Chapter 21
Suasana yang biasanya hening di muka Goa Abar mendadak berubah riuh oleh gemuruh peperangan, teriakan, dan denting senjata besi, tombak, serta pedang yang memenuhi udara. Julukan Rakyan Kebo Arema sebagai singa di medan perang ternyata bukanlah isapan jempol. Orang tua yang masih gagah itu benar-benar seperti singa besar yang merobohkan setiap lawan yang mendekat, bahkan sempat memimpin pasukannya. Seratus empat puluh tiga armada pasukan Rakyan Kebo Arema, yang biasanya menghadapi bajak laut, kali ini berhadapan dengan prajurit Tuban yang gagah berani.
Dari atas kudanya, Rakyan Kebo Arema memimpin pasukannya sekaligus sebagai "paruh gelar garuda Nglayang." Armada pasukannya seperti garuda besar yang merusak pertahanan dan kekuatan lawan. Sang fajar mulai menerangi muka Goa Abar, menyinari riuh gemuruh peperangan antara prajurit Majapahit dan prajurit Tuban. Korban mulai terlihat dari kedua kubu, darah berceceran memenuhi lapangan terbuka di muka Goa Abar, diiringi jerit dan rintih kesakitan mereka yang terluka.
Para prajurit armada laut Majapahit yang berpengalaman mulai berhasil mendesak lawan, mereka seperti raja elang laut perkasa yang mengancam mangsanya. Satu per satu prajurit Tuban berguguran, jumlah mereka terlihat semakin menyusut. Namun, semangat prajurit Tuban tidak surut sedikit pun, mereka seolah memilih hidup atau mati di medan perang sebagai pahlawan. Matahari mulai meninggi, tetapi pertempuran di mulut goa masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
Perlahan namun pasti, prajurit Majapahit berhasil menggeser prajurit Tuban masuk ke dalam goa. Prajurit Tuban lama bertahan di mulut goa, hingga membuat Rakyan Kebo Arema mulai tidak sabar. Ksatria dari timur itu turun dari kudanya, berjalan mendekati mulut goa. Beberapa prajurit Majapahit memberi jalan. Luar biasa, hanya dengan sebuah badik di tangan, puluhan prajurit Tuban di mulut goa seolah tersibak. Rakyan Kebo Arema terus menerobos lebih dalam.
Melihat pemimpin mereka membuka jalan, beberapa perwira tinggi prajurit Majapahit yang memiliki ilmu cukup tinggi ikut masuk di belakang Rakyan Kebo Arema. Perlahan namun pasti, prajurit Tuban terdorong masuk lebih dalam ke goa. Ternyata ruang di dalam goa lebih luas dari pintu masuknya, memungkinkan prajurit Majapahit masuk seluruhnya. Pertempuran pun berpindah tempat, dari luar goa menjadi di dalam goa. Getaran dan gemuruh peperangan seperti gema kematian yang menakutkan mengisi rongga-rongga dinding goa yang dipenuhi pertempuran di hampir setiap sisinya.
Kembali, pengalaman bertempur prajurit Majapahit terbukti dapat diandalkan. Dalam waktu singkat, jumlah prajurit Tuban langsung menyusut setengahnya. Korban tewas dan terluka semakin bertambah. Akhirnya, prajurit Tuban semakin terjepit, jumlah mereka menyusut tajam. "Mundur!!!" teriak salah seorang pemimpin prajurit Tuban. Teriakan itu menjadi perintah. Meski beberapa prajurit Tuban mampu bertahan dengan semangat baja, mereka sangat taat kepada atasan. Maka, terlihat prajurit Tuban mundur dengan saling melindungi.
Melihat musuh mundur, prajurit Majapahit terus mengejar. Namun, di sebuah lorong goa, prajurit Majapahit seperti kehilangan arah karena lorong itu bercabang banyak. "Tutup jalan keluar, kita cari mereka sampai dapat," kata Rakyan Kebo Arema, penasaran melihat prajurit Tuban seperti hilang ditelan bumi. Hampir seluruh ruang di lorong goa yang luas itu mereka masuki, tetapi tidak satu pun prajurit Tuban dapat mereka temui. Akhirnya, setelah lama mencari, mereka menemukan jawaban mengapa prajurit Tuban tidak ditemukan.
Ternyata di salah satu lorong, ada celah tersembunyi yang bermuara di tengah pasar Kadipaten. "Kita berhadapan dengan orang-orang cerdik," kata Rakyan Kebo Arema, mengakui kecerdikan prajurit Tuban yang berhasil lolos dari kepungan mereka. Sebagai orang yang berpengalaman, Rakyan Kebo Arema tidak ingin pasukannya terjebak di dalam goa yang cukup luas itu. Ia memerintahkan semua pasukannya keluar dari goa. "Persiapkan diri kalian, sekarang juga kita berangkat menuju istana Kadipaten," kata Rakyan Kebo Arema, melihat jumlah pasukannya hanya berkurang sedikit.
Demikianlah, tanpa mengindahkan kawan dan lawan yang terluka parah, pasukan itu berjalan beriringan menuju istana Kadipaten. Ternyata istana Kadipaten telah ditinggalkan penghuninya. Prajurit Majapahit mendapati istana itu kosong melompong. "Untuk sementara kita buat pertahanan di istana ini," kata Rakyan Kebo Arema, yakin bahwa istana Kadipaten memang sudah kosong tak berpenghuni lagi.
Senja perlahan memasuki bumi yang sepi di sepanjang jalan kota Kadipaten Tuban, yang kemarin terlihat ramai. Ternyata warga kota Tuban telah mengungsi menyelamatkan diri, pergi jauh ke tempat yang mereka anggap aman dari peperangan. "Kami tidak menemukan seorang pun warga kota, nampaknya mereka juga telah pergi mengosongkan kotanya," kata salah seorang prajurit yang baru kembali dari goa untuk membantu prajurit yang terluka tertinggal di Goa Abar. Ternyata naluri kemanusiaan prajurit Majapahit tersentuh. Mereka tidak hanya menolong kawan sendiri yang terluka, tetapi juga beberapa musuh mereka, prajurit Tuban, yang terlihat masih dapat tertolong untuk disembuhkan.
Begitulah suasana peperangan di mana pun adanya. Di tengah kancah peperangan, manusia seperti sekumpulan binatang bertaring. Setelah perang usai, mereka kembali dalam persaudaraan. Langit malam sepi menggayuti jalan-jalan kota Tuban tanpa cahaya pelita. Warga kota telah meninggalkan rumah mereka. Suasana terasa mencekam.
Tidak seperti suasana di dalam kota Tuban, suasana Bandar Pelabuhan Tuban terlihat seperti sedia kala, bahkan menjadi sangat ramai karena dipenuhi para pedagang yang merasa terjebak datang di saat terjadi perang di dalam kota. Dengan sangat terpaksa mereka bermalam di Bandar Pelabuhan Tuban untuk melihat dan mengikuti perkembangan selanjutnya. Namun, beberapa pedagang yang tidak ingin berpikir panjang dan takut terkena imbas peperangan telah langsung angkat kaki meninggalkan Bandar Pelabuhan Tuban.
Sementara itu, di keremangan gelap malam, terlihat seorang penunggang kuda berpacu menembus kegelapan. Penunggang kuda itu keluar dari jalan tanah, masuk ke sebuah hutan bambu yang cukup rimbun. Ternyata di balik hutan rimbun itu ada sekumpulan prajurit tengah beristirahat di sebuah tanah lapang yang dipenuhi tanaman perdu dan ilalang. "Kota Tuban telah dikuasai pasukan Majapahit," kata penunggang kuda itu, setelah turun dari kudanya, kepada seorang lelaki yang terlihat sangat tegap dan penuh wibawa.
Ternyata penunggang kuda itu adalah seorang petugas telik sandi yang sengaja diutus untuk mengamati keadaan Kota Tuban. Sementara lelaki berbadan tegap itu ternyata adalah Patih Mahesa Amping, yang tengah memimpin sebuah pasukan besarnya. "Mari kita melanjutkan perjalanan," kata Patih Mahesa Amping kepada seorang prajurit penghubung untuk menyampaikannya kepada pasukannya yang tengah beristirahat sejak siang tadi.
Sebagaimana perjalanan sebelumnya, Pasukan Patih Mahesa Amping selalu berjalan pada malam hari. Terlihat pasukan besar itu telah keluar dari hutan bambu, memasuki sebuah jalan tanah yang biasa digunakan oleh para pedagang untuk menuju Kota Tuban. Jalan itu memutar mengitari Hutan Jatirogo. Beberapa pasang mata ternyata mengamati gerak langkah pasukan Majapahit itu yang semakin menjauhi Hutan Jatirogo. "Kekuatan mereka tidak melebihi kekuatan kita," kata salah seorang di antara mereka sambil terus mengamati gerak pasukan Majapahit yang semakin menjauh.
"Nampaknya Majapahit telah memilih jalur darat menyerang Tuban. Sesuai rencana, kita akan menjepit pasukan itu di Kademangan Singgahan," kata seorang lainnya. "Mari kita melapor kepada pimpinan kita," kata seseorang lagi. Ternyata mereka adalah lima orang prajurit Sunginep yang tengah bertugas di luar Hutan Jatirogo. Terlihat mereka telah masuk lebih dalam lagi ke Hutan Jatirogo yang gelap pekat itu.
Rupanya semua telah diperhitungkan dengan sangat masak oleh Patih Mahesa Amping. Ia mengetahui bahwa pasti prajurit Sunginep telah memasang banyak mata di sekitar Hutan Jatirogo. Itulah sebabnya ia membawa pasukannya seperti akan meninggalkan Hutan Jatirogo untuk memberi kesan bahwa pasukannya memang tengah menuju Kota Tuban. "Perintahkan pasukan berhenti, kita menunggu saat fajar menyingsing untuk masuk ke dalam Hutan Jatirogo," kata Patih Mahesa Amping kepada seorang penghubungnya.
Tidak lama berselang, pasukan itu terlihat berhenti. Tanpa suara, mereka seperti bayangan hantu malam, bersiap diri menunggu saat fajar menyingsing.