Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 30

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 30

Gajahmada bersandar pada pagar bambu yang menjadi sekat pemisah antara bale panjang satu dengan lainnya. Di kegelapan malam, ia mendengar langkah kaki dua orang mendekati mereka. Ternyata, kawan si pengembara itulah yang langsung bergabung di bale panjang tersebut. Malam itu, langit tampak dipenuhi bintang, pertanda hujan tidak akan turun.

Diam-diam Gajahmada mencoba mencuri dengar percakapan dua orang yang baru datang itu dengan si lelaki pengembara, namun tidak sepatah kata pun terdengar. Mereka bertiga membisu, seolah tengah menyembunyikan sesuatu.

"Kakang Gajahmada tidak tidur semalaman," kata Dyah Gayatri yang terbangun pagi itu dan melihat Gajahmada masih bersandar di pagar bambu pembatas.

"Hamba tidur sambil bersandar," jawab Gajahmada seraya tersenyum.

Tak lama kemudian, Dyah Wiyat ikut terbangun. Matanya tampak menilik keadaan sekitar. "Di mana kita?" tanyanya yang kesadarannya belum pulih sepenuhnya.

"Kita berada di rumah singgah," sahut Gajahmada sambil tersenyum.

Akhirnya, ketiganya bergantian ke pakiwan untuk membersihkan diri dan berkemas guna melanjutkan perjalanan ke Tuban.

"Berhati-hatilah, wahai anak muda," bisik pemilik rumah singgah kepada Gajahmada saat ia berpamitan dan memberikan beberapa keping uang sebagai tanda terima kasih.

"Terima kasih, kami akan selalu berserah diri pada perlindungan Gusti Yang Maha Agung," ujar Gajahmada.

Setelah semua siap, rombongan yang memiliki tujuan searah itu berangkat menuju Kadipaten Tuban. Pagi itu begitu cerah; udara sejuk mengiringi perjalanan mereka. Gajahmada, Dyah Wiyat, dan Dyah Gayatri berjalan di barisan paling belakang. Sesekali Gajahmada memperhatikan langkah si pengembara dan kedua kawannya yang terasa ringan, lincah, dan teratur—pertanda bahwa ketiganya adalah orang-orang yang terlatih dalam olah kanuragan.

Rombongan akhirnya memasuki jalan lingkar di sekitar hutan Jatirogo. Pekikan binatang hutan sesekali terdengar, membuat suasana terasa mencekam bagi anggota rombongan. Namun, Gajahmada yang memiliki pendengaran sangat tajam dapat membedakan dengan jelas antara suara binatang hutan asli dan suara manusia yang menirukannya.

"Berhati-hatilah," bisik Gajahmada kepada Dyah Gayatri dan adiknya.

Suasana semakin tegang saat sekelompok burung beterbangan seolah terusik ketenangannya. Kekhawatiran Gajahmada terbukti; tak jauh dari sana, segerombolan orang tampak tengah menunggu.

"Jangan gentar, jumlah mereka masih sebanding dengan kita," ujar seorang pedagang dengan penuh percaya diri untuk menenangkan kawan-kawannya.

Rombongan pedagang itu tetap melangkah, dan jarak dengan orang-orang yang mencegat mereka pun kian dekat. Saat sudah berhadapan, terlihat jelas dari wajah mereka bahwa mereka berniat buruk.

"Para penyamun?" duga Gajahmada dalam hati.

"Berhenti! Serahkan semua barang kalian!" teriak salah seorang dari mereka.

Para pedagang pun menghentikan langkah.

"Kami tidak akan menyerahkan apa pun," tantang seorang pedagang yang pemberani.

"Kalian sepertinya belum mengenal kami. Di tempat asal kami, tidak ada seorang pun yang berani membantah perintah kami," gertak pemimpin penyamun itu.

"Itu hanya berlaku di tempat asalmu. Di sini, kami akan mempertaruhkan nyawa untuk mempertahankan milik kami!" balas pedagang itu dengan suara lantang.

"Lain lubuk lain ilalang. Baiklah, aku ingin melihat seberapa keras kepala kalian," ujar pemimpin penyamun sambil menghunus golok panjangnya, diikuti oleh semua anak buahnya.

"Kawan-kawan, keluarkan senjata kalian! Kita pertaruhkan barang milik kita demi harga diri!" seru sang pedagang menyemangati.

Seketika, para pedagang dan pengiringnya menghunus senjata masing-masing. Gajahmada melihat si pengembara mengeluarkan sepasang pisau kembar, begitu pula kedua kawannya yang menggunakan senjata serupa.

"Menepilah, ini urusan laki-laki," kata Gajahmada kepada Dyah Gayatri dan Dyah Wiyat.

Meski ingin ikut bertarung, Dyah Wiyat dan Dyah Gayatri tidak membantah dan segera menyingkir ke tempat aman. Namun, mereka mengerutkan kening saat melihat Gajahmada tidak menghunus senjata, melainkan memungut dahan kayu yang jatuh di dekatnya.

Kedua kelompok kini saling berhadapan. "Habisi orang-orang keras kepala ini!" perintah pemimpin penyamun.

Bentrokan pun pecah. Pedagang yang berani tadi membuktikan ucapannya; ia langsung merangsek maju memutar kerisnya, menyerang siapa saja yang mendekat. Semangatnya menular kepada kawan-kawannya yang juga memiliki dasar kanuragan. Mereka mulai bertempur melawan para penyamun yang ganas. Sementara itu, si pengembara dan kedua kawannya bergerak tangkas memainkan pisau kembar mereka, mendesak lawan dengan gerakan cekatan.

Pertempuran itu disaksikan dengan perasaan tegang oleh kedua gadis dari tempat persembunyian. Namun, Dyah Wiyat dan Dyah Gayatri tidak dapat menahan tawa saat melihat gaya bertarung Gajahmada. Pemuda itu tidak berkelahi secara normal, melainkan bersikap seperti orang bodoh yang asal pukul dan asal tangkis. Meski tampak sembarangan, serangan tongkat kayunya sangat efektif karena dialiri tenaga yang kuat. Lawannya jatuh bertumbangan tanpa bisa bangkit lagi, meski tidak sampai terbunuh. Bahkan, terkadang tubuhnya sengaja dibuat sempoyongan menabrak lawan hingga terpental.

Gaya bertarung Gajahmada menjadi hiburan tersendiri bagi Dyah Wiyat dan Dyah Gayatri, hingga rasa cemas mereka perlahan sirna. Mereka mulai menikmati tontonan tersebut sambil mengenali keanekaragaman jurus dari berbagai aliran kanuragan.

Lambat laun, jumlah penyamun menyusut tajam. Beberapa orang terkapar akibat pukulan ranting dan benturan tubuh Gajahmada. Di sisi lain, empat hingga lima penyamun tewas di tangan si pengembara dan kawan-kawannya. Para pedagang pun terus melawan dengan gagah berani, membuat para penyamun tidak lagi memandang mereka sebelah mata.

"Ternyata para pedagang di daerah Tuban ini tidak mudah digertak," gumam pemimpin penyamun dengan cemas melihat anak buahnya mulai bertumbangan.

Tiba-tiba, muncul seorang pria berbadan gempal dan berkepala botak yang tertawa terbahak-bahak. Tawa itu terdengar begitu menggelegar, pertanda ia memiliki tenaga dalam yang tinggi. Pertempuran seketika terhenti; kedua kelompok mundur dan waspada. Semua mata tertuju pada pendatang baru itu.

"Ki Gedonglegi, percayalah padaku," ujar orang itu kepada pemimpin penyamun.

"Apa yang bisa kupercaya dari seorang perampok tunggal sepertimu?" sahut Ki Gedonglegi kepada pendatang baru tersebut.

"Kita sama-sama perampok, bedanya aku beraksi sendirian, sementara kamu beramai-ramai," jawab orang itu sambil terkekeh.

"Ki Jengkar, jangan berbelit-belit! Cepat katakan apa maksudmu!" gertak Ki Gedonglegi tidak sabar.

"Baiklah. Ketahuilah bahwa kamu sedang diperdayai oleh tiga penyamun dari Gunung Raung," ujar Ki Jengkar sambil menunjuk ke arah si pengembara dan kedua kawannya. "Mereka akan membunuhmu dan anak buahmu setelah pertempuran ini usai."

Ki Gedonglegi dan para pedagang segera menoleh ke arah tiga orang yang dimaksud.

"Ternyata kecurigaanku terbukti," batin Gajahmada.

Si pengembara dan kedua kawannya pun mulai memisahkan diri dari rombongan pedagang.

"Tak menyangka, di tanah Tuban ini aku bisa bertemu dengan perampok tunggal dari hutan Lumajang," ujar si pengembara dengan ekspresi acuh tak acuh.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment