Chapter 187
Tidak begitu lama para pekerja itu sudah tidak dapat melihat lagi pertempuran itu, karena telah terhalang kabut yang keluar dari tubuh orang bercaping itu menutupi dirinya dan Ki Agung Ngrayun.
"Ilmu apa yang dimiliki oleh orang ini?" berkata dalam hati Ki Agung Ngrayun dengan perasaan gentar, sudah tidak dapat melihat apa pun di depan matanya.
"Ki Agung Ngrayun, aku dapat melakukan apa pun kepadamu," berkata orang bercaping itu entah dari mana.
"Jangan mencoba menakutiku," berkata Ki Agung Ngrayun sambil mengerahkan ketajaman pendengaran dan penglihatannya, namun kabut di hadapannya sudah begitu pekat menutupi penglihatannya.
"Rabalah kepalamu, kamu sudah kehilangan kain ikat kepalamu," berkata orang bercaping itu entah dari arah mana.
Berdesir darah Ki Agung Ngrayun manakala meraba kepalanya yang memang telah kehilangan kain ikat kepalanya.
"Orang ini masih bermurah hati tidak menyerangku," berkata Ki Agung Ngrayun dalam hati.
Kabut masih pekat menyelimuti pandangan mata Ki Agung Ngrayun, orang tua itu masih berdebar-debar memasang ketajaman pendengarannya, hanya itu yang dapat dilakukannya.
Hingga akhirnya di tengah kepekatan kabut yang menutupi pandangannya, Ki Agung Ngrayun mendengar suara orang bercaping itu.
"Ki Agung Ngrayun, aku tidak banyak waktu untuk melanjutkan pertempuran kita. Kupinjam sebentar putramu, sampai berjumpa kembali," berkata orang bercaping itu dengan suara yang berputar-putar datang dari berbagai penjuru mata angin.
"Semoga orang itu tidak mencelakai putraku," berkata Ki Agung Ngrayun dalam hati penuh rasa cemas memikirkan keadaan putranya.
Sementara itu kabut yang pekat perlahan menipis dan hilang terbawa angin.
Ki Agung Ngrayun menyapu pandangannya ke berbagai arah, berharap dapat menemukan arah perginya orang bercaping yang telah membawa putranya itu.
Namun Ki Agung Ngrayun tidak menemukan jejak apa pun.
"Apakah kalian melihat ke mana orang bercaping itu pergi?" berkata Ki Agung Ngrayun kepada para pekerja.
"Kabut begitu gelap, kami tidak melihat kapan dan ke mana orang bercaping itu pergi," berkata salah seorang pekerja kepada Ki Agung Ngrayun.
Terlihat Ki Agung Ngrayun menarik napas panjang, masih mencemaskan keadaan putranya.
Sementara itu orang bercaping itu telah jauh melesat meninggalkan hutan Sastrawulan.
Hingga di sebuah tempat yang sunyi, orang itu berhenti menurunkan Kuda Jenar yang masih pingsan.
Perlahan orang bercaping itu mengikat kedua tangan Kuda Jenar di sebuah batang pohon dan duduk di dekatnya.
Tampaknya orang bercaping itu menunggu Kuda Jenar siuman dari pingsannya.
Ternyata orang bercaping itu tidak perlu menunggu lama, perlahan Kuda Jenar terlihat bergerak.
"Di mana aku?" berkata Kuda Jenar manakala membuka matanya merasakan kedua tangannya terikat.
"Kamu ada bersamaku di sebuah tempat yang jauh terpisah dari orang-orangmu, agar urusan kita tidak terganggu oleh siapa pun," berkata orang bercaping itu kepada Kuda Jenar.
"Apa yang kamu inginkan dariku?" bertanya Kuda Jenar seperti pasrah dengan keadaan dirinya yang sudah menjadi tawanan orang bercaping itu.
"Aku hanya menginginkan kejujuranmu," berkata orang bercaping itu singkat.
Terlihat Kuda Jenar mengerutkan keningnya, pertanda tidak mengerti ke mana arah ucapan orang bercaping itu.
"Kejujuran apa yang ingin kamu dengar dariku?" bertanya Kuda Jenar.
"Kejujuranmu tentang sebuah racun yang kamu berikan kepada Ra Tanca," berkata orang bercaping itu dengan pandangan yang amat tajam seperti menembus isi hati dan pikiran Kuda Jenar.
Terkejut Kuda Jenar mendengar perkataan orang bercaping itu.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan," berkata Kuda Jenar mencoba menutupi rasa terkejutnya.
"Tampaknya perlu sebuah cara untuk mendengar kejujuranmu," berkata orang bercaping itu sambil mengeluarkan sebuah bumbung kecil dari dalam ikat pinggangnya.
Terlihat Kuda Jenar memperhatikan bumbung bambu kecil itu yang berada di tangan orang bercaping itu.
"Ketahuilah, di dalam bumbung ini kusimpan cukup banyak getah kayu pohon rengas," berkata orang bercaping itu sambil memandang ke arah Kuda Jenar.
"Pasti kamu tahu apa yang akan terjadi bila sedikit getah kayu rengas ini kulumuri di tubuhmu," berkata kembali orang bercaping itu.
"Sayang sekali aku tidak membawa daun rengas sebagai penawarnya, dan kamu akan tersiksa di tempat sunyi ini tanpa seorang pun dapat menolong dirimu," berkata kembali orang bercaping itu sambil memandang tajam ke arah Kuda Jenar.
Merinding seluruh bulu roma Kuda Jenar mendengar seluruh perkataan orang bercaping itu, terbayang rasa gatal yang amat sangat dengan bisul-bisul kecil yang bernanah di seluruh tubuhnya.
"Katakan apa yang kamu inginkan dariku?" berkata Kuda Jenar dengan wajah penuh cemas.
"Sebagaimana kukatakan sebelumnya, aku hanya menginginkan kejujuranmu," berkata orang bercaping itu.
"Kejujuran tentang apa?" bertanya Kuda Jenar.
"Katakan bahwa kamu yang telah membuat ulah atas penyakit yang diderita oleh Nyi Ra Tanca," berkata orang bercaping itu kepada Kuda Jenar.
"Bagaimana kamu mengetahuinya?" bertanya Kuda Jenar merasa cemas bahwa rahasianya telah diketahui oleh orang di hadapannya itu.
"Jangan bertanya, tugasmu hanya menjawab pertanyaanku," berkata orang bercaping itu dengan suara penuh wibawa.
Kuda Jenar sesaat berpikir bahwa orang itu hanya mengetahui sedikit perihal Nyi Ra Tanca, tidak akan tahu lebih jauh lagi.
"Benar, akulah yang membuat ulah itu kepada Nyi Ra Tanca," berkata Kuda Jenar kepada orang itu.
Terdengar dengus orang bercaping itu pertanda tengah menahan kemarahannya.
"Dan kamu pulakah yang memberikan obat kepada Ra Tanca untuk kesembuhan Raja Jayanagara?" bertanya kembali orang bercaping itu kepada Kuda Jenar.
Terlihat Kuda Jenar tidak langsung menjawab, masih ragu untuk mengatakan yang sebenarnya kepada orang itu.
"Ternyata kamu lebih memilih kulumuri tubuhmu dengan getah kayu rengas ini," berkata orang bercaping itu perlahan kepada Kuda Jenar.
Mendengar ancaman orang itu, terlihat perubahan di wajah Kuda Jenar yang dipenuhi rasa takut yang amat sangat.
"Aku akan mengatakannya," berkata Kuda Jenar terbata-bata.
"Katakan sebelum kesabaranku habis," berkata orang bercaping itu.
"Benar, akulah yang memberikan obat kepada Ra Tanca untuk pengobatan Raja Jayanagara," berkata Kuda Jenar.
"Kamu belum mengatakan yang sebenarnya," berkata orang bercaping itu. "Apa yang kamu maksudkan? Aku telah mengatakan yang sebenarnya," berkata Kuda Jenar.
"Bukan obat yang kamu berikan kepada Ra Tanca, tapi sebuah racun," berkata orang bercaping itu dengan pandangan yang begitu tajam seperti menusuk langsung ke dada Kuda Jenar.
Terlihat Kuda Jenar menampakkan wajah terkejut.
"Dari mana orang ini mengetahui rahasiaku itu?" berkata Kuda Jenar dalam hati.
Namun sedikit perubahan di wajah Kuda Jenar tampaknya telah terbaca oleh orang bercaping itu.
"Kulihat dirimu terkejut, apakah kamu merasa heran dari mana aku mengetahui semua perbuatanmu itu?" berkata orang bercaping itu, telah membuat diri Kuda Jenar seperti masuk dalam sebuah perangkapnya.
Di hadapan orang bercaping itu, terlihat Kuda Jenar benar-benar seperti seorang pesakitan yang tidak mampu lagi mengelak atas semua kesalahannya.
"Bersyukurlah bahwa aku tidak membawamu ke Istana Majapahit untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu itu, hanya saja kukatakan kepadamu bahwa sejak hari ini kamu berada di dalam pengawasanku dan jangan berharap aku masih dapat memaafkanmu bila kudapati kamu berbuat yang sama kepada Ratu Tribhuwana Tunggadewi dan keluarganya," berkata orang bercaping itu penuh ancaman kepada Kuda Jenar sambil berbalik badan meninggalkannya.
Terpaku Kuda Jenar memandang orang bercaping itu yang semakin jauh meninggalkannya.
Ketika orang bercaping itu pergi menghilang dari pandangannya, terbesit rasa cemas di wajah Kuda Jenar.
"Bila muncul binatang buas, matilah aku," berkata Kuda Jenar sambil mencoba menarik tali ikatannya yang ternyata begitu kuat mengikatnya dengan sebuah batang pohon.
Menyadari ikatan yang kuat mengikat dirinya, terlihat Kuda Jenar seperti begitu putus asa.
"Siapakah gerangan orang bercaping itu?" bertanya Kuda Jenar dalam hati mencoba mengingat-ingat dari suara serta sorot mata yang tersisa dari kain penutup wajahnya.
Namun sekian lama Kuda Jenar mencoba mengingat-ingat beberapa wajah orang, tidak satu pun yang sangat cocok dengan orang bercaping itu.
"Orang itu tidak membawaku ke istana sebagai orang terhukum, orang itu juga tidak membunuhku, pasti orang itu punya alasan sendiri," berkata Kuda Jenar dalam hati.
"Namun orang itu berkata akan selalu mengawasiku," berkata kembali Kuda Jenar dalam hati mengingat-ingat ancaman orang bercaping itu kepadanya.
"Mulai hari ini aku harus berhati-hati melangkah dan berbuat apa pun, orang bercaping itu tidak main-main dengan ancamannya," berkata kembali Kuda Jenar dalam hati.
Hingga ketika Kuda Jenar merasakan kembali penuh kecemasan dirinya yang terikat di hutan sunyi itu, kembali rasa cemas dan kekhawatirannya muncul memenuhi seluruh perasaannya, membayangkan seekor harimau atau seekor serigala muncul mengoyak-ngoyak dirinya yang terikat tak berdaya itu.
"Semoga saja ayahku menugaskan semua pekerja untuk mencari keberadaanku," berkata Kuda Jenar dalam hati penuh pengharapan.
Sementara itu hari terlihat mulai gelap di hutan sunyi itu, hati dan perasaan Kuda Jenar menjadi semakin menciut penuh rasa cemas dan khawatir.
Semakin gelap suasana di hutan yang sunyi itu, semakin menipis harapan Kuda Jenar dapat ditemukan oleh orang-orangnya.
Namun di tengah keputusasaannya itu, dilihatnya beberapa titik cahaya obor di tengah kegelapan malam.
"Aku Kuda Jenar, apakah kalian mendengarku?" berkata Kuda Jenar berteriak berharap didengar oleh orang-orang yang tengah membawa obor.
Beruntung, suara Kuda Jenar tampaknya didengar oleh orang-orang yang membawa obor itu.