Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 136

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 136

Sementara itu, kesatuan pasukan yang dikirim untuk bergabung dengan pasukan Mahapatih yang masih berada di Kademangan Japan adalah bagian dari 948 kesatuan Jala Pati, sebuah pasukan khusus yang sangat disegani di Kerajaan Majapahit. Pasukan tersebut dipimpin oleh seorang tumenggung yang sangat mumpuni, cerdas, dan berpengalaman luas dalam menghadapi berbagai jenis pertempuran, baik di tempat terbuka maupun di kelebatan hutan rimba.

"Peta kekuatan di Kotaraja Majapahit akan menjadi berimbang bila kesatuan pasukan Jala Pati datang bergabung bersama pasukan Mahapatih di Kademangan Japan," ujar Ki Bancak kepada Empu Nambi saat menyampaikan suasana di Kotaraja Majapahit.

"Seberapa besar kekuatan pasukan bayangan yang dimiliki oleh Ra Kuti?" tanya Empu Nambi kepada Ki Bancak.

"Setara dengan kekuatan kesatuan pasukan Jala Yudha di benteng Tanah Ujung Galuh," jawab Ki Bancak.

"Aku berharap Tumenggung Mahesa Semu dapat menggalang kekuatan lain selain kesatuan pasukan Jala Yudha di benteng Tanah Ujung Galuh," kata Empu Nambi kepada Ki Bancak.

"Pasukan khusus yang dipimpin oleh Nyi Nariratih dan pasukan Bhayangkara telah bersedia berjuang bersama Tumenggung Mahesa Semu," tutur Ki Bancak.

"Kemampuan perorangan prajurit di Pasukan Srikandi dan pasukan Bhayangkara dapat diandalkan," ucap Empu Nambi penuh kegembiraan, membayangkan masih ada kekuatan lain yang dapat menjadi benteng terakhir untuk menyelamatkan istana Majapahit.

"Katakan kepada Tumenggung Mahesa Semu agar jangan lengah sedikit pun dan selalu membayangi gerakan Ra Kuti. Banyak kemungkinan bisa terjadi; bisa jadi Ra Kuti bergerak lebih cepat mendahului Mahapatih untuk merebut kekuasaan di istana Majapahit selagi Mahapatih dan pasukannya masih berada di luar Kotaraja Majapahit," tegas Empu Nambi kembali kepada Ki Bancak.

"Pesan Empu Nambi akan aku sampaikan," sahut Ki Bancak.

"Jaga kesehatanmu, wahai prajurit tua," ucap Empu Nambi sambil melambaikan tangan mengantar Ki Bancak yang tengah menuruni anak tangga pendapa di benteng Randu Agung itu.

Terlihat Ki Bancak terus berjalan menapaki halaman benteng Randu Agung di ujung senja itu dalam tatapan mata Empu Nambi hingga sosoknya menghilang di ujung regol pintu gerbang. Angin dingin yang lembut menyapu wajah Ki Bancak yang menyusuri jalan Kademangan Randu Agung di keremangan malam.

Sosok Ki Bancak memang tidak akan menarik perhatian. Siapa pun tidak akan menyangka bahwa orang tua itu adalah seorang penghubung dalam sejarah penting pergolakan Majapahit, seseorang yang ikut andil menyelamatkan bahtera Majapahit dari badai dan prahara yang berkecamuk saat itu.

"Aku berharap tanaman jagung itu dapat dipanen sebelum datangnya prahara di bumi Lamajang ini," ucap Ki Bancak dalam hati ketika melewati sebuah ladang jagung yang tumbuh subur.

Sebagai orang yang pernah mengalami masa perang dan masa damai di bumi Majapahit, kecamuk yang tengah berlangsung antara istana Majapahit dan keluarga Empu Nambi benar-benar membuat dirinya sangat prihatin dan berharap prahara itu segera berakhir.

"Selama ini kupercaya bahwa seorang raja adalah pilihan para dewa, mungkinkah para dewa bisa salah memilih?" bisik Ki Bancak dalam hati sambil menyayangkan sikap Raja Jayanagara yang lemah dan mudah terhasut oleh bisikan orang lain sehingga memusuhi Empu Nambi, sahabat setia ayahandanya sendiri.

Tanpa terasa, langkah kaki Ki Bancak telah membawanya hingga ke kota Kadipaten Lamajang, menyusuri jalan-jalan utamanya yang sepi di malam itu, serta melihat rumah-rumah penduduk yang telah dihuni kembali, ditandai dengan pelita minyak jarak yang tergantung di depan rumah setiap penduduk.

"Kemapanan dan kenyamanan para warga kota Kadipaten Lamajang ini sebentar lagi akan berubah. Mereka harus kembali lagi ke pengungsiannya, hidup dengan segala keterbatasannya," ujar Ki Bancak dalam hati sambil memandang kerlap-kerlip pelita rumah penduduk sepanjang perjalanan malamnya.

Akhirnya, langkah kaki Ki Bancak terlihat semakin menjauhi kota Kadipaten Lamajang.

"Gerbang gapura ini akan menjadi saksi bisu pasang surut kehidupan warga Lamajang, masa perang dan masa damai di bumi ini," gumam Ki Bancak ketika melewati sebuah gapura perbatasan kota yang kokoh berdiri seperti raksasa bisu dalam kegelapan malam.

"Aku akan mencari tempat beristirahat sejenak agar tidak memasuki Kademangan Japan saat hari masih gelap," pikirnya. Ia merencanakan untuk memasuki Kademangan Japan saat pagi sudah terang tanah agar tidak menjadi bahan perhatian dan kecurigaan para prajurit Majapahit yang pastinya sudah memasang banyak petugas untuk mengawasi daerah sekitarnya, terutama para pendatang dari arah bumi Lamajang.

Terlihat Ki Bancak tengah bersandar di sebuah batu besar di bawah pohon besar. Napas orang tua itu kembang kempis dengan mata terpejam, menikmati lonjoran kaki tuanya setelah setengah malam berjalan tanpa henti. Ketika langit bersulam tipis warna kemerahan, Ki Bancak sudah bersiap diri untuk melanjutkan perjalanannya kembali.

Ternyata Ki Bancak sangat berpengalaman mengatur perjalanannya sendiri; ia berusaha mengambil arah yang berbeda dari keberangkatan. Nampaknya ia sangat berhati-hati agar tidak bertemu orang yang sama di perjalanannya, apalagi orang dari pihak lawan. Kadang Ki Bancak harus mengambil arah memutar agar membingungkan siapa pun yang mengikutinya. Naluri mantan petugas telik sandi ini memang telah mendarah daging di dalam diri orang tua itu.

Kali ini, untuk menuju arah Kademangan Japan, Ki Bancak tidak menempuh jalur yang biasa dilewati para pedagang, melainkan mengambil arah melengkung yang lebih sepi. Naluri keprajuritannya telah membawanya ke sebuah ladang jagung yang cukup luas.

"Nampaknya inilah lumbung hidup terdekat menuju arah Lamajang. Pasti ada banyak lagi lumbung hidup sepanjang jalan dari arah Kotaraja Majapahit menuju arah Lamajang," ujar Ki Bancak dalam hati sambil berusaha menjauhi gubuk yang ada tidak jauh dari ladang jagung itu.

Setelah jauh meninggalkan ladang tersebut, ia kembali membatin, "Nampaknya Tumenggung Jala Pati seorang yang sangat cerdas; tidak ingin kalah berperang hanya karena prajuritnya kelaparan kehabisan ransum makanan." Ia terus berjalan menjauhi ladang jagung yang dicurigainya sebagai salah satu lumbung hidup yang sengaja ditata untuk persiapan peperangan menghadapi pasukan Empu Nambi di bumi Lamajang.

Demikianlah, Ki Bancak terus berjalan menuju arah Kademangan Japan. Di tempat-tempat yang dianggapnya sangat sepi, ia menggunakan kemampuannya yang jarang dimiliki orang biasa, yakni berlari cepat. Ternyata orang tua itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi; ia berlari melesat tanpa merasakan kelelahan sedikit pun. Ketika dirasakan dirinya telah mendekati arah Kademangan Japan, Ki Bancak kembali berjalan seperti biasa, tertatih-tatih layaknya pengembara tua.

"Pak tua, carilah jalan lain! Terlarang siapa pun memasuki perkemahan prajurit Majapahit," hardik seorang prajurit Majapahit kepada Ki Bancak di sebuah jalan menuju arah bulakan panjang.

Ki Bancak, yang sudah mengetahui bahwa bulakan panjang itu adalah perkemahan pasukan Majapahit, berpura-pura heran. "Dua tahun lalu tidak ada larangan melewati jalan ini," katanya.

"Itulah perbedaannya. Dua tahun lalu mungkin Pak Tua masih dapat berlari cepat, sementara hari ini berjalan biasa saja sudah tertatih-tatih," sahut prajurit itu.

Ki Bancak berpura-pura tidak suka disebut orang tua yang rapuh. "Kamu salah orang, anak muda. Aku masih dapat berlari cepat, bahkan dapat terbang melesat mengendarai angin!"

"Nampaknya Pak Tua sering berkhayal di sepanjang perjalanan," ejek prajurit itu sambil tertawa. "Terbanglah, tapi jangan lewat bulakan ini!"

Masih dengan wajah bersungut-sungut, Ki Bancak melangkah ke arah lain menuju Kademangan Japan yang memang sudah tidak begitu jauh. Tidak banyak yang dilakukan Ki Bancak di sana selain melihat suasana keadaan kademangan dan mencari sebuah kedai untuk mengganjal perut tuanya.

"Kasihan warga kademangan ini, mereka harus menyerahkan setengah lumbung persediaan makanan mereka untuk panen depan kepada prajurit Majapahit di bulakan itu," ujar Ki Bancak sambil mengunyah lontong balap bumbu kuning, makanan khas yang hanya ditemukan di kedai sekitar pantai Pasuruan.

Dalam perjalanan kembali ke Kotaraja Majapahit, naluri keprajuritan Ki Bancak telah menemukan kantong-kantong persediaan pangan serta ladang-ladang jagung di tempat-tempat yang sepi. Dari umur tanaman jagung itu, Ki Bancak memperkirakan bahwa peperangan akan berlangsung menjelang purnama kedua.

Semua yang dilihat Ki Bancak dalam perjalanannya telah disampaikan kepada Tumenggung Mahesa Semu. "Yang belum dapat kucerna, mengapa mereka membangun lumbung hidup di ujung Kota Kadipaten Lamajang, bukan di ujung benteng Randu Agung?" tanya Tumenggung Mahesa Semu.

"Otak tuaku sudah begitu lemah, hanya berpikir bahwa pasukan Majapahit akan menyerang Kadipaten Lamajang terlebih dahulu agar tidak ada gangguan yang menghalangi mereka saat penyerangan ke benteng Randu Agung," jawab Ki Bancak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment