Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 156

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 156

Luar biasa memang daya serang Ki Demung Samaya, angin pukulannya menyambar-nyambar mendebarkan hati.

Terpaksa Gajahmada harus berkelit ke sana kemari tanpa dapat membalas menyerang.

"Semua orang boleh mengagumimu," kata Ki Demung Samaya sambil menerjang Gajahmada tanpa memberi celah sedikit pun.

Gerakan Ki Demung Samaya memang sangat gesit dan kuat, terutama kepalan tangannya yang dapat menghancurkan bebatuan besar yang terkena sambaran tangannya itu.

"Ternyata kemasyhuran namamu hanya bualan orang bodoh," kata Ki Demung Samaya sambil terus mendesak Gajahmada.

Terpaksa Gajahmada harus berkelit keluar dari sergapan Ki Demung Samaya yang amat cepat dan kuat itu, dan sebuah batu besar kembali hancur terhantam sambaran pukulan tangan Ki Demung Samaya yang amat kuat itu.

Melihat bahwa Gajahmada masih saja dapat berkelit, telah memaksa Ki Demung Samaya meningkatkan tataran ilmunya, meningkatkan kekuatan dan kecepatannya bergerak.

Namun, Gajahmada tetap saja dapat berkelit seperti seekor belut yang selalu lepas dari cengkeraman serangan Ki Demung Samaya yang sudah meningkatkan tataran ilmunya.

Ternyata Gajahmada diam-diam telah meningkatkan tataran ilmunya sebanding dengan daya serang Ki Demung Samaya yang terus meningkat.

Hingga akhirnya Ki Demung Samaya sudah langsung menerapkan puncak kemampuannya, angin pukulannya telah mampu membuat kering daun-daun belukar di sekelilingnya dan telah bergerak begitu cepat mengejar ke mana pun Gajahmada berkelit menghindarkan dirinya.

"Hanya seginikah saja kemampuan seorang pemimpin Pasukan Bhayangkara itu?" kata Ki Demung Samaya yang melihat Gajahmada tidak punya kesempatan sedikit pun untuk membalas serangannya.

Ternyata Ki Demung sudah terperangkap dalam jebakan Gajahmada yang sengaja berpura-pura tidak mampu membalas serangannya.

Apa yang dilakukan Gajahmada ternyata semata-mata ingin mengetahui puncak kemampuan tataran ilmu yang dimiliki oleh lawannya itu.

Dan akhirnya, setelah puas menghadapi serangan Ki Demung Samaya, Gajahmada sudah dapat melihat tingkat kemampuan lawannya yang tidak berkembang lagi, yaitu kecepatan dan kekuatannya.

Hingga dalam sebuah serangan, terlihat Gajahmada tidak berkelit seperti biasanya, namun berdiri tegap dengan membusungkan dadanya.

Terlihat kepalan tangan Ki Demung Samaya telah meluncur dengan sangat cepat dan kuatnya ke arah dada Gajahmada dengan angin pukulannya terdengar berdesing sarat dengan udara kematian yang begitu mencekam.

Ternyata diam-diam Gajahmada telah melapisi dirinya dengan ilmu kekebalan tubuh setingkat Ajian Lembu Sekilan tingkat tinggi untuk berjaga-jaga.

Bukk!

Kepalan tangan Ki Demung membentur dada Gajahmada.

Mata Ki Demung Samaya terbelalak tidak menduga bahwa Gajahmada tidak bergeming sedikit pun mendapat gempuran pukulannya yang amat kuat itu, yang setara dengan kekuatan seekor kerbau gila yang tengah mengamuk, yang bahkan dapat membunuh seekor harimau besar sekalipun.

Tetapi anak muda yang menjadi lawannya itu tidak bergeming sedikit pun, seperti tidak merasakan benturan pukulannya yang amat kuat di puncak tataran ilmunya itu.

Dan belum habis rasa terkejut di hati Ki Demung Samaya, tiba-tiba saja, dengan sangat cepat, dua tangan terbuka milik Gajahmada telah bergerak dengan amat cepat.

Dan, Plakk!

Dua tangan terbuka bagian dalam Gajahmada telah meluncur dari bawah ke atas menghentakkan dagu Ki Demung Samaya.

Luar biasa daya hentak pukulan Gajahmada telah dapat mengangkat sedikit tubuh Ki Demung Samaya.

Seketika seluruh pandangan mata Ki Demung Samaya gelap, yang langsung limbung terhempas jatuh di tanah dengan kepala terasa berat.

Terlihat darah keluar dari bibir Ki Demung Samaya yang berasal dari dua gigi depannya yang tanggal akibat benturan dua tangan Gajahmada yang amat kuat itu, yang ternyata hanya seperlima kekuatan yang dilepaskannya, dengan maksud agar tidak berakibat kematian lawannya.

"Apa yang dikatakan oleh banyak orang tentang dirimu, ternyata benar adanya," kata Ki Demung Samaya sambil mencoba bangkit berdiri, masih dengan kepala terasa amat berat dan pening.

Namun, belum sempat Ki Demung Samaya berdiri sempurna, dari arah belakangnya bermunculan begitu banyak orang yang ternyata adalah para prajurit Pasukan Ikal-Ikalan Bang.

"Dialah salah satu orang bercaping yang kemarin kita buntuti itu," kata salah seorang prajurit sambil menunjuk ke arah Gajahmada.

Terlihat Gajahmada tersenyum mendengar perkataan salah satu prajurit itu, merasa gembira telah membuat sebuah jejak palsu ketika pulang ke Kabuyutan Bebander beberapa hari yang lalu, yang ternyata diikuti oleh para prajurit Pasukan Ikal-Ikalan Bang itu.

"Banyak orang bercaping, pasti kalian salah melihat orang," kata Gajahmada sambil menaikkan sedikit caping lebarnya agar para prajurit itu dapat melihat bagian wajahnya lebih jelas lagi.

Terlihat keraguan di wajah beberapa prajurit yang mendengar perkataan Gajahmada.

Namun, salah seorang pemimpin mereka ternyata berpikir lain.

"Tangkap orang ini, salah atau benar urusan di belakang," kata pemimpin mereka memberi perintah.

Tidak perlu dua kali perintah, dua puluh orang prajurit sudah langsung mengepung Gajahmada.

"Aku hanya punya sebuah cambuk pendek para gembala," kata Gajahmada sambil melepas cambuk pendeknya yang tersembunyi dari balik pakaiannya.

"Serang!" kata pemimpin mereka sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Terlihat Gajahmada tidak bergeming sedikit pun dari tempatnya berdiri, seperti menunggu dua puluh prajurit itu datang mendekat.

Benar saja, begitu ujung pedang para prajurit itu sekitar dua jengkal dari tubuhnya, terlihat Gajahmada seperti terbang melompat tinggi, sementara ujung cambuknya berkelebat ke sana kemari menyentuh beberapa tubuh prajurit masih dalam keadaan di atas udara.

Beberapa kali sentuhan lembut ujung cambuk Gajahmada telah membuat beberapa prajurit langsung terlempar, yang membuat sebagian prajurit yang tengah menyerangnya itu merasa gentar.

"Banyak orang bercaping lebar di muka bumi ini, pasti kalian salah melihat orang," kata Gajahmada masih dengan caping di kepalanya menutupi sebagian wajahnya itu.

"Jangan dengarkan ocehannya, lekas tangkap orang ini," kata pemimpin prajurit itu sambil mengangkat tinggi-tinggi pedangnya.

Kembali terlihat para prajurit yang telah berkurang sepertiganya itu menyerang Gajahmada.

Seperti sebelumnya, Gajahmada tidak bergeming sedikit pun dari tempatnya berdiri, seperti hendak menunggu serangan para prajurit itu semakin mendekat.

Namun, kali ini mata Gajahmada yang sangat peka itu telah melihat gerakan Ki Demung Samaya yang diam-diam menyelinap bermaksud melarikan dirinya.

Di tengah serangan pedang para prajurit yang sudah semakin mendekat, hati dan perasaan Gajahmada hanya tertuju ke arah Ki Demung Samaya.

Gelegaaaarrr!

Hentakan cambuk Gajahmada terdengar seperti suara guntur memecah udara pagi itu, terasa menyesakkan dada setiap prajurit. Sesaat itu benar-benar sesaat yang sangat berarti bagi seorang Gajahmada untuk melesat terbang mengejar Ki Demung Samaya yang diam-diam meninggalkan tempat itu.

Dan ujung cambuk Gajahmada telah mendahului langkahnya dan bergerak dengan cara "sandal pancing".

Degg!

Hanya itu suara yang terdengar berasal dari ujung cambuk Gajahmada memecahkan udara.

Namun, suara cambuk yang terdengar sangat lembut itu dihentakkan dengan sebuah kekuatan puncak.

Akibatnya sungguh sangat luar biasa; meskipun ujung cambuk itu masih berada sekitar lima langkah dari punggung Ki Demung Samaya, namun, angin lecutannya telah berhasil menyambar tubuhnya.

Gajahmada masih berdiri mematung dengan ujung cambuk menyentuh bumi melihat akibat dari dahsyatnya hentakan ilmu puncaknya lewat ujung lecutan cambuk pendeknya.

Sungguh sebuah pemandangan yang sangat mengerikan, terlihat tubuh Ki Demung Samaya roboh dengan tubuh hangus terbakar.

Seluruh prajurit yang ada saat itu ikut menjadi saksi sebuah kedahsyatan ilmu yang dimiliki oleh orang bercaping itu, telah membuat perasaan gentar mereka sehingga tidak berani melangkah untuk melakukan serangan seperti sebelumnya.

Terlihat Gajahmada telah membalikkan tubuhnya menghadap para prajurit yang masih terpana di tempatnya berdiri.

"Banyak orang bercaping lebar di muka bumi ini, pastikan bahwa aku bukan orang yang kemarin kalian lihat," kata Gajahmada masih dengan caping lebarnya yang hampir menutupi sebagian wajahnya.

Para prajurit itu masih terpana dan mematung di tempatnya berdiri ketika melihat orang bercaping itu melesat terbang tak menjejakkan kakinya di tanah dan menghilang dari pandangan mata mereka.

"Tampaknya perkataan orang itu benar adanya, bukan pedagang tikar yang kita buntuti kemarin," kata salah satu prajurit.

"Aku juga berharap demikian, berharap orang itu bukan salah seorang pedagang tikar yang kita cari itu," kata pemimpin mereka.

"Mengapa Tuan berharap seperti itu?" kata salah satu dari para prajurit kepada pimpinannya itu.

"Apabila orang itu salah satu dari para pedagang tikar yang kita cari, artinya orang itu adalah musuh kita dan malapetaka bagi pihak kita, karena segelar sepapan pasukan pasti dapat digulungnya seorang diri," kata pemimpin para prajurit itu.

Dan Gajahmada, dengan kemampuan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah amat tinggi itu, telah berada di sebelah barat perbatasan Kotaraja Majapahit.

Mentari di hadapannya sudah menyebarkan cahayanya merata memenuhi hampir setiap sudut bumi.

Kali ini terlihat Gajahmada tidak langsung memasuki Kotaraja Majapahit, melainkan melingkar melewati beberapa padukuhan untuk menghindari pertemuan dengan para prajurit Pasukan Ikal-Ikalan Bang yang telah menguasai Kotaraja dan Istana Majapahit.

"Selamat datang, wahai ksatria bercaping bambu," kata seorang tukang rakit kepada Gajahmada yang sudah sangat dikenalnya itu.

"Bagaimana suasana penyeberangan akhir-akhir ini?" tanya Gajahmada kepada tukang rakit itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment