Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 135

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 135

Ternyata perwira itu tidak siap dan lengah mendapatkan serangan yang tiba-tiba terarah kepadanya.

Prak!

Tempurung kaki kanan perwira itu terbentur cakra Empu Nambi yang meluncur begitu cepat. Perwira itu terlempar jatuh dan berguling-guling, merasakan sakit yang amat sangat pada bagian tulang tempurung kakinya yang remuk.

Ciut seketika perasaan Dyah Halayuda dan kelima perwira pembantunya melihat keampuhan serangan Empu Nambi yang sangat mendadak itu; benar-benar seperti terjangan batu karang di tanah curam yang meluncur tanpa mampu dihindari oleh siapa pun.

"Kalian tidak akan mampu menahan kerasnya cakraku ini, tetapi kalian juga tidak akan mampu menahan tiga ribu pasukan cadanganku yang datang dari arah belakangmu," ujar Empu Nambi sambil berdiri tegak.

Ternyata Empu Nambi tidak sekadar sesumbar. Dyah Halayuda, yang terlatih pendengarannya, telah mendengar suara sorak-sorai yang datang bukan dari arena pertempuran, melainkan dari arah belakang mereka meski masih sangat jauh.

"Kamu benar-benar licik, Empu Nambi," kata Dyah Halayuda dengan gemeretak gigi menahan amarah yang amat sangat.

Sementara itu, suara sorak-sorai dari kejauhan semakin santer terdengar, mendekat dan meruntuhkan semangat bertempur pasukan Majapahit.

"Dengar dan pasang telingamu, siapa yang datang," ucap Empu Nambi sambil tersenyum penuh percaya diri.

Suara sorai pasukan yang datang itu terdengar semakin jelas.

"Kami pasukan dari Blambangan, sisakan kami musuh!" demikian suara itu bergema, mendekati arah pertempuran.

"Pasti kamu sudah pernah mengenal pimpinan pasukan cadanganku itu; dialah Rangga Pamandana," ujar Empu Nambi masih dengan senyumnya.

Cahaya matahari terlihat berada di puncak cakrawala, pertanda panggilan untuk datang pasukan cadangan yang telah diatur oleh Empu Nambi demi membawa tenaga dan napas baru bagi pasukannya. Akhirnya, suara sorak-sorai pasukan cadangan yang dipimpin oleh Rangga Pamandana itu terdengar begitu jelas berputar-putar di antara batang-batang pepohonan dan mengisi seluruh arena pertempuran di Hutan Ledoktempuro.

"Kami pasukan dari Blambangan, sisakan kami musuh!" Sorak-sorai pasukan cadangan itu menciutkan hati setiap prajurit Majapahit.

Suara sorak-sorai itu berhenti, berganti menjadi suara gemuruh air bah yang tumpah membanjiri arena pertempuran dari arah belakang pasukan Majapahit. Pasukan yang baru datang itu memang seperti air bah, langsung meluluhlantakkan beberapa prajurit Majapahit yang berbalik badan menghadang mereka. Jiwa dan semangat prajurit Majapahit sudah semakin rapuh, berharap sebuah seruan mundur yang tak kunjung datang.

Di saat yang genting itu, tiba-tiba sepasukan prajurit yang dipimpin oleh Tumenggung Jala Rananggana datang dengan gelar perang Cakra Byuha, menerobos ke tengah-tengah pertempuran.

"Lupakan masalah harga dirimu, kuberi kesempatan pasukanmu mundur," kata Empu Nambi kepada Dyah Halayuda.

"Jangan sombong! Aku pasti datang kembali membawamu hidup atau mati," balas Dyah Halayuda yang langsung menerobos ke dalam lingkaran barisan cakranya.

"Maafkan bila aku lancang mengambil alih perintah untuk mundur," kata Tumenggung Jala Rananggana kepada Dyah Halayuda yang baru masuk bersama beberapa prajurit lainnya.

"Kali ini kamu benar," ujar Dyah Halayuda kepada Tumenggung Jala Rananggana.

Dalam waktu yang amat singkat, lingkaran cakra yang dipimpin oleh Tumenggung Jala Rananggana itu semakin membesar, menyerap seluruh prajurit Majapahit ke dalamnya. Gelar perang Cakra Byuha memang sebuah gelar pertahanan yang amat kuat; orang sakti manapun tidak akan berani mencoba-coba memasukinya. Setiap prajurit di tataran paling rendah pun tahu bahwa itulah gelar perang untuk menyelamatkan pasukan yang tersisa dari kehancuran.

"Biarkan mereka mundur," perintah Empu Nambi kepada pasukannya saat melihat lingkaran cakra pasukan Majapahit bergerak mundur ke arah utara Hutan Ledoktempuro.

Mendengar seruan itu, seluruh prajurit Lamajang membiarkan pasukan musuh bergerak menjauhi arena pertempuran. Akhirnya, pasukan Majapahit telah jauh terpisah, masuk ke arah utara Hutan Ledoktempuro, dan menghilang di kelebatan hutan rimba.

"Mereka pergi meninggalkan kawan-kawannya yang mati dan terluka," kata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.

"Kami akan segera memerintahkan sebagian pasukan untuk menolong mereka yang terluka," jawab Adipati Menak Koncar seolah paham makna perkataan ayahandanya.

Tidak lama berselang, beberapa orang turun menolong para korban peperangan. Tanpa melihat musuh atau kawan lagi, naluri kemanusiaan mulai hidup kembali di ujung pertempuran yang nyaris mengubah manusia menjadi sekelompok hewan buas yang saling menggeram, menunjukkan taring dan cakar untuk saling membunuh. Hanya itulah yang ada dalam pikiran setiap orang di medan pertempuran.

Sangkala terlihat redup bersembunyi di kelebatan hutan saat orang-orang memisahkan mayat korban pertempuran untuk dikebumikan di tempat terpisah. Mayat pasukan Majapahit dikebumikan di Hutan Ledoktempuro, sementara mayat prajurit Lamajang dibawa kembali ke kampung halaman masing-masing agar keluarga dapat melihat wajah saudara, anak, atau kekasih mereka untuk terakhir kalinya.

"Mari kita kembali ke Benteng Randu Agung," kata Empu Nambi kepada putranya.

Suara Adipati Menak Koncar mengguntur memberi aba-aba agar pasukannya bergerak. Suara itu bergema berputar-putar di antara batang-batang pohon Hutan Ledoktempuro. Iring-iringan pasukan Empu Nambi bergerak menerobos hutan seperti seekor ular naga raksasa yang meliuk-liuk di antara bebatuan dan pohon besar, semakin jauh meninggalkan sisa perkemahan yang hangus terbakar.

Keesokan harinya, berita tentang kemenangan pasukan Empu Nambi yang gilang-gemilang membuat gembira semua warga di bumi Lamajang. Mereka turun gunung kembali ke kampung halaman setelah beberapa hari hidup di tempat pengungsian. Namun, kepada penduduknya, Adipati Menak Koncar memberitahukan bahwa peperangan masih belum berakhir dan pasukan Majapahit akan datang kembali dalam jumlah yang lebih besar.

"Kapan pasukan Majapahit datang kembali belum dapat kita pastikan. Untuk sementara kalian dapat pulang ke rumah masing-masing, bercocok tanam atau beternak. Kami akan terus berjaga dan memantau keadaan. Hingga bila saatnya peperangan kembali terjadi, tidak akan membawa banyak korban, terutama bagi orang tua, wanita, dan anak-anak kita," kata Adipati Menak Koncar kepada para bebahunya.

Demikianlah, Adipati Menak Koncar dan pasukannya kembali ke Kadipaten Lamajang, sementara pasukan gabungan Empu Nambi dari berbagai daerah tetap berada di Benteng Randu Agung.

"Lumbung padi di benteng Randu Agung ini masih berlimpah. Sebagai cadangan, kuserahkan lahan persawahan yang luas milik kakek buyutku untuk digarap bersama," kata Kuda Anjampiani kepada Empu Nambi.

"Terima kasih, kamu sudah banyak berkorban untuk kami," jawab Empu Nambi.

"Kakekku selalu berkata bahwa hidup di dunia ini sangat singkat. Kita harus pandai memilih di mana seharusnya kita berpijak, dan aku merasa telah berpijak di tempat yang benar, berjuang bersama Empu Nambi," ujar Kuda Anjampiani.

"Kakekmu sangat benar, wahai Kuda Anjampiani. Hidup di dunia ini memang sangat singkat. Berbahagialah mereka yang banyak menabung kebajikan," kata Empu Nambi dengan wajah berseri-seri.

Sejak saat itu, Empu Nambi kembali menjadi seorang guru suci sebagaimana dahulu kala sebelum menjadi Patih Amangkubumi di istana Majapahit. Hampir setiap malam, Empu Nambi memberikan pencerahan lahir dan batin kepada pasukan gabungannya. Mereka menjadi kerasan tinggal di Benteng Randu Agung layaknya di sebuah padepokan; di siang hari bekerja di sawah ladang untuk mencukupi kehidupan, sementara di malam harinya mereka menggarap lahan akal budi, menyemai rasa dan makna hakikat hidup yang dirawat lewat siraman rohani oleh sang guru suci, Empu Nambi.

Sementara itu, pasukan Mahapatih Dyah Halayuda masih berada di Kademangan Japan menunggu bantuan dari Kotaraja Majapahit untuk mengganyang kembali bumi Lamajang. Kekalahan pasukan Majapahit membuat Raja Jayanagara merasa tercoreng citranya sebagai raja agung. Raja ingin membuktikan kebesaran Majapahit dengan menurunkan laskar yang lebih besar. Rencana penyerangan ke bumi Lamajang dilaksanakan lebih cermat dengan membangun jalur lumbung-lumbung persediaan pangan di beberapa tempat sepanjang perjalanan antara Kotaraja Majapahit menuju bumi Lamajang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment