelang malam, membasahi Padang Lembah Dayang Muksa.
Wajah-wajah para prajurit Majapahit tampak menatap gerimis dari dalam perkemahan mereka.
Adipati Menak Koncar telah menarik pasukannya dari Padang Lembah Dayang Muksa. Begitu pula dengan Mahesa Dharma yang sejak sore tadi telah berpamitan bersama para cantrik Padepokan Bajra Seta serta orang-orang dari Perguruan Teratai Putih.
"Apakah Ki Sahdatun tidak keberatan bila kuajak ke Kotaraja Majapahit?" tanya Patih Gajah Mada kepada Ki Sahdatun.
"Aku hanya seorang pengembara, tidak ada yang menungguku di suatu tempat," kata Ki Sahdatun sambil tersenyum.
Sementara itu, gerimis sudah reda di luar perkemahan. Rembulan purnama tampak mengapung di atas puncak Gunung Argapura, menambah keangkeran suasana di sekitarnya. Konon, seorang putri jelita bernama Putri Rengganis lenyap sirna bersama keenam dayangnya di tempat itu, seolah hilang tertelan bumi.
Suasana yang semakin malam dan dingin di Padang Lembah Dayang Muksa membuat sebagian prajurit Majapahit beristirahat di dalam gubuk-gubuk darurat mereka.
Sementara itu, sebagian lagi bersama para peronda duduk di depan perapian untuk menghangatkan diri dan mengisi waktu malam.
Hingga akhirnya, malam perlahan berpamitan manakala sang surya muncul dari balik punggung Gunung Argopuro yang perkasa, laksana seorang kesatria agung berperisai senjata cakra di punggungnya.
Perlahan, Padang Lembah Dayang Muksa mulai hangat disinari cahaya matahari pagi.
Embun pagi tampak jernih di ujung rumput-rumput liar dan di pelepah bunga berwarna-warni yang tumbuh tersebar.
Geliat para prajurit terlihat mulai bersiap diri untuk berangkat kembali ke Kotaraja Majapahit.
Demikianlah, ketika mentari pagi mulai meninggi, dua ribu prajurit Majapahit bergerak meninggalkan Padang Lembah Dayang Muksa.
Bagaikan ular naga raksasa, dua ribu prajurit itu bergerak menyusuri jalan yang kadang berliku, menurun, dan menanjak.
"Akhirnya kita telah menunaikan tugas di wilayah tak bertuan ini tanpa banyak korban," kata Patih Gajah Mada dari atas kudanya kepada Tumenggung Adityawarman.
"Jalan tidak selalu datar dan lurus, wahai Saudaraku," kata Tumenggung Adityawarman.
Demikianlah, tidak ada gangguan apa pun dalam perjalanan pulang para prajurit menuju Kotaraja Majapahit.
Selama perjalanan, Ki Sahdatun menceritakan kisah perjalanan hidup serta beberapa pengalaman pribadinya.
Ia menceritakan tentang sebuah agama yang mereka ketahui banyak dianut oleh para pedagang yang datang dari negeri yang amat jauh, sebuah negeri di timur bumi.
Kedua anak muda itu terpesona manakala mengetahui bahwa Ki Sahdatun ternyata sangat memahami ajaran agama yang mereka anut selama ini.
"Setiap manusia terlahir dengan tingkat kemampuan yang berbeda dalam pemahaman dan pengkajian untuk mengenal agama masing-masing. Itulah sebabnya para nabi, pendeta, dan brahmana menuturkan ajaran mereka dengan bahasa yang bersayap, agar semua orang dapat mengkajinya sesuai dengan tingkat pemahaman masing-masing. Sayangnya, banyak orang terjebak dalam kedangkalan pemahaman mereka sendiri," kata Ki Sahdatun di suatu tempat persinggahan pada suatu malam dalam perjalanan mereka.
"Apakah Ki Sahdatun dapat memberikan sebuah contoh?" tanya Tumenggung Adityawarman yang merasa sangat terkesan.
"Para brahmana mengajarkan tentang caturwarna agar umatnya menemukan jalan terang dalam pengembaraan batinnya. Sayang, sebagian umatnya banyak yang tersesat dengan mengastakan setiap manusia berdasarkan wujud lahiriahnya," kata Ki Sahdatun.
Patih Gajah Mada terkejut mendengar penuturan Ki Sahdatun. Sebagai orang yang banyak memahami kitab Tattwa lewat bimbingan langsung seorang pendeta agung sejak kecil, tentu saja Patih Gajah Mada merasa heran bahwa Ki Sahdatun memahami rahasia ajaran caturwarna yang sangat tinggi itu.
"Apakah agama Ki Sahdatun mengajarkan hal yang sama seperti ajaran caturwarna?" tanya Patih Gajah Mada yang ikut tertarik mendengar penuturan Ki Sahdatun mengenai caturwarna.
"Agama kami hanya menyempurnakan ajaran yang pernah ada di bumi ini. Sebagaimana pemahaman caturwarna tentang empat tahapan menuju kesucian diri, agama kami menyempurnakannya menjadi lima tahapan. Kami menyempurnakan pemahaman bahwa kesucian diri bukanlah akhir dari perjalanan kita, melainkan akhir dari perjalanan kita adalah bertemu dengan Pemilik Kesucian itu sendiri. Kekallah kamu berada di dalamnya selama-lamanya," kata Ki Sahdatun sambil memandang Patih Gajah Mada dan Tumenggung Adityawarman silih berganti dengan wajah penuh senyum.
Kedua anak muda itu tampak tercengang.
Sebagaimana diketahui, Patih Gajah Mada dan Tumenggung Adityawarman adalah penganut agama yang taat dan telah mencapai tingkat kerohanian yang tinggi. Dalam pemahaman mereka, tingkatan Brahmana adalah tingkat keempat sekaligus terakhir yang bisa dicapai oleh seorang rohaniwan.
Sementara itu, Ki Sahdatun menyampaikan bahwa ada tingkat kelima sebagai penyempurna.
"Adakah seseorang yang dapat mencapai tingkat yang melebihi tingkatan brahmana?" tanya keduanya bersamaan.
Berganti-ganti Ki Sahdatun menatap wajah keduanya sambil mengulum senyum.
"Untuk mencapainya, kalian harus terlebih dahulu mengenalnya. Dialah yang selalu merasa penuh dosa, merasa surga tidak layak untuknya, dan ikhlas masuk neraka selama ada rida dari Pemilik-Nya," kata Ki Sahdatun.
"Ajari kami untuk mengenalnya, wahai Orang Tua," kata keduanya lagi, kembali secara bersamaan.
"Aku tidak dapat mengajari kalian, aku juga tidak bisa menjadi guru bagi kalian. Sebab, Gusti Yang Maha Sempurna jua guru terbaik yang akan memilih siapa pun yang dikehendaki-Nya," kata Ki Sahdatun dengan wajah penuh kesungguhan hati.
"Tuntunlah kami agar dapat mengenalnya," kata Patih Gajah Mada.
"Baiklah, aku akan menjadi penuntun bagi kalian," kata Ki Sahdatun sambil memandang kedua anak muda itu.
"Dengan penuh kesungguhan hati, kami akan mengikuti jejakmu, wahai Orang Tua," kali ini Tumenggung Adityawarman yang berucap.
"Memang perlu kesungguhan hati untuk menekuni ilmu agama kami. Namun, sebagaimana kukatakan, agama kami datang sebagai penyempurna agama-agama terdahulu. Aku sangat yakin tidak akan sukar menuntun kalian menemukan jalan kesempurnaan itu," kata Ki Sahdatun.