Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 77

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 77

Berpikir seperti itu telah mengubah gerak serangan Gajahmada yang tidak hanya sekadar melayani Jalakrumi, tetapi sudah mengarah untuk segera menundukkannya.

Bukan main kagetnya atas perubahan yang tiba-tiba itu.

Jalakrumi, sebagai seorang yang punya banyak pengalaman bertempur, baru kali ini merasakan tekanan serangan yang begitu kuat. Jalakrumi telah dapat menduga bahwa anak muda yang menjadi lawannya itu telah menunjukkan kemampuan yang sebenarnya. Keringat bercucuran membasahi tubuh Jalakrumi yang terus menghindar tanpa dapat membalas serangan Gajahmada yang hanya menggunakan senjata seorang petani biasa, yakni sebuah arit pemotong rumput.

Trang!

Sebuah benturan senjata tidak bisa dihindari lagi, golok panjang Jalakrumi terlihat terlempar jatuh ke tanah.

"Gila kekuatan anak muda ini," kata Jalakrumi dalam hati sambil merasakan telapak tangannya yang masih bergetar panas.

Namun, belum lagi reda rasa panas telapak tangannya dan rasa terkejutnya itu, entah dengan cara apa anak muda di hadapannya telah bergerak dengan sangat cepat, hingga tak mampu diikuti oleh mata kasatnya.

"Menyerah atau kukutungi lehermu," kata Gajahmada dengan suara seperti berbisik di telinga Jalakrumi.

Bergidik seluruh tubuh Jalakrumi merasakan dinginnya besi tajam melingkari lehernya.

"Aku menyerah," kata Jalakrumi tanpa berpikir panjang lagi.

Terlihat Gajahmada memanggil salah seorang prajuritnya untuk mengikat kedua tangan Jalakrumi. Sementara itu, pertempuran para perusuh dengan prajurit Majapahit sudah menjadi kurang berarti; sebentar lagi para perusuh itu sudah dapat dipastikan akan dilumpuhkan.

"Menyerah atau kubuat kamu cacat seumur hidupmu," kata seorang prajurit kepada seorang perusuh yang sudah terkepung. Mendengar ancaman prajurit itu, terpikir oleh perusuh tersebut bahwa dirinya akan menjadi seorang yang cacat. Terbayang dalam benak orang itu sosok yang buntung satu kaki.

"Aku menyerah," kata orang itu sambil membayangkan nasibnya bila terus melawan dan prajurit itu benar-benar melaksanakan ancamannya.

Sementara itu di sisi lain, terlihat dua orang perusuh telah melemparkan senjata manakala melihat hampir semua kawannya telah dapat dilumpuhkan.

"Aku menyerah," kata seorang perusuh sambil melemparkan senjatanya dan diikuti oleh kawannya. Terlihat kedua orang itu pasrah manakala kedua tangan mereka diikat kuat-kuat.

Di ujung malam itu, para perusuh telah digelandang ke rumah kediaman Ki Demang Pasirian. Ki Demang Pasirian dan para prajurit pengawal kademangan tampak ikut mengiringi.

"Jangan sekali-kali berpikir untuk melarikan diri," kata Gajahmada kepada Jalakrumi yang terdiam manakala mereka diikat menjadi satu dan didudukkan di depan halaman rumah Ki Demang Pasirian.

Nampaknya Jalakrumi dan seluruh anak buahnya masih berpikir bahwa yang telah melumpuhkan mereka adalah para warga Pasirian sendiri.

"Aku tidak menyangka bahwa orang-orang Pasirian adalah orang-orang yang terlatih, terutama anak muda itu," kata Jalakrumi dalam hati sambil duduk di tanah bersama semua anak buahnya.

Hingga akhirnya manakala pagi telah terang, para tawanan itu terlihat kembali digelandang keluar dari Kademangan Pasirian. Nampaknya mereka tengah menuju Kadipaten Lamajang. Para prajurit pengawal Kademangan Pasirian yang mengawal perjalanan mereka dibantu sekitar dua puluh orang prajurit Majapahit yang menjaga agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi selama perjalanan.

Sementara itu, Gajahmada dan seluruh prajuritnya telah ditarik kembali, menghilang ke persembunyian mereka di hutan-hutan yang sangat lebat di sekitar Tanah Lamajang.

Hingga dua pekan kemudian, mereka menemui kerusuhan lain di sebuah kademangan lain di Tanah Lamajang. Namun, sebagaimana di Kademangan Pasirian, Gajahmada bersama para prajuritnya dapat meredam kerusuhan itu dan membawa banyak tawanan ke Kadipaten Lamajang.

Sebagaimana di Tanah Lamajang, di sekitar Tanah Blambangan hingga ke Banyuwangi juga banyak terjadi tekanan kerusuhan yang nampaknya dikendalikan oleh orang-orang yang tidak menginginkan jalur perdagangan pribumi menjadi tuan di tanahnya sendiri. Namun, Mahesa Semu dan Adityawarman yang dibantu oleh para prajurit Majapahit berpengalaman telah dapat melumpuhkan tekanan-tekanan dari para perusuh itu. Hingga akhirnya, gangguan beralih ke pergudangan bandar pelabuhan yang dimiliki oleh para pribumi di Pasuruan, Banger, dan Banyuwangi.

"Dari semua kerusuhan ini, nampaknya berasal dari Kademangan Randu Agung," kata Gajahmada kepada beberapa orang perwiranya pada suatu malam di tempat persembunyian mereka.

"Sudah saatnya kita mengarahkan kekuatan untuk membentur mereka di pusat kekuatannya, di Kademangan Randu Agung," kata Gajahmada lagi.

"Kita belum tahu sampai di mana kekuatan mereka itu," kata seorang perwira mengingatkan Gajahmada.

Sebagaimana pernah disinggung dalam sebuah pembicaraan antara Empu Nambi dan putranya, Adipati Menak Koncar, di istana Majapahit beberapa waktu yang lalu, Kademangan Randu Agung bermula dari sebuah pemukiman kecil di pinggir hutan Randu Agung. Atas persetujuan Adipati Menak Koncar, Ki Randu Alam bersama para pengikutnya yang datang dari Tanah Sunginep membuka hutan Randu Agung itu untuk pemukiman baru.

Ternyata Ki Randu Alam adalah seorang yang sangat gigih dan dengan cepat berhasil memengaruhi para pedagang di sepanjang pesisir timur Jawadwipa. Dengan pengaruhnya pula, para pedagang dari Balidwipa menjalin kerja sama dengannya. Bersamaan dengan pengaruh jalur perdagangan di timur Jawadwipa yang berada di tangan Ki Randu Alam, pemukiman di pinggir hutan Randu Agung ikut berkembang menjadi pemukiman besar sebagai tempat singgah berbagai macam jenis barang perdagangan seperti kapas, kemenyan, dan hasil hutan lainnya.

Perlahan tapi pasti, pemukiman baru itu telah berubah menjadi kademangan bernama Kademangan Randu Agung. Ki Randu Alam memang bukan seorang demang, namun rumah kediamannya lebih besar dari rumah seorang demang, bahkan lebih megah dari tempat kediaman seorang adipati sekalipun.

Hari itu genap dua pekan Gajahmada dan Supo Mandagri berada di Kademangan Randu Agung untuk mengamati lebih dekat sepak terjang Ki Randu Alam yang dicurigai berada di balik rencana yang dianggap merusak kemapanan bumi Majapahit. Di hari pasaran, Gajahmada dan Supo Mandagri menyamar sebagai pedagang keris dan batu aji. Di hari lainnya, mereka tetap tinggal di sekitar Kademangan Randu Agung. Penduduk setempat tidak mencurigai keberadaan mereka karena banyak pedagang lain yang juga cukup lama menetap di sana.

"Sebuah rumah yang sangat megah, lebih besar dari rumah Adipati Menak Koncar," kata Supo Mandagri kepada Gajahmada ketika mereka berjalan di muka kediaman Ki Randu Alam.

Sebagaimana dikatakan Supo Mandagri, rumah kediaman Ki Randu Alam memang terlihat sangat besar. Halaman mukanya luas sekali, di depan regolnya terdapat gardu jaga yang selalu ramai dipenuhi lima sampai enam penjaga.

"Selama tinggal di Lamajang, kamu tidak pernah pergi ke mana-mana?" tanya Gajahmada kepada Supo Mandagri.

Namun, belum sempat Supo Mandagri menjawab, seorang penjaga terlihat keluar dari gardu jaganya saat mereka baru saja melewati pintu gerbang rumah Ki Randu Alam.

"Berhenti dan kemarilah kalian berdua!" teriak penjaga itu memanggil Gajahmada dan Supo Mandagri.

Sekejap Gajahmada dan Supo Mandagri terkejut. Mereka memastikan tidak ada seorang pun di situ selain mereka berdua.

"Apakah yang Kisanak maksudkan adalah kami berdua?" tanya Gajahmada seraya berhenti dan membalikkan badan.

"Benar, kalianlah yang kami maksudkan," kata penjaga itu dengan gaya tuan besar.

"Ada keperluan apakah Kisanak kepada kami berdua?" kata Gajahmada setelah berjalan menghampirinya.

"Bukankah kalian berdua para pedagang keris dan batu aji di pasar Kademangan?" tanya penjaga itu.

"Kisanak benar, kami memang pedagang keris dan batu aji," jawab Gajahmada.

"Kami ingin melihat barang dagangan kalian, siapa tahu ada keris dan batu aji yang berminat di hati," kata penjaga itu.

"Sayang sekali kami tidak membawa barang dagangan, namun bila Kisanak mau menunggu, kami akan mengambilnya di rumah tempat kami menginap," kata Gajahmada penuh keramahan.

"Pergi dan kembalilah dengan membawa barang daganganmu itu," perintah penjaga itu.

"Tunggulah, kami akan datang kembali," kata Gajahmada sambil menggamit tangan Supo Mandagri.

Tidak lama berselang, Gajahmada dan Supo Mandagri datang kembali ke gardu penjaga di muka regol rumah kediaman Ki Randu Alam.

"Keris kami pembuatannya sangat halus, batu aji kami juga batu-batu pilihan yang kami dapatkan dari berbagai tempat, bahkan ada yang berasal dari Tanah Gurun," kata Gajahmada kepada penjaga yang tadi memanggil mereka sambil menggelar dagangannya di muka gardu jaga.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment