Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 96

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 96

Sebagaimana yang dilihat oleh Putu Risang, Gajahmada memang masih berdiri di tempatnya dengan tidak lagi memutar cambuknya.

"Ki Secang, lihatlah sekelilingmu, seluruh pasukanmu telah dapat kami lumpuhkan. Apakah kamu masih tetap ingin melanjutkan pertempuran ini?" ujar Gajahmada kepada Ki Secang, menawarkannya untuk menyerah.

Ki Secang memang telah melihat sendiri bahwa seluruh pasukannya sudah dapat dilumpuhkan oleh pihak lawan. Dilihat pula ratusan pasukan lawan masih dengan senjata terhunus tengah berdiri di sekelilingnya. Namun, hal itu tidak membuat perasaan Ki Secang ciut, bahkan sebaliknya, telah membakar kemarahannya dalam keputusasaan dan kekecewaan yang sangat.

"Jangan sombong telah dapat menaklukkan ilmu kabutku, masih ada ilmu simpananku yang lain," ucap Ki Secang kepada Gajahmada sambil menggerakkan trisula di tangannya mengarah ke tubuh Gajahmada.

Luar biasa, terlihat kilatan cahaya kuning keemasan meluncur ke arah Gajahmada. Meski telah melambari dirinya dengan ilmu ajian lembu sekilan tingkat tinggi, Gajahmada belum ingin mencoba membenturkannya. Gajahmada hanya menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, melesat cepat menghindari sambaran kilat yang berasal dari ilmu sakti Ki Secang yang lain. Namun, belum sempat Gajahmada menjejakkan kakinya, sebuah sambaran kilat telah memburunya. Beruntung Gajahmada sudah memiliki tataran ilmu meringankan tubuh yang nyaris sempurna; seperti terbang, Gajahmada langsung melenting ke samping. Namun, sambaran kilat itu seperti terus memburunya ke mana pun dirinya bergerak menghindar.

Jalan tanah Kota Kadipaten Blambangan yang menjadi kancah pertempuran itu terlihat sudah terbongkar terkena sasaran sambaran kilat ilmu sakti Ki Secang yang amat dahsyat. Tiga buah pohon tumbang terkena sambaran ilmu sakti Ki Secang yang meleset. Terlihat beberapa prajurit harus berlari menjauh, takut terkena salah sasaran. Melihat dampak dari serangan ilmu sakti Ki Secang yang amat dahsyat itu, Gajahmada harus berpikir keras bagaimana cara melumpuhkan Ki Secang tanpa harus membunuhnya. Nampaknya Gajahmada telah menemukan jawabannya. Terlihat dirinya tidak lagi hanya menghindar, melainkan sudah langsung membuat tekanan dan serangan balasan dengan cambuk pendeknya.

Akhirnya, dalam beberapa kali serangan, ujung cambuk Gajahmada berhasil menyentuh kulit tubuh Ki Secang. Dua sampai tiga kali ujung cambuk Gajahmada berhasil menyentuh tubuh Ki Secang, namun tidak dirasakan olehnya. Hal itu membuat Ki Secang bangga karena merasa tenaga sakti Gajahmada masih berada di bawahnya; ia merasa lawannya itu hanya punya ilmu meringankan tubuh yang hebat, hanya bisa menghindar tanpa punya kekuatan tenaga sakti yang dapat diandalkan. Namun, manakala ujung cambuk Gajahmada untuk kesekian kalinya kembali menyentuh kulit tubuhnya, barulah dirasakan dampak dari sentuhan-sentuhan ujung cambuk Gajahmada itu.

"Ilmu setan dedemit," kata Ki Secang dalam hati saat merasakan tenaganya menjadi semakin lemah dan kemampuan menghentakkan ilmu saktinya semakin berkurang.

Ki Secang melihat sendiri hasil sambaran ilmu saktinya tidak lagi dapat menghancurkan bongkahan batu besar yang terkena sasaran bidiknya. Akhirnya, setelah beberapa kali sentuhan ujung cambuk Gajahmada mengenai dirinya, barulah Ki Secang menyadari sungguh-sungguh bahwa tenaganya yang terkuras itu akibat ajian ilmu lawannya, sebuah ajian ilmu yang sangat langka yang pernah didengarnya.

"Ajian lampah-lumpuh," ucap Ki Secang sambil melompat mundur beberapa langkah.

Ternyata dugaan Ki Secang memang benar, Gajahmada telah melepaskan ajian yang setara dengan ajian lampah-lumpuh. Namun, sebenarnya itu adalah sebuah ajian Pangeran Muncang yang dilakukan dengan cara terbalik yang dapat menyerap tenaga hawa murni lawan tempurnya, sebuah ilmu ajian yang pernah diwariskan kepadanya oleh seorang sakti dari Tanah Pasundan, Sang Prabu Guru Darmasiksa. Namun, kesadaran Ki Secang sudah terlambat, tiga perempat tenaga hawa murninya telah terserap ke dalam diri Gajahmada. Tenaga hawa murni yang telah diendapkannya lewat semadi puluhan tahun telah hilang dalam waktu yang singkat, terserap menjadi kekuatan baru di dalam tubuh Gajahmada.

"Bagaimana Ki Secang, apakah kamu masih ingin melanjutkan pertempuran ini?" tanya Gajahmada sambil berdiri tegak dengan tangan masih memegang cambuknya yang ujungnya terjulur menyentuh tanah.

Terlihat Ki Secang masih terpaku berdiri di tempatnya. Ia seperti terjepit oleh berbagai perasaan yang berkecamuk memenuhi jiwanya, mulai dari rasa amarah yang amat sangat, rasa kecewa yang mendalam, hingga rasa putus asa yang berlebihan membuat dirinya menjadi begitu lemah tidak berdaya. Yang ada dalam pikirannya adalah lawannya yang masih muda itu ternyata memiliki ilmu yang amat tinggi. Ia berpikir untuk menyelamatkan nyawanya, karena bila pertempuran itu dilanjutkan, tenaganya akan semakin terkuras habis.

"Aku menyerah kalah," kata Ki Secang setelah berpikir lama sambil melemparkan senjata trisulanya jauh dari jangkauan tangannya.

Terdengar sorak-sorai para prajurit yang telah melihat akhir dari pertempuran dua naga kanuragan itu. Beberapa warga Kota Kadipaten Blambangan yang semula hanya mengintip lewat celah-celah pintu rumah mereka, terlihat sudah memberanikan diri keluar halaman dan mencoba mengetahui lebih dekat apa yang telah terjadi. Namun dengan penuh kebijaksanaan, Adipati Menak Jingga meminta mereka kembali untuk menyempurnakan laku Nyepi mereka di rumah masing-masing.

"Saat ini tidak ada yang perlu dirisaukan lagi. Kembalilah kalian ke rumah masing-masing untuk menyempurnakan laku Nyepi kalian. Serahkan tugas keamanan kepada para prajurit pengawal Kadipaten Blambangan," perintah Adipati Menak Jingga kepada para warga kota yang berdatangan ke tempat pertempuran yang telah usai itu.

Demikianlah, para warga Kota Kadipaten Blambangan telah kembali ke rumah masing-masing. Kepada anggota keluarganya mereka mengabarkan suasana pertempuran telah usai dan para perusuh sudah dapat dilumpuhkan. "Keadaan sudah aman, para perusuh sudah dapat ditaklukkan oleh Adipati Menak Jingga bersama para prajuritnya," ujar seorang kepala keluarga kepada istri, anak gadis, dan menantunya. "Adipati Menak Jingga pasti sangat sakti, telah dapat mengalahkan para buta kala," kata seorang anak lelaki kepada kakeknya yang baru datang dan ikut mendengar penuturan tentang suasana pertempuran yang telah usai. Terlihat sang kakek hanya tersenyum, teringat ketika terjadi pertempuran, anak itu menangis ketakutan dan sang kakek menenangkannya dengan mengatakan di luar ada banyak buta kala yang ingin memakan anak-anak kecil.

"Makanya, kamu jangan sering menangis, nanti didengar oleh buta kala," kata sang kakek kepada cucunya itu. "Besok kamu ikut aku ke pasar, nenek akan memasak pecel pitik dan urap-urap untukmu," ujar sang nenek memberi janji kepada cucunya.

Sementara itu di jalan tempat pertempuran, terlihat para prajurit tengah menolong orang-orang yang terluka, bukan hanya kawan mereka, tapi juga orang-orang yang menjadi lawan tanding di pertempuran dengan para prajurit gabungan itu. Beberapa prajurit lainnya terlihat tengah mengumpulkan mayat para korban pertempuran, memisahkannya antara kawan dan musuh guna mempermudah membawa mereka ke tempat pemakaman yang telah disediakan.

"Kita harus melakukan pemakaman hari ini juga, karena besok sudah masuk hari Ngembak Geni," kata Adipati Menak Jingga kepada para prajuritnya.

Demikianlah, pada hari itu juga telah dilaksanakan upacara pemakaman bagi para korban pertempuran di hari raya Nyepi itu. Semua korban diperlakukan sama tanpa perbedaan apa pun, baik kawan, saudara, maupun mantan musuh mereka. Senja yang bening menatap bumi yang ternoda darah dan air mata di hari raya Nyepi yang suci.

Hari ketiga di bulan kesepuluh penanggalan tahun Saka, sehari setelah perayaan hari Ngembak Geni di Kota Kadipaten Blambangan. Terlihat Adipati Menak Koncar telah membawa kembali pasukannya ke Tanah Lamajang lewat jalan darat.

"Bila ada waktu, aku akan menyambangi Balidwipa," kata Gajahmada melepas Putu Risang yang ikut bersama pasukan Lamajang karena akan menjemput putranya, Rangga Seta.

Bersamaan dengan keluarnya pasukan Adipati Menak Koncar, tiga ratus prajurit Majapahit yang dipimpin oleh Mahesa Semu telah berangkat meninggalkan bumi Blambangan menuju Kotaraja Majapahit. Mereka menempuh perjalanan lewat jalur laut. Pada zaman itu, biasanya para tawanan perang akan menjadi salah satu rampasan perang yang berharga sebagai budak belian yang diperdagangkan.

Sementara itu, untuk Ki Secang ada perlakuan khusus atas permintaan Gajahmada kepada Mahesa Semu sebagai pimpinan prajurit Majapahit yang bertugas di timur Jawadwipa itu.

"Aku ingin Ki Secang diserahkan kepada Ra Kuti. Aku berharap dirinya dapat menemukan kembali jalan kebenaran," kata Gajahmada dalam sebuah pelayaran kepada Mahesa Semu.

"Ki Secang adalah milikmu, apa pun yang kamu inginkan aku akan menyetujuinya," jawab Mahesa Semu menyetujui permintaan Gajahmada atas diri Ki Secang itu.

Ra Kuti adalah seorang pejabat kerajaan, salah seorang dari Dharmaputra yang diangkat langsung oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya, yang bertugas mengurus dan mengayomi salah satu aliran agama yang memuja Dewa Wisnu. Gajahmada berharap Ki Secang dapat diluruskan kembali lewat pengawasan seorang pejabat kerajaan bernama Ra Kuti. Demikianlah, tiga ratus prajurit Majapahit yang dipimpin oleh Mahesa Semu akhirnya telah tiba di Bandar Pelabuhan Ujung Galuh. Ketika mereka tiba di Kotaraja Majapahit, para warga menyambut mereka dengan penuh sukacita.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment