Chapter 75
Gajah Mada memimpin para prajurit yang berada di sekitar Pasuruan, Mahesa Semu memimpin pasukan yang berada di sekitar Banger, sementara itu Adityawarman dipercayakan memimpin pasukan yang berada di sekitar Banyuwangi.
Belahan Jawadwipa di sebelah timur itu memang masih banyak dipenuhi hutan dan pegunungan hijau yang telah membantu para prajurit Majapahit seperti menghilang, bersembunyi di kegelapan dan kelebatan hutan-hutan yang luas itu.
Tanpa menunggu waktu yang lama, para pemimpin pasukan di tiga tempat berbeda itu telah mulai melakukan berbagai persiapan, di antaranya mencoba mempelajari situasi medan masing-masing.
"Tanah Lamajang sungguh sangatlah luas, kita harus memahami jalur mana yang paling mudah untuk mencapai sebuah kademangan terdekat," berkata Gajah Mada kepada beberapa perwira yang menjadi bawahannya. "Bila dimungkinkan, kita dapat memecah kekuatan kita di berbagai tempat agar kita dapat bergerak cepat mencapai sebuah tempat kapan dan di mana pun," ujar Gajah Mada kembali.
Di tengah kesibukan para prajurit Majapahit yang tengah mempersiapkan diri di belahan timur Jawadwipa itu, ternyata dua orang putra Empu Nambi, Adipati Menak Koncar dan Adipati Menak Jingga, juga telah melakukan pergerakan lain. Mereka telah memerintahkan orang-orangnya untuk membuat pergudangan di Bandar Pelabuhan Banyuwangi, Banger, dan Pasuruan.
Mereka juga telah merintis jalur perdagangan baru di hampir setiap kademangan yang menjadi daerah wewenang masing-masing.
"Kuberharap kalian dapat memengaruhi orang-orang di kademangan kalian sendiri, jangan menukar barang dagangan kepada siapa pun," kata Adipati Menak Koncar suatu hari di hadapan para demang yang telah ditugaskan membuat jalur rintisan perdagangan baru di kademangannya masing-masing.
Demikianlah, perlahan tapi pasti, sebuah gerakan perlawanan sudah mulai terlihat menggeliat; para pribumi mulai terbuka mata hatinya untuk menjadi tuan di buminya sendiri. Namun, jalur perintisan baru perdagangan ini tidak semuanya berjalan mulus tanpa hambatan. Di beberapa kademangan di belahan timur Jawadwipa itu telah mendapatkan tekanan kuat berupa berbagai ancaman yang ditujukan kepada para demang, keluarganya, bahkan para warganya sendiri.
"Kakang tidak dapat lari dari kesulitan ini. Kakang harus dapat menghadapinya dengan dada terbuka, menghadapi ancaman mereka bersama para warga di sini," kata Nyi Demang Pasirian kepada suaminya di suatu malam.
"Akan banyak korban yang berjatuhan, itulah yang aku khawatirkan akan terjadi," kata Ki Demang Pasirian sambil menarik napas panjang. Wajahnya terlihat begitu berat menanggung kebimbangan.
"Bukankah junjungan kita, Adipati Menak Koncar, telah berjanji untuk berada di belakang kita?" kata Nyi Demang Pasirian merasa kasihan melihat kebimbangan sikap suaminya.
"Kamu benar, Nyimas. Kita minta perlindungan kepada junjungan Adipati Menak Koncar," kata Ki Demang Pasirian seolah menemukan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapinya.
Demikianlah, keesokan harinya Ki Demang Pasirian telah mengutus orangnya berangkat pagi-pagi sekali ke tempat kediaman Adipati Menak Koncar di Lamajang.
"Cepatlah kembali dan katakan kepada Ki Demang Pasirian bahwa kami akan segera mendatangkan para prajurit Majapahit untuk melindungi para warga di kademangan kalian," perintah Adipati Menak Koncar kepada utusan Ki Demang Pasirian.
Demikianlah, manakala utusan itu telah pergi kembali ke Kademangan Pasirian, segera Adipati Menak Koncar memanggil seorang prajurit Majapahit yang memang telah ditugaskan di kediaman Adipati Lamajang sebagai prajurit caraka yang dapat bergerak cepat menyampaikan berita penting ke induk pasukan Majapahit di tempat yang tersembunyi.
"Malam ini kita bergerak ke Kademangan Pasirian dengan seratus orang prajurit," kata Gajah Mada kepada salah seorang perwira prajurit Majapahit di hutan persembunyian mereka.
"Beberapa hari ini kamu telah cukup banyak berlatih, persiapkan dirimu untuk menghadapi kawan berlatih yang sesungguhnya," kata Gajah Mada kepada Supo Mandagri, sahabatnya yang ternyata ikut bersamanya bergabung dalam pasukannya di sekitar Lamajang.
"Terima kasih telah meningkatkan tataranku, mudah-mudahan aku tidak mengecewakanmu, sahabat," kata Supo Mandagri sambil tersenyum.
"Pegang erat-erat kerismu dan tataplah lawanmu dalam-dalam seakan kamu berkata akan melumatnya bulat-bulat," kata Gajah Mada kepada Supo Mandagri yang beberapa hari itu hampir di setiap kesempatan telah dilatih kemampuan kanuragannya. Gajah Mada meyakini bahwa tataran anak muda itu sesungguhnya telah berada setara dengan para perwira prajurit Majapahit.
Malam itu, seratus orang prajurit Majapahit bergerak menuju arah Kademangan Pasirian. Dalam perjalanan, mereka menghindari beberapa padukuhan agar kehadiran mereka tidak diketahui oleh siapa pun. Hingga akhirnya, manakala langit malam terlihat memudar kemerahan, mereka telah sampai di perbukitan karang di pesisir pantai laut selatan. Sebuah tempat yang tidak begitu jauh dari Kademangan Pasirian, tempat yang amat sunyi dan sangat tepat untuk persembunyian di siang hari bagi seratus prajurit Majapahit yang baru tiba itu.
"Pergilah kamu ke Kademangan Pasirian, kabarkan kepada Ki Demang Pasirian bahwa prajurit Majapahit sudah ada di sekitar kademangan," kata Gajah Mada kepada seorang prajuritnya sambil menyampaikan beberapa pesan lainnya.
Berangkatlah utusan Gajah Mada ke tempat kediaman Ki Demang Pasirian. Gembira hati Ki Demang Pasirian manakala utusan Gajah Mada itu menemuinya dan mengatakan bahwa prajurit Majapahit telah berada di sekitar Kademangan Pasirian.
"Lepaskan panah sendaren sebagai tanda bahaya manakala mengetahui para perusuh itu datang mengganggu ketenteraman warga kademangan ini," kata prajurit Majapahit itu kepada Ki Demang Pasirian. "Jangan katakan berita keberadaan kami kepada siapa pun karena kami yakin ada salah seorang warga di sini yang berpihak kepada mereka," tambahnya.
Demikianlah, pada hari itu para prajurit Majapahit terlihat bergantian berjaga menunggu pertanda bahaya dari Ki Demang Pasirian. Namun, hingga malam harinya mereka tidak melihat panah sendaren melintas di langit.
"Tetaplah kamu berada di ruang belakang dengan panah sendarenmu," kata Ki Demang Pasirian pada pagi harinya kepada putra sulungnya yang diperintahkan untuk selalu bersiaga melepas panah sendaren jika mendengar bunyi kentongan bahaya.
"Putramu akan tetap berjaga, wahai Ayahanda," kata putra sulungnya itu setelah sehari semalam tidak tidur. Manakala Ki Demang kembali ke ruang depan, terlihat anak muda itu duduk bersandar di sebatang pohon jambu air yang cukup lebat di belakang kediaman Ki Demang. Nampaknya putra sulung Ki Demang Pasirian itu adalah anak yang patuh, tidak sedikit pun ia membiarkan rasa kantuk menguasai dirinya. Meski matanya terlihat memerah, ia tetap tabah melawan kantuk.
"Aku membawakan ketela rebus dan minuman hangat untuk Kakang," kata seorang gadis kecil, adik bungsunya, menghampiri anak muda itu.
"Hari sudah mulai redup di ujung senja," berdesis Ki Demang Pasirian kepada orang kepercayaannya, Ki Jagaraga.
"Aku berharap semoga saja ancaman mereka hanya gertakan palsu sekadar membuat kita semua menjadi takut," kata Ki Jagaraga.
"Aku juga berharap seperti itu," kata Ki Demang Pasirian sambil memandang sawah ladang yang membatasi padukuhan. Kademangan Pasirian adalah daerah yang cukup subur yang terletak di pinggir pantai selatan Jawadwipa. Di samping sebagai petani, sebagian warganya juga sebagai nelayan yang banyak melaut di malam hari.
"Hari telah mulai menjelang malam," desis Ki Demang lagi melihat hari sudah mulai gelap menyelimuti sekitar Kademangan Pasirian.
"Apakah kita akan terus menyiagakan para prajurit pengawal kademangan di setiap padukuhan?" kata Ki Jagabaya kepada Ki Demang Pasirian, merasa yakin tidak akan terjadi apa-apa karena sudah hampir dua malam ancaman kerusuhan tidak terbukti.
"Kita lihat dua tiga hari ini," kata Ki Demang Pasirian ragu.
Sementara itu, malam mulai merayap; bulan sabit mengintip di langit gelap tanpa bintang. Suasana di Kademangan Pasirian terasa mencekam dan senyap.
"Lihatlah, ada cahaya merah di Padukuhan Ngalor," kata Ki Demang Pasirian sambil berdiri.
"Mereka telah membakar rumah warga," kata Ki Jagabaya sambil ikut berdiri melihat arah cahaya merah tersebut. Bersamaan dengan itu, terdengar suara kentongan bahaya kebakaran bersahut-sahutan dari beberapa padukuhan terdekat.
"Bunyikan kentongan!" perintah Ki Demang Pasirian kepada Ki Jagaraga.
Ki Jagabaya segera turun dari pendapa menuju gardu ronda di depan halaman rumah Ki Demang Pasirian. Nada titir yang panjang sebagai tanda bahaya kebakaran terdengar mengalun di kegelapan malam. Sementara itu di belakang rumah, putra sulung Ki Demang Pasirian tersentak bangkit, melupakan rasa kantuknya. Tanpa berpikir panjang, tangannya segera meraih panah sendaren yang tidak jauh dari tempatnya.