Chapter 42
"Aku memang sudah tua, tetapi masih tetap mengenali para putra Lamajang yang saat ini ada di antara manisnya madu para penguasa Majapahit," kata lelaki tua yang ternyata adalah Arya Wiraraja.
Terkejut Gajah Mada manakala mengetahui bahwa salah seorang yang tengah diikuti itu ternyata bernama Arya Wiraraja, seseorang yang pernah berkuasa di Kadipaten Songinep, ayahanda dari Ranggalawe.
"Maaf bila kami mengusik perjalanan Tuan Arya Wiraraja, kami hanya sekadar memastikan bahwa kehadiran Tuan Arya Wiraraja di Kademangan Simpang ini hanya sebuah kebetulan saja," kata Ki Putut Prastawa kepada Arya Wiraraja yang masih duduk di punggung kudanya.
"Banyak hal kebetulan terjadi di dunia ini, terutama kehadiran kalian di hadapanku akan dapat menyusahkan hari-hariku," kata Arya Wiraraja.
"Setahuku, seekor harimau tua tidak akan pernah berhenti berburu," kata Ki Putut Prastawa.
"Kamu benar, seekor harimau tua tidak akan pernah berhenti berburu. Apalagi hari ini ada dua ekor anjing pengawal yang melihat kehadiranku, terpaksa aku harus membungkam mulut kalian selama-lamanya," kata Arya Wiraraja sambil turun dari kudanya.
"Tuan Arya Wiraraja, aku masih menghormatimu," kata Ki Putut Prastawa ikut turun dari kudanya.
"Tuan Arya Wiraraja, Ki Putut Prastawa sangat menghormatimu. Akulah lawanmu, bukankah Tuan ingin membungkam mulut kami berdua?" tanya Gajah Mada yang sudah lebih cepat maju menghadapi Arya Wiraraja.
Tanpa sengaja tatapan mata Arya Wiraraja beralih ke arah anak muda di hadapannya itu. Bukan main terkejutnya Arya Wiraraja manakala pandangan matanya membentur mata Gajah Mada yang dirasakannya begitu kuat dan tajam.
"Apa hubunganmu, wahai anak muda, dengan Patih Mahesa Amping?" tanya Arya Wiraraja kepada Gajah Mada yang dilihatnya melilitkan sebuah cambuk pendek di pinggangnya.
"Aku putra angkatnya," jawab Gajah Mada dengan penuh ketenangan.
"Ternyata banyak tumbuh pohon muda di pagar rumah tuan Majapahit," kata Arya Wiraraja sambil meloloskan celurit senjata andalannya.
Melihat Arya Wiraraja telah meloloskan senjata andalannya itu, Gajah Mada segera melepaskan pula cambuk pendek dari pinggangnya.
"Aku ingin melihat apakah kamu sudah mewarisi cambuk sakti ayah angkatmu itu," kata Arya Wiraraja sambil langsung menerjang ke arah Gajah Mada dengan senjata andalannya yang melengkung itu.
Bukan main terkejutnya Arya Wiraraja mendapati lawan mudanya ternyata begitu cepat bergerak menghindar dari terjangannya. Tahulah dirinya bahwa anak muda itu telah memiliki kemampuan cukup tinggi. Maka segera dirinya membuat serangan lanjutan dengan meningkatkan tataran ilmunya lebih dahsyat dari serangan pertama.
Namun, kembali gerakan anak muda itu membuat Arya Wiraraja merasa malu di hadapan kawan seperjalanannya yang ikut tidak berkedip melihat dua serangan Arya Wiraraja dapat dihindarkan dengan begitu mudah. Melihat dua serangannya dapat dihindarkan dengan mudah, Arya Wiraraja merasa panas hati bagai kain minyak yang mudah terbakar, ia pun langsung menyusul dengan sebuah serangan yang dilandasi ilmu puncaknya.
Wajah Ki Putut Prastawa tampak terpaku. Meski pernah mendengar ketinggian ilmu Gajah Mada, ia tetap masih menyangsikan apakah anak muda itu dapat menghadapi orang tua yang tengah menyerang dengan ilmu puncaknya tersebut.
Ternyata Gajah Mada dapat merasakan hawa serangan ketiga Arya Wiraraja yang sangat kuat dan dahsyat menerjangnya. Terbelalak mata Ki Putut Prastawa melihat Gajah Mada kali ini bukan hanya menghindar, tetapi sudah balas menyerang dengan menghentakkan cambuk pendeknya yang terasa ikut menggetarkan dada Ki Putut meski ia sudah mundur menjauhi arena pertempuran.
"Ternyata ketinggian ilmu anak muda ini bukan hanya isapan jempol belaka," kata Ki Putut Prastawa dalam hati merasakan hentakan cambuk pendek Gajah Mada.
"Jangan besar kepala dengan suara cambukmu itu," kata Arya Wiraraja sambil melandasi dirinya dengan tenaga sakti sejati ketika merasakan suara cambuk Gajah Mada seperti sebuah palu besar menghimpit dadanya, lalu ia langsung melancarkan serangan balasan yang lebih dahsyat lagi.
Terlihat Gajah Mada seolah telah membaca jangkauan angin serangan Arya Wiraraja yang datang mendahului senjata di tangannya. Gajah Mada langsung meloncat tinggi dan membalas serangan yang tidak kalah dahsyat dengan melecutkan ujung cambuk pendeknya ke arah tubuh Arya Wiraraja.
Kecepatan serangan Gajah Mada yang tak terduga itu membuat Arya Wiraraja langsung melejit ke samping. Namun, suara hentakan cambuk Gajah Mada tetap saja terasa seperti himpitan batu besar di dada Arya Wiraraja. Ternyata Gajah Mada telah menambah tenaga sakti sejatinya lebih tinggi lagi dari sebelumnya.
Terlihat Arya Wiraraja memutar senjata celuritnya dengan begitu cepat, bermaksud menciptakan angin serangan dahsyat yang menyambar ke arah tubuh Gajah Mada. Namun, mata Gajah Mada seperti mampu melihat serangan kasat mata itu dan langsung bergeser dengan kecepatan yang luar biasa.
Terbelalak mata Arya Wiraraja melihat tubuh Gajah Mada berputar begitu cepat, sebentar berada di hadapannya, sekejap sudah berada di sampingnya. Entah bagaimana caranya, Arya Wiraraja melihat ujung cambuk Gajah Mada telah membelit senjatanya. Tanpa daya, ia merasakan daya tarik yang amat kuat menghentak senjatanya hingga seketika terlepas dari tangannya dan berpindah ke dalam genggaman Gajah Mada.
"Ujung cambukku ini dapat melukai dirimu dari arah mana pun yang kusuka," kata Gajah Mada yang berdiri tegap. Tangan kanannya masih memegang pangkal cambuk pendeknya, sementara tangan lainnya tengah menggenggam senjata milik Arya Wiraraja.
"Silakan kamu pilih mana bagian tubuhku yang paling cepat mengantar kematianku," kata Arya Wiraraja dengan sikap layaknya seorang ksatria yang mengakui keunggulan lawan mudanya.
"Tuan Arya Wiraraja, demi ayah angkatku Patih Mahesa Amping yang sangat mencintai dan menghormatimu sebagai ayah kandungnya sendiri, aku tidak akan membunuhmu. Kami akan membiarkanmu pergi dan tidak akan mengatakan kepada siapa pun bahwa kami telah melihatmu di sekitar Kademangan Simpang ini," kata Gajah Mada sambil mendekati Arya Wiraraja dan mengembalikan senjatanya.
"Terima kasih telah mengampuni nyawa tuaku ini, sampaikan salam rinduku kepada ayah angkatmu. Katakan kepadanya bahwa aku juga sangat mencintainya sebagaimana aku mencintai putraku, saudara angkatnya yang telah tiada, Ranggalawe," kata Arya Wiraraja sambil menerima kembali senjatanya dari tangan Gajah Mada.
Gajah Mada dan Ki Putut Prastawa masih duduk di atas punggung kuda sambil memandang dua orang penunggang kuda yang semakin menjauh dan menghilang di kegelapan malam.
"Mari kita kembali ke rumah Ki Demang," kata Ki Putut Prastawa mengajak Gajah Mada untuk kembali ke rumah Ki Demang Simpang.
Kuda-kuda Gajah Mada dan Ki Putut Prastawa terlihat memasuki jalan Kademangan Simpang.
"Ternyata pandangan Ki Patih Mangkubumi tidak salah menjadikan dirimu sebagai pengganti diriku yang sudah tua ini," kata Ki Putut Prastawa sambil tersenyum ke arah anak muda di sebelahnya. Ia telah menyaksikan sendiri bahwa pemuda itu adalah seorang yang berilmu sangat tinggi hingga dapat mengalahkan Arya Wiraraja dengan mudah.
"Aku belum dapat mengerti arah perkataan Ki Putut Prastawa," kata Gajah Mada.
"Beberapa pekan sebelum keberangkatan Baginda Raja dan keluarganya, aku telah menyampaikan permintaan mengundurkan diri dari tugas pemimpin prajurit Bhayangkara. Ki Patih Mangkubumi telah mengabulkan permintaanku serta menunjuk dirimulah yang akan menggantikan kedudukanku ini," Ki Putut Prastawa menjelaskan kembali perkataannya.
"Jadi Ki Putut Prastawa memang telah merencanakan semua ini? Mengajak diriku dalam perjalanan tengah malam bukan sekadar sebagai kawan sepi?" tanya Gajah Mada.
"Benar, sahabat muda. Aku memang sengaja membawamu dalam tugas-tugasku agar dirimu mengetahui apa yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin prajurit Bhayangkara," kata Ki Putut Prastawa sambil tersenyum. "Aku yakin bahwa dirimu dapat bekerja lebih baik dariku."
Terlihat Gajah Mada menarik napas panjang, seolah tengah menerawang garis hidupnya dan menyusuri kembali perjalanan waktunya. Tengah malam terasa dingin dan sepi di Kademangan Simpang. Bulan sabit melengkung di langit malam.
Dua ratus pasukan berkuda terlihat seperti bayangan hantu malam bergerak keluar dari Kademangan Simpang ke arah jalan menuju Kotaraja Majapahit. Mereka adalah para prajurit Bhayangkara yang akan bertugas sebagai pagar hidup membayangi penjagaan perjalanan Baginda Raja Sanggrama Wijaya dan keluarganya yang akan kembali ke Kotaraja Majapahit keesokan harinya.
"Nampaknya, inilah malam perjalanan tugas terakhirku," kata Ki Putut Prastawa kepada Gajah Mada di atas punggung kudanya di tengah kegelapan malam yang dingin.
"Aku ikut berdoa untuk kebahagiaan Ki Putut Prastawa mengisi masa-masa purnabakti bersama keluarga di Lamajang," kata Gajah Mada kepada orang tua itu.
"Terima kasih, pintu rumahku akan selalu terbuka di Lamajang untukmu. Datang dan singgahlah," kata Ki Putut Prastawa.
Semilir angin malam yang dingin berembus menyapu wajah Gajah Mada dan Ki Putut Prastawa yang masih tetap berjalan melihat kesiapan para prajurit Bhayangkara di sepanjang jalan menuju Kotaraja Majapahit.
"Wajahmu terlihat pucat pasi seperti telah melihat dedemit penunggu jalan ini," kata Ki Putut Prastawa, seolah dapat langsung membaca raut wajah salah seorang anak buahnya yang tengah berjaga di tepi sebuah hutan.