Chapter 116
"Pertanyaanku yang kedua, atas dasar apa kamu ditugaskan membawaku dengan sukarela atau dengan paksa, hidup atau mati?" kata Empu Nambi kepada Rangga Umbaran.
"Ki Patih Amangkubumi harus bertanggung jawab atas kematian empat puluh orang prajurit Majapahit," jawab Rangga Umbaran, yang telah melupakan rasa sungkan dan kebimbangan hatinya.
"Rangga Pamandana, kamu ada bersamaku dari Kotaraja Majapahit hingga di Tanah Lamajang ini. Ceritakanlah apa yang kamu ketahui dalam perjalanan itu bersamaku," pinta Empu Nambi kepada seorang perwira tinggi yang selalu mendampinginya, Rangga Pamandana.
Rangga Pamandana langsung bercerita dengan saksama mengenai peristiwa penghadangan empat puluh orang prajurit di sekitar Kademangan Japan, yang didengarkan dengan saksama oleh Rangga Umbaran.
"Itulah cerita dariku tentang peristiwa yang sebenarnya terjadi di sekitar Kademangan Japan," kata Rangga Pamandana mengakhiri ceritanya.
"Rangga Umbaran, pendapa ini bukan Bale Yaksa, bukan tempat persaksian benar dan salah, tetapi setidaknya kamu telah mendengar peristiwa ini dari kami. Kembalilah kamu kepada pasukanmu. Besok pagi aku akan datang sendiri ke perbatasan kota Kadipaten," ujar Empu Nambi kepada Rangga Umbaran.
"Terima kasih, izinkan aku kembali ke pasukanku," kata Rangga Umbaran memohon pamit.
"Rangga Umbaran, aku bangga denganmu," kata Empu Nambi kepada Rangga Umbaran yang terlihat tengah menuruni anak tangga pendapa istana Kadipaten Lamajang.
Di ujung anak tangga terakhir, terlihat Rangga Umbaran berbalik badan.
"Mohon doa restu Ki Patih Amangkubumi," ucap Rangga Umbaran dengan penuh rasa hormat sambil merangkapkan kedua tangannya di depan dada.
Empu Nambi masih memandang punggung mantan prajurit bawahannya itu dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya, hingga Rangga Umbaran semakin menjauh menuju gerbang istana Kadipaten Lamajang.
"Ayahanda akan menyerahkan diri untuk dibawa ke Kotaraja Majapahit?" tanya Adipati Menak Koncar kepada Empu Nambi.
"Aku hanya mengatakan akan datang menemui pasukannya di perbatasan kota Kadipaten," jawab Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.
"Aku tidak akan membiarkan Ayahanda menghadapi tiga ribu prajurit Majapahit seorang diri. Aku akan membawa para prajurit pengawal Kadipaten Lamajang berdiri di sisi Ayahanda," kata Adipati Menak Koncar, seolah dapat membaca bahwa ayahnya tidak akan menyerahkan diri ke Kotaraja Majapahit untuk kesalahan yang tidak pernah diperbuatnya.
"Ki Patih Amangkubumi, hari ini aku telah melihat sendiri sebuah kebusukan, ketidakadilan, dan kesewenang-wenangan. Aku akan berada di sisi Ki Patih Amangkubumi meski harus melepaskan segala lencanaku sebagai seorang prajurit Majapahit," ujar Rangga Pamandana, berikrar berada di belakang Patih Amangkubumi.
"Wahai putraku, wahai Rangga Pamandana. Seorang ksatria utama adalah dia yang mau melepaskan segala lencana, pangkat, dan jabatannya, berani melawan arus, serta berani berseberangan demi menegakkan kebenaran dan panji keadilan. Sejarah adalah hakim keadilan paling jujur yang mencatat perjalanan setiap manusia; mencatat jiwa kepahlawanan, keculasan, serta sisi hitam dan putih setiap jiwa. Banggakanlah pada anak dan cucu kita bahwa leluhur mereka adalah para ksatria utama yang selalu membawa pedang di tangan kanan dan panji kebenaran di tangan kiri. Tali kekang kudanya adalah tali ikatan kendali suci yang bercahaya terang di dalam mata hatinya, yang akan membawanya berjalan lurus membelah pasukan angkara," tutur Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar dan Rangga Pamandana.
"Tutur Ki Patih Amangkubumi adalah pusaka yang akan kusimpan dan kujaga sebagai pusaka hati yang selalu menghadirkan keberanian di dalam jiwaku," kata Rangga Pamandana dengan penuh rasa hormat dan haru.
"Tutur Ayahanda menjadi pusakaku," tambah Adipati Menak Koncar penuh haru dan hormat.
"Mulai besok, aku bukan lagi seorang Mahapatih Kerajaan Majapahit. Aku hanya seorang manusia biasa yang tidak akan menyerahkan kepalaku sendiri. Mulai besok, aku akan mengikrarkan diriku berada berseberangan dengan penguasa angkara. Inilah amanat Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepadaku: menjaga bumi Majapahit ini meski dengan cara membasahi pedangku dengan darah putra mahkotanya, Raja Jayanagara," tegas Empu Nambi.
Hari itu masih di bulan kelima tahun Saka, candranya pancuran emas menyirami dunia. Beberapa orang lelaki yang sedang memperbaiki saluran air untuk sawah mereka berhenti bekerja manakala sebuah iring-iringan pasukan besar melintas di jalan utama menuju perbatasan kota Kadipaten Lamajang. Ternyata mereka adalah para prajurit pengawal Kadipaten Lamajang yang tengah mengiringi Empu Nambi menyongsong pasukan Majapahit. Di barisan terdepan, terlihat Empu Nambi di atas punggung kudanya diapit oleh Adipati Menak Koncar dan Rangga Pamandana.
Akhirnya, iring-iringan pasukan besar itu terlihat sudah mendekati gapura perbatasan kota Kadipaten Lamajang.
"Jumlah pasukan kita sepadan dengan jumlah mereka," kata Adipati Menak Koncar kepada ayahnya ketika mereka telah keluar dari perbatasan kota dan melihat pasukan prajurit Majapahit berjajar memenuhi padang ilalang yang cukup luas.
"Berhenti!" teriak Adipati Menak Koncar memberi perintah kepada pasukannya ketika jarak dengan pasukan prajurit Majapahit sekitar empat tombak.
"Aku akan berbicara dengan mereka," kata Empu Nambi yang telah melihat Rangga Umbaran dikawal oleh lima orang prajuritnya bergerak maju ke depan, berhenti di tengah-tengah dua pasukan itu.
Empu Nambi menghentakkan kakinya di perut kudanya memberi isyarat agar berjalan. Tidak sebagaimana Rangga Umbaran yang dikawal oleh lima orang prajuritnya, Empu Nambi hanya ditemani oleh Rangga Pamandana.
"Selamat berjumpa kembali, wahai Empu Nambi," sapa Rangga Umbaran.
"Aku datang sesuai dengan janjiku. Apakah kamu akan tetap melaksanakan tugasmu: membawaku dengan paksa atau sukarela, hidup atau mati?" tanya Empu Nambi dengan senyum penuh persahabatan.
"Di belakang Empu Nambi ada pasukan besar yang sebanding dengan jumlah pasukan yang kubawa," jawab Rangga Umbaran.
"Aku mengenalmu cukup lama, wahai Rangga Umbaran. Seandainya aku datang dengan jumlah dua kali lipat dari saat ini, pasti tidak akan mempengaruhi keberanianmu," kata Empu Nambi.
"Empu Nambi yang menghidupkan keberanian itu, menciptakan para prajurit pejuang di Kerajaan Majapahit ini. Dan setengah dari mereka saat ini ada bersamaku," ujar Rangga Umbaran.
Empu Nambi tersenyum pahit mendengar bahwa setengah dari prajurit itu adalah prajurit asuhannya sendiri. "Tak dapat kubayangkan menghadapi pedang mereka. Aku atau mereka yang terluka, rasanya sama-sama sangat menyakitkan hati."
"Tidak akan seperti yang Empu bayangkan," kata Rangga Umbaran tersenyum.
Sementara itu, para prajurit pengawal Kadipaten Lamajang terlihat begitu tegang. Telapak tangan mereka berkali-kali meraba gagang pedang masing-masing sambil membayangkan pertempuran akan segera terjadi di padang ilalang yang luas itu. Dada mereka berdebar kencang manakala melihat Rangga Umbaran mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Para prajurit pengawal Kadipaten, Adipati Menak Koncar, dan Empu Nambi mengira bahwa tindakan Rangga Umbaran adalah pertanda untuk memulai pertempuran.
Namun, persangkaan itu jauh dari kenyataan. Tidak ada gerakan apa pun dari para prajurit Majapahit. Mereka hanya mendengar suara lantang dari tengah-tengah pasukan.
"Wahai para prajurit yang pernah menghadapi pertempuran di hutan Simpang melawan Raja Jayakatwang, pantaskah pedang kalian ditujukan kepada Empu Nambi? Pantaskah kita masih berdiri berseberangan dengan Empu Nambi?"
Para prajurit pengawal Kadipaten, Adipati Menak Koncar, dan Empu Nambi melihat sekitar lima ratus orang prajurit Majapahit bergerak maju ke depan.
"Panji Anengah," gumam Empu Nambi dalam hati, mengenal prajurit terdepan di antara kelompok yang bergerak maju itu. Ia menarik napas panjang manakala para prajurit Majapahit itu terus bergerak memutar hingga berada tepat di belakangnya.
Kembali terdengar suara lantang di tengah-tengah pasukan Majapahit. "Wahai para mantan prajurit perang senyap yang pernah bersembunyi di sekitar hutan Gelang-gelang, pantaskah ujung pedang kalian ditujukan kepada Empu Nambi?"
"Panji Samara," kata Empu Nambi dalam hati.
Sebagaimana rombongan pertama, rombongan kedua juga bergerak dan memutar arah berada tepat di belakang Empu Nambi. Kembali terdengar suara lantang dari tengah-tengah pasukan Majapahit, "Wahai para prajurit utama, pembuka hutan Maja, pantaskah ujung pedang kalian ditujukan kepada Empu Nambi?"