Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 144

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 144

Ki Sanepo tua dari persembunyiannya telah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana liciknya Mahapatih Dyah Halayuda membunuh Empu Nambi dalam keadaan tak berdaya, dengan kedua tangan terikat. Berkaca-kaca kedua mata Ki Sanepo melihat orang yang sangat dicintainya itu jatuh tertelungkup mencium tanah dengan darah tergenang.

Ada hal yang tak akan terlupakan oleh Ki Sanepo tua seumur hidupnya. Manakala gemuruh suara langkah kaki pasukan Empu Nambi keluar dari hutan Pronojiwo saat perang berkecamuk di Kademangan Pronojiwo, Ki Sanepo melihat sekumpulan burung belibis putih masih berterbangan rendah di sekitar kaki Gunung Semeru, berputar-putar di atas langit kademangan yang tengah dilanda peperangan itu.

Ki Sanepo tua juga melihat dengan mata kepalanya sendiri berkelebat dua bayangan putih seperti terbang turun ke tempat mayat Empu Nambi berada. Semua terlihat begitu cepat; mayat Empu Nambi tampak dibawa terbang oleh kedua bayangan putih itu, menghilang bersama sekumpulan burung belibis yang sebelumnya masih berputar-putar di langit.

Kepada semua orang di Kademangan Tempuro tempat para pengungsi sementara tinggal, Ki Sanepo tua menceritakan apa yang dilihatnya. Maka tersiarlah berita dari mulut ke mulut di antara para pengungsi bahwa mayat Empu Nambi telah dibawa terbang oleh burung belibis putih ke puncak Mahameru. Ketika beberapa prajurit diperintahkan untuk melihat keadaan para pengungsi di Kademangan Tempuro, cerita tentang mayat Empu Nambi sampai ke telinga mereka. Salah seorang prajurit langsung berangkat malam itu juga untuk menyampaikannya kepada Adipati Menak Koncar.

Hubungan batin antara seorang ayah dan putranya kadang begitu kuat. Di hati Adipati Menak Koncar sepertinya selalu terbesit keyakinan bahwa ayahanda tercintanya masih hidup, namun dirinya tidak mengetahui keberadaannya saat itu. Benarkah firasat itu? Ternyata di malam itu, terlihat dua orang pendeta berjubah putih terbang berkelebat mendaki Gunung Semeru. Salah seorang dari mereka tampak membawa mayat Empu Nambi.

Kesaktian kedua pendeta itu sungguh luar biasa; mereka melesat layaknya manusia setengah dewa dan berhenti di tepi Danau Ranu Pane. Salah seorang dari mereka membaringkan mayat Empu Nambi.

"Biarlah cerita tentang burung belibis putih menjadi cerita warga bumi Lamajang, bahwa Empu Nambi telah dibawa terbang ke puncak Mahameru," ucap salah seorang dari mereka sambil tersenyum.

Bulan sabit di atas Danau Ranu Pane menyinari wajah kedua pendeta itu; wajah keduanya terlihat bersih dan gagah layaknya raja-raja.

"Wahai Baginda, lihatlah luka di tubuh Empu Nambi sudah tertutup tanpa bekas," kata salah seorang pendeta kepada kawannya yang dipanggil "Baginda".

"Tak ada senjata yang dapat melukai seorang pemilik ajian Pancasona, juga tak ada senjata yang dapat membunuhnya," jawab sang Baginda sambil memandang wajah Empu Nambi yang tampak segar, layaknya orang yang tengah tertidur.

Kedua pendeta sakti itu saling berpandangan ketika melihat tanda-tanda kehidupan muncul pada diri Empu Nambi, mulai dari detak jantung yang kembali berdegup hingga suara napas yang keluar masuk dari lubang hidungnya. Keduanya menarik napas panjang saat memandang Empu Nambi yang perlahan membuka kelopak matanya.

"Duhai kedua saudaraku, apakah aku sudah berada di alam nirwana bertemu dengan kalian?" tanya Empu Nambi kepada dua orang yang nampaknya sangat ia kenal.

"Empu Nambi baru saja bermain dengan kematian," jawab salah seorang dari mereka.

"Aku baru ingat, sepasang trisula telah melukaiku," ujar Empu Nambi yang langsung bangkit duduk sembari meraba dadanya.

"Kami berdua telah membawa Empu Nambi ke Danau Ranu Pane ini," timpal pendeta lainnya.

"Aku iri dengan kehidupan kalian berdua, jauh dari kehidupan duniawi yang tidak pernah sepi dari masalah, kekisruhan, pergolakan, dan kecamuk," keluh Empu Nambi.

"Kami tidak pernah jauh dari kehidupan kalian, melihat kecamuk yang terjadi di bumi Majapahit dari pagar luar. Dengan cara seperti ini, kami dapat menilai siapa orang yang paling pantas mendapat restuku menjadi ksatria penjaga bumi Majapahit. Bukankah aku masih seorang Raja yang belum tergantikan?" ujar salah seorang pendeta itu dengan wajah penuh senyum dan cerah berseri.

"Ampuni hamba, wahai tuanku Baginda Raja Sanggrama Wijaya. Hamba telah memerangi putra tuanku," kata Empu Nambi kepada sosok yang ternyata tidak lain adalah Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

"Wahai saudaraku, Empu Nambi. Justru aku berterima kasih kepadamu. Apa yang kamu lakukan bersama pasukanmu adalah untuk melindungi bahtera kerajaanku dari badai prahara dan dari orang-orang yang salah berada di lingkungan istanaku," balas Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

"Apa yang hamba lakukan hanya sekadar mengurangi kekuatan yang mengancam istana saat ini," jawab Empu Nambi.

"Aku berharap gejolak badai prahara di Majapahit saat ini akan membuka mata hati putraku, Jayanagara, agar ia dapat melihat dan memilih siapa lawan yang harus diwaspadai serta siapa kawan yang harus dirangkul," kata Baginda Raja.

"Tumenggung Mahesa Semu, Gajah Mada, dan Adityawarman adalah ksatria yang selalu setia menjaga istana. Apakah hamba yang tua ini harus kembali ke istana?" tanya Empu Nambi.

Baginda Raja Sanggrama Wijaya tersenyum memandang Empu Nambi. "Aku tidak menyangsikan kesetiaan Empu Nambi. Kuyakini bahwa badai prahara di Majapahit akan segera reda manakala Empu Nambi menginjakkan kaki di istanaku," ucapnya sembari memandang jauh ke arah hutan cemara di dekat danau. "Namun, alur peralihan kekuasaan akan mandul. Putraku tidak akan tumbuh dewasa karena tidak ada tantangan untuk menjaga dan memelihara singgasananya sendiri."

"Kita telah membangun bahtera besar Majapahit sebagaimana amanat leluhur yang terukir indah di dinding Candi Borobudur. Kita membangunnya jauh lebih besar dari yang diangankan Raja Erlangga muda di atas Gunung Penanggungan, jauh melampaui mimpi-mimpi para raja Singasari. Hari ini kita berdiri di dermaga karya, memandang orang-orang muda membawa bahtera besar Majapahit melayari lautan lebih jauh. Biarlah mereka mengenal waktu yang tepat untuk mengembangkan layar, mengenal angin yang bersahabat, serta mengerti amuk badai prahara di lautan lepas. Restu kita adalah doa bagi mereka untuk mengarungi sejarah emas masa depan mereka sendiri," ujar pendeta sakti lainnya, Patih Mahesa Amping, yang tampak masih gagah dengan sinar mata teduh layaknya brahmana suci yang telah menemukan puncak kedamaian hakikat diri.

"Saudaraku, Empu Nambi. Besok pagi kita akan melihat begitu banyak burung belibis putih bermain dan berenang di danau ini. Entah sejak kapan mereka tinggal di kawasan ini secara turun-temurun, namun aku yakin leluhur mereka adalah para pengembara yang telah melihat dunia dan akhirnya menetap di lereng Gunung Semeru ini. Seperti itulah akhir dari pengembaraan hakikat hidup kita: menemukan nirwana alam keabadian di ujung pengembaraan," ucap Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

"Malam ini dua saudaraku sepertinya tengah menunjukkan kepadaku sebuah tempat yang sangat indah dan bermaksud agar aku menempatinya," kata Empu Nambi, seolah mampu membaca makna perkataan kedua sahabatnya yang telah lama mengasingkan diri sebagai pertapa suci.

"Seorang saudara yang baik akan selalu teringat kepada saudaranya ketika berada di tempat yang sangat indah dengan satu kalimat: duhai, seandainya saudaraku ada di sini," ujar Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

"Sebagaimana leluhur burung belibis putih di Danau Ranu Pane ini, lereng Gunung Semeru tampaknya menjadi ujung pengembaraanku. Aku akan mengisi hari tua di sini sebagai seorang pujangga yang mengukir di atas daun rontal, memahat sejarah panjang perjalanan para ksatria penjaga Majapahit," kata Empu Nambi.

Malam itu, Empu Nambi memutuskan untuk hidup mengasingkan diri di lereng Gunung Semeru. Selama beberapa hari, kedua sahabatnya membantu Empu Nambi membangun sebuah gubuk sederhana dan menemani serta bertukar pikiran tentang pengembaraan batin, memaknai hakikat hidup, serta jalan menuju alam keabadian untuk bersatu dengan Yang Maha Tunggal; sebagai semesta, sebagai hamba, sebagai ada dalam ketiadaan-Nya, dan sebagai tiada di dalam keberadaan-Nya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment